Bab 23 - Mulai Aneh

1086 Kata
Menikmati makanan di kantin seorang diri, adalah hal yang sudah biasa Mawar lakukan. Ia tidak pernah merasa terasingkan kalau membandingkan dengan bangku yang lainnya terisi penuh. Mawar tidak peduli. Ia asyik saja dengan makanan yang kadang ia bawa dari rumah, atau kadang membelinya di kantin. Terlebih di bangku seberangnya, ada Melati bersama teman-temannya. "Hai, Mawar." Tanpa dosa dan merasa bersalah, Randy duduk di depan Mawar. Mawar tahu persis suara siapa yang ada di dekatnya. Dia tidak menoleh, terus berkutat di piring somay-nya. "Gimana perasaan kamu semalem?" Randy sengaja mengeraskan nada suaranya. Cowok itu tahu kalau Melati berada di dekat sana. Jadi kemungkinan besar gadis itu pasti mendengar apa yang diucapkannya. Mawar masih tidak menjawab. "Pasti kamu kesel banget kan sama aku? Atau bahkan benci?" Randy bersua lagi. Hening. "Aku sengaja membawa kamu terbang ke langit yang paling atas, terus aku lempar hati kamu dari langit yang paling atas juga." Kali ini Mawar mengangkat wajahnya. Ia hanya mendelik tanpa ada kemarahan di wajahnya. Hanya saja hatinya masih terasa sakit mengingat kembali ucapan Randy semalam. "Aku ngelakuin ini supaya Kakak kamu tahu kalau aku bukan cowok sembarangan. Kakak kamu akan menyesal udah nolak cinta aku setelah aku nyakitin adiknya, yaitu kamu," lanjuy Randy semakin mengeraskan nada suaranya. Sudah dipastikan kalau Melati mendengar kalimat itu. Dari ekor matanya, Randy melirik Melati yang tengah merasa gusar di posisinya. Termasuk beberapa teman Melati yang berada di dekatnya. Mawar berdiri. Mengambil ancang-ancang untuk mengucapkan kalimat panjang yang sudah ia rancang sejak semalam. "Kamu nanya aku, apa aku benci sama kamu?" Mawar mulai membuka suaranya. Randy mengangguk sekali dengan wajah yang angkuh. "Enggak. Aku nggak benci sama kamu sama sekali. Awalnya aku emang kaget semalem, tapi setelah itu, nggak ada rasa benci yang aku rasain untuk kamu," tukas Mawar dengan gaya bicara yang santai. Sama sekali tidak ada emosi di dalamnya. Randy menatap Mawar dengan heran. Apakah Mawar sepolos itu sampai tidak tahu kalau yang dilakukan Randy semalam sudah sangat keterlaluan? "Terus kalo emang tujuan kamu mau buat Kak Melati marah karena kamu udah nyakitin adiknya. Kamu salah. Kak Melati nggak akan peduli tentang itu. Kamu cuma buang-buang waktu aja tauk." Sontak Melati menoleh ke arah Mawar. Melati bahkan tidak peduli dengan teman-temannya yang menghujaninya dengan pertanyaan. Karena selama ini, tidak ada satupun yang tahu kalau Melati dan Mawar adalah Adik-Kakak. "Dan satu lagi. Aku terima kalo kamu jahat sama aku. Tapi aku nggak suka kalo kamu punya acara balas dendam sama Kak Melati. Kamu nggak boleh ngelakuin apa-apa sama kakak yang aku sayang. Kalo kamu macem-macem sama Kak Melati, rasa benci yang tadinya nggak ada bisa ada di hati aku buat kamu," oceh Mawar panjang lebar. Gadis itu menghela napasnya karena hampir saja dia kehabisan pasokan oksigen. Ucapannya kali ini terlalu panjang. Akan tetapi, Mawar lega sekarang. "Udah kan, ngomongnya? Aku duluan, ya," pamit Mawar melimbai pergi dengan langkah yang ringan. Sementara Randy, membisu bagaikan patung manekin yang mati. ***** Di salah satu koridor kampus. "Kasian banget deh, Randy itu. Seharusnya dia nggak perlu ngerusak pesta ulang tahunnya hanya karena mau nyakitin perasaan gue. Buang-buang waktu aja. Enggak mempan juga kalo emang dia mau balas dendam sama Kak Melati," gerutu Mawar yang tengah berjalan seorang diri. Bruuukkkk Ada seseorang yang Mawar tabrak di depannya. Lebig tepatnya seorang cowok yang tengah menempel sesuatu di mading. "Bang Daun?" Sontak Mawar menarik lengan Daun. "Eh, sini sini deh, Bang. Gue mau cerita." Lalu membawa cowok itu ke Taman kampus. Mawar menyuruh Daun duduk di salah satu bangku panjang yang ada di sana. Dan cowok itu mengikuti saja interupsi Mawar. "Bang, masa barusan Randy nyamperin gue di kantin. Mukanya polos gitu kayak nggak punya dosa. Dengan bangganya dia ngasih tau alesan kenapa semalem dia berbuat jahat sama gue. Tau nggak alesannya apa?" cerocos Mawar sambil mondar-mandir di depan Daun yang tengah melipat kedua tangan di depan dadanya Mawar menghentikan aktivitas mondar-mandirnya di depan Daun, lantas meminta jawaban dari cowok itu. Dan Daun tidak membuka suaranya. "Katanya dia mau bikin Kak Melati marah karena udah nyakitin Adeknya. Nggak masuk akal banget, kan?" Mawar menaikan alisnya lantaran meminta pendapat lagi ke Daun yang tetap tidak menggubrisnya. "Bang! Diem aja sih? Jawab dong! Kasih komentar kek, berasa ngomong sama bangku deh, jadinya." Mawar mencebikan bibirnya ke atas. Daun bukannya tidak mau menjawab. Justru ia sedang memikirkan masalah yang tengah dihadapi oleh Mawar ini. Ada sesuatu yang mengganjal di perasaannya. "Ini semua salah saya," sebut cowok itu dalam hati. "Kalo enggak ngomong, gue cabutin bunga di sana nih!" Mawar menunjuk ke arah pekarangan bunga yang tidak jauh dari posisinya. Melihat tidak ada tanda-tanda Daun akan berbicara, Mawar berlari kecil menghampiri bunga-bunga itu. Memetik beberapa bunga berwarna merah yang sedang bermekaran. Daun menggeleng kapala merutuki tingkah Mawar yang selalu saja membuatnya merasa risi. Mau tidak mau Daun menghampiri Mawar dan merebut bunga mawar yang sudah Mawar petik. "Harus berapa kali saya bilang ke kamu, jangan coba-coba untuk ngerusak alam kayak gini. Tanaman juga punya perasaan," geram Daun. "Berarti situ kalah dong sama tanaman." Daun mengernyit. "Maksud kamu apa?" "Tanaman aja punya perasaan, masa situ nggak punya," jawab Mawar terkesan seperti sebuah pertanyaan. Daun memberengut. Pandangannya beredar ke depan sana. Terlalu membuat emosi kalau menatap wajah Mawar yang sedang mencibirnya. Tiba-tiba ada sebuah ide yang muncul di benak Mawar. Berhubung Daun masih melihat entah kemana. Diam-diam Mawar memetik satu bunga mawar, lalu menyelipkan bunga itu di telinga Daun. Sontak Daun meraba sesuatu yang ada di telinganya. Mawar tertawa terbahak-bahak. "Cantik sumpah, Bang." Daun sekarang mulai kesal, baru kali ini ada gadis yang melakukan hal gila ini padanya. Daun mengambil bunga yang terselip di telinganya, tetapi Mawar menahan tangan besar itu sekuat tenaga. "Biarin aja sih, lucu tauk." Mawar terus tertawa sampai dia harus menahan perutnya yang berlonjak karena saking merasa geli. Tangannya tetap menahan lengan Daun agar cowok itu membiarkan bunga mawar tetap di telinganya. Daun merasa seperti bukan dirinya. Dia tidak lagi mencoba mengambil bunga mawar itu, dia justru membiarkannya. Karena tawa Mawar yang membahana, mampu membuatnya menyimpulkan senyum. Dan hal itu tertangkap basah oleh Mawar. "Situ bisa senyum juga ternyata?" tanya Mawar masih di sisa-sisa tawanya. Daun menjadi salah tingkah karena kepergok, dia refleks membuang bunga mawar di telinganya dengan asal. "Eh, kok buang sampah sembarangan? Bukannya situ yang sering marahin saya kalo saya buang sampah sembarangan? Kok sekarang situ yang ngelanggar?" Kali ini Mawar tersenyum puas atas kemenangannya karena membuat cowok dingin itu menjadi kikuk. "Aneh. Di saat lagi sama Daun kayak gini, rasanya gue lupa kalo gue pernah kenal sama Randy," ucap Mawar dalam hati. To Be Continued
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN