Amukan Naga

1048 Kata
Kabut putih hasil perpaduan air yang terkena api menghalangi pandangan mata norma. Namun yang itu tak berlaku bagi Arsada dan shifter dengan penglihatan arwah dan panas. Merreka masih bisa melihat di dalam keadaan gelap tersebut. Arsada sengaja menghadang di garis pintu agar tak ada yang bisa keluar dari sana walaupun wajah seribu terlebih dahulu sudah keluar. Sempat dia menembak lelaki tersebut sebelum akhirnya dia sendiri terjatuh karena terkena sengatan listrik. Tak mau bertambah lagi orang yang keluar dari sana, Arsada mulai mengamuk. Dia bangkit dan mengepakkan sayap. Energi yang mengenai tubuhnya disalurkan ke tangan kanan. Tenaga dilepas, energi tersebut mengenai seseorang. Lelaki tersebut mengetahui cara untuk mengendalikan listrik yang bersemayam pada tubuhnya walau dia juga menanggung akibat dari listrik tersebut. “Kau juga bisa elemen petir?” Shifter ayam kebingungan. “Dia itu naga elemental. Jangan heran jika menguasai banyak elemen sekaligus,” kata shifter kura-kura. Arsada melesat dan mencengkram seoarang shifter. Dia mengamuk dengan membanting orang tersebut. Semburan tapi membakar tempat tersebut. Air yang keluar dibekukan sehingga membuat licin area yang ada di sana. Arsada terbang lagi dan dihadang oleh shifter ayam dan capung. Kedua sayapnya dipegang dengan erat hingga dia terjatuh ke bawah. Beberapa shifter datang dengan menyerang bersama. Kenangan akan kematian sang paman telah membangkitkan gairah untuk menghabisi setiap orang yang ada di sana. Ekor, tangan dan sayap seperti bergerak sendiri. Setiap orang yang datang pasti diserang dengan berbagai cara. Namun dia sendiri malah terpental saat seorang shifter badak menabraknya. Arsada menatap sebuah kaca dan keluar dari gedung.  Keempat sayapa dikepakkan, Arada kembali ke dalam gedung tersebut. “Argh!” Arsada membekukan ekor hingga menyerupai sebuah gada. Dia masuk ke dalam gedung itu. Semburan es bercampur dengan gelombang angin membuat hawa di sekitar sana menurun dratis. Si ayam telah dipegang dengan tangan dan terkena semburan. Namun sayap digigit si capung. Arsada mengambil shifter tersebut. Naas, ekor diinjak si bison. Mulut terlilit jaring blaba-laba hingga api tak bisa keluar dari mulut. Sayap dipegang shifter listrika dan Arsada mulai terlumpkan. Kedua tangan dan kaki terikat, dia tak bisa apa-apa. Kendangan dari si rusa membuatnya terkapar di tanah. Sebuah pedang diambil oleh si bison. Pedang dengan panjang lebih dari tersebut dilumuri sebuah racun. Tubuh si naga didudukkan. “Naga, nikmati saja kematianmu secara perlahan.” Sebuah pedang dihunuskan ke perut Arsada. Naga yang telah tak berdaya tergeletak di lantai. “Hanya segini saja kemampuan naga elemental? Dasar amatiran.” Pedang dicabut dan dibersihkan dari kotoran. Racun yang terkandung pada pedang tersebut membuat Arsada semakin kesakitan dan kepanasan. Suhu badan yang mendadak tinggi memutuskan tali yang terbuat dari air liur laba-laba. Arsada mengamuk dan membakar diri sendiri sebelum membuat angin yang sangat besar. Tembakan es mulai menyasar dan membekukan pergerakan beberapa shifter. Es ditembakkan pada diri sendiri hngga membuat kabut tipis. Arsada keluar dari tempat itu dengan keadaan seperti semula. “Apa? Seharusnya kau tadi kuhilangkan kepalanya?” Si bison keheranan. Kedua tangan menggenggam erat pedang. Lompatan tinggi dilakukan. Sebuah tusukan mengarah pada tubuh Arsada. Malah dia sendiri terluka di mata sebelah kiri akibat dari es yang ditembakkan Arsada. Sedangkan pedang tersebut hanya mampu menembus ekor naga. Semburan api membuat si bison harus mundur. Kesempatan Arsada untuk mencabut pedang sambil menyemburkan api sehingga ujung ekor bisa terbakar. Benda tajam tersebut ditusukkan pada shifter ayam yang masuk saja datang untuk menyerang. “Sate ayam, nyam nyam nyam.” Arsada menyemburkan api sehingga si ayam terbakar. Si manusia petir berlari dan memeluk tubuh Arsada. Dengan segenap konsentrasi, listrik tersebut ditembakkan pada shifter yang lain. Ekor berapi digunakan untuk melilit si petir. Memang energi yang diterima semakin banyak, serangan yang dilakukan semakin berbahaya. Sudah tak tahan lagi Arsada menahan rasa sakit dari sengatan listrik. Dia terbang menuju ke sebuah kipas ruangan. Baling-baling besar memang tak mampu untuk menghilangkan nyawa si manusia listrik. Setidaknya dia tak lagi merasakan rasa sakit yang luar biasa. Kibasan ekor dilakukan, si manusia listrik keluar dari gedung lantai sepuluh. Arsada tersungkur ke lantai. Semburan api masih sempat digunakan walaupun dia terkena tusukan di lengan kiri. Ekor dan sayang bergerakan dengan sinergitas yang cukup, dia bisa bersalto sambil mencabut besi. Tangan kiri dibakar sambil terus menyerang menggunakan anggota tbuh yang lain. Shifter capung ditangkap dengan ekor. Arsada menggunakan orang tersebut sebagian sebuah senjata. Dia pun silih bergantian memegang shifter lain dan digunakan sebagai senjata. Hingga beberapa dari mereka memilih untuk kabur sana. Yang tersisa hanya si bison semata. “Kau boleh saja punya elemen, tapi kau belum tentu bisa mengalahkan aku.” Si bison mengambil kedua pedang panjang. Empat sayap yang terkepak membuat benda yang ada di sekitar sana terbang tinggi. Momentum yang tepat bagi Arsada untuk mebakar tempat tersebut sambil mundur beberapa langkah. Si bison siap untuk memotong tubuh Arsada, tapi terlebih dahulu naga elemen itu membekukan kaki bison. Semburan api dilakukan dan sebuah pedang ditusukkan. Arsada meninggalkan bison yang membeku dan terbakar begitu saja di bawah guyuran air keran. Kepakan sayap menuntun Arsada ke sebuah anak tangga. Naga tersebut melihat Angelia sedang terjatuh di saat si wajah seribu telah bangkit. Sayap dikepakkan dengan sekuat tenaga hingga dia bisa turun ke bawah. Angin dikendalikan sehingga membentuk sebuah bola energi sebelum ditambahkan dengan es. Pukulan tersebut membuat si wajah seribu terpental jauh hingga keluar dari gedung tersebut. Bahaya yang mengintai Angelia belum berakhir. Seorang bertangan enam menembakkan senjata listrik. Terpaksa Arsada mengorbankan tubuh agar bisa menghalau serangan tersebut. Energi listrik yang mengalir pada dirinya dialirkan melakukan tangan kiri dan balik menyerang orang tersebut. Arsada menambahkan kerusakan dengan sebuah tendangan bercakar. Senjata meledak, kedua orang tersebut terlempar. Si tangan banyak kehilangan nyawa sebelum menjadi manusia, sedangkan Arsada terluka parah. Semburan terakhir menghabiskan seluruh tenaga yang dimiliki. Arsada kembali ke dalam wujud manusia. Langkah kaki kelelahan dilakukan untuk mengecek kondisi Angelia yang sedang dibawa sang pangeran untuk bersembunyi. “Nagaku, kau masih hidup. Aku pikir….” Wajah Nina menunduk ke bawah sebagai sebuah tanpa malu untuk meneruskan ucapan yang dilakukan. “Aku lapar dn kehabisan tenaga. Andai saja ada makanan di sini,” kata Arsada sambil memegang perut. “Makan saja aku. Selamatkan orang yang ada di sini. Aku tak mau lagi ada orang yang kehilangan nyawa karena aku,” tawar sang pangeran. “Maaf, Yang Mulia bukan shifter. Nama hamba Nina. Demi nagaku, apapun akan hamba lakukan,” tawa Nina. “Jangan, aku saja. AKu shifter cacing,” tawar Minarto.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN