"Bukannya cewek lo Mawar, Rand?" tanya salah seorang teman Randy yang memang mengetahui dengan jelas kalau hanya Mawar yang akhir-akhir ini sering ada di dekat Randy.
"Mawar?" Beberapa detik Randy bergumam. "Dia cuma buat selingan gue doang. Dia cewek ter-absurd yang pernah gue temuin. Sebenernya gue males banget kalo dia deket-deket gue terus. Tapi, lumayanlah bisa buat hiburan kalo gue lagi suntuk."
"Jadi elo nggak pernah beneran suka sama Mawar?" tanya temannya yang lain lagi.
"Jelas nggak lah. Mawar bukan tipe cewek gue banget. Sampai kapanpun gue nggak akan pernah sudi jadiin dia sebagai pacar gue," jawab Randy tahu betul kalau Mawar kini sedang berada di depannya. Ia sengaja melirik Mawar di sana. Berdiri kaku, tatapan sendu, dan air mata yang mulai berlinang.
Momen beberapa jam lalu tadi sungguh tidak mau hilang sama sekali dari benak Mawar. Kalimat-kalimat menyakitkan itulah yang membuat Mawar tidak sadar kalau langkahnya sudah membawa dirinya di sebuah halte bis. Duduk seorang diri dengan bersimbah tangis. Kali ini rasanya lebih menyakitkan daripada waktu Randy mengatakan bahwa Melati yang ia suka. Dadanya sesak.
"Randy ja ... hat. Apa salah gue sampe dia tega ngomong kayak tadi," gerutu Mawar masih sesenggukan. Tak hentinya ia menghapus deraian yang terus saja mengalir dari ujung matanya.
Sisi kepalanya menyandar di sebuah tiang penyanggah yang ada di dekatnya. Tubuh Mawar lemas karena merasa berjalan cukup jauh dari Kafe tadi ke halte ini. Rasanya Mawar ingin tidur saja di posisinya sekarang.
Ada seseorang yang entah darimana datangnya sudah berada di depan Mawar. Berdiri tegak, kaku, siapa lagi kalau bukan seseorang yang Mawar kenal.
Wajahnya terangkat. "Kok, lo bisa di sini?"
"Enggak sengaja lewat," jawab cowok itu dengan spontan.
Padahal tidak ada yang dilakukan oleh Daun, tetapi Mawar semakin menangis dengan rengekan yang menjadi-jadi.
Daun duduk di sebelah Mawar. Tidak persis di sampingnya, tetapi ada beberapa jarak antara Daun dan gadis itu.
"Nangis sama ngomong sama-sama nggak ada bagus-bagusnya," cibir Daun dengan nada suaranya yang datar.
Suara rengekan Mawar semakin kencang. Ia juga memukuli tiang di sebelahnya lantaran tidak bisa melampiaskan emosinya ke Randy.
"Berisik," cetus Mawar merasa sebal.
"Bodo."
Daun membiarkan Mawar nangis sepuasnya. Ia masih setia duduk bersama Mawar sambil ditemani angin malam yang menyelimuti keduanya.
"Randy jahat. Dia enggak ngakuin gue jadi pacarnya. Dia malah ngenalin cewek lain di pestanya. Dia bilang kalo gue cewek ter-absurd yang pernah dia temuin. Katanya gue cuma buat hiburan dia saat dia bosen. Emangnya gue badut apa," cerocos Mawar dengan gaya merengek seperti anak kecil yang sedang mengadu ke orangtuanya. Daun membiarkan Mawar berceloteh ria.
"Udah?"
Mawar menoleh ke Daun di sampingnya. Wajahnya sengaja lebih ditekukan lagi semelas mungkin.
"Kalo udah saya mau pulang," ujar Daun.
Mawar mendesis. "Pulang sana!"
Daun bangkit. Sebelum ia benar-benar melangkah, matanya berpindah ke Mawar yang terus merutuki dirinya sendiri.
"Seenggaknya perasaan kamu akan lebih lega dengan menceritakan masalah kamu ke orang lain."
Mawar mendongak, mencari wajah dingin itu. Baru kali ini ucapan Daun membuat hatinya merasa tentram.
"Makasih," sebut Mawar sedikit kikuk.
Sesaat keduanya saling bertatapan. Cukup dalam. Sampai Daun tersentak dan menjadi salah tingkah. Ia cepat-cepat berbalik menghampiri motornya.
"Mau ke mana?" sergah Mawar.
"Pulang," jawab Daun seraga menggunakan helm-nya.
"Jadi elo ninggalin gue sendiri di sini?"
"Setelah hitungan ketiga, saya tinggal."
Mawar langsung menyambar bingkisan kecil yang ia letkkan di sampingnya tadi, lantas berlari kecil menghampiri Daun yang sudah berada di atas motornya.
Mawar sudah duduk di belakang jok motor. Daun melepas jaket tebal yang melekat di tubuhnya. Lalu menyerahkannya ke Mawar tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Mawar meminta Daun untuk tidak mengantarnya pulang. Mawar merengek untuk diajak ke suatu tempat guna memperbaiki rasa sedihnya. Daun tidak mengkonfirmasi permintaan Mawar dengan kata "iya" atau "tidak". Cowok itu langsung menghentikan motornya di suatu Taman kota yang cukup luas dan sering menjadi tempat orang-orang bersinggah.
Setelah Mawar menceritakan kronologis tentang Randy di pesta ulang tahunnya, Daun meminta Mawar untuk menunggu. Tidak lama Mawar menunggu di salah satu bench , Daun kembali dengan sebuah minuman dengan wadah sterofoam di tangannya.
"Buat gue?" tanya Mawar menunjuk dirinya sendiri.
Daun menyodorkan minuman itu ke Mawar.
"Makasih. Ternyata walaupun suka galak, elo punya sisi baik juga, ya," kata Mawar mengambil minuman itu dari tangan Daun.
Mawar meneguknya sedikit. Namun, ia langsung melepeh minuman itu dengan cepat. "Minuman apaan nih? Kok pait begini rasanya?" Mawar menjulurkan lidahnya, mengecap rasa pahit yang masih terasa di sana.
"Itu kopi."
"Kopi apaan paitnya minta ampun begini?" Mawar menelisik gelas kopi itu dengan tatapan jijik.
"Kopi itu sama rasanya kayak apa yang kamu jalanin sekarang."
"Hah?" Mawar menoleh pasti ke Daun di sebelahnya. Mengernyit lantas tidak mengerti maksud ucapan cowok itu. "Maksudnya?"
Daun membalas tatapan Mawar dengan malas. Sepertinya kalau dijelaskan pun, gadis itu tidak akan mengerti dengan cepat. Hanya membuang-buang tenanga saja, pikir Daun.
"Buat lo aja deh, kopinya." Diletakkannya kopi itu di samping Daun.
Keheningan menyelimuti keduanya. Mawar yang biasanya selalu berceloteh ria, kini mengunci bibirnya rapat-rapat. Berbeda dengan Daun yang memang sudah pada dasarnya tidak banyak bicara.
"Kok aneh, ya," ujar Mawar membuka suara lagi. Sontak Daun menoleh ke arahnya, tanpa sepengetahuan Mawar yang hanya memandang lurus ke depannya.
"Meskipun Randy udah ngomong jahat ke gue, tapi gue nggak bisa benci sama dia. Bagi gue, dia tetep cowok yang baik. Sama seperti pertama kali gue ketemu dia," Mawar menoleh ke arah Daun. Membuat cowok itu cepat-cepat mengalihkan pandangan dari si gadis. Daun tidak mau tertangkap basah oleh Mawar kalau dia sedang memperhatikannya.
"Itu karena kamu bodoh."
Mawar mendesis. "Makasih pujiannya," sahutnya dengan nada menyindir.
"Lo enggak tau aja pertama kali gue ketemu Randy. Dia itu pernah nolongin gue dari senior yang galak. Saat itu gue langsung jatuh cinta sama dia. Bahkan gue terus ngikutin dia di kampus sejak setahun yang lalu."
"Itu bukan cinta. Tapi hanya sekedar ucapan terimakasih."
Mawar mendesis sebal. "Gue nggak minta pendapat lo. Jadi jangan komentar terus sih." Mawar memberengut.
"Yaudah saya pulang kalo gitu," kata Daun seraya bangkit, tetapi ditahan oleh Mawar. Tidak sengaja Mawar menarik jemari Daun, sehingga membuat tangannya saling berkaitan. Dan Daun melirik ke tangannya yang sudah menyatu dengan tangan Mawar.
"Gitu aja ngambek. Duduk dulu sini, gue belum selesai cerita."
Daun pun duduk lagi. Mawar memperhatikan wajah Daun dari samping. Entah kenapa dia merasa geli dengan ekspresi itu. Bibirnya menyulut senyum.
"Bang! Nengok ke arah gue deh," suruh Mawar memutar sedikit posisi duduknya menjadi serong.
Daun menoleh, "Kenapa?"
Mawar menahan geli.
"Ada apa?" tanya Daun mulai merasa risi dengan tatapan Mawar.
"Kenapa sih muka lo kaku banget begitu? Senyum dikit kek. Biar ganteng," celetuk Mawar lalu tertawa dengan renyah. Ia tidak bisa menahan lagi rasa senang di dadanya. Dan hal itu membuat Daun menyimpulkan senyum. Tanpa sepengetahuan Mawar, cowok itu merasa nyaman kalau melihat Mawar tertawa.
"Maksih, ya, Bang. Udah nemenin gue malam ini," ucap Mawar pada akhirnya, setelah bebera saat tawanya menghiasi gelap di Taman ini.
Daun tidak menjawab. Ia tahu kalau Mawar tengah menatapnya dari samping. Namun, Daun lebih memilih untuk bangkit dan melenggang dari posisinya.
"Tungguin!" Mawar berlari menghampiri Daun. Sengaja mengaitkan tangannya dengan manja di lengan Daun. Dan Daun membiarkannya.
Sepanjang kaki keduanya melangkah, entah mengapa Mawar merasa senang sambil memperhatikan wajah Daun dari samping.
"Rasanya gue baru dikirimin hadiah kecil dari Tuhan," ucap Mawar dalam hati.
To Be Continued