Setiap masalah pasti berbeda-beda cara penyelesaiannya. Berbeda pula prosesnya dalam menemukan jalan keluar tersebut. Dan kali ini, masalah yang sedang dihadapi adalah menentukan sebuah pilihan yang terbilang sulit. Cinta atau keluarga.
Dalam hidupnya, Mawar tidak pernah merasakan cinta dari seorang laki-laki. Tidak pula cinta dari keluarganya, kecuali seorang Fahri yang berstatus sebagai adik dari Ibu-nya. Hanya satu yang tertinggal, yaitu seseorang yang mempunyai hubungan darah begitu kental dengannya. Siapa lagi kalau bukan kakak kandung Mawar sendiri, yakni Melati. Dan Mawar tidak pernah sekali pun mendapat cinta dari kakaknya itu.
Kini, di saat ada secercah harapan untuk Mawar bisa merasakan kasih dari Sang Kakak, tetapi hal itu bertepatan juga di mana ia akan merasakan cinta dari seorang laki-laki.
Mungkin banyak orang di sekitar Mawar yang mengangggap Mawar adalah seorang gadis childish. Namun, Mawar bukanlah seorang yang egois. Ia lebih jauh mementingkan kebahagiaan orang lain ketimbang apa yang dirasakan dirinya sendiri.
Seperti sekarang ini yang akan dilakukan Mawar. Dia rela mengabaikan rasa sakit saat bertemu dengan Randy, hanya untuk membicarakan sesuatu mengenai Kakaknya. Sama halnya seperti kemarin ketika Mawar berusaha menjauh dari cowok yang mulai masuk ke dalam hatinya.
"Rand," panggilnya ke cowok yang tengah asyik bergurau bersama ketiga temannya.
"Ada apa?"
"Ada yang mau aku omongin ke kamu."
Randy mengibaskan tangannya pada ketiga cowok di depannya. Mengisyaratkan mereka untuk meninggalkan Randy bersama Mawar.
"Ngomongin apa?" tanya Randy setelah teman-temannya berangsur pergi. Nadanya datar, hampir mirip seperti gaya Daun berbicara.
Mawar duduk di hadapan Randy. "Tentang Kak Melati. Mulai sekarang ... tolong kamu jangan gangguin hubungan Kak Melati sama bang Daun. Meskipun aku enggak tau persis masalah kamu sama mereka, tapi yang jelas kamu harus biarin hubungan mereka."
"Kamu ngancem aku?"
Mawar mengangguk. "Iya. Aku ngancem kamu. Kalo kamu enggak mau denger apa yang aku bilang barusan, kamu bakalan berhadapan sama aku." Mungkin kalau Melati yang berbicara sarkastik seperti itu, akan terlihat menyeramkan. Akan tetapi ini Mawar yang berbicara. Jelas membuat Randy tampak mengulum senyum mencemooh. Bahkan, cowok itu menyembur tawanya secara jelas.
"Jangan ketawa. Aku serius."
"Oke-oke, aku nggak ketawa," kata Randy masih di sisa-sisa kegeliannya. Dia mencoba serius di detik berikutnya.
"Apa kamu ngelakuin ini karena masih berharap sama aku? Kamu nyuruh aku jauhin Melati biar aku sukanya sama kamu aja, gitu?" lanjut Randy bertanya.
Mawar menggeleng cepat. "Bukan. Bukan gitu. Aku ngelakuin ini karena sayang sama Kak Melati. Aku mau Kakak bahagia sama pilihannya. Dan orang itu bukan kamu tapi Bang Daun."
"Kamu ngelakuin ini karena Melati?" tanya Randy seperti tidak percaya.
Mawar mengangguk sangat yakin.
"Emangnya Melati juga sayang sama kamu sampe kamu ngancem aku kayak gini cuma untuk dia?"
"Dia yang kamu maksud itu kakak aku, dan Kak Melati adalah segalanya buat aku," sahut Mawar begitu tegas dan lantang.
Randy mengembuskan napasnya keras. "Oke kalo gitu. Aku nggak akan pernah ganggu hubungan Melati sama Daun lagi."
"Beneran?" Nadanya terdengar sangat sumeringah.
Randy mengangguk.
"Tapi ...."
"Tapi apa?"
"Ada masalah apa sebenernya kamu sama Melati? Bukannya dia benci sama kamu, kenapa kamu masih mau ngelakuin hal kayak gini untuk dia?"
"Barusan kan, aku udah bilang kalo aku sayang sama Kak Melati. Kamu pikun?"
Randy mendengus geli. Pandangan Randy ke Mawar seperti sedang menelisik sesuatu kalau ada hal besar yang sedang terjadi di antara Kakak-beradik itu.
"Kamu belum jawab pertanyaanku tadi. Ada masalah apa kamu sama Melati?"
"Enggak ada apa-apa. Aku sama Kak Melati udah baik-baik aja kok sekarang. Udah, ya. Aku mau ke kelas dulu. Dah Randy," pamit Mawar melambaikan tangannya dan melenggang pergi dari hadapan Randy.
Tugas keduanya sudah selesai untuk menghalangi Randy mengganggu hubungan kakaknya dengan Daun.
*****
Keesokan harinya.
Masih ada hal yang harus Mawar lakukan menyangkut hubungan Melati dan Daun. Kali ini langkahnya menuju sebuah pintu yang sebelumnya sering ia masuki.
Mawar mengetuk pintu. Hanya beberapa detik, sudah ada Anji yang membuka pintu itu.
"Pas banget aku mau ketemu Kak Anji," ujar Mawar dengan senyumnya mengembang.
"Ada apa? Nyari Daun?"
"Bukan. Aku nyari Kak Anji." Mawar menghentakan setiap kata yang ia ucapkan.
"Coba bentar aku liat di dalem, ada Daun nggak." Anji melengoskan wajahnya ke belakang. Lalu ke depan lagi sembari menahan geli.
Mawar mendengus geli. "Apaan sih, Kak? Ngelawak kok, garing banget."
Anji tergelak. "Ada apaan sih, nyari-nyari aku? Tumben banget."
"Sini bentar deh, Kak." Mawar menarik pelan lengan Anji untuk ia giring ke salah satu tempat duduk yang ada di depan ruangan klub.
"Aku mau nanya." Mawar sudah duduk bersama Anji di sebelahnya.
"Nanya apa?"
"Tentang hubungan Kak Melati sama Bang Daun."
"Yang kamu mau tanyain apa?"
"Semuanya. Dari awal sampai akhir," jawab Mawar mantap.
Anji menelisik wajah Mawar dengan kening yang berkerut. "Kenapa kamu nanyanya ke aku? Kenapa enggak ke Daun atau ke kakak kamu sendiri?"
"Mereka enggak akan mau jawab. Jadi mendingan aku nanya ke kak Anji aja. Katanya kan, kak Anji tau sejarah hubungan mereka."
"Oke, dengerin kalo gitu."
Mawar tengah bersiap-siap membuka telinganya selebar mungkin agar tidak ada kisah yang terlewat sedikitpun dari Anji tentang Melati dan Daun. Mawar harus tahu semuanya.
"Jadi gini. Aku temennya mereka dari SMA. Daun sama Melati pacaran dari SMA juga. Mereka pacaran dari semester terkakhir kelas tiga sampai awal-awal masuk kuliah. Terus si Daun itu kan suka banget sama mendaki. Jadi Daun jarang ada waktu untuk Melati," ungkap Anji. Sedetik Anji menghela napas panjang.
"Nah, saat itulah Randy dateng. Setau aku, Randy yang ngompor-ngomporin Melati biar putus sama Daun."
"Kenapa Randy ngelakuin itu?"
"Karena Randy juga suka sama Melati sejak SMA. Jadi Randy itu adik kelas kita di SMA. Dia juga ikut kegiatan mendaki sama kita."
"Oh, pantes waktu itu aku pernah ketemu Bang Daun di acara reuni SMA-nya Randy," gumam Mawar sambil mengingat kembali kejadian beberapa waktu silam.
"Iya waktu itu emang ada reuni khusus anggota pendaki. Aku nggak bisa dateng karena ada urusan."
"Terus terus?"
"Yaudah Daun putus sama Melati."
"Yang mutusin duluan siapa?"
"Melati."
"Kok, Kakak?" Mawar mengernyit bingung.
"Duh, gimana ya, War. Aku cuma tau sampe di situ aja sih. Untuk lebih jelasnya kamu harus tanya sendiri ke Melati atau Daun. Itu juga aku taunya dari Melati sepintas. Kalo Daun, kamu kan tau sendiri dia orangnya jarang ngomong. Jadi untuk urusan curhat gitu, dia jarang banget."
"Kak Melati curhat ke Kak Anji?"
"Sedikit sih. Melati bilang Randy yang ngomporin dia terus."
"Kalo Kak Melati tau di komporin sama Randy, kenapa Kak Melati terhasut?" tanya Mawar semakin bingung dan tidak habis pikir.
Anji mengembuskan napasnya keras. Ia merasa sedang menjelaskan pelajaran pada adiknya yang berumur sepuluh tahun.
"Melati itu cewek cerdas. Dia bisa menilai sebuah situasi yang tersirat. Jadi jelas lah, Melati tau rencana busuknya Randy."
"Tapi kenapa Kakak tetep mutusin Bang Daun?" Mawar bergumam. Nadanya pelan nyaris tidak terdengar oleh Anji.
Setelah pembicaraan itu hampir selesai, Daun yang baru akan memasuki ruangan klub, melihat Mawar bersama Anji. Sesaat antara Daun dan Mawar saling melempar pandang. Dan kemudian Daun berpaling lebih dulu dengan melewati pintu itu.
Ada rasa perih yang dirasakan Mawar. Namun, inilah pilihan yang Mawar ambil. Ia harus membuat Daun bahagia bersama Melati, kakaknya.
Anji pun pamit ke Mawar untuk menyusul Daun masuk ke ruang klub.
"Bang, kok melengos aja. Ada Mawar tuh. Disapa, kek," sergah Anji ikut duduk di sebelah Daun.
Sang empunya sama sekali tidak menjawab. Dia malah menyandarkan punggung beserta kepalanya di sofa. Matanya terpejam.
"Mawar nanya-nanya soal hubungan elo sama Melati waktu SMA dulu," ujar Anji.
"Jawab aja semuanya yang dia mau tahu," sahut Daun tanpa ada niatan untuk membuka matanya. Cowok itu seperti sudah bisa menebak jalan pikiran Mawar.
"Gue jadi penasaran deh. Kayaknya ada sesuatu antara elo dan Mawar. Apa dia suka sama elo, Bang?" tanya Anji.
Daun mengunci bibirnya rapat-rapat. Tentu saja membuat Anji merutuk kesal. Bukan hal yang aneh lagi.
"Sabar gue, mah, Bang. Udah lebar hati gue kalo ngomong jarang disahutin begini," gerutu Anji lantas berpindah tempat ke kursi untuk membuka kembali data-data member yang memang sedang ia kerjakan.
Sedangkan Daun, dia sudah membuka matanya. Memandangi langit-langit ruangan di atas kepalanya. Wajah Mawar beberapa saat tadi terlintas di benaknya.
"Dia suka sama saya? Apa benar begitu?" tanya Daun dalam hati.
To Be Continued