Di siang hari waktu yang tepat untuk beristirahat selepas latihan nan berat serta penguras banyak tenaga di pagi hari. Hal tersebut dilakukan shifter yang merasa paling lemah dan tak berguna, Minarto. Kedua tangan memegang sebuah wadah yang berisi makanan yang menjadi jatah di hari itu. Sebuah meja makan telah dipilih. Namun dia mengurungkan niat sebab didahului oleh murid lain yang lebih kuat dan ganas. Minarto berbalik arah. Yang ditemui seorang murid yang terkenal akan keganasan serta kekuatan di atas rata-rata, Valara.
“Cacing, kau mau kemana?” Valara mendesak mundur Minarto.
“Biarkan aku pergi dan mencari tempat lain.” Minarto menundukkan kepala sebagai sebuah tanda ketakutan.
“Kita akan duduk di sana bersama.” Valara menunjuk ke sebuah tempat.
“Tapi, mereka terlebih dahulu ada di sana,” alasan Minarto.
“Dengar, sebelum mereka ada kamu.” Valara maju ke tempat beberapa murid sedang duduk mempersiapkan makanan. “Kalian semua minggir,” paksanya.
“Memangnya kau siapa? Kau hanya seorang preman,” sindir seorang yang sedang duduk.
“Kau salah, Valara seorang penyelamat. Berkah pengorbanan dirinya, aku bisa tepat waktu menyelamatkan pangeran dan kalian semua. Seandainya Valara melarikan diri maka aku tak yakin bisa mnyelamatkan kalian semua. Dan Minarto datang lebih awal, hormati dia.” Arsada datang membawa makanan dan minuman.
“Karena kau yang menyelamatkan nyawa kami maka kami akan mengalah.” Orang yang duduk di sana memillih untuk berpindah tempat. Beberapa teman yang lain ikut serta.
Makanan yang ada di meja telah usai. Minarto telah mengembalikan wadah ke tempat semula. Langkah kaki menuntun ke sebuah tampat yang biasa untuk dilalui. Seorang dirasakan mengekuti dari belakang. Minarto membalikkan badan dan seorang yang ditakuti hadir di sana. Langkah kaki digerakkan secara cepat untuk menjauh dari tempat tersebut. Koordinasi gerak tak teratur, di pun jatuh ke lantai. “Valara, ampunilah aku. Untuk kali ini saja,” pintanya dengan sedikitntetesan air mata.
“Minarto, aku berjanji tak akan menyakitimu. Aku berterima kasih kepadamu.” Valara mengulurkan tangan kanan untuk membantu Minarto.
“Atas hal apa? Aku tak pernah membantumu?” Minarto bingung atas apa yang dikatakan shifter tiranosaurus.
“Kau membantuku untuk mengalahkan si kera. Mesti kecil kau itu lebih berguna untuk menjadi bagian dari timku. Setelah pertandingan ketiga nanti aku mohon kau untuk masuk ke dalam timku,” pinta Valara.
“Aku ini hanya cacing. Aku bisa apa?”
“Minarto, aku minta maaf telah mengecewakanmu. Aku mengaku masih kurang pandai dari Arsada.”
“Baiklah, akan aku pertimbangkan. Asal kau berjanji tak akan menyakitiku.” Minarto menggenggam tangan Valara sehingga dia bisa berdiri.
“Aku berjanji, janji adalah nyawaku.”
Sejak tadi Arsada selalui mengikuti kemana arah pergi Minarto dan Valara. Persiapan yang dilakukan dibatalkan. Arsada pergi begitu saja.
Di dalam kelas tak ada Arsada yang turut serta dalam pelajaran di kala itu karena naga elemental mendaptkan pendidikan khusus. Minarto selalu was-was atas keamanan dirinya seperti yang biasa dilakukan.
Kala itu Valara sedang masuk ke dalam kelas. Seperti yang biasa terjadi, mereka memilih untuk menyingkir. Hal yang berbeda terjadi di sana. Orang yang biasanya palkig menakutkan justru mendekat pada Minarto tanpa menyakiti atau hal buruk lainnya. Valara menjadi semacam pengawal untuk shifter yang dianggap paling lemah. Tiada seorang pun yang berani mendekati mereka sama sekali.
Tempat duduk Valara berpindah begitu saja. Dengan sengaja dia menguris teman sebangku yang biasa duduk dan membuli Minarto. Tak ada siapapun yang mendekat pada Minarto lagi.
Di hari itu merupakan sebuah kesialan pada para murid. Tanpa ampun mentor Wiragni memberikan soal yang teramat berat. Banyak para murid yang frustasi atas soal tersebut. Mereka mulai melakukan lirikan khusus ancaman yanga tak diketahui Valara sama sekali. Minarto menjadikan korban bulian dari mereka.
Mau rasanya ingin memberitahukan kode tersebut pada Valara ataupun mentor saja. Namun rasa takut masih juga bersemayam di dalam hati Minarto. Tak enak juga jika harus menolak keinginan mereka. Sebuah isyarat dilakukan, Dia emberikan jawaban tersebut kepada beberapa teman ysng telah biasa mengindimitasi terlebih dahulu.
Waktu ujian telah selesai. Kertas jawaban dari para siswa dikumpulkan satu per satu ke hadapan sang mentor. Pelajaran kembali diteruskan seperti semula.
Pelajaran telah usai, suasana yang menyenangkan hinggap di hati semua murid. Dengan langkah penuh kegembiraan, mereka keluar dari kelas meski beban pekerjaan rumah masih ada di dalam tas pribadi.
Saat mentari hampir tenggelam merupakan saat jam istirahat sekaligus waktu untuk makan. Rutinitas selalu dilakukan para penghuni asrama tersebut. Minarto mengambil sebuah jatah makanan seperti biasanya. Mata melirik ke sana dan ke sini. Banyak orang yang suka mengintimidasi dan membuli dirinya. Sulit untuk mencari orang yang cocok dan baik dengan lelaki tersebut. Untung saja masih dilihat Valara yang sedang duduk. Naun dia juga takut kepada orang yang ada di sekitar sana.
“Minarto, ayo ke sini!” Valara mengisyaratkan sebuat ajakan dengan tangan kanan.
Tiada lagi alasan untuk Minarto menolak datang ke sana. Dia pun melangkahkan kaki menuju ke para murid yang terlenal akan keganasannya.
Minarto duduk di sana dengan keadaan was-was. Rasa di dalam hati tersebut bisa hilang sebab janji dari Valara. Dengan tenang dia bisa menikmati sesuatu yang diinginkan.
“Min, gerakan tanganmu sangat aneh. Kamu tadi sedang apa?” tana Valara sambil terus memasukkan makanan ke dalam tubuh.
“Tidak, aku hanya bermain-main saja.” Minarto dengan lahap memasukkan makanan ke dalam tubuh.
“Jujur saja atau aku akan memaksamu,” ancam Minarto.
Orang yang ada di sana shifter hanya bentuk saja. Namun tenaga serta kekuatan yang dimiliki membuat hati Minarto mencuit. Tak mungkin bisa menang jika harus melawan mereka, satu saja. Dengan berst hati dia mengungkapkan sebuah kebenaran. “Baiklah, akan aku katakan sejujurnya. Tapi kalian jangan marah kepadaku,” tuturnya.
“Silakan saja.” Valara meneguk segelas air minum.
“Aku sudah terintimidasi sejak awal masuk di sini. Mereka semua selalu saja memojokkan aku. Aku akui aku memang shifter terlemah dan tak seharusnya ada di sini.” Minarto juga meneguk segelas air.
“Memojokkanmu seperti apa? Katakanlah saja, kau teman Valara,” kata seorang dari mereka.
“Mengungkap kebenaran dari diriku. Awalnya mereka memalakku. Karena aku tak punya uang maka mereka meminta bantuanku untuk memberikan jawaban di saat ujian. Terpaksa aku membantu mereka secara diam-diam dengan menggunakan sebuah kode yang kami kembangkan sendiri,” alasan Minarto.
“Apa?” kemarahan Valara memuncak. Tak tahan lagi membendung emosi yang sudah meluap. Gelas yang berisi air bergetar akibat efek gerakan emosional yang terlampau tinggi.
“Valara, hajar sajar dia. Itu sebagai sebuah bentuk kecurangan.” Seorang murid mencoba untuk memanaskan suasana.
“Rasakan itu Minarto, hahaha.”