"Tentu saja ke akademi khusus shape shifter. Kita harus segera ke sana dan belajar," kata Angelia.
"Tapi barangku tertinggal di sana," kata Arsada.
"Nagaku, barangmu telah dipindahkan ke tempat yang seharusnya. Ayo masuk saja." Anelia menarik tangan Arsada. Tentu saja Arsada mengikuti Angelia dan masuk ke dalam mobil.
Tak perlu lama waktu yang ditempuh, mobl yang membawa Arsada telah tiba di sebuah tempat parkir. Sebuah bangunan terlihat jelas di depan mata. Akademi tempat belajar kali ini bangunannya terlihat normal dan tak ada yang aneh. Bangunan yang begitu besar tak tahu berapa tingginya. Dua orang aparat bersenjata lengkap datang menjemputnya.
"Naga, kau ikut kami," katanya.
"Tunggu dulu, aku tak bersama Angelia," kata Arsada.
"Kita beda gender. Aku tinggal di asrama putri," kata Angelia.
Arsada berpisah lagi dengan Angelia. Kini dia benar-benar sendirian tapi dia suka. Dua orang petugas mengantarnya. Lorong gedung tampak besar tapi tiada sedikit pun dekorasi yang menghiasanya. Sebuah pemandangan yang membosankan. Tibalah mereka di sebuah lift. Mereka masuk ke dalamnya, tentu saja petugas yang menekan tombol angka lantai yang tertuju. Sampailah mereka ke kamar yang tertuju. Keluar beberapa orang dari kamar mereka. Tas yang berisikan buku telah mereka bawa.
"Pak, apakah ini sudah waktunya pelajaran?" tanya Arsada.
"Iya, kau cepat bersiaplah. Dan itu kamarmu," jawab petugas.
Dengan terburu-buru Arsada masuk ke dalam kamar di depannya. Tak tahu pelajaran apa yang akan diajarkan Arsada melihat saja jadwalnya. Semua lemari dia buka hingga ketemu sebuah tas besar. Beberapa buku dia ambil dari sana. Tas yang kecil dia gunakan untuk membawa buku. Alat tulis menulis telah siap. Langsung saja Arsada bergegas meninggalkan kamarnya. Sedikit hambatan ada di depan matanya. Segala lift telah penuh. Hanya ada satu cara untuk bisa mencapai ruang kelas dengan cepat yaitu berubah jadi naga. Dengan terbang di atas anak tangga membuat perjalanan menjadi cepat.
Anak tangga yang diperhatikan Arsada memutar hingga Arsada tak tahu lagi arah yang yang benar. Atas keyakinannya dia berbelok ke sebuah arah. Tibalah Arsada ke sebuah ruangan kelas. Arsada kembali ke dalam wujud manusia. Masuk saja Arsada ke ruangan itu. "Maaf aku terlambat," katanya. Yang dilihat semua murid di depan perempuan semua.
"Mas bro, Anda salah ruang. Ini kelas untuk putri," kata seorang mentor.
"Aduh, maafkan aku. Aku kesasar," kata Arsada dengan malunya. Segera dia keluar karena tak tahu sorak sorai para perempuan.
Dilihat lagi peta yang sengaja dia bawa. Ternyata ruangan yang harus dia masuki berada berseberangan dengan ruangan dia tadi tersesat. Barulah Arsada dengan secepat mungkin terbang ke sana. Masuklah Arsada ke sebuah ruangan.
"Maaf semuanya, aku terlambat," katanya ketika sudah di dalam kelas.
"Naga, silahkan duduk," kata mentor.
"Terima kasih, Mentor."
Arsada melihat ke arah kursi tempat duduk para siswa. Hanya ada satu kursi yang kosong. Arsada duduk di kursi tersebut. Buku yang dia bawa dia gunakan untuk mencatat. Buku paket dia belum menerima. hanya tulisan di papan putih yang dia catat.
Pelajaran di hari itu telah berakhir. Sudah waktunya mentor bersama dengan para siswa membubarkan diri. Arsada sendiri yang terakhir keluar. Banyak catatan yang harus dia tulis. Seorang lelaki datang menghampirinya.
"Arsada, ayo kita kembali ke kamar," kata seorang siswa.
"Maaf, kau siapa? Kita belum berkenalan," tanya Arsada.
"Namakan Lian, aku shape shifter fire monkey. Dan kamarku bersebelahan dengan kamarmu," jawab pria itu.
"Kau pulang saja dahulu." Arsada menata bukunya dan dimasukkan ke dalam tas.
"Ayolah teman kita pulang bersama. Nanti akan aku ceritakan tingkat shifter," kata Lian.
"Baiklah." Arsada berdiri.
Bersama dengan Lian, Arsada keluar dari kelasnya. Mereka berdua menelusuri lorong ruangan hingga tiba di sebuah lift. Bersama-sama mereka menggunakan lift tersebut.
"Arsada, perlu kau tahu shifter itu ada banyak tingkatannya. Menurut kemampuan ada empat yaitu hanya wujud, berkekuatan, epik dan mistik. Menurut unsur yang dikuasai ada tiga yaitu, non elemen, elemen palsu dan elemental. Untuk mobilitas ada tiga yaitu air, darat dan udara. Dan soal ability setiap individu tidaklah sama. Selain itu ada juga level up dan wujud ganda," kata Lian di dalam lift.
"Mobilitas ada tiga. Aku udara dan kamu darat, tapi mengapa kita bisa bersama dalam satu kelas?" tanya Arsada.
"Karena kita sama-sama memiliki elemental dan aku bisa berubah menjadi kepiting."
"Jadi kau shifter dua wujud."
"Iya, tapi wujud kepiting hanya wujud saja. AKu tak memiliki kemampuan seperti wujud fire monkey."
"Tapi bagaimana semua orang yang ada di sini bisa tahu?"
"Sebab kau yang dinantikan. Kau satu-satunya yang lolos dari suntikan. Aku saja langsung berubah menjadi kepiting." Lift sudah sampai lantai yang dituju dan terbuka. Lian keluar dari sana dan Arsada mengikutinya.
"Kau bisa berapa elemen?" tanya Arsada sambil berjalan menuju asramanya
"Satu saja yaitu api. kau sendiri berapa?" tanya balik Lian.
"Katanya tiga elemen. Tapi aku tak yakin jumlah itu," jawab Arsada.
"Wow, banyak sekali. Nanti kita latihan bersama, boleh tidak."
"Boleh saja."
Kini keduanya telah sampai di tempat tujuan mereka masing-masing. Keduanya masuk ke dalam kamar untuk mandi dan membersihkan diri mereka masing-masing.
***
Waktu makan malam telah tiba. Arsada bersama siswa yang lainnya berada di kantin akademi. Antrian lumayan tapi tidak terlalu panjang. Duduk sendiri yang Arsada lakukan. Tiada siapa pun yang menemani mereka. Sepiring makanan dan minuman yang ada di meja siap berpindah ke dalam tubuh.
"Naga, kamu di sini rupanya," kata seorang yang ada di depan.
"Kau siapa? Aku baru melihatmu kali ini," tanya Arsada.
"Aku Minarto, aku hanya shape shifter biasa. Aku hanya memiliki wujud kecil tanpa kekuatan. Aku shape shifter cacing kawat. Hanya cacing bulat dan tak bisa berbuat banyak," kata lelaki itu.
"Jangan khawatir kawan, pasti nanti kau akan bisa hebat," kata Arsada untuk membuat temannya bersemangat.
"Hai, beraninya kau ambil jatah duduk kami. Ini khusus untuk kelas tinggi. kau tak kayak duduk di sini," kata seorang lelaki yang baru saja datang.
"Bro, dia paling dulu tiba jadi dia yang lebih berhak duduk di sini," kata Arsada.
"Bro, dia itu lemah, sedangkan kita makhluk mistis," kata lelaki itu lagi.
"Kalau begitu aku pergi sana," kata Minarto. Dia tinggalkan temnpat duduknya.
"Silahkan kalian duduk di sini." Arsada berdiri dan berjalan ke tempat yang lain.
"Bro, mau kemana?" tanya seorang yang duduk.
"Aku mau mencari tempat yang lain," kata Arsada.
"Aku sudah berbaik hati mau menemanimu. Berani kau menentang kami," kata ketua dari mereka.