Bebas dari penjara tak membuat Arsada bisa bersantai. Banyak pelajaran yang harus diajari karena tertinggal selama lebih dari enam minggu. Latihan fisik harus dihadapi sepanjang hari, siang sampai malam. Namun hal tersebut menjadi kenikmatan tersendiri. Bahkan dia sampai lupa akan pertandingan Angelia.
Seberapa pun keras Arsada berlatih, dia masih juga diberi hari libur. Namun hal tersebut dimanfaatkan untuk berlatih sendiri. Segala pelajaran yang telah diajarkan coba diterapkan dan diulangi lagi.
Di atas sebuah gedung Arsada dengan sendirian. Sebuah besi batangan ditaruh di punggung. Gerakan mengangkat dan menurunkan badan dengan bertumpu pada kedua tangan dilakukan sambil mengangkat beban yang melebihi setengah dari berat badannya sendiri. Keringat keluar menstabilkan suhu tubuh yang panas akibat dari olahraga dan terik mentari yang bersinar di kala itu.
Tiada kepuasan untuk melakukan hal itu meski sudah sanggup rampai ribuan kali. Arsada menjadi naga elemental. Ekor digunakan untuk mengangkat beban lebih dari dua puluh kilogram. Yang terjadi tak seperti yang dibayangkan, dia tak mampu mengangkat benda seperti yang diinginkan.
Arsada beristirahat dengan bersandar pada sebuah tembok yang terhalang sinar mentari. Di tempat seteduh ini masih sempat meneguk sebotol air mineral. Benda cair tersebut hanya lewat saja untuk mendinginkan suhu badan yang melebih panas rata-rata.
“Arsada!” teriak dari seorang lelaki.
Suara tersebut tak asing bagi telinga Arsada. Kepala menoleh ke samping, segenap orang dari berbagai rentang usia hadir di sana. “Ibu, Ayah, Saudaraku!” Dia sedikit kaget dengan kehadiran penghuni satu panti di tempat tersebut. Tubuh seolah tak terkontrol, dia berlari tanpa sadarkan diri. Semua penghuni mendapatkan sebuah pelukan kekeluargaan.
“Ayah, maafkan aku. Aku gagal menjalankan amanat. Aku dipenjara lebih dari satu bulan.” Arsada menangis di pelukan sesosok lelaki yang sudah berusia lebih dari setengah abad.
“Nak, kau butuh adaptasi. Setiap orang yang pernah merasakan kegagalan pasti akan merasakan keberhasilan yang lebih manis. Berkat dirimu, panti kita akan dibantu sepenuhnya oleh pemerintah dan juga dibongkar total,” tutur sang ayah.
“Aku tak melakukan apa-apa. Aku hanya berusaha untuk menyelamatkan banyak orang.”
“Yang kau selamatkan orang penting. Arsada, kau sudah bisa mengendalikan dirimu. Kau melebihi apa yang Ayah harapkan. Hari ini keluarga kita diperkenankan untuk berkumpul walau hanya sebentar.”
Kamar tempat Arsada bermalam tidaklah cukup untuk ditempatan segenap keluarga satu panti. Masih beruntung mereka diperkenankan menempati gedung serba guna. Mereka saling bercerita dengan kejadian yang mereka alami selama berpisah.
“Semuanya, aku mau tunjukkan keahlianku sebagai naga elemental.” Arsada berdiri dihadapan satu keluarga. Tubuh lelaki tersebut berubah menjadi naga elemental. Awal mula Arsada mengepakkan kedua sayap. Tarian di udara dilakukan. Api dikeluarkan sebagai penambah keindahan tarian di udara. Ekor dan sayap sengaja dibakar hingga Arsada seolah-olah menjadi makhluk api.
Pertunjukan tak hanya sampai segitu saja. Kini es bergantian menghiasi sayap dan ekor. Pertunjukkan yang sama dilakukan. Udara di sekitar dikumpulkan sehingga membentuk sebuah bola energi. Api dan es disemburkan pada masing-masing bola. Arsada memainkan bola tersebut dengan membentuk tarian pola keindahan. Bola api dan es digabungkan. Kabut sempat menghiasi tempat tersebut sebelum dikumpulkan Arsada sebagai sebuah bola kabut dan dibuang jauh ke udara. Pertunjukan telah usai dan Arsada kembali menjadi manusia biasa. Tepuk gemuruh menghiasi tempat tersebut.
“Arsada, kau ini naga penghancur atau naga lawak sih,” sindir seorang perempuan yang mengenakan celana pendek sebatas menutupi area yang tak boleh dilihat orang lain.
“Memangnya kamu mau adik manisku seperti apa, Ardina? Mau ya kau dibakar,” tentang Angelia.
“Eh, jangan mengaku sebagai kakaknya Arsada. Kau sendiri jauh lebih kecil dan lemah daripada Arsada,” balas Ardina yang sedikit menyulut pertentangan di sana.
“Sudahlah, ini keputusanku agar Angelia menjadi kakaknya Arsada. Tapi sejak kapan kau bangga menjadi kakaknya Arsada?” tanya sang ibu.
“Sejak Arsada dipenjara. Nagaku menjadi imut dan tak seganas yang dahulu,” puji Angelia.
Arsada kembali menjadi naga elemental. Sedikit api kecil dilontarkan yang membuat sedikit rambut Angelia terbakar. “Jangan panggil aku imut,” tentangnya.
“Eh aku ini sudah baik untuk menolong dan memujimu. Malah kau bakar rambutku. Dasar naga tak tahu diuntung.” Kemarahan Angelia membuat perempuan tersebut menjadi fairy. Keenam anggota gerak telah menyalakan cahaya. Dia terbang untuk menyerang Arsada yang tengah berlari. Kejar-kejaran terjadi pada kedua saudara sepanti tersebut. Anggota panti tang lain hanya tertawa melihat tingkat mereka berdua.
Sebuah gawai malah menjadi sorotan pada kepala panti yang juga merangkap sebagai ayah bagi anak panti. “Ard, darimana kau mendapatkan benda tersebut. Aku tak ernah melihat benda semewah itu sebelumnya?” tanyanya.
“Ini milik Angelia. Dia dan Arsada diberikan benda ini sebagai sebuah simbol penghargaan dari pangeran.” Ardina masih terus mereka kejadian yang ada di sana. Hasil rekaman dipindahkan ke kamera milik sang ayah sebagai sebuag kenang-kenangan.
Hari telah menjelang sore. Rasa rindu pada segenap keluarga tersebut telah hilang. Mereka saling memeluk kedua orang yang masih harus tinggal di sana.
“Arsada, jadilah shifter yang terhebat di dunia ini.” Sang ayah memeluk tubuh naga elemental.
“Angelia, jaga adikmu.” Pelukan sang ibu pada fairy kecil.
Segenap menghuni panti mulai memasuki sebuah kendaraan khusus. Jendela kendaraan dibuka, lambaian tangan dilakukan sebagai sebuah perpisahan. Air mata menetes pada wajah Arsada pada saat berwujud manusia.
“Naga manis, kau jangan bersedih. Kita sudah dua bulan di sini. Sebentar lagi kita akan bertemu dengan mereka.” Angelia merangkul bahu Arsada.
“Aku bukan bersedih berpisah dengan mereka, tapi aku teringat akan pamanku. Beliau yang telah merawatku sejak kecil. Pamanku orang tua pertamaku.” Arsada menghapus air mata yang ada di pipi.
“Sudahlah, kau tak sendirian di sini. Aku, Ardina dan saudara yang lain malah lebih tragis daripada kamu. Aku tak tahu siapa kerabatku. Kak badak besi malah sengaja dijual.” Angelia menaruh telapak tangan pada pipi Arsada dengan sangat keras.
“Eh, kamu ini kenapa?” Arsada terkejut atas perlakukan Angelia.
“Itu balasannya karena kau telah membakar rambut indahku.”
Arsada berbalik arah dan kembali masuk ke dalam akademi bersama. Sekumpulan petugas dilewati dengan penuh rasa hormat. Dia tak berpaling sama sekali, seolah-olah tak peduli sama Angelia.
“Adik manis, tunggu!” Angelia berlari mengejar Arsada.
“Ayolah, sebentar lagi waktunya kita untuk makan,” ajak Arsada.
Semua kegiatan yang Arsada lakukan diawasi oleh wajah seribu. Lelaki tersebut tidak mengawasi secara langsung karena pasti ketahuan oleh Arsada. Dia menggunakan sebuah perantara yang juga shifter yang ada di sana. “Kerjamu bagus, kau terus awasi Arsada dan laporkan saja. Tak perlu kau serang,” perintahnya pada seorang perempuan yang mengenakan pakaian panjang. Namun apa beberapa bagian transparan pada pakaian tersebut sehingga memperlihatkan kulit yang seharusnya tertutup kain.
“Siap Pak, akan aku laksanakan itu.” Perempuan tersebut berubah menjadi kelelawar sebelum kembali ke asrama.