Seketika aku mengalihkan pandangan ke arah luar jendela, menyembunyikan kedua ujung bibir yang serta merta terangkat dan tidak bisa ditahan. Hadeh .... Kenapa laki-laki ini mendadak jadi manis dan senang membuat orang melambung? Pipiku terasa menghangat. Mobil yang ia kemudikan melaju sangat lamban. Entah berapa kilometer per jam. Saking lambannya, aku bahkan merasa seperti tidak bergerak saja. Ingin bertanya kenapa jalannya begitu lamban, tetapi bibirku urung terangkat. "Kamu enggak ada mau kemana lagi sebelum benar-benar pulang?" tanyanya setelah beberapa lama suasana di antara kami hening. "Enggak." Aku menggeleng. "Enggak ada yang mau dibeli?" "Enggak." Dari ekor mataku, dapat kulihat ia sedang menoleh memerhatikanku dan itu berlangsung beberapa jenak. "Kamu sangat mirip deng

