Hukuman

1005 Kata
Kericuhan yang diperbuat Arsada tak terhentikan juga. Beberapa peluru sengaja di tempatkan ke udara. Arsada mengira itu sebuah serangan. Berubahlah Arsada menjadi naga elemental. Petugas yang menembakkan peluru dia serang. Sebuah cakar dia gunakan. Petugas sengaja mundur tapi kericuhan semakin menular. Arsada menyemburkan api kemana-mana. Tak mau kericuhan terus menular beberapa pasukan keamanan datang dan menembakkan obat bius ke arah Arssada. Mudah saja bagi Arsada menghindarinya. Para anggota keamanan kini menjadi mangsanya, Pengejaran tak bisa dihindari lagi. Semburan demi sembuhan dilancarkan untuk menyerang petugas keamanan. Tak lupa juga tembakan bola angin juga berterbangan kesana kesini. Beberapa petugas keamanan terkena serangan dari Arsada. Kericuhan mulai berhenti ketika sebuah rudal siap diluncurkan. Hampir seluruh siswa angkat tangan kecuali Ardasa. Langkanya terhentikan ketika mentor garuda datang menghadangnya. "Naga, masalahmu apa? Kita bicarakan dulu," tanya mentor. "Aku trauma jika tak berbuat salah dibentak. Untuk mengatasinya maka aku serang saja orang yang membentakku, itupun atas saran dari mentor. "Naga, ini militer, bukan panti asuhan. Soal bentak membentak dari mentor itu hal yang biasa. kau telah menyerang gurumu sendiri," kata mentor garuda. "Aku belum tahu itu. Aku merasa bersalah. Pak, silahkan hukum aku." Arsada kembali menjadi manusia yang menyerah. Tangannya dijulurkan, mentor pun memegangnya. "Di sini aku akan tetap menegakkan keadilan. Apapun statusmu kau akan ditahan beserta lainnya," kata sang mentor. *** Penjara sebuah tempat yang pantas bagi Arsada. Sunyi senyap menjadi keinginannya. Tiada lampu tiada penerangan bukanlah masalah buat dirinya. Tiada air dan makanan tak memuatnya terganggu. Perut kosong bukan masalah baginya. Tiada petunjuk waktu membuatnya tak bisa menghitung berapa lama dia di sana. Berbaring santai yang naga itu lakukan. "Arsada, enak sekali kau santai-santai di sini," kata mentor garuda. "Apa yang bisa aku lakukan? Di sini tak ada apa-apa. Penerangan saja tak ada," kata Arsada. "Kau harus belajar dan berlatih. Tapi kau tak boleh keluar dari penjara," kata mentor. "Pak, bagaimana aku bisa belajar jika aku di dalam sini? Bagaimana dengan tim yang akan aku pimpin?" "Arsada, aku tahu kau sejak awal. Kau naga elemental yang bertarung di akademi umum. Kau berasal dari panti asuhan. Dan aku tahu tentang naga elemental. Jika kau menyerangku sekarang aku bisa saja kalah. Kau itu bukan butuh kekuatan tapi kau butuh namanya pengendalian diri. Jika kau tak bisa maka nasibmu akan sama dengan naga elemental belasan tahun yang lalu. Aku dahulu teman dekatnya naga elemental dan sekarang aku yang akan membinamu seutuhnya hingga tiga bulan ke depan. Soal tim yang akan kau pimpin sudah pasti dibubarkan." Arsada berubah menjadi naga elemental. Bola angin dibentuk. Dengan sedikit semburan api terbentuklah sebuah cahaya yang sedikit menerangi mereka. Di depan mata sang mentor menggunakan alat penglihatan malam. "Pak, aku belum kenal Anda. Jika aku boleh berkenalan mohon sebutkan nama Anda," katanya. "Naga, kau tak perlu membuat bola api untuk bisa melihat. Namaku Anwu tapi bisa dikenal sebagai mentor garuda," kata mentor. Arsada melemparkan bola api dan membakar sebuah kain yang ada di sampingnya. Nyala api menerangi daerah di sekitarnya. "Begini maksudnya," kata Arsada sembari menjadi manusia. "Bukan itu, kau bisa gunakan kemampuan penglihatan naga elemental." Anwu menekan sebuah remot dan lampu menyala meski redup. Sebuah jam digital yang mati terlihat. "Pak, saya mohon bimbingannya sepenuhnya. Aku tak tahu banyak tentang naga elemental." "Boleh saja, tapi kau lakukan semuanya di sini. Aku bisa menyelamatkanmu karena kau akan menjadi prajurit terhebat. Di sini kau akan aman dari traumamu." *** Kedai kafe bagian putri tak jauh berbeda dengan bagian putra. Tempat itu tempat berkumpulnya para gadis yang ikut akademi. Berbagai rekasi pun tergambar di beberapa wajah mereka. Ada juga yang sedang bergosip tentang lelaki. Angelia telah usai makan. Piring yang dia bawa masih berada di atas meja. Hendak hati ingin berjalan tapi seorang teman datang mendekat pada Angelia. kembali Angelia duduk lagi. "An, aku dapat kabar buruk tentang naga kita. Dia diperjara hingga tiga bulan," kata temannya. "Naga kita? Maksudnya apa, Nina?" tanya Angelia. "Itu lho, Arsada si naga terkeren," kata Nina. "Nagaku bukan naga kita." "Hahaha, kau tak ada peluang dengan itu. Yang ada hanya aku." "Kau pikir kau bisa dan layak dengan saudaraku? Ya tidaklah." "Intinya aku nanti sore akan berkunjung. Kau mau ikut atau tidak," ajak Nina. "Baiklah, tapi kita ke sana bersama beberapa teman. Aku tak mau kau menjadi obat nyamuk." "Baiklah, kita bawa makanan kesukaannya." "Tapi aku tak punya uang banyak. Apalagi aku ini anak panti." "Tenang saja An, aku mengerti kok." *** Tumpukan buku telah berada di penjara, tempat Arsada bernaung. Satu per satu buku dia baca. Sepintas terlihat sebuah artikel tentang drako. Tiada keraguan lagi di dalam dirinya. Buku tentang drako dia baca. Huruf demi huruf diperhatikan dengan seksama. Lembaran demi lembaran dia lalui. Jam dinding yang telah dinyalakan tak pernah dia perhatikan. Perkiraan matahari telah tenggelam. Tiada secuil makanan yang ada di dalam penjara. Perut sudah lama berbunyi tapi tak pernah diperhatikan. Suara gerak kaki mulai terdengar. Dikiranya mentor yang datang tapi malah lima perempuan yang seusia dengannya. "Saudaraku, mengapa kau bisa begini?" tanya Angelia. "Aku takut saat dibentak. Aku lawan ketakutanku dengan menghajarnya. Aku malah ingin menghancurkan sebuah rudal. Pak mentor datang dahulu sehingga rasa traumaku bisa sedikit reda," kata Arsada. "An, kau tak bilang kalau nagaku memiliki trauma yang mendalam," kata Nina. "Nina, sejak kapan naga elemental jadi pacarmu?" tanya temannya. "Hahaha," tawa gurau para gadis di sana. "Secara tak resmi sejak aku dengar naga elemental," kata Nina. "Maksudmu naga elemental sang penghancur kota tersebut. Penjahat terbesar sepanjang abad ini," sanggah Angelia. Gelak tawa para gedis terdengar lagi. Kegaduhan inin terdengar oleh beberapa orang di luar penjara. "Bukanlah, tapi Arsada. Orangnya keren tapi punya trauma. Tak apalah asal mengamuknya bukan ke aku," elak Nina. "Teman-teman, terima kasih atas kunjungannya tapi aku tak kenal kalian. Jika aku boleh tahu siapa saja kalian?" tanya Arsada. "Kami ini penggemarmu kecuali saudarimu, Angelia. Aku Janisha. Yang mengaku pacarmu itu Nina. Si baju biru Antika dan rok kekecilan Rasmina. Kami dari tim FDF," kata seorang yang memakai baju merah tapi bagian perut terlihat. "Hai semua, salam kenal," sapa Arsada. "Salam kenal balik," jawab para perempuan. "Anak-anak, apa yang kalian lakukan di sini?" tanya Anwu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN