Buat Naga Elemental

1006 Kata
Anwu, seorang mentor yang bisa berubah menjadi tipe flying tepatnya burung garuda. Pandangan tajamnya mampu melihat dari jarak jarak. Anwu mampu menghentikan gerak Arsada tanpa berlawanan. Hari itu Anwu mengunjungi Arsada yang sedang dipenjara. Beberapa tumpuk buku telah dia siapkan untuk naga elemental itu. Tatkala hendak kembali beberapa orang datang menghampirinya. "Pak Anwu, Anda dipanggil kepala akan demi," kata seorang diantara mereka. Tak perlu berpikir lama Anwu langsung saja berbelok arah. Dia mengikuti kemana pun langka orang tersebut. Tibalah mereka di sebuuat ruangan. Orang yang mengantar Anwu pergi begitu saja. Ruang di depan mata dimasukinya. Terdapat beberapa staff di sana. Bangku yang ada di dekatnya diduduki. Para mentor sudah berkumpul di sana. Kepala sekolah telah hadir, sorot proyektor menyala terang. "Aku tadi pagi dengar kabar berita bahwa salah satu murid menyerang mentor saat sedang latihan fisik. Dan murid itu adalah naga elemental. Jadi apa pendapat kalian?" kata kepala akademi. "Menurutku langsung saja kita bunuh. Belasan tahun yang lalu kita kehilangan banyak shape shifter terhebat gara-gara naga elemental. Untuk mencegah itu lebih kita musnahkan sebuah kejadian belasan tahun terulang lagi," kata seorang mentor yang berbadan besar, Basura. "Tidak bisa, yang aku lihat naga elemental akan melawan jika ada mengancam pada dirinya. Karena itu kerusuhan terjadi. Jika kita lakukan ini mungkin saja kita bisa membunuhnya tapi kemungkinan kita kehilangan banyak orang. Menurutku lebih baik kita buat naga elemental berpihak pada kita. Kita jadikan prajurit terhebat," kata Anwu. "Pak, bukankah itu sama saja memelihara ular di dalam rumah," kata staff keamanan. "Lebih tepatnya memeliihara naga. Dulu kita juga punya naga perempuan, jadi aku setuju dengan garuda," kata mentor cantik, Andirani. "Kalau aku sebaiknya tetap kita latih seperti yang lain. Tapi kita beri suntikan khusus. Jika dia memberontak dalam waktu satu tahun ini tinggal kita tekan terus selesai," kata Nila, seorang perwakilan depertemen keamanan. "Baiklah, selama naga itu hidup aku akan setuju atas keputusan ini," kata Anwu. "kalau aku tak mau ambil resiko, aku setuju pada Pak Basura," kata wakil kepala akademi. Permusyawarahan berlangsung sangat alot. Suara terpecah menjadi dua bagian, membunuh Arsada dan membiarkan hidup dengan berbagai syarat. Sang kepala akademi angkat bicara, "Bagaimana kalau kita ambil sampel dulu selama tiga bulan. Jika naga itu berulah tinggal bunuh saja." "Aku setuju, Pak," kata wakil kepala akademi. Hampir semua orang yang hadir di sana menyetujui keputusan kepala sekolah. Mau tak mau Anwu mengangkat tangan tanda setuju. "Pak, aku minta izin untuk melatihnya walau dia dipenjara karena aku yang paling mengenal naga elemental," katanya. "Baiklah, tapi naga tak boleh keluar dari penjara sebelum tiga bulan," kata kepala sekolah. "Pak, aku ikut menemani atau sebagai pengganti jika sang mentor garuda sibuk," kata Disti Raven. "Perlu itu untuk jaga-jaga jika naga mengamuk," kata wakil kepala sekolah. "Jika kalian berkunjung tolong ambilkan suntikan di laboratorium," kata staff kesehatan. "Bagaimana jika kalian bertiga selesaikan masalah ini sekarang juga. Siapkan obat terkuat dan tahan hingga satu tahun," perintah kepala akademi. "Siap, Pak." Anwu, Disti Raven dan seorang staff bernama Karunia kesehatan keluar dari ruang rapat. Laboratorium menjadi tempat tujuan mereka. Secepat mungkin karunia mencampurkan bahan kimia. Beberapa orang yang lain ikut serta dapat pembuatan itu. Reaksi kimia memerlukan waktu yang cukup. Sebab itulah proses pembuatannya kadang cepat kadang lama. Setelah berjam-jam penantian akhirnya cairan kimia tersebut telah jadi. Tabung suntik kecil diinjeksikan sebagai wadah cairan tersebut. "Tolong suntikkan ini ke tubuh naga elemental," kata Karunia. "Sekarang waktunya naga elemental makan. Bu, tolong persiapkan jatah makan. memang benar Arsada dipenjara tapi kita tak boleh membiarkannya kelaparan," kata Anwu. ""Baik Pak, nanti kita ketemu saja di sana," kata Disti Raven. Kotak tempat pengaman jarum diambil Anwu. Jarum suntik ditempatkan di dalamnya. Tak mau ambil resiko besar Anwu berjalan dengan santai dan berhati-hati. Sekali lagi beberpa buku dia bawa. Kala mentari telah terbenam. Cahaya jingga yang tembus ke dalam gedung akademi sirna dengan perlahan. Cahaya rembulan ingin menggantikannya. Sayang, mendung hitam tak mengizinkannya. Kerlap kerlip bintang sedikit yang bisa melewatinya dan terlihat di akademi. Lamban laun segala penjuru langit menguasai penjuru langit. Air yang turun bersamaan membentuk hujan. Segala yang ada di bawa menjadi basah. Tapi hal ini tak melunturkan niat Anwu. Sebagai beban tugasnya Anwu tetap pergi ke penjara. Dari kejauhan terdengar gelak tawa suara perempuan. Tak tahu siapa itu membuat Anwu penasaran. Padahal dia tak pernah mengundang siapa pun ke sini. Terdengar lagi gelak tawa perempuan. Anwu semakin penasaran dan mempercepat gerak kakinya. Telihat lima orang siswi perempuan telah hadir di sana. "Anak-anak, apa yang kalian lakukan di sini?" tanyanya. Seketika para perempuan terdiam. "Pak, aku bersama teman-temanku sedang mengunjungi saudaraku," jawab Angelia. "Iya, Pak," jawab susulan serentak dari teman-teman Angelia. "Tadi kenapa kalian tertawa? Jika aku boleh tahu tolong jawab lagi," tanya Anwu lagi. "Begini Pak, ada seorang perempuan yang mengaku pacarku padahal bertemu saja baru kali ini," jawab Arsada dari balik jeruji pemisah. "Iya Pak, Nina ini memang keterlaluan," imbuh Rosmina. "Anak-anak ini akademi bukan tempat cari jodoh. Bukannya aku melarang percintaan tapi ingat kondisi kalian. Tapi kau bisa mencintai Arsada jika mau tersembur," kata Anwu. Tangan kanan masih memegang wadah isi jarum suntik. "Kok bisa begitu, Bapak tidak bercanda kan," kata Nina. "Aku sudah pernah masuk rumah sakit karena terbakar. Bahkan aku pernah tak memakai pakaian sebab dihancurkan Arsada," kata Angelia. "Itu bohong kan." Nina tak percaya atas cerita Angelia. "Benar, aku pernah hampir menghabisi Angelia hanya karena Angelia diberikan mainan dan aku tak boleh meminjamnya," kata Arsada. "Nina, kau mau maju atau mundur," kata Janisha. "Aku pikir dulu saja, mengerikan juga memiliki kekasih naga elemental," jawab Nina. "Hahaha," gelak tawa orang yang ada di sana. Sebuah anak kunci dikeluarkan dan dimasukkan di lubang kunci. Pintu penjara terbuka dan Anwu masuk ke dalamnya. Kotak yang dia bawa dia buka. Sebuah jarum suntik dia keluarkan. "Arsada, kau masih diberi kesempatan untuk perbaiki sifatmu selama tiga bulan. Kau jangan menyerang sembarangan lagi. Jika tidak kau akan bernasib sama seperti naga elemental yang terdahulu," katanya. "Lalu jarum itu untuk apa?" tanya Arsada. "Antisipasi saja jika kau mengamuk. Ini salah satu syarat jika kau ingin tetap hiidup," jawab Anwu. "Baiklah, lakukan apa saja asal aku tak dianggap bersalah."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN