Kepedulian Naga

1023 Kata
"Aku tak mau ribut, aku mau makan dahulu," kata Arsada. "Nanti setelah matahari terbenam kau temui aku di ruang serba guna lantai tiga," kata seorang dari mereka. Tiada sedikit pun hirauan dari Arsada. tak peduli apa yang mereka katakan Arsada terus saja berjalan dan mencari tempat duduk yang baru. Sekali lagi Arsada duduk sendirian tanpa ada yang menemani. Makanan dan minuman yang sempat tertunda kini dialihkan ke dalam tubuhnya. *** Mentari telah tak tampak lagi. Cahaya bulan dan bintang menghiasi indahnya malam. Di atap gedung tempat Arsada memandang langit. Dinginnya angin malam tak mempengaruhi pikirannya. Kaos pendek yang dia pakai membuat angin menyentuh kulit. Dilihat jam besar yang ada di seberang. Masih ada banyak waktu untuk sendirian sebelum pelajaran kembali di mulai. "Arsada, kamu rindu sama pamanmu," kata seorang perempuan. "Bukan An, aku hanya ingin sendirian saja," elak Arsada. "Ars, aku tahu kamu sejak kecil. Kau ingin pesan orang tua kita. Hilangkan kebiasaan burukmu," kata Angelia. "Aku hanya saja ingin sendiri. Aku merasa tenang di sini," sangkal Arsada. "Arsada, aku ada sebuah kejutan untukmu." Sebuah meteor datang ke akademi itu. Sistem keamanan otomatis menyerang meteor hingga hancur. Pecahan meteor menyebar kemana-mana. Sayang, salah satunya mengarah ke Angelia. Dengan secepat mungkin Arsada mendorong saudarinya. Malah Arsada perutnya tertembus pecahan batu tersebut. "Ars, apa yang kau lakukan?" tanya Angelia. Terlihat dengan mata kepalanya sendiri darah membasahi kaos yang dikenakan Arsada. "An, setidaknya kau selamat. Jangan hiraukan aku." Arsada berubah menjadi naga elemental. Dalam keadaan luka yang berat masih sempat-sempatnya dia mengumpulkan angin yang berhembus di sekitarnya. Batu meteor di dalam perutnya dia keluarkan dengan paksa. "Argh," teriak Arsada diikuti dengan badai angin berapi. "Arsada!" teriak Angelia sambil mundur mengingat diruasi yang berbahaya. Dinginnya angin malam berganti dengan kehangatnya kobaran api. Hujan gerimis terjadi di malam itu. Tetesan angin dari langit bercampur dengan tangisan air mata Angelia. Gerimis semakin deras, tornado angin kian mengecil dan akhirnya menghilang. terlihat sesosok naga yang sembuh dari lukanya. Arsada kembali lagi menjadi manusia. "Saudariku, mengapa kau menangis," kata Arsada. Tubuh yang kering gini sedikit basah terkena air hujan. "Arsada, mana aku tahu kau sedang melakukan apa. Yang aku tahu kau membakar dirimu sendiri." Berdiri Angelia sambil menghapus air matanya. Angelia berlari dan memeluk Arsada. "Ars, aku tak tahu kalau kau bisa seperti ini. Makanya aku sangat kuatir tentang dirimu. Aku takut terjadi sesuatu tentang dirimu," imbuhnya. "Ehem, jangan pacaran di sini.Ini akademi bukan taman hiburan," kata seorang yang baru saja tiba. Dia seorang mentor yang bisa berubah menjadi garuda. "Pak, kami ini bersaudara," kata Arsada. Mereka melepaskan pelukannya. "Aku lihat dari kejauhan pecahan meteor baru saja mendarat di sini. Apakah kalian tidak apa-apa?" tanya mentor. "Ini maksudnya, aku tadi yang terkena meteor tapi sekarang sudah baik-baik saja." Arsada memberikan batu yang dia bawa. Si garuda menerima pecahan batu meteor. "Nanti akan aku teliti lebih lanjut. Tapi kalian sebaiknya cepat turun. Jika tidak akan terserang sakit," katanya. "Baik, Pak." Arsada dan Angelia kembali ke dalam gedung. Asrama masing-masing tempat tujuan mereka. Setelah selesai ganti baju barulah mereka menuju ke kelas masing-masing. *** Kelas malam memang berbeda dengan kelas sebelumnya. Tak ada bangku atau apa pun yang ada di sana. Ruang serba guna yang kosong sebagai tempat berkumpulnya para siswa. Lampu besar yang menyala sebagai sumber penerangan sekaligus satu-satunya dekorasi yang kurang menarik. Kamera pengawas terpasang dengan tersamarkan. Semua siswa laki-laki telah berada di sana. Kartu identitas mereka bawa. Bercanda gurau bersama mereka lakukan. Keceriaan tergambar bersama. Tapi tidak berlaku untuk Arsada. Sudut ruang menjadi pilihan. Kesendirian yang dia inginkan. Sedikit jauh dari teman tapi bisa membuat tenang. Datang seorang mentor tepat di tengah keramaian mereka. Seorang di belakang membawa setumpuk kertas. Suasana ramai berubah seketika. Kerumunan ramai mendadak diam. Baris para siswa tertata secara otomatis. Tiada komando tiada perintah mereka lakukan. "Anak-anak, saya mentor yang akan bertanggung jawab atas pembentukan tim ini. Tim yang telah terbentuk akan bertahan selama kalian di sini. Tapi ada beberapa faktor yang memperbolehkan tim kalian akan bubar atau ganti personil. Setiap tim terdiri dari tiga sampai tujuh orang. Demi mencapai asas keadilan maka minimal tim yang terdiri dari satu anggota kelas mistik, elemental dan dual tipe harus memiliki paling sedikit dua dari kelas hanya wujud. Untuk lebih adil semua kelas mistik, elemental dan dual tipe silahkan maju," katanya. Bergerak Arsada dari sudut ruang. Tas masih juga dia gendong. Sejumlah orang memperhatikan gerak langkahnya. Pusat perhatian tertuju padanya. Arsada bergabung bersama dengan 22 siswa lainnya yang telah terlebih dahulu berada di depan. Berjajar berbaris rap terlihat sangat teratur. Sebuah kartu identitas mereka tunjukkan. Seorang yang dibelakang maju mendekari para siswa. Selembaran kertas dibagikan, masing-masing dari mereka menerima satu lembar. "Bagi menerima brosur silahkan isi dan cari tim kalian. Komposisinya harus seimbang atau lebih banyakkan kelas hanya bentuk. Untuk yang lain silahkan tempati sesuai dengan kelas masing-masing," kata mentor. "Izin bertanya, apakah saya boleh mengetahui kemampuan calon anggota saya?" tanya Arsada. "Boleh, tapi sedikit saja. Jangan sampai ada pertarungan antara kalian," jawab mentor. "Tanya lagi, siswa yang masuk kategori itu hanya beberapa sehingga tak semua dari kami akan menjadi anggota tim dalam sebuah kelompok. Bagaimana nasib kami?" tanya seorang murid dari belakang. Sekilas sempat Arsada melihat wajah temannya tersebut. "Kalian semua akan mendapat giliran yang sama. Nanti saya sendiri yang atur," jawab mentor. Segera para murid bergerak sesuai dengan kelas mereka masing-masing. Para siswa yang mendapatkan brosur sedang berkeliling. Terlihat beberapa orang sedang memanggil naga elemental. Tiada sedikit pun hirauan dari Arsada. Duduk termenung sambil berpikir. "Jika aku mengambil orang yang kuat sudah pasti aku akan mudah mereka terima tapi aku akan tinggal istirahat. Tapi pasti mereka butuh kepemimpinanku, aku jadi repot. Ah, pikirkan nanti saja," bantinya. Berkeliling melihat semua temannya dengan teliti Arsada berjalan. Setiap yang dia lewati diamati. Hampir semua teman menginginkan bergabung. Berbagai bentuk wujud shifter telah dia lihat. Tiada sedikit pun rasa tertarik pada Arsada. Terlihat seorang siswa yang tak larut dalam hiruk pikuk suasana di sana. Arsada berjalan menemuinya. "Hai kawan, kau tak ikut dengan yang lainnya?' tanya Arsada. "Aku tak berharap banyak dengan pembenukan tim ini. Paling aku tak dipilih tim yang kuat," katanya. "Aku Arsada si naga elemental. Jika boleh tahu siapa namamu?" Arsada menjulurkan tangannya, tanda ingin berkenalan dan bersalaman.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN