BAB 10 ALUUN-ALUN

2078 Kata
Sesuai kesepakatan kemarin, Minggu sore ini, Lessa telah bersiap-siap untuk pergi jalan-jalan bersama Nando. Lessa terlihat merapikan rambut panjangnya yang sedikit berantakan dengan tangannya. Dan tak lupa dengan memakai parfum serta memoles sedikit bibirnya yang kering menggunakan lipbalm merah muda yang selalu ia bawa. Lessa menuruni tangga dengan tas selempang kecil di bahunya saat Nando telah mengirim pesan jika anak itu telah sampai di depan rumahnya. Langkah Lessa terhenti waktu menemui Mira yang hendak ke dapur. Kepalanya langsung menatap kamar Dika yang tampak tidak berpenghuni. Lessa pun bertanya pada Mira. "Kak Dika belum pulang juga, Bi?" Mendapat pertanyaan seperti itu, membuat Mira menghentikan langkahnya. Wanita itu menggeleng pelan, "Belum, Les." Mira dapat melihat perubahan raut Lessa yang langsung memberikan sorotan lesu. "Kamu tenang aja. Dika pasti pulang, kok," kata Mira mencoba menenangkan Lessa. Lessa mengangguk kecil dan menjawab dengan lemas, "yasudah kalau gitu, Bi. Semoga Kak Dika cepet pulang, dan enggak kenapa-napa. Lessa kangen solanya. "Iya, Les. Eh, kamu mau ke mana?" tanya Mira melihat Lessa yang hendak beranjak pergi. "Lessa mau jalan-jalan sebentar, Bi. Sama temen Lessa." "Temen yang mana? Temen apa temen?" ucap Mira sedikit menggoda. "Temen, Bi." Lessa tersenyum simpul. "Kalau gitu, Lessa pergi dulu ya, Bi. Lessa gak akan lama kok perginya." "Iya, Les. Kamu hati-hati, ya!" Lessa mengangguk, lantas melangkah pergi dari hadapan Mira. Bibir Lessa semakin mengembang menatap Nando yang telah ada di depan pagar rumahnya. Melangkah kecil menghampiri Nando yang langsung menegapkan tubuhnya di atas motor hitam itu. "Sini!" perintah Nando pada Lessa agar mendekat ke arahnya. Lessa pun menurut dan melangkah lebih dekat. Bibir Lessa tersenyum saat Nando memasangkan helm di kepalanya. Nando juga merapikan poni gadis itu yang sedikit berantakan. "Les, kita naik motor. Lo jangan pecicilan, bisa bahaya! Lo tahu kan gue gak mau mati muda!" Nando memperingatkan dengan tegas. Dia sendiri sudah menyiapkan mental sebesar ini dari semalaman. Sementara Lessa justru tertawa geli mendengarnya. "Iya, Nando! Lessa akan anteng, kok! Lessa waktu itu juga takut pas mau ketabrak truk tronton!" jawab Lessa dengan meringis kecil di ujung katanya. Nando pun tersenyum lega mendengar pengakuan Lessa. "Yaudah, yok naik!" Lessa mengangguk. Dia pun naik di atas pedal sebelum meloncat ke atas jok. Namun, sudah tiga kali Lessa mencoba meloncat naik, tetap saja tidak bisa menjangkau jok motor Nando yang tinggi. Terlebih, Lessa sedikit kesulitan karena saat ini ia memakai rok pendek selutut. "Nando! Kaki Lessa gak nyampai!" rengek Lessa dengan mencebikkan bibirnya sedih. Nando menolehkan kepalanya, detik itu juga, dirinya langsung tertawa melihat ekspresi Lessa yang cemberut. Dengan penuh inisiatif, Nando akhirnya memiringkan motornya agar Lessa lebih mudah untuk naik. "Pegang pundak gue," kata Nando memberikan pundaknya. Lessa pun menurut. Memegang pundak Nando untuk ia jadikan tumpuan, lantas meloncat naik ke atas motor. Nando tersenyum simpul kala Lessa sudah ada di belakang punggungnya. Nando pun mengatur posisi spion agar bisa menatap Lessa dari sana. "Kita mau ke mana, Ndo?" tanya Lessa memiringkan kepalanya. "Lo mau ke mana?" sahut Nando yang sedikit memutar tubuhnya ke belakang. Menatap Lessa yang malah mengerjap lucu. "Lessa gak tahu, Nando! Lessa cuma tahu rumah sama sekolah!" jawab Lessa sangat jujur. "Ke alun-alun, mau?" tawar Nando, yang dibalas anggukan langsung dari Lessa. "Iya, mau!" Nando membenarkan posisi duduknya. Menyalakan motornya, lantas ia jalankan dengan kecepatan sedang. Di sepanjang perjalanan, Lessa duduk dengan anteng. Lessa membuka kaca helmnya. Kepalanya mendongak, dengan kedua tangan yang ia rentangkan. Lessa memejamkan kedua matanya. Merasakan semilir angin sore hangat, yang membelai lembut wajah dan poninya. Sudut bibir Nando kian terangkat naik saat melihat kelakuan Lessa yang menggemaskan di matanya. Tiba-tiba saja, bibir Nando tersenyum picik. Nando dengan jahilnya menggoyang-goyangkan motornya di jalanan yang cukup lenggang. Membuat Lessa kontan membulatkan matanya. "Nando! Jangan goyang-goyang!" kata Lessa dengan menepuk keras pundak Nando. Nando tertawa senang melihat kepanikan di wajah Lessa. Nando tanpa takut semakin meleok-leokkan motornya dan sedikit menambah kecepatan motor. Membuat sepasang mata Lessa kian membulat dan berteriak panik. "NANDOOO!!!" teriak Lessa Refleks melingkarkan kedua tangannya erat di depan perut Nando. Nando semakin tertawa puas. Namun, tawanya langsung berubah menjadi ringisan saat Lessa mencubit keras perutnya menggunakan sepuluh jadi tangan. Otomatis, Nando langsung memelankan motornya, dan berhenti mengerjai Lessa. "Sakit, Les!" ringis Nando. Tangan kirinya mulai mengusap-usap perutnya yang terasa nyut-nyutan. "Nando, sih, bikin takut, Lessa!" sungut Lessa membela diri. "Lagian lo asik sendiri! Ajak ngomong gue, kek!" timpal Nando pura-pura merajuk. "Di jalan gak boleh banyak ngomong, Nando! Nanti Nando nyetirnya gak fokus!" balas Lessa memperingatkan dengan sungguh-sungguh. Nando memberengut. Mengedikkan kedua bahunya pasrah, lantas kembali fokus ke jalan raya. "Ndo," Lessa menusuk-nusuk punggung Nando dengan jari telunjuknya. "Apa?" jawab Nando dengan melihat raut Lessa di spion. "Lessa berdiri di pedal, boleh? Lessa mau--" "GAK!" tolak Nando cepat-cepat memotong kalimat Lessa. Karena bisa-bisa motornya oleng beneran seperti kejadian mengerikan pada satu Minggu yang lalu. Kepala Lessa langsung menunduk lesu. Bibirnya pun kian mengerucut beberapa senti. Tatapan Lessa berubah sendu, persis seperti bocah lima tahun yang tidak dibelikan mainan. Nando yang melihat ekspresi menyebalkan itu, langsung mengembuskan napas berat. Nando sedikit menepikan motornya dan menjawab pasrah, "iya-iya, boleh." Kepala Lessa langsung menegak. Bibirnya tersenyum senang dan bersorak, "asyik!Terima kasih, Nando!" Lessa langsung menegapkan tubuhnya, sedikit mencari keseimbangan dengan memegang kedua bahu Nando. "YEEEEE!" Lessa berteriak lantang dengan kedua tangannya yang merentang di udara. Kedua tangannya mulai melambai-lambai, menyapa pengendara lain yang melihat ke arahnya. Dan entah mengapa, Nando justru tersenyum senang melihat kelakuan Lessa yang sangat kekanak-kanakan. Walaupun dirinya sekarang menjadi pusat perhatian akibat kelakuan Lessa. Nando memarkirkan motornya kala mereka telah sampai di alun-alun. Kepala Lessa langsung mengedar, menyapu banyaknya orang yang tengah menikmati segarnya sore di taman itu. Senyumnya kian melebar, sepasang matanya terlihat berbinar. Sudah lama sekali ia tidak jalan-jalan seperti ini. Lessa menarik napas dalam, mengisi dadanya dengan angin sore yang menenangkan. "Nando, Nando! Lessa mau lihat itu!" Lessa kembali berteriak dengan menunjuk-nunjuk objek yang dimaksud. Nando mengikuti arah tunjukan Lessa. Kepalanya langsung menggeleng kecil dan berkata, "iya, sabar." Nando pun melepas helm di kepala Lessa. Mengaitkan helm itu di kaca spion. Lessa yang sudah tidak sabar langsung menarik tangan Nando untuk mengikutinya. "Wah, monyet! Lucu banget kayak, Nando!" teriak Lessa histeris melihat topeng monyet di hadapannya. "Enak aja gue disamain sama monyet!" protes Nando sangat tidak terima. "Persis, tahu! Coba Nando tiruin!" "Ganteng gue jauh, lah!" sungut Nando. "Nih, lo, lihat!" Nando langsung memeragakan gerakan monyet di depan Lessa. Wajahnya ia tekuk sejelek mungkin, dengan satu tangan di atas kepala, dan satunya lagi ia lingkarkan di belakang punggungnya. Nando bahkan berjalan beberapa langkah, bukan seperti monyet, Nando justru terlihat seperti seekor gorila. Lessa langsung tertawa cekikikan di tempatnya. Dia bahkan mengeluarkan ponselnya dan merekam kelakuan Nando. Dirinya tidak menyangka jika Nando mau saja ia kerjai seperti ini. Nando menghentikan kegilaannya kala sadar jika banyak pasang mata yang kini menertawakan dirinya. Tubuhnya langsung panas dingin melihat banyaknya ponsel yang menyorot ke arahnya. Kepala Nando menunduk malu, dia menyeret tangan Lessa untuk menjauh dari sana. Lessa masih saja tertawa di atas penderitaan Nando. Terlebih melihat wajah Nando yang kini merah padam. Keduanya memilih duduk di bangku taman yang cukup jauh dari orang-orang itu. Pada tangan gadis itu telah ada sebuah permen kapas yang panjangnya melebihi leher dan kepalanya. Lessa terlihat sangat menikmati makanan itu. Lessa juga membaginya kepada Nando. Karena Nando lah yang telah membelikannya. Kepala Lessa menoleh saat telinganya mendengar suara ricuh kepakan sayap burung. Bibir Lessa sedikit terbuka melihat banyaknya burung dara yang tak jauh dari tempatnya. Lessa berdiri dari duduknya. Berjalan perlahan mendekati puluhan burung itu. Tentunya diikuti oleh Nando yang langsung berjalan di belakangnya. "Burunggg!!" Lessa berlari mendekati kumpulan burung itu. Membuat banyaknya burung dara langsung berterbangan menjauh dari Lessa. Lessa tertawa, berlari kecil mengitari burung-burung itu yang selau saja terbang menjauh. Lessa bahkan merentangkan kedua tangannya, kakinya mulai berputar-putar di tempat. Mengikuti adegan film yang pernah ia tonton sewaktu kecil. Sementara Nando hanya tersenyum geli melihat tingkah laku Lessa yang beda dari yang lain. Rasa hangat menyelimuti dadanya saat melihat bibir Lessa tersenyum dan tertawa, terlebih ini karenanya. Tatapan Nando tidak pernah lepas melihat Lessa yang bergerak ke sana, ke mari. Nando bahkan terkekeh dengan menggelengkan kepalanya kecil melihat kelakuan Lessa. Dirinya bahkan meragukan fakta bahwa Lessa telah menjadi siswa SMA. Senyum di bibir Nando berubah menjadi keterkejutan saat puluhan burung dara itu berterbangan ke arah Lessa. Nando dapat melihat burung-burung itu seolah hendak menyerang Lessa. Lessa pun langsung memegangi kepalanya dan sedikit menunduk. "Aaaaaaaa!" Lessa berteriak ketakutan. Nando berlari dengan cepat menghampiri Lessa. Merangkul anak itu dengan sedikit memeluknya. Sebelah tangan Nando menghalau puluhan burung yang berterbangan di sekitarnya. Lessa menggenggam erat pakaian Nando. Ia dapat merasakan kepalanya diinjak-injak oleh banyaknya burung. Begitupun dengan Nando, dia harus merelakan kepala dan tangannya diserang puluhan burung itu. Nando melepaskan pelukannya saat mereka berhasil menjauh dari burung-burung itu. "Nando! Permen kapas Lessa ..., Dimakan sama burung! Burungnya nakal, Nando! Lessa gak suka!" Lessa mengangkat permen kapasnya yang tercabik-cabik. Bibir Lessa mencebik dengan sepasang matanya yang berkaca-kaca. Terlihat jelas jika dia mau menangis. "Jangan nangis, dong!" kata Nando langsung terlihat panik. "Ayo kita beli lagi. Gue beliin berapapun yang lo mau!" Nando menarik pergelangan Lessa menuju penjual permen kapas itu. Karena Nando tidak mau melihat air mata Lessa jatuh begitu saja. Lessa menurut. Namun, di tengah langkahnya, Lessa sedikit menarik tangan Nando. Membuat Nando menghentikan langkahnya. Dahi Nando berlipat melihat Lessa yang seperti menatap sesuatu. Nando pun langsung mengikuti arah pandang gadis itu. "Lessa mau main itu!" kata Lessa sedikit merengek, dengan menunjuk kumpulan anak kecil yang bermain gelembung sabun. "Serius?" kata Nando sedikit tidak yakin. Pasalnya, yang ia lihat sekarang adalah gerombolan anak kecil yang usianya mungkin sekitar empat sampai tujuh tahunan yang bermain permainan itu. "Iya." Kepala Lessa mengangguk saja. Karena dia juga lama sekali tidak bermain gelembung air. Dirinya bahkan lupa kapan terakhir kali memainkan permainan itu. Nando mengembuskan napas panjang. Kepalanya mengangguk mengiyakan. Lessa jelas saja bersorak senang. Nando tersenyum simpul. Entah mengapa, hari ini dia ingin melakukan apapun, asal Lessa bisa tertawa senang bersamanya. "Tunggu, dulu!" Nando menarik tangan Lessa yang hendak melangkah. "Rapihin rambut lo dulu. Rambut enggak ada beda sama sarang burung!" celoteh Nando dengan merapikan rambut Lessa menggunakan jarinya. "Bukan salah Lessa. Salahkan aja burung-burung nakal itu yang injak-injak kepala Lessa tanpa permisi!" sahut Lessa kembali menekukkan bibirnya. Nando tersenyum saja mendengar ocehan Lessa. Saat Nando sibuk merapikan rambut Lessa yang berantakan, tiba-tiba saja kedua mata Nando menangkap ruam keunguan dan beberapa bintik merah yang berada di leher kanan Lessa. Nando pun segera menyibakkan rambut Lessa untuk melihat ruam itu dengan jelas. Kedua matanya semakin membulat mendapati bintik kemerahan yang menjalar pada tengkuk leher Lessa. "Les, lo kenapa?" Nando bertanya pelan, nada suaranya terdengar jelas ada kekhawatiran di sana. "Lessa gapapa. Emang Lessa kenapa?" balas Lessa yang justru terlihat bingung akan pertanyaan Nando yang tiba-tiba "Leher lo kenapa? Lo sakit?" Tubuh Lessa seketika menegang. Lessa langsung mengusap lehernya yang ditunjuk oleh Nando. Kedua mata Lessa mulai bergerak tidak tenang. Lessa pun segera menutupi luka itu dengan rambutnya yang panjang. "Gak, gapapa. Lessa kemarin habis makan udang, Lessa lupa kalau Lessa alergi udang," jawab Lessa berbohong. Kedua tangan Lessa yang dingin mulai menggenggam sisi kaosnya. Jantung Lessa pun berdetak tidak tenang. Ia memang tidak pandai berbohong seperti ini. "Gak papa gimana, itu--" Lessa langsung menarik tangan Nando untuk mengikutinya, dia tidak mau mendengar apa-apa lagi dari Nando. Lessa langsung memesan dua alat gelembung sabun, yang satunya ia berikan kepada Nando. Nando menerima alat itu, walaupun ia masih sedikit penasaran karena merasa Lessa menyembunyikan sesuatu dari dirinya. Lessa membuang permen kapas di tangannya ke tempat sampah. Kemudian, kembali menarik tangan Nando untuk bergabung dengan kumpulan anak kecil itu. Lagi-lagi, Nando menurut saja ditarik-tarik seperti ini. Keduanya langsung memainkan gelembung sabun dengan antusias. Lessa tersenyum sempurna saat gelembungnya berterbangan di udara. Anak-anak kecil di sekitar mereka langsung berlarian mengejar gelembung yang Lessa buat. Lessa melangkahkan kakinya, sedikit berlari kecil sembari mengitari anak-anak itu yang terlihat senang dan saling berlomba-lomba menangkap gelembung sabun buatannya. Tawa Lessa kian lebar menikmati kebagian kecil di sore ini. Nando tersenyum sangat lega saat Lessa tidak berhenti tersenyum dan tertawa. Entah mengapa, di dalam lubuk hati kecil Nando, seolah-olah ada bisikan halus yang berkata dan menyuruh dirinya untuk bisa menjaga dan membuat Lessa bahagia. Nando pun tidak mengerti. Namun, setiap dia berada di dekat Lessa, Nando merasakan nyaman dan hangat yang menjalar di dadanya. Di sisi lain, Nando merasakan ada yang berbeda dari dirinya maupun dari Lessa. Nando tidak tahu pasti, yang jelas, saat ini Nando merasa sangat bahagia kala Lessa tersenyum senang ke arahnya. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN