Tok tok tok tok
Pintu terbuka menampilkan Anji yang berdiri di baliknya.
"Ada apa? Tumben pake ketok pintu segala. Biasanya juga kamu langsung masuk aja," ujar Anji setengah meledek.
"Bang Daun ada di sini nggak?" tanya Mawar sambil celingak-celinguk ke arah dalam.
Anji menoleh ke belakang. "Enggak ada tuh," jawabnya.
"Saya serius, Kak. Bang Daun ada nggak?" Wajah Mawar berkata demikian.
"Aku juga serius Mawar. Bang Daunnya nggak ada di sini," ulang Anji melebarkan mulutnya lantaran memperjelas ucapannya.
Mawar mendesah frustrasi. Pasalnya sejak tadi pagi dia mengirimi pesan dan mencoba untuk menghubungi cowok itu, tidak ada jawaban satupun.
Mawar merogoh ponsel di tas ranselnya. Mencari kotak seseorang lantas meneleponnya.
"Halo, Tante. Iya ini Mawar. Bang Daunnya ada nggak? ... Kemana? ... Oh, gitu, ya, Tante ... Yaudah deh, makasih ya, Tante." Setelah panggilan terputus, Mawar memasukan kembali ponselnya.
"Sejak kapan kamu kenal sama nyokapnya Daun?" Kerutan di kening Anji menandakan kalau ia cukup penasaran sejak Mawar menelepon tadi.
"Sekarang bukan waktunya untuk nanya itu. Kak Anji tau tempat yang suka didatengin Bang Daun?" tanya Mawar yang wajahnya semakin serius.
Anji bergumam lantaran mengingat-ingat tempat yang dipertanyakan Mawar.
"Tau nggak, Kak?" ulang Mawar lagi.
"Biasanya kalo lagi ada masalah, Daun suka naik gunung."
"Gunung mana?"
"Ada sih, satu tempat yang sering Daun datengin."
Mawar mendesis. Anji terlalu lama untuk sekadar menjawab pertanyaan singkatnya.
"Di mana?" tanya Mawar gemas bercampur sebal.
"Bogor."
"Anterin."
"Duh, War. Males banget aku. Emang ada apa sih?"
"Anterin dulu baru nanti aku jelasin di jalan."
"Tapi bener, ya. Kamu harus cerita ada apa," ujar Anji dengan telunjuknya yang mengarah ke wajah Mawar kala seperti memberi sebuah peringatan.
Mawar mengangguk cepat. Kemudian menarik lengan Anji untuk segera bergegas ke tempat di mana Daun berada.
*****
Untung saja hari ini Anji membawa mobil ayah-nya. Jadilah Mawar tidak perlu panas-panasan menyusuri jalan raya yang cukup padat di bawah teriknya matahari siang ini.
"Jadi, kamu adeknya Melati?" tanya Anji pada akhirnya setelah Mawar menceritakan inti permasalahan yang membuatnya sekarang harus cepat menemui Daun.
Mawar hanya mengangguk.
"Aku tau banget perjalanan cinta Daun sama Melati. Aku temen SMA mereka. Barengan juga tuh, sama Randy gesrek," cibir Anji.
Mendengar nama Randy, Mawar menoleh. "Randy?"
"Iya Randy. Denger-denger di pesta ulang tahunnya kemaren, kamu dipermaluin ya sama dia? Bener nggak sih? Aku cuma tau sepintas doang dari gosip para wartawan di kampus."
"Ya gitu deh," jawah Mawar seadanya.
Anji menoleh cepat ke Mawar di sela-sela aktivitas menyetirnya. "Terus kamu enggak apa-apa?" Nadanya sedikit khawatir.
"Emangnya saya kenapa, Kak? Saya biasa aja kok. Randy-nya aja kurang kerjaan," sahut Mawar dengan nada yang santai.
"Dasar, Mawar. Kamu emang cewek super unik yang pernah aku kenal," komentar Anji seraya mengacak puncak rambut Mawar.
*****
Ada sebuah pondok yang tidak begitu besar di tengah-tengah hutan. Tapak jalan menuju pondok itu cukup ramai oleh lalu-lalang orang yang akan mendaki atau sekadar berwisata alam. Belum lagi area jalannya luas sehingga mobil yang dikendarai Anji bisa terparkir sampai di depan pondok itu.
"Permisi, Mang Asep. Apa kabar Mang?" sapa Anji pada seorang pria berkisaran usia 35 tahunan.
"Aduh aden kamana wae? Sudah lama tidak ka sini? Mamang baik, Den," sahut pria itu dengan ramah. Tidak lupa logat sunda-nya yang kental.
"Saya sibuk kuliah, Mang. Oiya, Daun ke sini nggak?"
Pria yang bernama Mang Asep itu menggerakan ibu jarinya ke suatu arah di mana ada motor ninja merah yang terparkir di sisi pondok. Ninja milik Daun.
"Bisa dipanggilin, Mang?"
"Bisa atuh. Den Anji tunggu di sini saja dulu, biar Mamang naik motor gunung ke bukit."
"Makasih, ya, Mang."
Selang beberapa menit. Mang Asep dengan suara menunggangi motor yang bunyi mesinnya cukup mengganggu telinga itu kembali. Bersama Daun yang diboncenginya.
Mawar melambaikan tangan ke Daun yang tengah menghampirinya.
"Sorry, Bang. Mawar maksa buat nganter ke sini," sergah Anji sangat mengerti pandangan Daun yang super dingin itu. Apa lagi tandanya kalau bukan cowok itu sedang menahan marah.
"Jangan salahin Kak Anji. Emang gue kok, yang maksa dia. Ada yang mau gue omongin ke lo, Bang. Penting."
Anggukan yang diberikan Daun ke Anji mengartikan bahwa Anji harus meninggalkan Mawar berdua dengannya.
"Eh, tunggu, Kak. Kak Anji pulang aja duluan," sergah Mawar sebelum Anji beranjak dari posisinya.
"Terus kamu pulangnya gimana?"
"Gampang kok. Saya bisa telpon Mang Didi nanti."
Anji mengernyit bingung.
"Itu supir saya," kata Mawar menambahkan.
Selesai obrolan antara Anji dan Mawar. Gadis itu berjalan beriringan dengan Daun di tengah-tengah pohon besar yang rindang.
"Bang, gue mau ngomong sama lo."
Daun tidak menyahuti sepatah katapun. Dia tetap berjalan menyusuri hutan dengan langkah hati-hati karena dataran yang sedang ia pijaki ini cukup landai.
"Gue serius, Bang," sergah Mawar menghadang jalan Daun. Dia berdiri di depan cowok itu.
"Ini soal Kak Melati."
Sesaat keduanya sama-sa saling menatap.
"Gue tau lo pernah ada hubungan sama Kak Melati. Makanya gue sengaja nemuin lo saat ini karena mau ngomongin hal itu."
Daun merasa canggung ketika Mawar harus mengulang kembali kisah masa lalunya. Daun mencoba menghindar dari tatapan Mawar yang intens, tetapi cepat-cepat gadis itu menahannya.
"Dengerin gue dulu. Lo nggak boleh bikin Kak Melati sedih. Gue nggak mau ngeliat Kak Melati nangis kayak semalam. Pasti gara-gara lo, kan?"
Segera, sebelum Mawar berhasil menahannya lagi, Daun menghindar dari hadapan Mawar. Kali ini berhasil.
Ketika sampai di sebuah bukit yang cukup tinggi, Mawar yang tadinya masih ingin terus mendikte Daun perihal kakak-nya, seketika Mawar membelalak. Ada sebuah pemandangan indah tepat di sekelilingnya. Hamparan kota yang terlihat mungil saat dipandang dari atas bukit seperti ini. Belum lagi langit yang biru cerah membuat siapapun yang berada di sini merasa tentram.
"Tempat apaan ini? Keren banget sumpah. Kalo gue tau tempat ini, pasti gue sering ke sini deh." Decakan kagum Mawar membuat Daun menarik sudut bibirnya membentuk sebuah senyuman. Ia menghampiri Mawar di tepi bukit itu.
Mawar sadar akan tujuannya datang ke sini. Langsung saja ia membuyarkan kekagumannya pada tempat ini, dan mengalihkan lagi pandangannya ke Daun.
"Bang, gue serius. Apa yang gue bilang tadi, gue serius."
Daun menyodorkan sebotol air mineral dengan tutup yang sebelumnya sudah ia bukakan ke Mawar. Diteguknya air mineral itu karena tenaga Mawar hampir habis akibat mendaki untuk mencapai bukit ini.
"Lapar, nggak?" tanya Daun demi mengalihkan topik pembicaraa.
Mawar mengangguk cepat. "Laper," jawabnya dengan bibirnya sengaja ia cebikan ke bawah.
Daun berpindah posisi ke dekat tenda di mana ada sebuah tungku kecil dengan tumpukan kayu yang siap di bakar. Daun berencana memasakan Mawar semangkuk Mie Instan.
"Perasaan yang namanya Mie Instan sama aja. Tapi kok ini beda, ya. Apa karena lo yang buat ya, Bang?" Mawar tetap berkutat ke mangkuk berisi mie yang ada di tangannya. Ia bertanya, tetapi tidak sedikitpun menoleh ke cowok yang ada di sebelahnya.
Selama Mawar makan, Daun terus memperhatikannya. Cowok itu juga yang senantiasa mengambilkan Mawar air mineral setelah Mawar selesai dengan Mie Instan-nya.
Mawar menyibak bekas bumbu Mie di bibirnya.
"Jorok," cibir Daun.
"Wee, biarin," sahut Mawar dengan menyunggingkan bibirnya.
Sesaat Mawar mengedarkan pandangannya ke pemandangan sekitar. Lalu berhenti di wajah dingin itu lagi. Ia menarik napas dan mengembuskannya pelan.
"Gue mau lo balikan sama Kak Melati," ucapannya serius. Jarang bagi Mawar untuk berbicara dengan nada seperti ini. Beberapa detik Mawar dan Daun saling menatap. Daun bangkit dari duduknya, berdiri di tepi bukit dan menghadap ke hamparan di depannya. Mawar menyusulnya.
"Bang," panggil Mawar dengan nada yang pelan.
Daun menolehkan wajahnya seiringan dengan tubuhnya yang juga berputar menghadap ke Mawar. "Saya nggak bisa," sahutnya.
Mawar mengerutkan keningnya. "Kenapa nggak bisa? Kalian pernah saling menyayangi, kan? Jadi nggak ada salahnya untuk memperbaiki apa yang rusak." Sepertinya baru kali ini Mawar bisa mengucapkan kalimat yang bijak, dan ini semua karena hatinya sedang dilanda sebuah keadaan yang Mawar sendiri tidak bisa mengerti.
"Karena kamu."
Mawar mendelikan matanya beberapa kali. "Kamu? Gue maksudnya?" Telunjuknya mengarah ke dirinya sendiri. Mulutnya terbuka karena masih tidak percaya sekaligus tidak mengerti maksud Daun barusan.
"Ketika saya mencintai seseorang lalu saya dikecewakan, akan sulit bagi saya untuk menghilangkan kekecewaan itu. Dan saat saya sedang mencoba untuk menata kembali perasaan saya, ada orang lain yang datang ke hidup saya."
Mawar meneguk salivannya lantaran takjub karena kalimat Daun kali ini adalah kalimat terpanjang yang pernah Mawar dengar dari seorang Daun. Terlebih semua kalimat ini bermakna untuk dirinya. Mustahil.
"Orang itu adalah kamu."
Cukup sulit bagi seorang Daun untuk mengutarakan apa yang ada di hatinya. Dia bukan tipe cowok yang mudah untuk menyatakan cinta ke seseorang. Butuh mental yang kuat sampai akhirnya Daun menyerah dengan egonya. Namun, karena pernyataan itu membuat Daun dan Mawar menjadi canggung. Akan tetapi Mawar adalah Mawar. Gadis itu tidak cerdas dalam hal apapun, tetapi Mawar selalu bisa mencairkan segala suasana.
"Apapun itu, gue enggak mau tau. Dan gue akan pura-pura enggak denger apa yang elo bilang barusan." Mawar beranjak dari posisinya. Meninggalkan Daun begitu saja.
Akhirnya yang tadinya Daun ingin bermalam di bukit ini dengan berkemah, kini rencana itu gagal karena dia harus mengantar Mawar pulang sebelum matahari turun dan berganti menjadi malam. Mana mungkin Daun membiarkan dirinya hanya berdua bersama Mawar di atas bukit itu.
"Pokoknya elo harus baik sama Kak Melati. Elo nggak boleh suka sama gue, ngerti?" Seolah tidak terjadi apa-apa dengan perasaannya, Mawar tetap menginginkan Daun bersama Kakaknya.
Daun sudah mengantar Mawar sampai di depan gerbang. Mawar memaksa Daun untuk menemui Melati.
Mawar menarik tangan Daun untuk masuk ke dalam rumahnya. Bersamaan dengan itu, Melati yang baru saja keluar dari pintu langsung melirik ke tangan Mawar yang sedang bersentuhan dengan lengan besar milik mantan kekasihnya.
"Hai, Kak," sapa Mawar pada Melati. Sontak Mawar melepas genggaman di lengan Daun.
"Ini nggak kayak yang Kakak pikirin kok. Tadi Mawar nggak sengaja ketemu Bang Daun di jalan, terus Mawar minta anterin pulang deh, Kak."
Hening. Itu yang terjadi kalau Mawar mengoceh di depan dua orang dingin seperti Daun dan Kakaknya sendiri.
"Yaudah, Mawar masuk dulu, ya, Kak." Dengan wajah riang Mawar melangkah masuk, meninggalkan cowok yang sudah menggantikan nama Randy di hatinya, bersama orang lain. Bukan-bukan, tapi Kakaknya sendiri.
"Hai," sapa Melati dengan nada yang canggung. Yang disahuti oleh Daun dengan wajah datarnya.
"Saya permisi," pamit Daun berbalik. Ia meninggalkan posisinya dan juga Melati.
"Apa orang lain itu adalah adikku, Mawar?"
Daun menghentikan langkahnya, sesaat. Kemudian benar-benar pergi dari meninggalkan Melati.
To Be Continued