Lessa meletakkan pulpen hitam ke atas buku fisika yang terbuka. Sedikit memijat pelipisnya yang berdenyut sakit. Lessa mengembuskan napas pendek sembari mengelap keringat di wajahnya. Kepalanya tergerak menatap jam dinding. Pukul sepuluh malam. Tiba-tiba saja tenggorokannya terasa kering. Teringat akan jadwalnya minum obat yang sudah terlewat.
Lessa merenggangkan otot-otot tangan dan lehernya. Rasanya tubuhnya ini remuk dan sakit semua. Padahal, tadi sore dia hanya jalan-jalan sebentar bersama Nando yang tak lebih dari dua jam. Akan tetapi, badannya kini terasa sangat pegal, seolah telah menanjak gunung hingga puncaknya.
Lessa turun dari kursi meja belajarnya. Hendak keluar untuk mengambil air putih. Langkahnya seketika tertahan di ambang pintu. Kepala gadis itu tiba-tiba menegap cepat saat mendengar deru motor yang sangat bising di dekat rumahnya. Lessa otomatis melangkahkan kedua kakinya menuju balkon kamarnya dengan sedikit penasaran. Angin malam langsung menerpa seluruh tubuh dan mengibarkan ujung-ujung rambut beserta pakaiannya.
Lessa memeluk tubuhnya sendiri. Sedikit kesakitan saat angin dingin menusuk masuk ke tulang-tulangnya. Lessa menyipitkan matanya. Melihat banyaknya orang bermotor dengan pakaian serba hitam membanjiri halaman rumah. Kening Lessa berlipat-lipat, dirinya mulai bertanya-tanya alasan mereka berkumpul malam-malam seperti ini.
Fokus Lessa langsung terjatuh pada sosok Dika yang diturunkan dari atas motor. Dua orang berbadan kekar dan berkulit hitam memapah tubuh anak itu.
"Astaga, Kak Dika!" Lessa langsung berlari secepat kilat. Menuruni anak tangga dengan perasaan kalut. Lessa bahkan hampir menabrak tubuh Mira yang juga keluar dari kamarnya dengan cemas.
Lessa meraih kunci yang tergantung di dekat pintu. Memutarnya pada lubang kenop sebanyak dua kali sampai pintu besar itu berhasil terbuka.
"KAK DIKA!" pekik Lessa panik melihat Dika yang setengah sadar. Terlebih melihat kedua rekan Dika yang sedikit menggeret tubuh kakaknya untuk dibantu masuk ke dalam rumah.
"Kak, Dika kenapa?"
Huekk.. Byuurrr...
Tubuh Lessa langsung menegang saat cairan busuk dan menjijikkan mengguyur seluruh tubuhnya. Rambut, wajah, serta pakaian Lessa basah mengenaskan. Lessa menahan napasnya, menahan aroma muntahan Dika yang benar-benar membuat perutnya mual. Tubuh Lessa bagai dipaku, sehingga anak itu hanya bisa berkedip tak percaya kala Dika kembali mengeluarkan isi perutnya yang berbentuk cairan pekat beraroma alkohol murahan.
"Astaga! Lessa!" Mira menarik lengan Lessa untuk menghindarkan anak itu dari muntahan Dika. Dirinya tak kalah terkejut melihat kondisi Dika yang kembali pulang dengan keadaan mabuk berat hingga harus dibantu kedua rekannya.
"Bersihkan tubuhmu dulu, Les!" peringat Mira yang sedikit menjauhkan diri dari Lessa akibat aroma badan anak itu yang sangat tidak sedap.
"Tapi Kak, Dika...."
"Les!" Mira sedikit membentak. Sepasang matanya pun melotot marah. Lessa menelan ludahnya sejenak, lantas berlari ke kamarnya untuk membersihkan diri. Sesampainya di kamar mandi, Lessa benar-benar langsung memuntahkan seluruh isi perutnya.
Mira membuka pintu lebar-lebar. Dirinya sedikit mundur, membiarkan semua rekan Dika untuk masuk ke dalam rumah.
"Taruh Dika di sofa!"
Kedua teman Dika mengangguk, kembali menggeret tubuh Dika, lantas membaringkannya ke atas sofa. Dika tertawa dan bersenandung tidak jelas di bawah sadar. Bahkan sesekali anak itu muntah kembali karena pengaruh alkohol yang sangat kuat.
"Berapa banyak dia minum?" Mira melayangkan pandang penuh kesal pada semua teman Dika. Terutama pada dua orang yang baru saja membantu Dika--tengah melepas kausnya akibat terkena muntahan Dika.
Pria berambut cepak dengan mata yang sedikit merah terlihat mengembuskan napas pendek sebelum menimpali. "Lima botol."
"Lima botol?!" Mira membeo tidak percaya. Mira mendengus saat mendapat tatapan tajam dengan senyuman picik dari mereka.
Tak lama, Lessa berlari kecil ke arah meraka dengan membawa sebuah baskom dan handuk kecil yang tersampir di pundaknya. Rambutnya yang basah ia gulung ke atas begitu saja. Berjalan sempoyongan dan duduk di sisi Dika.
"Bi, ambilkan kaus Kak Dika." Mira mengangguk, lantas bergegas menuju kamar Dika.
"Berani nyentuh gue! Lo mati." Dika meracau dengan menyeringai di penghujung ucapannya. Lessa tidak peduli, dia langsung mengangkat kaus Dika yang penuh cairan menjijikkan itu.
"Pergi gue bilang! Lo b***k?!" Dika menoyor kepala Lessa yang sedikit pun tidak membuat kepala itu tergerak. Justru tangan Dika terkulai lemas begitu saja.
Lessa menahan napas saat Dika meracau tak jelas. Sungguh, aroma alkohol begitu menyengat menusuk lubang hidungnya. Lessa beralih untuk memeras handuk di pundaknya yang telah ia celup pada air hangat di baskom. Membersihkan tubuh Dika yang lengket dengan sangat telaten.
Di sisi lain, seseorang diam-diam menatap Lessa dengan lekat. Menyatukan kedua tangan sembari memilin sebentar bibirnya yang terasa kering. Netra hitamnya menyapu tubuh Lessa dari atas hingga bawah dengan tersenyum penuh arti.
"Lo siapa?"
Kepala Lessa langsung menoleh saat suara berat seseorang melayangkan pertanyaan. Netra cokelat Lessa terjatuh pada sosok pria dengan model rambut dipotong rapi kini tengah tersenyum lebar menatapnya.
"Bukan siapa-siapanya," jawab Lessa cepat, dan kembali pada tugasnya. Lessa menelan salivanya. Sudut matanya sedikit melirik orang di sebelah kanannya yang terus saja mengawasinya. Lessa dapat merasakan jantungnya yang tiba-tiba berdetak kencang akibat aura pria tersebut. Entah mengapa, Lessa merasa seperti terintimidasi.
Kepala Lessa kembali menoleh saat orang-orang itu mulai beranjak dari rumahnya. Lessa menggenggam handuk di tangannya dengan erat. Jantungnya berdetak kencang saat netra matanya kembali bersinggungan dengan netra hitam legam laki-laki yang sempat bertanya padanya. Orang itu menyeringai sebentar, lantas pergi dari sana.
Lessa langsung mengembuskan napas panjang. Mengusap wajahnya yang tiba-tiba berkeringat. Lessa menatap Dika yang terpejam dengan sebelah tangan bergerak di udara seolah melukis sesuatu. Dirinya merasa khawatir dan kasihan kepada kakaknya itu.
"Ini kausnya, Les." Mira memberikan kaus Dika. Lessa pun menerima dan berkata terima kasih pada Mira.
Mira menutup kembali pintu rumah. Menatap nyalang ke halaman rumah saat orang-orang itu sengaja menggeber motornya sebelum benar-benar pergi dari sana.
"Mereka siapa, Bi?" tanya Lessa sembari memasangkan kaus ke badan Dika.
Mira mengembuskan napas kasar dan menjawab, "Mereka kumpulan geng motor Dika. Mereka lah pelaku yang mengenalkan Dika sama minum-minuman keras."
"Sok tahu!"
Lessa dan Mira serempak menoleh saat Dika kembali mengeluarkan suaranya.
"Mereka itu temen gue. Lo jangan sok tahu. Mereka bahkan lebih berguna daripada nyokap gue."
Lessa menahan tubuh Dika yang hendak bangkit dari tempatnya. Dika tidak tinggal diam. Anak itu mendorong kasar tubuh Lessa dengan otot tangannya, membuat tubuh Lessa terhuyung ke belakang, dan berakhir jatuh menghantam lantai.
"Les!" Mira memekik dan segera menolong Lessa. Lessa sedikit meringis dengan mengusap-usap lengan kanannya.
"Akulah Spiderman! Superhero terkuat di alam semesta! Raja dari semua raja! Bersiaplah dunia! Aku akan datang!" Dika meracau dengan berteriak. Bahkan kedua tangannya bergerak tak tentu arah seolah tengah memasang jaring laba-laba. Tubuh Dika oleng-olengan di setiap pergerakannya.
Satu alis Lessa terangkat naik. Menatap Dika dengan sangat tidak percaya. Benarkah yang saat ini ia lihat itu kakaknya yang dingin dan berhati batu itu? Ataukah bocah lima tahun yang sedang bersandiwara? Entahlah, Lessa sendiri hanya bisa menahan tawanya. Sedangkan Mira menggelengkan kepalanya.
"Bi, apa penawar mabuk alkohol?" tanya Lessa sembari memegang tangan Dika, membantu kakaknya itu untuk kembali duduk.
"Lepasin! Gue pengen terbang! Wiuuuhhhh!" Lessa sedikit menarik tubuh Dika sekuat tenaganya saat kakaknya itu hendak ambruk ke depan.
"Yang saya tahu cuma air putih satu galon!"
"Hah?!" Lessa tersentak mendengarnya. Bukannya sadar, kakaknya itu bisa saja langsung tewas!
"Bercanda, Les." Mira tersenyum geli. "Saya juga enggak tahu. Tapi pernah baca-baca, orang mabuk gini bisa diatasi dengan minum banyak air putih atau air kelapa.
Lessa mendengus. Mendorong kasar Dika yang kini memeluk pinggangnya. Membuat kepala belakang Dika menghantam sofa begitu saja.
"Biasanya, kalau Kak Dika lagi mabuk gini, Bibi kasih apa?" Sepasang mata Lessa memicing untuk meminta kejelasan.
"Gak pernah Bibi kasih apa-apa. Bibi biarkan dia sampai sadar sendiri. Karena Bibi gak mau ikut campur urusan Dika."
Lessa kian tersentak mendengar pengakuan Mira. Kedua tangan Lessa langsung mengepal erat dengan bibirnya yang sedikit terbuka. Menatap Mira dengan sangat tidak percaya.
"Maksud, Bibi? Kalau Kak Dika mati gimana?!" Lessa tanpa sadar meninggikan suaranya. Napasnya pun mulai bekerja cepat.
"Karena saya yakin Dika gak akan mati cuma gara-gara mabuk. Dulu saya pernah coba bantu Dika, tapi pipi kanan saya malah ditonjok sama dia. Ya, daripada saya yang mati, mending saya biarkan saja Dika seperti itu."
Lessa mendengus. Hari ini dirinya sangat tidak menyukai Mira. Lessa membalikkan tubuhnya, sedikit menghentak-hentakkan kedua kakinya menuju dapur. Memperlihatkan pada Mira jika dirinya sekarang lagi kesal. Sementara itu, Mira justru tertawa kecil menatap Lessa. Mira menggelengkan kepalanya lagi. Sungguh lucu baginya menggoda anak itu.
Lessa kembali dengan membawa teko penuh air putih dan juga satu gelas berukuran besar. Dirinya langsung mengembuskan napas kasar melihat kepala Dika keluar dari sofa. Lessa meletakkan teko dan gelas ke atas meja. Membenarkan posisi kepala dan tangan Dika yang menjuntai ke lantai.
"Aduh, Kak Dika ini berat! Sadar diri dong! Lessa capek angkatnya!" celoteh Lessa dengan sedikit ngos-ngosan. Sementara Dika malah bersenandung kecil dengan nada sumbang.
Lessa mengambil satu gelasnya yang ia isikan air dari teko tadi. Mencoba mendudukkan Dika, namun punggung Dika justru terjatuh menimpa dirinya. Lessa sebisa mungkin mengatur posisinya. Dan akhirnya, ia meletakkan kepala Dika di atas bahu kanannya. Menempelkan gelas itu pada bibir Dika dengan paksa. Lessa menuang air putih ke dalam mulut Dika hingga setengah gelas. Dika otomatis terbatuk-batuk, menyemburkan air itu dan mengenai pakaian Lessa.
"Kak Dika!" pekik Lessa melotot. "Baju Lessa basah kan jadinya! Kak Dika jangan buat Lessa sampai mandi dua kali!" Lessa mencaci. Membenarkan posisi kepala Dika yang ia sandarkan ke badan sofa. Sementara Dika terlihat tertawa di bawah sadarnya.
Lessa berdiri dari duduknya. Mengibaskan bajunya yang basah dengan tangannya. Kepala Lessa tergerak saat mendengar sesuatu di belakangnya. Lessa melotot, kepalanya menggeleng kecil dengan bibir yang tersenyum. Melihat Dika yang menjatuhkan diri di atas sofa. Lessa menatap lekat kakaknya itu yang tak lagi meracau. Lessa dapat melihat napas Dika yang mulai teratur. Dan sepertinya, Dika mulai tertidur.
Lessa mengembuskan napas pendek. Tidak mungkin juga dirinya memapah Dika ke kamarnya. Berat badan Lessa sendiri jauh lebih ringan daripada Dika. Bisa-bisa tubuhnya gepeng dulu sebelum Dika sampai kamar.
Lessa beranjak untuk untuk melepas sepatu dan kaus kaki yang masih melekat di kedua kaki kakaknya. Sedikit mengangkat dua kaki besar Dika untuk mencarikan posisi yang nyaman. Lessa mendengar dengkuran halus yang keluar dari mulut Dika. Tersenyum sejenak, lantas pergi menuju kamar Dika untuk mengambil bantal dan juga selimut.
Lessa mengangkat kepala Dika dengan sangat hati-hati, meletakkan bantal itu di sana. Karena Lessa tidak mau jika Dika pegal-pegal saat bangun nanti. Lessa lantas menyelimuti tubuh Dika yang mulai dingin. Lessa mendekatkan tubuhnya, menatap lekat-lekat pahatan Tuhan di hadapannya. Bibirnya tersenyum sangat tulus. Menatap setiap inci paras Dika, mulai dari bibirnya yang tipis dan sedikit hitam. Sepasang alis tebal. Rahang tegas. Tulang hidung yang sempurna. Kulit wajahnya yang halus dan tidak terlihat pori-pori. Ah, baru kali ini dia bisa menatap Dika dengan lekat dan lama. Tangan Lessa tergerak untuk membelai rambut hitam Dika yang panjangnya sampai menyentuh mata. Dika sangat terlihat kurang mendapatkan kasih sayang. Entah luka sebesar apa yang dirasakan kakaknya hingga membuatnya seperti ini.
Lessa mungkin sedikit lebih beruntung dari Dika. Meskipun Mamanya telah tiada, namun, dia masih memiliki sang Papa yang sangat sayang padanya. Lessa mengembuskan napas panjang dengan perlahan. Ia lantas berdiri untuk beranjak menuju kamarnya. Namun, pergerakannya tertahan saat Dika tiba-tiba menarik lengan kirinya.
Lessa sedikit tersentak. Menatap lengannya dan tangan Dika secara bergantian. Dika masih terlihat memejamkan kedua matanya. Bahkan wajahnya terlihat sangat pulas. Lessa mencoba melepaskan tangan Dika dengan perlahan. Namun, dikagetkan dengan suara Dika yang bercelatuk pelan.
"Jangan tinggalin gue."
Lessa tertegun. Dia menatap Dika dengan sangat tidak percaya. Ada rasa takut sekaligus senang. Takut karena Dika sekarang masih di bawah sadar. Dan senang bahwa Dika menginginkan kehadirannya.
"Jangan tinggalin gue. Gue mohon."
Lessa tersentak untuk kedua kalinya. Ia menelan salivanya dengan gusar. Lessa mencoba melepaskan tangan Dika saat genggamannya kian erat. Lessa termangu untuk beberapa saat. Dia pun akhirnya menjatuhkan diri di dekat Dika. Apa kakaknya itu sedang merasa ... kesepian? Entahlah, Lessa memilih duduk di lantai yang dingin. Sebelah tangannya yang bebas dari cengkeraman Dika, terangkat naik ke atas sofa, tepat di sebelah perut Dika. Gadis itu menunggu sembari menatap Dika dari bawah dengan menguap beberapa kali. Lessa mengusap kedua matanya yang mulai terasa berat. Secara tidak sadar, ia meletakkan kepalanya di atas sofa. Matanya mulai terpejam, pandanganya menggelap, dan Lessa mulai terlelap dalam tidurnya.
°°°
Pukul lima pagi, Dika tiba-tiba terbangun dari tidurnya. Hal pertama yang ia rasakan adalah pusing luar biasa yang menyerang kepalanya. Dika mengangkat tubuhnya untuk duduk. Memejamkan matanya rapat-rapat, dengan sebelah tangan yang memegang kepalanya. Dika mulai mengatur napasnya untuk menetralisir rasa sesak. Perlahan, Dika membuka matanya. Megerjap beberapa kali untuk menyesuaikan cahaya sekitar. Kepala Dika langsung menyapu seluruh ruangan. Dirinya sedikit linglung beberapa saat. Dan baru menyadari jika sekarang ia berada di ruang tengah rumahnya.
Kepala Dika tertunduk, cukup kaget mendapati Lessa di bawah sana. Keningnya mengernyit, terlebih melihat sebuah selimut yang membungkus tubuhnya. Dalam benaknya ia mulai bertanya-tanya, apakah gadis itu yang melakukannya? Pasalnya, selama dia pulang dalam keadaan seperti ini. Tidak ada seorang pun yang mau menyentuhnya. Dika menyundul kepala Lessa dengan jari telunjuknya beberapa kali. Mencoba membangunkan anak itu dengan sedikit kasar.
Lessa mengangkat kepalanya. Mengucek matanya dengan sebelah tangannya yang bebas. Lessa menguap dengan matanya yang mengerjap. Tatapannya langsung jatuh kepada Dika yang menatapnya dengan tajam.
"Ngapain lo?" Dika bertanya dingin sekali menggunakan suaranya yang berat dan serak.
"Nemenin Kak Dika," jawab Lessa tak kalah serak.
"Ngapain lo nemenin gue! Siapa yang nyuruh?!"
"Kak Dika," balas Lessa yang masih terlihat terkantuk-kantuk.
"Gue?!" tanya Dika masih tidak mengerti.
Lessa mengangguk kecil. Mengangkat tangan kirinya yang masih digenggam erat oleh Dika. Kedua mata Dika melotot. Dia bahkan tidak sadar jika menggenggam tangan Lessa. Ia pun langsung menarik tangannya cepat-cepat. Dirinya dibuat heran dan merasa kikuk. Tatapan Dika kembali menajam saat Lessa hendak tidur lagi.
"Jangan tidur di sini! Balik sana ke kamar lo!" perintah Dika dengan tegas. Membuat kepala gadis itu terangkat lagi. Lessa mengangguk ringan, lantas berdiri dari tempatnya. Tubuh Lessa yang tidak seimbang langsung oleng dan hendak tersungkur, jika saja Dika tidak cepat menahan tubuhnya.
Dika segera menarik tangannya lagi saat tubuh Lessa telah seimbang. Menatap punggung gadis itu yang mulai menjauh. Lessa berjalan seperti mayat hidup dengan mulut yang terus menguap.
Dika mengembuskan napas panjang. Memegang kepalanya menggunakan kedua tangannya. Dika menyibakkan selimut di kakinya. Kedua tangannya ia tatap dengan sangat lekat. Dika menggaruk kepalanya yang terasa sangat gatal. Mulutnya mulai merutuki tangannya sendiri. Dika beranjak dari sana. Membawa bantal dan selimutnya ke dalam kamar. Dika akan melanjutkan tidurnya dan melupakan apa yang telah dia perbuat tadi malam. Walaupun sebenarnya dia memang tidak ingat sama sekali tentang hal apa saja yang sudah ia lalui. Selain, mabuk alkohol di markas pelarian.