Pembentukan Tim

1009 Kata
"Namaku Kariva si kumbang badak. Aku tak memiliki elemen atau tingkat berkekuatan. Aku hanya shifter hanya bentuk," kata Kariva. Tangan Arsada dijabatnya "Apakah kau mau satu tim denganku?" kata Arsada. "Jangan mengiming-imingiku. Tak ada seorang pun di dunia ini yang suka padaku, terlebih lagi ayahku seorang penjahat." "Aku bersungguh-sungguh ingin mengajakmu dalam satu tim. Soal orang tua aku malah kehilangan segalanya." "Sungguhkah?" Kariva tak percaya terhadap orang yang di depannya. "Iya," jawab Arsada dengan entengnya. Entah mengapa Kariva senang atas jawaban ini. Tak sadar dia meloncat-loncat kegirangan. Bentuk bibir berubah dengan penuh senyuman. "Jadi kamu mau atau tidak?" tanya Arsada kembali. "Tentu saja, aku senang jika ada orang yang suka padaku. Apalagi yang di depanku ini naga elemen, shifter yang menjadi idolaku," kata Kariva. "Mau aku ajak cari teman yang satunya," ajak Arsada. "Iya, ayo berangkat." Arsada kembali memilah-milah temannya. Tempat kelas hanya wujud kembali menjadi tujuannya. Di belakang Kariva selalu mengikutinya kemana pun Arsada pergi. Ditemuinya seorang yang tadi pernah dilihatnya di kantin. "Teman, namamu tadi siapa? Aku lupa," tanya Arsada. "Aku Minarto, aku hanya shifter cacing kawat," katanya. "Bagaimana kalau kau gabung denganku." "Aku tak pantas bergabung dengan orang yang sehebat dirimu. Aku ini yang terlemah di sini." "Tak apa-apa, nanti kita akan berlatih bersama. Kau pasti akan menjadi shifter yang hebat." "Tapi aku....." Minarto sedang memikirkan kata yang terucapkan dari mulut Arsada. "Gabung saja, jika ditolak kita akan rugi sendiri," kata Kariva. Beberapa puluh detik telah berlalu. masih saja Minarto memikirkan ajakan Arsada. Antara di terima atau ditolak dia sendiri yang bingung. "Sudah ya, jika tak mau kami pergi dahulu." Arsada dan Kariva berbalik arah. Baru saja mereka menjangkah beberapa langkah tapi suara Minarto terdengar juga. "Aku mau bergabung sama kalian tapi aku mohon jangan buli aku," kata Minarto. "Aku tak pernah ada yang suka. Aku malah beruntung bisa berteman denganmu," kata Kariva. "Kalau aku masih trauma kehilangan semua kerabatku. Makanya aku pilih kalian, sesama pria yang mengenaskan," kata Arsada. "Berarti kita semua sama dong, hahaha," tawa Minarto tapi terhenti ketika beberapa menyambanginya. "Mengapa kau tertawa, kau senang," bentak seorang dari mereka. Ciut sudah nyali Minarto. Sedikit pun kata tak terucapkan lagi. "Kalian berdua tak pantas naga elemental. Iya tidak, Bro," kata seorang pemimpin mereka, Valara. "Dan kami yang pantas menjadi anggota dari naga elemental," kata seorang dari mereka. "Maaf teman-teman, daftarnya sudah penuh. Mohon kalian cari tim yang lain." Arsada memperlihatkan kolom pendaftaran yang telah berisikan nama tiga orang. Kolom lain sengaja dia coret. "Bro, minta revisi saja," tawar Valara. "Revisinya jika sudah lulus akademi." Arsada meninggalkan Valara dan teman-temannya tanpa menoleh sedikit pun. Tak terima dengan kelakuan yang ditunjukkan oleh Arsada, Valara dengan amarahnya berubah menjadi sesosok hewan purba, tiranosaurus rex. Sekali lompat dia sudah bisa melangkahi Arsada dan berada di depan Arsada. "Bro, terima aku atau timmu akan aku habisi malam ini juga," katanya. "Maaf, kita tidak boleh bertarung di dalam ruangan ini," kata Arsada. Valara menghalangi Arsada dengan membentangkan ekornya yang besar. Sekali isyarat Kuriva dan Minarto menjadi tawanan. "Cepat revisi atau...," kata Valara. "Atau apa?" tanya Arsada. "Dia berhadapan denganku," kata Lian. Keenam temannya juga telah hadir bersamanya. "Kalian tak boleh memaksakan kehendak. Jika naga tak mau ya cari saja yang lainnya," imbuhnya. "Betul katamu, tidak boleh ada pemaksaan. Jika kalian nekad maka akan mendapatkan sangsi yang tegas," kata mentor si garuda yang datang karena ada ketidakberesan. Keadaan membuat Valara semakin terdesak. Dia tak mungkin melawan beberapa tim sekaligus. Belum lagi ada mentor garuda. Tiada cara lain untuk melawan. "Kali ini kalian boleh menang. Tapi tunggu saja nanti," kata Valara yang kembali menjadi manusia. Kini dia berjalan menyingkir ke belakang. Semua temannya ikut serta bersama Valara. "Terima kasih semuanya, aku tadi sempat berniat melawan mereka," ucap Arsada. "Sudahlah kawan, nanti kita akan bersaing secara sehat. Tak mungkin kan kita teman dalam satu tim. Ngomong-ngomong berapa anggota tim yang kau miliki," kata Lian. "Hanya tiga saja, itu sudah lebih dari cukup," kata Arsada. "Anak-anak, semoga sukses dan jangan ulanggi perbuatan itu," kata mentor garuda. "Siap, Pak." *** Malam telah berganti dengan pagi. Cerahnya sinar mentari tak mengeringkan tanah dengan seketika. Hujan deras semalam membuat tanah menjadi basah. Bukanlah sebuah alasan untuk para siswa bermalas-malasan. Hari itu latihan malah bertambah berat. Basahnya tanah membuat jalan menjadi licin. Endapan lumpur menjadi penghambat mereka. Sesi lari menjadi tambah berat. Belum lagi beban yang mereka bawa. Hati mentor seperti tiada belas kasihan. Ketegasannya mengalahkan preman pasaran. Arsada, Minarto dan Kuriva terkena dampak psikis teramat besar. Keringat dingin terkucur dari dalam tubuh, ketiganya sudah tak kuat lama. Roboh di tanah tak senagaja terjadi. Ketiganya dibawa tempat teduh. "Anak-anak, apakah cuma ini batas fisik kalian?" tanya seorang medis. "Bukan, aku ada trauma," kata Minarto. "Aku juga sama," kata Kuriva. "Anak-anak, ini akademi bukan taman bermain. Kalian harus bisa ubah trauma ini menjadi kekuatan. Apa yang membuat kalian ketakutan? lawan saja itu. Segala sesuatu yang membuat kalian takut maka hantamlah, hancurkanlah. Kalian itu prajurit dan prajurit harus kuat. Ingat, hantam apa saja yang membuat kalian takut," kata mentor. "Terima kasih Pak, mulai sekarang kami mengerti." Kuriva berdiri dengan mengepalkan kedua tangannya. Arsada dan Minarto pun sama. "Dasar bayi payah, segini saja sudah roboh. Ayo cepat keluar dari kandang kalian," bentak mentornya. Terjadi salah pengertian dari Arsada dan teman-temannya. Sesuatu yang membuat mereka takut dan trauma harus mereka hantam diartikan mentornya sendiri. Arsada dan teman-temannya menjadi tersinggung secara mendadak. Sebuah pukulan mereka arahkan ke wajah mentornya. Dua kali pukulan meleset tapi yang ketiga tepat mengenai wajah sang mentor. Dua buah gigi terlepas dan terbang di angkasa. Darah keluar mewarnai tanah. Tinjuan kedua melayang dari tangan Kuriva. Sang mentor berhasil menahannya, begitu juga tinjuan dari Arsada dan Minarto. Tapi kaki Minarto berhasil merobohkan tubuh sang mentor. Para siswa lain tahu kejadian itu. Beberapa ikut menyerang sang mentor tapi ada juga yang berpinak pada mentor. Keributan dilokasi itu tak bisa terelakkan lagi. Lumpur beterbangan diangkasi membuat kotor tubuh orang yang ada di sana. Datanglah para petugas keamanan yang berusaha melerai mereka. Bukannya keributan semakin mereda malah semakin meluas. Saling serang terjadi diantara mereka. Satu per satu mulai berubah ke wujud shifter mereka.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN