“Valara, kau sudah berjanji tak akan marah.” Kedua telapak tangan Minarto saling bertempel sebagai sebuah simbol.
Minarto, aku….” Valara merunduk sambil memegang kepala dengan kedua tangan Dia berlari meninggalkan tempat tersebut.
Di kamar mandi Valara melihat dirinya sendiri melalui sebuah cermin besar. Terlintas di dalam pikiran tentang apa yang dilakukan di masa lampau. Memaksa, memalak dan bertindak sesuka hati merupakan aktifitas dan kegemaran hingga kini. Namun dia teringat pada Minarto yang menjadi bulan-bulanan. Sesuatu yang dilakukan mengakibatkan orang lain seperti si cacing. Dinding ditinju sekeras mungkin hingga kaca bergetar.
“Aku ini sedang apa? Yang kulakukan membuat Minarto ketakutan dan terdesak memberikan jawaban dari hasil ujian. Seharusnya dari dulu aku tak melakukan ini.” Valara meninju pada wajahnya sendiri berjali-kali.
Lalu lalang orang lewat di sana. Namun tiada satupun yang peduli terhadap Valara. Lelaki tersebut dibiarkan begitu saja.
Hal berbeda tak dilakukan Arsada. Kegiatan untuk membersihkan diri ditunda sementara waktu. “Valara, kamu ini seang apa? Kenapa kau serang dirimu sendiri?” Shifter naga memagang tangan rival walaupun masih rekan satu akademi.
“Aku ini tak pernah bisa pandai. Aku tepat berbuat salah pada diriku sendiri.” Valara menghindarkan kegiatan memkul diri sendiri. Air mata berlinang di luar kendali.
“Va, setiap orang pasti memiliki masa lalu yang buruk. Aku telah berkali-kali menciderai Angelia.” Sedikit cerita dituturkan Arsada tentang masa bersama saat masih kecil bersama dengan Angelia.
Valara tersungkur ke lantai. Air mata semakin deras mengalir pada kedua mata nan indah tersebut. “Kenapa aku harus begini?” teriaknya hingga menggema jauh.
“Tuhan menitipkan kekuatan ini kepada kita. Sebagai sebuah bentuk tanggung jawab, maka kita harus bisa menyelamatkan orang sebanyak mungkin.” Arsada menunduk hingga hampir setara dengan Valara. Kedua tangan disisipkan pada ketiak lelaki yang masih menangis. Tenaga agak besar digunakan Arsada sehingga kedua lelaki tersebut bisa berdiri tegak, walau Arsada sedikit lebih pendek. Pelukan hangat merasa lakukan. “Valara, menangis tak akan menjadikan lelaki itu lemah. Luapkan segala kepedihan hatimu.” Arsada memegang erat tubuh lelaki tersebut.
“Terima kasih Arsada. Kau sudah mau berbagi denganku. Tapi ingat, kau tetap rivalku dan aku akan mengalahkanmu.” Valara menghapus air mata dan melepaskan pelukan tersebut. Sebuah kamar mandi menjadi tempat tujuan.
“Dasar tiranosaurus, bilang saja kalau kau tak mau kalah denganku. Kau hanya kuat di luar tapi rapuh di dalam.” Arsada melangkahkan kaki menuju ke kamar mandi yang lain.
Beberapa hari telah berlalu. Hasil ujian dari mentor Wiragni dibagikan. Meski mendapatkan nilai rendah dari Minarto, hal tersebut tak membuat Valara sakit hati maupun marah. Dia malah mengucapkan selamat dan meminta untuk diajari sebelum melakukan ujian triwulan pertama. Hal ini yang membuat Minarto merasa kebingungan walau akhirnya juga mau menerima permintaan Valara dengan penuh was-was.
Ada beberapa siswa yang dipamhhil untuk maju ke depan. Mereka berdiri sambil menghadap pada para siswa yang sedang duduk dengan barisan rapi. Lingkaran berwarna merah besar dan tebal tertera pada jawaban yang diberi tanda silang melebihi jumlah soal.
“Kalian itu bagaimana? Masak bisa mendapat nilai yang sama dengan jawaban yang sama. Apakah kalian menyontek?” Wiragni berjalan sambil meemutulkan sebuah rotan pada telapak tangannya sendiri dengan sangat lembut. Kemarahan si mentor naga agak mulai naik.
“Bu, aku….” Pembicaraan seorang yang sedang berdiri terhenti karena timbul sebuah rasa ketakutan terlebih dahulu.
“Aku apa? Katakan saja.” Kemarahan Wiragni semakin tinggi. Nada semakin kasar.
“Aku berlalu banyak bermain gawai. AKu kurang belajar dan lupa jika ada ujian.”
Alasan tersebut membuat Wiragni agak melunak. Kesempatan ini dimanfaatkan murid lain untuk menggunakan alasan yang sama. Namun hukuman tetap diberlangsungkan. Kesepuluh orang tersebut di suruh berlari sambil membawa beban yang berat.
Di malam hari Minarto sedang sendirian di sebuah kamar untuk menghilangkan rasa penat setelah sehari menghadapi materi pelajaran yang sangat sulit. Tiada teman atau kawan yang menemani di sana. Bukan gawai yang dihadap, melainkan sebuah foto kenangan bersama anggota keluarga yang telah berpisah masing-masing. Terdengar suara ketukan dari luar pintu. Foto kenangan segera di simpan, Minarto membuka pintu tersebut. Sebuah hantaman mengenai wajahnya. “Hai, yang kalian lakukan apa?” Dia memegang hidung yang sedikit berdarah.
“Kau berani menipu kami. Gara-gara kau aku mendaptkan sebuah hukuman dan rekor buruk sepanjang ujian.” Seorang dari mereka tengah mengepalkan tangan dan bersiap untk meninju kedua kalinya.
“Aku kodekan apa yang kalian minta.” Minarto mundur sambil rebahan dengan wajah penuh ketakutan.
Seorang dari mereka maju dan berubah menjadi panda. Cakar nan besar mengangkat sesosok lelaki tersebut. “Kenapa kami bisa salah sedangkan kau benar?” Genggaman tangannya semakin kuat yang membuat Minarto kesulitan untuk bernapas.
“Aku diawasi Valara. Dia itu penuh kejujuran tapi kejam. Aku tak bisa berbuat apa-apa,” alasan Minarto.
“Banyak cingcau.” Si panda membanting Minarto ke lantai.
Beberapa orang yang menjadi kejahilan Minarto turut menyerang. Si shifter cacing tersebut tak berdaya dan menjadi bulan-bulanan dari beberapa shifter yang menendang dengan seenak hati. Ketika sudah puas, lelaki tersebut ditinggalkan begitu saja dengan bersimba cairan merah segar. Baru setelah satu jam beberapa orang membawanya ke ruang kesehatan.
Dua hari Minarto berbaring di dalam ruang kesehatan. Tiada satu pun kawan yang peduli terhadap dirinya, bahkan teman satu tim. Dia sendirian merasakan sakit yang kuat biasa, seolah-olah tubuh hendak meledak. Minarto hanya bisa meratapi nasib buruk yang dialami.
Berharap ada teman baik yang mengunjungi tempat tersebut. Yang ada hanya seorang yang paling ditakuti, Valara. Rasa sakit ditubuh haru bercampur dengan ketakutan di dalam hati Minarto. “Va, aku minta maaf. Aku tak bisa membantumu dalam pelajaran. Aku saja belum bisa bergerak,” alasan shifter cacing tersebut.
“Jika kau mau mengatakan hal yang sesejurnya maka aku maafkan. Kau jangan takut, aku akan melindungimu selama kau benar. Cepat katakan saja apa yang terjadi,” desak Valara.
“Kau janji jangan marah, ya. Jika kau marah aku akan kehilangan nyawa.” Minarto menyembunyikan separuh wajah.
“Aku janji tak akan marah kepadamu.” Jari telunjuk diangkat Valara beserta jari tengah.
“Baiklah aku akan berbicara yang sebenarnya. Saat ujian aku memberikan jawaban palsu dan salah. Sebab itulah mereka mendapat nilai nol. AKu takut kau akan marah jika aku memberikan jawabanku.”
“Min, aku tak bisa berbuat apa-apa. Lagipula aku tak tahu kode yang kalian lakukan. Memberikan jawaban yang salah itu merupakan sebuah tindakan yang tak bisa dimaafkan jika di dalam pertarungan lapangan. Tapi memberi contekan yang salah merupakan pelajaran tersendiri agar mereka bertaubat. Kau sungguh cerdik. Lain kali lakukan lagi biar mereka kena marah terus.”
“Tapi mereka menyalahkan aku. Aku dihajar habis-habisan hingga tak bisa berjalan.”
“Katakan saja siapa melakukan ini? Untuk keselamatanmu aku yang akan jamin,” desak Valara lagi.
Kejadian di malam tersebut diceritakan semua pada sesosok shifter dinosaurus tersebut. Setiap orang yang ditengarai dilakukan penganiayaan diucapkan secara jelas. Valara mencatat semua orang tersebut.
“Va, mau kemana? Jangan hajar mereka, aku nanti yang akan remuk. AKu akan menjadi sasaran empuk,” kata Minarto saat melihat Valara telah berdiri.
“Aku janji tak akan menghajar mereka. Aku hanya ingin mencari angin segar saja.” Valara keluar dari ruangan tersebut.