Bab 26 - Menjauh

1290 Kata
Bisa dibilang cowok pertama yang disukai Mawar adalah Randy. Sejak pertama Mawar kuliah, hanya Randy yang Mawar tahu. Selama masa SMA atau sebelumnya, Mawar tidak pernah menyukai cowok manapun. Mawar terlalu sibuk dengan dunianya sendiri. Pikirannya tidak pernah peduli tentang cowok famous manapun di sekolahnya terdahulu. Namun, saat ini yang Mawar rasakan bukan sebuah rasa suka. Mawar juga belum bisa menjabarkan dengan jelas rasa di hatinya. Yang Mawar tahu, saat ia berada di dekat Daun, perasaannya damai. Ada saat di mana Mawar ingin sekali membahagiakan cowok itu, sama seperti keinginannya untuk membahagiakan Melati, Kakaknya. Tidak ada suara ketukan di pintu kamar Mawar yang terdengar, tetapi seseorang tengah membuka pintu itu dan melangkah masuk. "Kakak?" Sontak Mawar bangkit dari telungkupnya. Tadinya ia sedang asyik memandang foto Ayah dan Ibu nya di bingkai itu. "Ada apa, Kak?" Melati maju beberapa langkah. Tidak begitu dekat memang, tetapi setidaknya ia bisa melihat jelas wajah Mawar yang sangat sumeringah perihal kedatangannya saat ini. "Apa kamu suka sama Daun?" tanya Melati tanpa basa-basi. Mawar mengerutkan dahi seraya dengan matanya yang melebar. "Mawar suka sama cowok itu? Ya, enggak akan mungkin lah, Kak. Kan Kakak tau sendiri kalo Mawar sukanya sama Randy. Meskipun Randy pernah jahat sama Mawar, tapi Mawar tetep sukanya sama Randy. Jadi nggak akan pernah Mawar suka sama cowok galak kayak Bang Daun itu," ucap Mawar dengan gaya khasnya. Nyaring, polos, dan berceloteh ria. "Kalo gitu kamu bisa bantuin aku?" Sontak Mawar mendekat ke Melati. Andai kakaknya tahu betapa bahagianya Mawar saat ini. Ketika Melati mau membuka obrolan terlebih dahulu dengannya. Hal yang selalu dinantikan Mawar setiap detik. "Bantuin apa, Kak?" tanya Mawar antusias. "Tolong jauhin Daun. Kamu jaga jarak sama dia." Mendengar permintaan tolong dari Melati, membuat pasokan napas Mawar berkurang secara drastis. Mawar meneguk salivannya lantaran demi memperlancar tenggorokannya untuk menjawab permintaan Kakaknya. Ada sesuatu tak kasat mata yang tengah menggores sebuah luka di hatinya saat ini. Akan tetapi, Mawar tetap mengangguk dengan yakin. "Iya, Kak. Mawar enggak akan deket-deket sama Bang Daun. Lagian Mawar emang jarang ketemu juga sama dia. Karena waktu itu Mawar ikut pendakian aja makanya Mawar kenal cowok itu. Tapi sekarang Mawar kan, udah keluar dari klub." Mawar tersentak. Seumur hidupnya, moment ini adalah hal yang menjadi impian terbesarnya Mawar. Melati memeluk Mawar. Otomatis sebulir bening menetes cepat dari mata Mawar yang sendu. "Makasih ya, karena kamu udah mau mengerti aku," ucap Melati lantas melepas pelukannya pada Mawar. "Aku yang makasih sama kakak, karena kakak udah mau ngomong sama aku kayak gini." Genangan kembali menggumpal di pelupuk mata Mawar. "Selama kamu menepati janji kamu, aku akan mencoba menerima kamu," kata Melati yang sontak membuat Mawar mendekapnya lagi. Gadis itu terlampau bahagia. ***** Mawar memang sudah memantapkan hati untuk menuruti permintaan kakaknya. Namun, yang terjadi pagi ini, perasaannya malah tidak baik-baik saja. Mawar mulai dilema. Dalam lubuk hati kecilnya, Mawar merasa berat untuk menjauhkan diri dari cowok itu. Meski sudah pasti dia akan melakukannya, tetap saja hatinya memerih. "Kakak kamu mana? Kok belum turun? Emangnya nggak kuliah?" tanya Fahri yang baru bergabung di meja makan. "Sebentar lagi mungkin, Om," jawab Mawar dengan nada yang lesu. Sangat tidak biasa untuk seorang Mawar. Sebentar, Fahri menelisik wajah Mawar. Dari cara makannya pun, Mawar terlihat berbeda. "Mawar, kamu sakit?" Mawar menggeleng. "Enggak, Om. Mawar baik-baik aja," sahutnya dengan senyum yang di paksakan. Dia kembali menyuap seujung sendok sarapannya dengan tidak bersemangat. "Oiya, besok lusa Om mau berangkat ke Amerika. Sudah cukup lama Om tidak mengontrol perusahaan Ayah kamu di sana. Selama ini Om hanya mendengar laporannya saja." Mawar hanya mengangguk. Nasi goreng di piringnya masih tersisa banyak. Sedaritadi Mawar hanya lebih sering mengaduk-aduk saja sarapannya itu. "Om," panggil Mawar seraya meletakan sendok ke piring. Dia sudah tidak lagi bernapsu melanjutkan makannya. "Ada apa, Sayang?" tanya Fahri setelah meletakan gelas yang baru saja ia teguk air di dalamnya. "Bukannya Ayah punya rumah di Amerika?" Fahri mengangguk. Mulutnya masih sibuk mengunyah makanan. "Kalo Mawar yang tempatin rumah itu dan tinggal di sana, gimana?" "Kamu mau liburan di sana?" Fahri berbalik tanya lantaran mengklarifikasi maksud pertanyaan keponakannya ini. "Bukan. Mawar mau nerusin kuliah di sana, terus tinggal di sana. Dan kemungkinan, Mawar akan menetap di sana." Tentu saja pernyataan tersebut membuat Fahri melebarkan matanya dengan sempurna. "Kenapa tiba-tiba begini?" tanya pria itu. "Enggak apa-apa, Om. Mawar cuma mau suasana baru aja, kok." "Apa keputusan kamu ini didasari karena sikap Melati beberapa waktu lalu?" tebak Fahri. Mawar menggeleng. "Bukan karena kakak sama sekali kok, Om. Ini murni keputusan Mawar." Fahri bungkam seribu bahasa. Wajahnya khawatir ketika memperhatikan ekspresi Mawar yang sepertinya berbeda dari biasanya. ***** Mawar sedang duduk di bangku taman kampus. Dia termenung. Memikirkan kembali permintaan kakaknya tadi malam. Selain itu, ada beberapa momen terlintas di benaknya. Di mana ada Daun yang seolah sengaja hinggap di benaknya tanpa permisi sama sekali. Mawar menyunggingkan senyumnya kala mengingat saat di mana dia tertawa senang ketika meletakan bunga di telinga Daun. Tepat di depannya ini, di mana ada sebuah pekarangan bunga yang pernah menjadi kenangan untuknya dan cowok itu. Kemudian Mawar tersentak ketika ada seseorang yang tiba-tiba duduk di sampingnya. Itu Daun. "Ngapain di sini?" tanya Mawar dengan kening berkerut. "Duduk," jawab Daun singkat. "Jangan duduk di sini. Kan, masih ada tempat lain yang masih kosong." Mawar memulai usahanya untuk menjauh dari cowok itu. "Terserah saya mau duduk di manapun." Mawar menghela napas. Akhirnya dia memilih untuk bangkit dan pergi. Daun pun menjadi heran karena sikap Mawar yang tidak seperti biasanya. Aneh. Karena setiap kali dia bertemu gadis itu, pasti ada sebuah obrolan panjang yang tidak begitu penting. Dan hal itulah yang membuat Daun semakin hari mengakui kalau Mawar harus ada di hidupnya. ***** Waktu istirahat, Mawar memilih untuk makan siang di Kafe milik Ajeng. Sebelum itu tentu saja dia memastikan kalau Daun tidak datang ke sini. Karena Mawar ingin sekali membeli kue cokelat yang sudah menjadi kesukaannya. Namun, anehnya ketika sepotong kue cokelat itu sudah tersaji di depannya, Mawar sama sekali tidak ingin menyantapnya. Dia malah memandangi kue itu. Atau lebih tepatnya kembali melamun tentang Daun dan kakaknya, Melati. "Mawar," panggil Ajeng. Sayangnya, Mawar tidak menggubris hal itu. "Mawar." Ajeng melambaikan lima jarinya di depan wajar Mawar. Barulah gadis itu terkesiap. "Eh, tante. Ada apa?" "Kamu melamun?" tanya Ajeng seraya duduk di depan Mawar. Gadis itu hanya bergumam dan sedikit kikuk lantaran memikirkan kalimat yang tepat untuk menjawab pertanyaan Ajeng. "Kalau kamu lagi ada masalah, kamu bisa kok, cerita semuanya ke tante." "Sebenarnya ...." Baru saja Mawar akan bercerita, kedatangan Daun ke Kafe membuat lidahnya kelu. Apalagi saat cowok itu langsung menghampirinya tanpa segan. "Tante, Mawar balik ke kampus dulu, ya. Sebentar lagi Mawar mau ada kelas," pamit Mawar cepat-cepat berdiri dan menghindar dari Daun. Ajeng pun bingung dengan situasi di hadapannya ini. Dia tidak bisa berkomentar apapun. Sedangkan Daun langsung berusaha mengejar Mawar. Sampai depan pintu Kafe, Daun berhasil menahan lengan Mawar. "Kenapa kamu menghindari saya?" sergah Daun. Sontak Mawar melepas genggaman tangan cowok itu dari lengannya. "Gue enggak menghindar. Dari awal pun, kita emang enggak pernah deket, kan? Jadi enggak ada alasan buat kita ada di jarak yang dekat kayak gini." "Ada." "Ada apa maksudnya?" Mawar mengernyit. "Ada alasan kenapa kamu dan saya harus ada di jarak yang dekat seperti ini," ucap Daun seraya kakinya yang melangkah maju mendekat ke Mawar. Jarak mereka kini kurang dari satu jengkal kaki. Mawar pun menjadi kikuk dan terasa kaku. Seperti ada sesuatu yang tidak terlihat sedang menahan kakinya untuk tidak bergerak ke manapun. Terlebih keduanya saling beradu pandang dalam beberapa saat. Cukup dalam sampai Mawar kesulitan menelan salivanya. "Kamu mau menjauhi saya?" tanya Daun sekali lagi. Mawar mendelikan matanya sekali. Lalu cepat-cepat dia berbalik dan berlari menjauh dari cowok itu. "Saya enggak akan membiarkan kamu lari dari saya. Enggak akan pernah," tegas Daun dalam hati. To Be Continued
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN