"Jadi Mawar Fradella anak TI itu adek lo, Mel?" tanya salah seorang teman satu gengnya Melati.
"Ehm," sahut Melati ala kadarnya.
"Gue temenan sama lo selama tiga tahun, kok gue nggak tau, ya, lo punya adek?" Rere memulai lagi keingintahuannya sejak kemarin. Pasalnya saat Melati mendengar obrolan Randy dengan Mawar, ia langsung menghilang di antara teman-temannya. Jadilah saat ini ia di hujani pertanyaan dari Rere.
Sayangnya, Melati sama sekali tidak ada niat untuk menjawab pertanyaan dari Rere. Detik berikutnya, dua teman Melati yang lain datang menimbrung bersama mereka.
"Wedeeh, model rambut baru lagi nih," ujar Rere pada Tifany. Dia menelisik penampilan Tifany yang berbeda dari kemarin.
"Gimana? Keren nggak?" tanya Tifany meminta pendapat sambil menyentuh rambutnya.
"Keren kok keren," sahut Rere seraya mengacungkan ibu jarinya.
"Adek gue, Tara. Kalo masalah gaya dia jagonya. Dan gokilnya lagi, model rambut kita sama," ucap Tifany dengan kehebohannya.
"Lo enak adek lo cewek. Lah gue punya adek semata wayang tapi cowok. Isengnya minta ampun. Kalo gue lagi pacaran, dia malah ngajak cowok gue main PS. Belum lagi dia sering ngumpetin barang gue. Pernah sekali jus jeruk gue dikasih garem sama dia," cerocos Rere yang tak kalah heboh dengan Tifany. Gelakan tawa mulai membahana di salah satu meja yang ada di pojok kantin itu.
"Tapi biarpun adek gue nakalnya kebangetan, gue tetep sayang sama dia. Kadang dia suka nolongin gue gitu. Misalnya gue suruh ke warung. Mau aja dia, bolak-balik juga dia nurut aja. Nggak minta upah lagi. Sepi juga kalo adek gue lagi kemah gitu," kata Rere menambahkan.
"Lo berdua mending punya adek udah gede gede. Adek gue mah masih bayi, mana bisa diajak nyalon bareng atau disuruh-suruh ke warung." Kali ini Mira yang ikut menceritakan kisahnya.
"Tapi adek gue yang baru lahir itu, lucunya minta ampun. Ngegemesin banget, makanya gue pengen cepet balik kampus biar bisa ngegendong dia," lanjut Mira.
Melati juga mempunyai seorang Adik. Namun, Melati tidak mempunyai kisah seperti ketiga temannya. Antara Melati dan adiknya terlalu miris kalau dijadikan sebuah cerita seperti yang dilakukan Rere, Tifany, ataupun Mira.
Tidak mau berlama-lama menjadi bisu di antara keramaian itu, Melati memilih untuk beranjak dari posisinya. Dan itu membuat ketiga temannya saling melempar pandang dengan heran.
*****
Sesampai di rumah. Suara-suara heboh yang baru saja Melati dengar, terniang-niang di telinganya. Bahkan, ucapan Mawar pada Randy di kantin beberapa waktu lalu, kini mengganggu gendang telinganya. Seolah perkataan Mawar seperti musik yang bedentum di telinga Melati.
Bersamaan langkah Melati hendak berada di anak tangga pertama, Mawar dari arah lantai dua berpapasan dengannya. Otomatis Melati menahan langkahnya di tempat.
"Eh, Kakak udah pulang? Kok tumben masih siang udah di rumah?" tanya Mawar ceria.
Diam. Selalu seperti itu.
"Kalo Mawar emang cuma ada kelas pagi, Kak. Terus sekarang Mawar mau pergi ke toko kue."
Melati mulai gusar. Ia harus cepat menaiki anak tangga itu sebelum Mawar mengoceh terlalu panjang. Melati memiringkan sedikit tubuhnya guna melewati Mawar yang masih berdiri di anak tangga.
"Kak," panggil Mawar ketika ia berbalik berusaha menghentikan Melati. Dan benar, Melati berhenti meskipun ia tidak berbalik menghadap ke Mawar.
"Kalo Randy macem-macem sama Kakak, Kakak jangan takut. Ada Mawar di sini. Mawar akan ngelindungin Kakak. Jadi Kakak tenang aja, ya," ujar Mawar sangat percaya diri.
Melati melanjutkan langkahnya yang tertunda. Mawar hanya bisa mendesah frustrasi, seperti biasa. Dia selalu gagal.
*****
"Halo, Bang Daun? Ini gue Mawar. Jangan tanya gue dapet nomor hape lo darimana. Gue lagi di toko kue Tante Ajeng. Lo cepet ke sini, ya. Tante Ajeng pingsan di toko!"
Karena telepon darurat dari Mawar itulah yang membuat Daun cepat sampai ke toko kue mamanya. Sudah lima belas menit cowok itu tengah memberengut kesal dengan Mawar yang berhasil membohonginya. Ditambah saat ini Mawar terus menyulut senyumnya sangat geli. Terus meledek cowok yang duduk bersamanya di salah satu meja.
"Udah sih, Bang, ngambeknya. Masa gitu doang cemberutnya lama bener. Lagian niat gue tuh, baik kali. Gue kan, mau traktir lo makan kue. Kalo gue nggak pake acara bohong kayak tadi, mana mungkin lo mau ke sini, ya kan?"
Daun tetap memalingkan wajahnya dari Mawar. Marah atau tidak marah, sepertinya wajah Daun sama saja.
"Dimakan dong kuenya. Sayang itu dianggurin. Kata Tante Ajeng, lo suka banget gue yang itu. Atau mau gue suapin?" Mawar hendak mengambil sendok kecil itu untuk menyuapi Daun, tetapi Daun menghalaunya, lebih memilih untuk makan dengan tangannya sendiri.
"Nah, gitu dong." Senyum Mawar mengembang kala Daun sudah mulai mau memakan kue yang ia siapkan.
"Bang, dengerin gue ngomong nih, ya."
"Sejak kapan saya nggak pernah dengerin ocehan kamu yang panjang kayak kereta itu?" Daun baru membuka suaranya.
Mawar mendengus geli. "Tapi lo suka kan, jadi pendengar gue?"
Daun mengambil tisu lantas membersihkan noda krim kue di sudut bibirnya. "Ngomong apaan?"
"Gue emang nggak pinter dalam hal menilai sebuah situasi. Tapi gue cukup peka buat tahu kalo antara lo dan Tante Ajeng, ada masalah."
Daun melirik ke Mawar sedetik, lalu berkutat lagi ke kue-nya.
"Dan meskipun gue juga nggak tau ada masalah apa lo sama Tante, gue cuma mau kasih pesan penting buat lo."
"Sekarang hobi kamu ikut campur urusan orang lain juga?"
Mawar mendesis. "Gue nggak ikut campur. Gue cuma kasian sama lo, Bang."
Daun selesai memakan kuenya. Dia tidak pernah menyisakan sedikitpun kue favoritnya itu. Ia menyandar di bangku, melipat tangan di atas d**a. Kali ini Daun memperhatikan Mawar secara terang-terangan.
"Kalo lo terus bersikap dingin ke Tante Ajeng, suatu saat lo akan menyesal setelah nyokap lo nggak ada."
Daun mulai terhanyut dengan kalimat yang dilontarkan dari Mawar. Wajahnya masih datar, tetapi pikirannya sedang menelaah setiap kata yang ia dengar.
"Lo belum pernah ngerasain yang namanya nggak punya seorang ibu. Dan jangan pernah lo nyoba buat ngerasain hal itu. Rasanya nggak enak, Bang. Gue tau banget, kayak gimana rasanya," ucap Mawar mulai mendramatisir cara bicaranya, tetapi memang benar apa yang diucapkannya.
"Lo seharusnya bersyukur karena terlahir dari seorang wanita yang baiknya kayak Tante Ajeng. Lo seharunya ngebuka mata hati lo buat nyadarin hal berharga itu."
Daun mengembuskan napasnya cukup keras. Selain telinganya mendengarkan Mawar dengan baik, kedua matanya juga memperhatikan raut wajah Mawar saat berbicara. Sendu, parau, dan ironis.
"Lo nggak akan bisa ngebayangin gimana hidup selama 18 tahun tanpa hadirnya seorang Ibu di dekat lo. Ada saat di mana, lo pengen kayak anak-anak lain. Dianter sekolah, dibuatin makanan, dibacain cerita, atau ada yang nemenin lo saat lo sa ... kit." Nadanya merendah. Sebulir bening itu sudah menggumpal begitu cepat di pelupuk mata Mawar. Ia cepat-cepat membawa matanya ke atas agar deraian tidak jatuh ke pipinya.
"Duh, kok panas, ya," kata Mawar mengibaskan tangan ke arah matanya untuk mencegah gumpalan air itu turun.
Sementara Daun yang tahu persis apa yang sedang ia saksikan, merasa iba. Entah kenapa hatinya merasa tersayat ketika gadis yang selama ini ia lihat begitu cuek dan ceria, kini sedang berusaha untuk tidak menangis.
"Pokoknya, lo berenti deh. Jangan bersikap dingin lagi ke Tante Ajeng. Kalo ke gue sih, ya enggak apa-apa. Asal dikurangin dikit," lanjut Mawar menaikan nada suaranya. Cara bicaranya juga kembali seperti semula. Seperti Mawar pada biasanya.
"Saya mau berubah."
Seketika Mawar melebarkan matanya. "Serius?"
Mawar tidak sadar suara tingginya membuat para pelanggan menoleh ke arahnya. Termasuk Ajeng yang tengah sibuk di meja kasir.
Daun mengangguk cepat tapi samar. Mawar bangkit, menarik Daun untuk berdiri. "Yaudah kalo gitu kita mulai," ujarnya lalu menarik tangan Daun mengikutinya.
Daun lega. Keputusannya barusan, bisa membuat wajah mungil itu kembali bersinar.
"Sekarang lo pake celemek ini, terus lo bantuin di toko ini." Daun sebenarnya tidak mau memakai celemek berwarna merah muda itu, tapi Mawar memaksanya. Mawar pun memakaikannya.
Daun masih diam di tempat. "Sana bantuin. Tuh, liat rame tokonya. Kasian Tante Ajeng ngelayanin pembeli nggak udah udah. Katanya mau berubah."
"Saya nggak mau, kamu aja," tolak Daun.
"Yang anaknya Tante Ajeng siapa? Lo apa gue?"
"Lagian udah ada karyawan."
"Ada tapi cuma dua. Sementara toko lagi rame-ramenya. Udah sana cepetan," suruh Mawar dengan paksaan.
Akhirnya Mawar terpaksa mendorong punggung Daun untuk keluar dari dapur. Menuruti apa yang Mawar minta, membantu toko kue yang sedang ramai ini. Mawar tersenyum puas telah berhasil melakukan rencananya.
*****
Malam harinya. Toko sudah tutup.
"Tante Ajeng pulang sama Bang Daun, ya?" ujar Mawar.
"Nggak usah. Biar Tante naik taksi aja," sahut Ajeng merasa tidak enak kalau pulang bersama anaknya yang masih saja bersikap dingin padanya.
Mawar mengerucutkan bibirnya ke samping. Memikirkan gimana caranya ia harus berhasil membuat Daun pulang bersama dengan Mamanya.
"Bang, pulang sama Tante Ajeng, ya. Kasian kalo Tante Ajeng naik taksi sendirian. Nanti kalo diculik gimana? Bang Daun taro motor di toko aja, kan ada Mba Tina yang jagain. Baru besok ambil deh motornya."
Daun dan Mamanya sama-sama menjadi kikuk dengan ide Mawar yang agak konyol itu. Suasana jadi canggung, tetapi tidak untuk Mawar yang justru sangat sumeringah.
"Tante pulang sendiri aja. Biasanya juga begitu, kasian Daun kalau harus bolak-balik ambil motor ke sini," ucap Ajeng.
Kata orang di dunia ini tidak ada yang kebetulan, semua sudah direncanakan oleh Yang Maha Kuasa. Dan benar adanya karena malam ini, Daun dan Mamanya sudah ditakdirkan untuk pulang bersama. Terbukti dengan adanya taksi yang melintas di depan toko. Langsung saja Mawar melambaikan tangannya guna menghentikan taksi itu.
Mawar membukakan pintu taksi untuk Ajeng. Kemudian mendorong Daun untuk masuk ke taksi bersama Mamanya. Sekali lagi, Mawar tersenyum puas atas rencananya yang berjalan sempurna.
Mawar ikut merasa senang ketika melihat Daun yang mulai mau mengubah sikapnya pada mamanya. Hatinya terasa lega. Namun, entah kenapa, di antara euforia bahagia itu, ada sesak yang Mawar rasakan. Sejujurnya ia iri dengan Daun yang memiliki Ibu seperti Ajeng. Andai saja ....
*****
Bang, udah sampe rumah? Baik-baik, ya, sama Tante Ajeng.
Sent to Daun Anggara.
Belum ada sepuluh detik, ponsel Mawar bergetar. Dengan cepat Mawar men-slide layar ponselnya guna mengecek isi pesan yang ternyata memang dikirimkan dari Daun.
Daun Anggara : udah.
Mawar mendengus sebal. "Ngomong sama bales pesan sama-sama irit."
Gue ada di Taman kemaren nih. Kali ini gue pesen kopi manis. Bukan kopi pait kayak yang kemaren lo kasih ke gue ?
Sent to Daun Anggara.
Sudah lebih dari satu menit, tidak ada balasan dari Daun. Mawar memasukan ponselnya sambil berdecak sebal.
Ada rasa yang mulai tumbuh di hati Mawar. Seolah bunga di hatinya tengah bermekaran dan menyebarkan aroma semerbak yang membuat Mawar tersenyum kala mengingat seseorang yang akhir-akhir ini mengetuk pintu hatinya. Mawar belum tahu persis akan kemana arah perasaannya ini. Namun, yang jelas seorang Daun sudah menjadi bagian dalam hidupnya sekarang.
Jarum jam di pergelangan tangan Mawar sudah menunjuk di angka sembilan. Area taman juga sudah berangsur sepi. Baru saja Mawar hendak bergegas, cowok itu sudah berdiri di depannya. Seketika bibir mungil itu mengembang senyum. Mawar mengurungkan niatnya untuk bangkit dan kembali duduk di tempatnya tadi. Kali ini bersama Daun, tidak sendiri lagi.
"Lo ngapain kesini?" Mawar mulai membuka obrolan. Menghilangkan suasana sunyi yang sempat terjadi beberapa saat tadi.
"Cari angin."
"Angin kok dicari," sahut Mawar tergelak. "Mau gue beliin kopi?"
Daun tidak menjawab.
"Kalo diem berarti mau." Mawar bangkit, tetapi ditahan lengannya oleh Daun.
"Kenapa?" tanya gadis itu dan kembali duduk.
"Sebenarnya ada apa kamu sama Melati?" Cowok itu berbalik tanya.
Mawar diam. Pertanyaan seperti itu selalu bisa membuatnya tidak berkutik.
Sebelum menjawab, Mawar menarik napasnya dalam dan mengembuskannya dengan keras.
"Kak Melati marah sama gue, atau mungkin benci. Menurut Kakak, gue adalah penyebab meninggalnya nyokap. Karena tepat setelah gue lahir, nyokap meninggal. Dan lagi saat gue umur lima tahun, gue pernah nelpon Ayah untuk cepet pulang dan dibeliin mainan. Terus nggak lama kemudian, Om Fahri ngabarin ke gue dan Kak Melati kalo Ayah kecelakaan di proyek. Kak Melati nyalahin gue atas kejadian itu. Kalo aja gue nggak ngerengek ke Ayah untuk cepet pulang, mungkin sekarang Ayah masih hidup. Dan Kakak nggak akan benci sama gue," oceh Mawar dengan mata yang sudah berkaca-kaca. Suaranya pun sudah serak karena sedang menahan sesak yang ada di dadanya.
"Gue selalu berusaha untuk bisa dimaafin sama Kak Melati, tapi gue selalu gagal. Hanya penolakan yang gue dapet dari Kak Melati." Mawar tidak sadar kalau airmatanya sudah berjatuhan. Tatapannya mengarah lurus dan kosong.
"Udah ah, jangan nanya lagi. Gue nggak mau nangis. Gue nggak mau dianggap cewek yang ....."
Mawar tidak sempat melanjutkan ucapannya. Tiba-tiba ia merasakan kehangatan yang berasal dari cowok di sebelahnya. Daun menarik tubuhnya untuk berakhir di dekapannya.
Beberapa saat kemudian, Mawar mendorong Daun untuk menjauh.
"Bang, jangan peluk-peluk, deh. Malu tauk. Ini kan, tempat umum," gerutu Mawar.
Cowok itu pun tidak bereaksi apa-apa. Datar seperti biasa. Malah Mawar yang tampak menjadi salah tingkah.
"Udah malem. Gue mau pulang," kata Mawar bangkit dari duduknya. Secepat mungkin lengannya kembali ditahan oleh Daun.
"Saya antar pulang," ucapnya.
Mawar hanya mendelikan mata. Dia memandang Daun. Perasaannya mulai aneh lantaran berdesir ketika melihat wajah cowok galak ini.
"Yaudah, ayok cepetan." Mawar melepas tangannya dari genggaman Daun. Dia berjalan cepat mendahului cowok itu.
****
"Kamu udah tau kan, apa yang aku lakuin ke Mawar? Gimana? Apa kamu ngerasa tersakiti? Kalo enggak, berarti kamu memang ada masalah sama Adik kamu sendiri," ucap Randy dengan gayanya yang congkak. Berani mendatangi rumah Melati dan sekarang berakhir di ruang tamunya sambil mencibir Melati habis-habisan.
Melati hanya diam. Namun, asap di kepalanya sudah menguap sejak kedatangan Randy tadi. Satu-satunya alasan Melati mau menemui Randy hanya karena ada sesuatu yang harus Melati ucapkan pada cowok itu.
"Aku rasa kamu marah sama Mawar karena suatu hal. Aku bisa bantu kamu untuk memberi pelajaran ke Adik kamu itu. Caranya kamu hanya perlu nerima cinta aku dan kita pacaran, gimana?"
Kesabaran Melati sudah habis. Dia berdiri dan menampar Randy sekuat yang ia bisa. Sontak Randy ikut berdiri.
"Kamu udah berencana untuk nyakitin aku lewat adik aku sendiri, dan sekarang kamu dateng ke sini hanya untuk ngomong hal konyol kayak gini? Kamu mau aku jadi pacar kamu, untuk ngasih pelajaran ke adik aku? Kamu gila?!" Melati geram.
Randy membelalak. Kenapa sekarang ia justru menghadapi sesuatu yang berbanding terbalik dengan apa yang ia harapkan?
"Kamu nggak akan bisa nyakitin aku ataupun adik aku! Dan satu lagi, aku nggak akan pernah mau jadi pacar kamu. Sampai kapanpun. Karena hati aku selalu milik seorang Daun!"
Bertepatan dengan ucapan Melati barusan, Mawar dan Daun melewati pintu. Otomatis mereka mendengar kalimat yang membuat hati Mawar berdesir. Di satu sisi ia bahagia karena Melati mau mengakuinya sebagai adik, tetapi di sisi yang lain perasaanya retak karena nama Daun yang disebut sebagai orang yang dicintai kakaknya.
Randy maupun Melati sama-sama terkejut. Langsung saja Randy menghampiri Daun dengan kepalan yang sudah disiapkan untuk meninju wajah Daun. Suasana menjadi semakin riuh karena Daun juga membalas tinju-nya Randy. Mereka sama-sama menghasilkan bercak merah di sudut bibirnya. Mawar menenangkan Randy, sedangkan Melati menenangkan Daun. Tak lama juga seorang penjaga gerbang menghalau keributan itu. Melati menyerukan penjaga untuk membawa Randy keluar.
"Kamu enggak apa-apa?" Melati memeriksa wajah Daun yang sedikit memar. Menyentuh juga sudut bibirnya yang mengalirkan cairan merah.
"Saya enggak apa-apa," jawab Daun menepis tangan Melati setelah lirikannya ke Mawar.
"Mawar ambil kotak obat dulu, ya, Kak," kata Mawar berlari cepat mencari kotak obat di dalam. Selain itu ia sengaja tidak ingin menjadi peganggu antara kakaknya dan Daun. Mawar sudah tahu persis kalau mereka memang punya hubungan spesial.
Tidak lama kemudian Mawar kembali dengan kotak obat yang dibawanya. Lalu menyerahkannya kotak obat itu ke Melati. Ada rasa cemas di hati Mawar ketika melihat Daun yang wajahnya membiru.
Melati mulai mengobati wajah Daun dengan lembut. Sementara tubuh Mawar serasa kaku di tempat. Hatinya terasa perih melihat Melati dan Daun dalam jarak yang cukup dekat. Mawar tidak sanggup, ia melenggang pergi dari posisinya. Membiarkan Kakaknya merawat Daun.
Daun melirik ke Mawar yang menaiki anak tangga. Lalu ia menepis tangan Melati yang belum selesai mengobatinya.
"Tunggu dulu, biar aku obatin luka kamu."
"Saya baik-baik aja. Saya permisi," ujar Daun bangkit. Melati mengejarnya.
"Aku masih sayang sama kamu."
Daun menghentikan langkahnya. Namun, tetap tidak berbalik. Dan Melati memeluk punggung besar itu dari belakang.
"Aku tau aku salah. Tapi aku nggak bisa bohongin perasaanku lagi. Aku sayang sama kamu, Daun. Aku masih sayang dan akan selalu sayang. Aku mau kita balikan."
Daun melepas tangan Melati yang melingkar di pinggulnya. Berbalik menghadap gadis yang pernah menjadi masa lalunya.
"Maaf, tapi udah ada orang lain yang ada di hati saya," ucap Daun tegas dan yakin.
To Be Continued