Alumni Dini

1269 Kata
Di pagi itu tak seperti biasa. Bukan waktu upacara tapi seluruh murid dikumpulkan di tengah lapangan. Segenap staff akademi berdiri dihadapan para murid. Kepala akademi maju sambil menggunakan sebuah alat mengeras suara. “Anak-anak, dengan berat hati hari ini akademi akan mengalumnikan beberapa siswa lebih dini dan secara tidak terhormat. Nama yang saya panggil silahkan maju ke depan,” tuturnya. Beberapa siswa yang telah melakukan tingkahan ilegal dan meresahkan menundukkan kepala ke bawah. Mereka sangat khawatir jika nama yang menjadi identitas dan jati diri masing-mansing keluar dari mulut kepala akademi yang baru. Dalam kasus ini, Arsada merasa yang paling berat melakukan kesalahan. Dia pernah melawan mentor, bahkan keluar dari akademi. Belum lagi memangsa manusia dan pelanggaran lainnya. Hanya bisa pasrah atas yang diputuskan oleh kepala akademi. Satu per satu nama disebutkan kepala akademi. Jantung si naga berdetak dengan sangat kencang. Nama tersebut tak ada satu pun yang menyangkut pada identitas yang dimiliki serta sebutan semenjak kecil. Sejumlah naga telah dipanggil, para pemilik identitas nama telah maju ke depan. Namun hal tersebut membuat Arsada terheran sebab tak menyebut namanya sama sekali. “Anak-anak, yang aku sebutkan ini adalah mereka yang telah melakukan kecurangan saat ujian. Mereka bukan hanya contekan, tapi juga mengancam murid lain. Bahkan mereka yang mengakibatkan salah satu dari teman kalian masuk ke ruang kesehatan ntuk waktu yang agak lama. Aku tak bisa mentolerie perbuatan ini. Silahkan belajar di rumah masing-masing dan tak perlu masuk akademi, apalagi keluar negeri segala,” tutur kepala akademi. Kesepuluh murid yang berada di depan saja melakukan protes. Berbagai alasan diucapkan walaupun tak digubris sama sekali oleh kepala akademi serta mentor yang lain. Mereka pun melakukan pemberontak dan hendak memukul kepala akademi. Beberapa petugas keamanan mengarahkan senjata listrik yang membuat para siswa tersebut terdiam. Sedikit bergerak maka mereka akan merasakan sengatan listrik. “Bu, saya rela keluar dari sini asal ada seorang siswa yang bisa mengalahkan aku. Hanya berlaku untuk shifter hanya bentuk dan bukan yang bertubuh besar,” kata seorang siswa yang hendak dikeluarkan. Beberapa siswa dan mentor memprotes permintaan aneh tersebut. Mereka sama sekali tak setuju atas apa yang menjadi permintaan muris yang akan keluar dari akademi secara tak hormat. “Bu, biar aku saja yang melawannya.” Antika mengacungkan tangan kanan serta menawarkan diri. Hal ini menjadi sebuah fokus perhatian orang yang ada di sana. “Kau yakin?” Kepala akademi kurang menyetujui siswi tersebut. “Iya, Bu. Aku mohon untuk melawannya dan akan membuat malu hingga trauma sampai dibawa ke alam lain,” kata Antika. “Baiklah, lawan dia dan buktikan seberapa hebat dirimu.” Sang kepala akademi mempersilahkan kedua siswa tersebut untuk maju ke depan. Antika mempersiapkan diri dihadapan murid yang sudah menjadi panda terlebih dahulu. Konsentrasi dilakukan dan perempuan tersebut menjadi kucing dengan warna hitam. “Hahaha, kucing kecil mana bisa mengalahkan panda sepertiku.” Si panda bergaya dengan sangat sombong. “Jika belum dicoba mana tahu.” Antika menajamkan kedua mata. Bulu ditegakkan, shifter kucing seolah bertambah besar dan berat. Pijatan nan kuat dan elastis membuat dia bisa melompat jauh. Ekor digunakan sebagai menentu arah. Akselerasi sangat tinggi ditunjukkan si kucing saat menghindari cakaran panda. Arah bisa berubah begitu cepat dengan sudut yang sangat kecil. Tangan kanan alias kaki depan hendak menyarang, tetapi tertahan cakar panda. Antika terus menyerang dan sedikit yang menghasil kena. Itu juga hanya bisa merontokkan bulu si panda. Bahkan dia harus mendur karena terkena tendangan. Bulu ditegakkan untuk memgindari setiap kerusakan akibat terjatuh. Antika kembali menjadi manusia biasa. Perempuan tersebut berlari kearah si panda. Adu tinju saling dilakukan. Namun Antika berubah menjadi kucing hitam dan terbebas dari tinjuan. Si kucing menyelinap melalui bawah tubuh panda. Tangan kiri mengunakan untuk berbelok seratus delapan puluh derajat. Kaki belakang digunakan untuk melompat tinggi. Antika kembali menjadi manusia dan langsung meninju bagi mata panda. Dia kembali menjadi kucing dan melompat lagi. Tubuh kembali menjadi manusia dan melakukan tendangan kaki kiri. Tendangan yang dilakukan Antika ditangkap si panda. Antika kembali menjadi kucing. Sayang cengkraman si panda malah semakin kuat dan erat. Perempuan tersebut dibanting berkali-kali. Bantingan terakhir membuat kucing tergeletak dilantai. Kaki besar si pandai hendak menginjak Antika tapi gagal karena si kucing telah terlebih dahulu. Kaki terus digunakan untuk menginjak walaupun gagal terus. Akselerasi si kucing terlampau cepat. Dia merunduk agar bisa menyerang lebuh tepat. Sayang, dia malah terkena tendangan ke mata sebelah kiri. Mata kanan serta leher menjadi sasaran serangan berikutnya. Si panda mundur beberapa langkah sambil protes, “Hai, mana boleh menyerang bagian terlarang.” “Tak ada aturan dalam pertarungan ini.” Antika terus menyerang sambil berubah wujud secara bergantian sesuai dengan situasi yang dibutuhkan. Si panda mengamuk dan menyerang secara bertubi-tubi. Serangan yang dilakukan kerap meleset karena si kcing terlalu lincang untuk menghibdar. Dia pun melakykan lompatan tinggi dan langsung mengarahkan kepada si kucing. Serangan menjadi gagal karena si kucing terlebih dahulu menghindar. Serangan dari panda tak sampai segitu saja. Shifter bertubuh hitam putih mengayunkan tangan dengan maksud untuk bisa meraih tubuh si kucing. Hanya saja dia terkena serangan di bagian yang vital. Si panda hanya bisa menahan rasa sakit. Tiada serangan dari si panda, kesempatan yang tak akan disia-siakan Antika. Si kucing menerobos bagian bawah panda. Gigitan dilakukan pada belakang lutut hingga berdarah. Rasa sakit membuat si panda menggoyangkan kaki berkali-kali. Dia pun berhasil melemparkan si kucing ke atas. Ketika si kucing sudah turun, cakaran dilakukan. Namun si kucing malah kembali menjadi manusia dan menendang wajahnya. Tubuh hitam putih mundur ke belakang. Antika kembali menjadi kucing. Cakar menyasar pada luka dan menembus sangat dalam. Saat si panda mengeram ke sakitan, cakaran serta tinjuan terus menyerang bagian yang lemah. Tak ketinggalan cakaran dilakukan mengarah pada wajah kanan. Antika melakukan itu berkali-kali sebelum dia terpental mundur untuk beberapa langkah akibat dari kibaran tangan si panda. Kelelahan terlihat pada shifter kucing hitam tersebut. Antika kembali menjadi manusia dan berkata, “Kau menyerah saja sebelum kau akan kehilangan nyawa. Aku tak akan menghabisi nyawamu.” “Kau kira serangan kecil itu bisa melumpuhkanku, mimpi di siang bolong.” Si panda mencoba untuk maju ke depan tetapi terjatuh terlebih dahulu dan menjadi manusia biasa. “Kau memang besar tapi tak bisa menggunakan otakmu. Pantas saja jika kau dikeluarkan.” Antika kembali ke kalangan para murid dengan disambut tepuk tangan. “Antika, kau luar biasa,” sambut Angelia. “Kau yang luar biasa, bisa menang melawan wajah seribu, sendirian lagi,” puji Antika. “Sebenarnya aku juga kalah. Jika tak ada pangeran entah aku masih perawan atau tidak, hihihi,” tawa Angelia. Sembilan murid hendak untuk memberontak. Namun para anggota keamanan bertindak tegas dengan menembakkan listrik sehingga mereka semua lumpuh dan dengan sangat mudah dikeluarkan dari akademi militer. Di waktu yang senggang Arsada berknjung ke kantor kepala akademi. Pintu dibuka dan orang yang ingin ditemui sedang duduk di sana. “Bu, mengapa mereka dikeluarkan? Dan mengapa aku yang berbahaya malah tidak dikeluarkan?” tanyanya. “Arsada, mereka semua mencontek saat ujian dengan cara memaksakan kehendak dan melalui kode khusus. Itu tak bisa ditoleransi. Akan sangat berbahaya jika mereka menjadi prajurit kelak. Mereka akan korupsi dan melakukan pungutan liar.” Sang kepala akademi beranjak berjalan menuju ke tempat Arsada berdiri. “Lalu aku?” “Kau itu istimewa. Kau akan menjadi orang yang mendamaikan dunia ini atau malah menghancurkan dunia ini. Sebab itu kami ingin mengajakmu bekerja sama, Apakah kau mau?” tawar kepala akademi. “Tentu saja, aku mau menjadi prajurit yang terhebat. Tapi siapa yang melaporkan mereka dan siapa yang menjadi korban?” “Yang menjadi korban Minarto si cacing dan yang melaporkan adalah Valara si tiranosaurus rex.” Kepala akademi sudah kembali duduk di tempat yang seharusnya. “Apa?” Tercengang  Arsada mendengar hal tersebut.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN