Biasanya Mawar tidak pernah berdiam diri di kelas, ia selalu menggunakan waktu senggangnya untuk hal-hal yang ia anggap menyenangkan. Namun, kali ini berbeda. Masalah perasaan yang sedang dia hadapi sekarang, bisa membuat karakter aslinya mulai berubah. Wajahnya sudah sulit untuk tersenyum bahkan tertawa. Meski begitu, Mawar selalu berusaha keras agar ia tidak kalah dalam perang ini.
Suara keributan di belakang Mawar berhasil membuatnya menoleh.
"Ada apaan, sih?" Mawar bangkit, menghampiri orang-orang yang sedang berkerumun di meja paling belakang.
"Ada apa sih?" tanya Mawar dengan nada seperti biasanya. Nyaring, ceria, dan polos.
"Ini lho, majalah kampus kita bulan ini, modelnya anak manajemen semester enam yang namanya Melati. Cantik banget dia di majalah ini." Ada salah seorang yang menjawab rasa penasaran Mawar.
"Kakak jadi model?" gumamnya seorang diri. Rasa penasaran semakin menjadi di benak Mawar. Sekuat tenaga ia menerobos kerumunan yang di antaranya ada para gadis dan tidak sedikit pula ada cowok-cowok di situ.
"Coba gue liat," sergah Mawar dengan tangannya yang terulur guna mencapai majalah itu. Mawar mendapatkannya. Ia membaca judul di cover majalah dan menyimpulkan senyum melihat kakaknya yang tersenyum di sana.
"Apaan sih, War. Siniin dong majalahnya! Kita kan juga mau liat."
"Tau tuh, rese banget jadi orang."
Para koor membahana itu bergantian mencibir Mawar yang tiba-tiba datang mengganggu keasikan mereka. Jelas mereka merasa risi. Ada beberapa bahkan yang menatap Mawar dengan sinis.
"Siniin," sergah seorang cewek yang merebut kembali majalah di tangan Mawar.
"Pinjem sebentar doang pelit banget," gerutu Mawar mengerucutkan bibirnya ke depan. "Lagian itu kakak gue juga."
"Melati emang kakak lo, tapi elo jauh beda sama dia tauk," cibir salah seorang lagi yang maju menghampiri Mawar.
"Beda gimana? Udah jelas kita sama-sama cantik, kok," sahut Mawar polos.
Serempak beberapa orang di belakangnya menyoraki Mawar dengan nada yang tidak suka.
"Cantik mungkin iya. Tapi kepribadian lo itu jauh beda sama Melati. Pinter, dewasa, seksi, anggun, banyak disukai cowok, enggak bawel, enggak kayak anak kecil. Apa lo punya salah satunya?"
Mawar bungkam seribu bahasa.
"Enggak punya kan?" tanya lagi cewek itu. Rambutnya pendek sebahu dengan kulit berwarna kecokelatan. Wajahnya sinis.
"Tapi kan, tetep aja gue sama Kak Melati itu adek kakak," kata Mawar kukuh. Tidak ada emosi di dalam nada bicaranya, hanya saja dia harus sedikit menegaskan kalau dirinya mempunyai hubungan darah dengan gadis yang berada di dalam majalah itu.
"Elo nggak pantes, War, jadi adeknya Melati. Pantes aja selama ini lo nggak pernah diakuin sama dia. Kelakukan lo aja udah kayak anak TK begini. Penampilan juga. Beda sama Melati pokoknya." Teman sekelas Mawar lainnya ikut mencemooh.
Setelah mencebik kesal. Mawar meninggalkan kelas dengan menghentakan kedua kakinya secara bergantian. Sesungguhnya, perasaan Mawar kini serasa sedang diremas sangat kuat. Namun, dia tetap berusaha menghadapinya dengan santai.
*****
Mawar keluar dari mobilnya saat ia melihat Daun yang tengah berada di depan pintu gerbangnya.
"Bang Daun ... mau ngapain ke sini? Mau ketemu sama kak Melati?" tanya Mawar sedikit canggung.
Daun tidak menjawab. Dia malah mematung seraya memandangi wajah Mawar begitu lekat. Tentu saja hal itu semakin membuat Mawar salah tingkah.
"Saya mau ketemu kamu."
Untuk beberapa saat Mawar terdiam. Perasaannya seperti mencelos begitu saja ketika cowok di depannya ini mengucapkan kalimat sederhana itu, tetapi berhasil menyesakan dadanya.
"Masa mau ketemu sama gue? Sama Kak Melati kali." Meski nada bicaranya terlalu riang, tetapi saat ini di dalam hatinya, Mawar sedang bertahan dari rasa perih.
Mawar tersentak, berubah menjadi patung. Daun menghampirinya sangat dekat dan memeluknya. Seketika napas Mawar tercekat.
"Bukan Melati orangnya tapi Mawar," ucap Daun sambil mendekap Mawar tambah erat.
Matanya membulat, lidahnya sangat kelu untuk membalas ungkapan yang baru saja ia dengar. Kemudian, Mawar mendorong perut Daun secara paksa.
"Apaan sih, Bang. Elo enggak boleh suka sama gue. Elo harusnya sama kak Melati, bukan gue. Ngerti?" Setelah berbicara yang tak sesuai dengan hatinya, Mawar meninggalkan Daun begitu saja.
"Saya hanya berbicara hal ini sekali. Kalau kamu menolak, saya tidak akan pernah mengucapkan hal yang sama untuk kedua kalinya. Jadi, jangan sampai kamu menyesal."
Pernyataan itu berhasil menghentikan langkah kaki Mawar. Ya, tentu saja ia akan menyesal. Namun, tidak mengapa asal kakaknya bahagia.
Bertepatan saat Mawar hendak melewati pintu rumahnya, Melati keluar dari pintu itu. Mereka berpapasan.
"Hai, Kak," sapanya berusaha seperti biasa ketika hatinya tengah menahan sebuah gejolak yang menyakitkan.
Wajah Melati tidak datar dan dingin seperti biasanya. Sudut bibirnya terangkat seperti sebuah senyuman, sekalipun hanya sedikit.
"Ada Bang Daun, tuh. Katanya mau ketemu kakak. Cieeee, kak Melati diapelin sama pacar," ledek Mawar dengan senyum sumeringah. Sangat berbeda dari apa yang sedang ia rasakan detik ini.
Melati menoleh ke gerbang, melihat Daun yang masih berdiri di sana bersama motornya.
"Mawar masuk dulu, ya, Kak. Selamat pacaran."
Melati menatap punggung Mawar masih dengan senyum yang sedikit. Rasanya ia berbinar bukan karena telah memaafkan adiknya, melainkan cowok yang disukainya tengah berada di rumahnya.
Apalagi Daun menghampirinya di pintu dan menerima begitu saja ketika Melati mempersilakannya masuk.
Kebetulan sekali ada Fahri yang menuruni anak tangga saat Melati dan Daun tengah mengobrol di ruang tamu. Mungkin bukan sebuah obrolan, karena sudah hampir satu jam Daun duduk bersama Melati, kata yang terlontar bisa dihitung dengan jari. Karena begitulah dua orang dengan kepribadian yang sama jika disatukan. Mereka lebih banyak saling memandang.
Fahri menghampiri ruang tamu, mengajak Daun untuk makan malam bersama. Tentu saja di meja makan sudah ada Mawar yang menunggu.
Hening. Hanya ada suara dentingan sendok dan garpu yang beradu dengan piring. Mawar mencuri lirik terus ke Daun yang duduk di depannya. Cowok itu menyadari, tetapi sama sekali tidak menoleh ke Mawar.
"Jadi, hubungan kamu dengan ponakan Om, Melati, apa?" Fahri membuka suara setelah meneguk air mineralnya. Makannya sudah habis.
"Melati pernah pacaran sama Daun, Om. Tapi sekarang Melati sama Daun cuma teman," sahut Melati.
"Om tidak bertanya sama kamu, Mel. Om tanyanya sama Daun," balas Fahri menyulut senyum. Dan berpindah pandang ke Daun yang juga sudah selesai dengan makan malamnya.
Selama beberapa saat, Daun memandang ke arah Mawar. Lalu berpindah ke Melati dan mulai bersiap menjawab pertanyaan Fahri.
"Saya dan Melati akan memulai kembali hubungan kita, Om."
Jawaban itu, sontak membuat Mawar melahap makanannya dengan cepat.
"Om, Mawar duluan, ya. Mawar ada tugas kampus."
Mawar beranjak. Ia menjadi salah tingkah sendiri dan tentu membuat Fahri mengernyit. Berbeda dengan Melati yang sepertinya tahu ada apa dengan adiknya itu.
Braaaak!
Semua orang di meja makan menghampiri Mawar yang sudah tergelepar di ujung tangga. Mawar terjatuh ketika ia cepat-cepat menaiki beberapa anak tangga itu.
"Astaga, Mawar. Kamu enggak apa-apa? Kenapa bisa jatuh begitu, sih?" Fahri cemas. Begitupun Melati yang mungkin memang tidak begitu tampak raut khawatirnya. Namun, Daun, tidak bisa membohongi rasa khawatirnya pada gadis itu.
Mawar tidak menjawab pertanyaan Fahri. Ia hanya terus mengaduh kesakitan di tumit kakinya sampai tiba-tiba tubuhnya diangkat oleh Daun.
"Tolong tunjukin kamarnya Mawar," kata Daun.
Segera, Fahri jalan terlebih dahulu menaiki anak tangga. Memberi arahan Daun yang sedang menggendong Mawar ala bride. Membuat Mawar bisa melihat wajah Daun cukup jelas. Wajah yang selama ini tidak pernah tersenyum padanya dan wajah yang membuatnya merasakan sesak di d**a.
"Om, ambilkan air hangat dulu, ya," kata Fahri segera bergegas.
Daun sudah meletakan Mawar di ranjangnya, duduk di dekat kaki Mawar. Sedangkan Fahri keluar dari kamar Mawar bertepatan pula dengan ponselnya yang berdering. Melati hanya menunggu di depan pintu.
"Eh, nggak usah. Biar nanti bik Ratna panggilin tukang urut aja," sergah Mawar ketika Daun menyentuh tumitnya untuk dipijat. Mawar merasa risi. Akan tetapi Daun tetap menahan dengan kuat kakinya agar tetap dipijat oleh cowok itu. Bukannya apa-apa, tetapi Mawar tidak mau sampai kakaknya melihat ini.
Hening untuk beberapa detik. Fahri belum juga kembali. Dan Melati tak kunjung masuk ke kamar Mawar. Daun masih setia memijat-mijat tumit mungil itu.
"Misalkan ... ada sebuah perahu di tengah laut. Di dalamnya ada elo, tante Ajeng, dan pacar elo. Tapi tiba-tiba perahu itu oleng dan harus ada satu orang yang pergi dari perahu itu. Elo akan ngorbanin siapa?" Mawar membuka suaranya.
Butuh beberapa detik, baru Daun bersuara. "Saya yang akan menjatuhkan diri saya sendiri dan tenggelam di dasar laut."
"Kenapa? Kenapa elo nggak pilih nyokap lo karena suatu saat lo bisa cari pacar lagi, dan kenapa lo nggak pilih pacar lo karena suatu saat nanti pacar lo itu akan ngasih kebahagiaan buat lo."
"Kenapa harus mereka yang saya korbankan? Karena saya lah, yang harus berkorban untuk dua orang yang saya cintai," jawab Daun masih berkutat di tumit kakinya Mawar.
Sesaat Mawar memandangi wajah cowok di depannya ini. Rasanya dia ingin menangis, tetapi berusaha keras untuk tidak menjatuhkan air matanya. Sakit dan sesak.
"Berarti pilihan gue enggak salah. Gue harus ngelakuin hal yang sama kayak yang lo pilih, Bang."
To Be Continued