Melihat cara makan Mawar yang sangat lahap, membuat Ajeng menyulut senyum. Baginya, Mawar dan Daun adalah dua orang yang mempunyai kepribadian sangat berbeda jauh. Ajeng tidak pernah melihat anaknya sendiri makan dengan lahap seperti yang sedang dilakukan Mawar sekarang.
"Masakan Tante enak banget. Jauh beda sama masakannya bik Ratna," komentar Mawar yang tengah mengunyah makanan di dalam mulutnya.
Ajeng menanggapi pujian itu dengan senyum yang berbinar. Tangannya terjulur mengusap lembut rambut Mawar yang sedikit ikal.
Suara langkah kaki dari arah tangga membuat Mawar dan Ajeng menoleh.
"Hai, Bang Daun." Seperti biasa, Mawar melambaikan lima jarinya ke cowok itu. Dan tidak digubris.
Detik berikutnya, Daun sudah berdiri di samping Mawar.
"Kamu mau ngabisin beras di rumah saya?" tanya Daun datar.
Mawar mencebikan bibirnya ke atas, kesal. Sementara Ajeng hanya terkekeh geli melihat tingkah Mawar dan Daun yang menurutnya menggemaskan.
"Kamu sudah makan, Nak?" tanya Ajeng pada Daun.
Sebelum Daun menjawab pertanyaan Mamanya, ia duduk di salah satu kursi di meja makan itu. Tepatnya di sebelah Mawar.
"Saya udah makan."
"Bang, kalo ngomong sama orang tua tuh yang sopan. Jangan ketus kayak gitu. Seharusnya gini nih." Mawar menelan dulu makanan yang masih ia kunyah.
"Daun udah makan, Mah," lanjut Mawar mengoreksi ucapan yang seharusnya Daun praktekan pada Mamanya. Nada bicara Mawar sangat manis menurut Ajeng. Wanita itu senang dengan keberadaan Mawar di rumahnya ini.
Daun hanya mendengus geli ala kadarnya. Sikap Mawar selalu membuatnya geleng-geleng kepala. Dan lagi-lagi hal itu juga membuat Ajeng bahagia. Anak laki-lakinya yang kaku nyaris tersenyum karena seorang Mawar.
Daun mengambil Apel merah yang ada di wadah dengan posisi di tengah. Dikupasnya kulit Apel itu dengan pisau yang ada di dekat wadah.
"Tante, kalo Bang Daun nakal, cubit aja. Terus kalo dia marah karena Tante cubit, Tante serahin aja anak Tante ini ke Mawar," oceh Mawar. Gadis itu selalu saja membuat wanita separuh baya ini tersenyum geli.
"Daun anak yang baik kok. Justru Tante yang belum bisa jadi Ibu yang baik untuk Daun," balas Ajeng. Matanya melirik ke Daun yang ada di depannya. Ada nada parau dari cara bicara Wanita itu. Sementara Mawar, menatap cemas ke arah Ajeng. Makanan di piringnya sudah ludes.
Daun mencoba pura-pura tidak mendengar ucapan Mama-nya barusan. Ia terus asyik mengupas Apel yang hampir saja bersih dari kulitnya.
"Bang Daun tuh seharusnya seneng punya Mama kayak Tante Ajeng. Baik, cantik, pinter masak. Lengkap deh. Kalo Mawar punya Ibu kayak Tante Ajeng, Mawar bakalan pamerin Ibu Mawar ke semua orang," cerocos Mawar. Gayanya mendramatisir ucapannya. Bahkan Mawar menggerakan kedua tangannya bersamaan guna mengikuti kalimatnya.
Ajeng mengusap lagi rambut Mawar, diiringi dengan senyum yang sedikit.
"Tapi sayangnya, Mawar nggak punya Ibu. Mawar nggak bis ..," celotehan Mawar di potong oleh aktivitas Daun yang memasukan potongan Apel ke mulut gadis itu. Mawar dengan wajah sebalnya, menggigit saja Apel itu, dan memakannya sampai habis. Sesungguhnya dalam hati Daun, ia tak mau mendengar ocehan Mawar tentang hal yang menyakitkan untuk didengar.
"Daun, nggak boleh gitu ah sama Mawar," ujar wanita itu. Meskipun Ajeng tahu kalau anaknya selalu bersikap dingin padanya, tetapi Ajeng selalu berusaha untuk tetap berbicara dengan nada yang seolah kalau tidak pernah terjadi apa-apa di antara mereka.
"Rese," cicit Mawar. Menyambar gelas yang ada di dekatnya, lalu meneguk air di dalamnya.
Hening untuk beberapa detik.
"Kapan-kapan kamu bermalam di sini, ya." Ajeng membuka suara lagi.
"Mau, Tante. Mawar mau banget," sahut Mawar mengangguk sangat semangat.
"Tapi malam ini Mawar nggak bisa. Soalnya Mawar harus dateng ke acara ulang tahunnya pacar Mawar," lanjut Mawar dengan nada terdengar merasa bersalah.
"Pacar? Kamu udah punya pacar?" tanya Ajeng tampak terkejut. Sesekali melirik Anaknya untuk memastikan kalau hatinya baik-baik saja. Karena Ajeng yakin kalau Daun memiliki rasa pada Mawar, sekalipun Daun tidak mengutarakannya.
Yang dilirik bersikap kaku, datar, dan terus mengunyah Apel yang hampir habis.
"Punya dong, Tante. Namanya Randy. Dia ganteng, baik, terus ramah lagi. Nggak kayak ini nih," kata Mawar menunjuk Daun di sebelahnya dengan dagu.
"Mawar sayaaaaaaang banget sama Randy."
Daun tersedak. Sontak Ajeng mengambilkannya gelas berisi air mineral. Memberikannya ke Daun dan cowok itu meneguknya sampai habis.
Sedetik Daun menatap Mawar yang tersenyum puas karena sedaritadi gadis itu tidak pernah berhenti mencemoohnya. Daun bangkit dari duduknya, dan menjauh dari meja makan.
Mawar mendesis. "Dasar, cowok muka galak," cibirnya masih menatap punggung Daun. Kemudian membagi pandangan ke Ajeng.
"Tante ngidam apa sih pas lagi hamil Bang Daun?"
Sontak saja Ajeng terkikik geli ketika mendengar pertanyaan Mawar yang benar-benar lucu.
*****
Mawar sudah siap dengan dress simple berwana merah muda yang melekat di tubuh mungilnya. Tatanan rambut yang menjadi ciri khas seorang Mawar pun menjadi pelengkap di penampilannya malam ini. Menggunakan bandana dengan corak bunga mawar di masing-masing sisinya. Dipadukan juga dengan clutch dengan warna yang senada. Namun, Mawar tidak suka memakai sepatu hak tinggi. Dia lebih suka sepatu flat dengan warna yang menyatu ke kulit kakinya.
Mawar menuruni anak tangga itu dengan wajah yang paling sumeringah. Ia tak sabar berada di samping Randy saat cowok itu meniup lilin di kue ulang tahunnya. Salah satu moment yang selalu Mawar impikan.
"Kok, Kakak belum rapi? Emangnya Kakak nggak dateng ke acara ulang tahunnya Randy?" tanya Mawar pada Melati yang tengah membaca majalah di ruang keluarga.
Sunyi. Selalu tidak ada tanggapan dari Melati untuk Mawar.
"Yaudah kalo gitu, Mawar jalan ya, Kak. Mawar nggak malem-malem kok pulangnya," pamit Mawar lantas melenggang pergi.
Baru lima detik berlalu, Mawar kembali lagi ke posisinya tadi.
"Kak." Mawar sedang menahan napasnya yang agak tersendat. Ada sebuah kalimat yang ingin sekali ia ucapkan pada Kakaknya itu.
"Mawar sayang sama Kakak. Mawar nggak peduli seberapa bencinya Kakak sama Mawar, tapi Mawar akan selalu sayang sama Kakak."
Setelah Mawar benar-benar keluar dari pintu, Melati meletakan majalah di meja. Wajahnya yang dingin berganti menjadi wajah yang lebih hangat dari sebelumnya.
*****
Di salah satu Kafe terkenal yang ada di kawasan Jakarta Selatan, sudah dipenuhi para remaja dengan pakaian yang beraneka ragam. Suara lantunan musik pop menjadi pengiring setiap suara obrolan yang riuh di tempat ini.
Mawar cukup kesulitan untuk mencari keberadaan Randy di tengah-tengah keramaian ini. Ia baru sadar kalau Randy memiliki banyak teman yang menurutnya berpenampilan "tinggi".
Kepalanya terus memutar ke setiap sudut untuk mencari di mana Sang pacar berada. Mawar tidak boleh terlambat saat Randy meniup lilin. Mawar harus berada di samping Randy.
Kemudian ada suara cicit pengeras suara yang bergema di tempat outdoor pesta ini. Semua mata tertuju ke arah cicitan itu berasal. Begitupun Mawar dengan postur tubuhnya yang kecil, membuat dia sulit melihat jelas ke depan sana.
"Tes ... Tes ... Tes ..."
Ada seorang cowok tinggi yang berdiri di panggung depan sana. Mawar belum jelas penglihatannya, siapa cowok itu?
"Oke, Guys. Kita mulai aja acaranya." Sebelum memulai kata sambutannya lagi, cowok di atas panggung itu tengah merapikan kemeja casual yang ia kenakan.
"Langsung aja ya, Guys. Ada sesuatu yang mau gue kasih tahu ke kalian semua sebelum acara potong kue dan tiup lilin."
Mawar belum begitu fokus dengan suara yang sudah mendominasi seluruh tempat ini. Dia masih mencari keberadaan Randy.
"Gue Randy, gue mau ngenalin pacar gue ke kalian semua."
Sontak Mawar menatap lurus ke arah panggung di sana. Akhirnya ia bisa menemukan Randy. Terlebih ucapan Randy barusan, membuat hati Mawar berbunga-bunga.
"Apa? Randy mau ngenalin gue ke temen-temennya?" gumam Mawar seorang diri. Ia lebih mendekat lagi ke panggung.
"Dia adalah cewek yang gue sayang. Dia selalu ada di saat gue butuh. Dia adalah cewek terbaik yang ada di dalam hidup gue, cewek tercantik yang pernah gue temui."
Mawar menghentikan langkahnya. Ia terlalu senang sampai kakinya tidak sanggup berjalan lagi. Mawar bagaikan meleleh di tempat. Ia mematung dengan tatapan masih ke arah Randy yang semakin jelas sedang berdiri di panggung. Bahkan, Mawar harus menahan d**a dengan kedua tangannya karena degupan itu cukup kuat.
"Cewek itu adalah ... Elisa."
To Be Continued