Lessa menenteng beberapa kantung plastik di tangannya. Meletakkan semua barang itu di atas meja dapur. Sebelum pulang, dirinya menyempatkan diri pergi ke minimarket dekat rumah untuk membeli bahan-bahan pelengkap roti kukus.
Kepala Lessa menegap kala sepasang telinganya mendengar suara berat seseorang yang sangat familier. Lessa menajamkan pendengarannya, melangkah pelan mengikuti sumber suara yang membawanya ke ruang tengah.
Sepasang mata Lessa sontak membulat sempurna kala mengetahui siapa pemilik dari suara itu. Dia dapat melihat jelas papanya tengah berbincang santai dengan Ellis di ruang TV.
"Papa!" Lessa langsung berteriak girang. Sedikit berlari untuk memeluk Dimas dengan erat.
Dimas yang mendengar teriakan putrinya langsung menoleh. Menerima pelukan Lessa dengan senang hati. Bisa dilihat kedua mata Ellis melotot dengan mengembuskan napas sebal. Menggeser duduknya untuk menjauh dari keduanya.
"Papa kapan pulang?" Lessa membenarkan posisinya menjadi duduk bersila di atas sofa. Menyorot rindu pada Papanya. Ini kedua kalinya dia bertemu dengan Dimas setelah pindah ke kota ini. Karena terhambat akan jadwal kerja Dimas yang menyita waktu, sehingga jarang sekali berkumpul dengannya.
"Baru saja," jawab Dimas dengan menyeruput kopi buatan Mira.
"Kamu betah di sini?" Dimas mengimbuhkan. Membuat tubuh Lessa sedikit menegang. Melirik sekilas pada Ellis yang menatapnya dingin.
"Betah, Pa. Mama dan Kak Dika baik sama Lessa," jawab Lessa dengan mengangkat kedua sudut bibirnya ke atas. Sedikit menahan ringisan kecil yang mengiris hati.
Dimas tersenyum lega mendengarnya. Ellis langsung tersenyum singkat kala Dimas menoleh ke arahnya.
"Syukurlah..."
Dimas mengelus lembut kepala putrinya dengan sayang. Lantas mengimbuhkan, "Jangan lupa minum obat. Terus, istirahat yang cukup."
Dimas mengeluarkan dompetnya. Mengambil sebuah kartu, lantas menyerahkan pada putrinya.
"Ini kartu berobat kamu yang baru. Jangan lupa terus cek kesehatan kamu. Dokter Paulus akan menangani kamu. Dia rekan Papa di sini. Jadi kamu gak usah khawatir."
Lessa tersenyum. Mengangguk mengerti, lantas menerima kartu itu. Sejenak, ia tatap kartu itu dengan sendu. Namun Lessa segera mengubah mimik wajahnya. Gadis itu ... Terlalu berbakat untuk menutupi lukanya.
"Terima kasih, Papa." Lessa kembali memeluk erat Dimas. Menyembunyikan dadanya yang mulai terasa sesak.
"Sudah, kembali ke kamar kamu. Mandi, dan istirahat."
Lessa mengangguk menurut. Beranjak dari sana, tersenyum sesaat kala Ellis justru menatapnya sinis.
°°°
Lessa duduk di meja belajarnya. Entah mengapa sepasang matanya langsung terpusat pada beberapa butir obat yang tersisa untuk sekali minum. Gadis itu mengembuskan napas lelah. Sejujurnya, ia sudah muak dengan semua rutinitasnya. Karena setiap hari, dia dipaksa mengkonsumsi lebih dari sepuluh pil obat.
Lessa menutup kedua matanya sejenak, mengatur napasnya yang sedikit tersengal. Tangannya terulur untuk meraih obat itu, namun tertahan kala ketukan pintu kamar terdengar di telinga. Lessa pun beranjak untuk membuka pintu. Dia tersenyum kecil kala Mira juga melemparkan senyum untuknya.
"Waktunya makan malam, Les!"kata Mira. Sementara Lessa justru menghela napas pendek dan menjawab, "Lessa makan di kamar aja, Bi. Lessa takut kalau Mama gak mau makan lagi kayak kemarin."
Senyuman hangat Mira langsung berubah miris. Mira dapat melihat kesedihan di sorot mata Lessa. Mira pun menepuk pundak gadis itu pelan, lantas bersuara, "Kamu yang sabar ya, Les.
Lessa mengangguk kecil. Dan tiba-tiba saja ia teringat akan rasa penasarannya di sekolah. Lessa langsung menarik lengan Mira untuk masuk ke dalam kamarnya. Tak lupa menutup pintu agar tidak ada yang mendengar pembicaraannya. Lessa menuntun Mira untuk duduk di tepi ranjang. Mira pun hanya mengikuti keinginan Lessa walaupun ada kebingungan yang tercetak di wajahnya.
"Ada apa?" tanya Mira pada akhirnya. Lessa mengatur posisi duduknya dengan bersila di atas kasur. Fokusnya tersorot untuk menatap Mira dengan dalam-dalam.
"Kak Dika sebenarnya kenapa? Apa yang membuat Kak Dika jadi laki-laki dingin dan bermasalah?" tanya Lessa penuh keseriusan.
"Maksud, Lessa?" sahut Mira yang belum mengerti.
"Maksud Lessa, kenapa Kak Dika itu jadi orang kok kasar banget. Senyum aja gak pernah. Dan kalau Lessa perhatiin, sorot mata kak Dika itu kayak orang mati. Bener-bener gak ada kehidupan! Apa Kak Dika gak pernah merasa bahagia, Bi?"
Mira sedikit terkejut mendengar pertanyaan Lessa yang seperti itu. Butuh waktu beberapa detik untuk menyiapkan kata-kata. Mira langsung mengambil napas dalam-dalam, lantas ia embuskan dengan perlahan. Seolah tengah mengumpulkan energi sebelum menjawab pertanyaan dari Lessa.
"Bibi ngerti. Pasti Lessa penasaran kan sama sikap nya, Dika?" Lessa langsung mengangguk semangat. Sedangkan Mira sedikit menerawang ke atas. Membuka memori beberapa tahun yang lalu.
"Dulu ... Dika itu anak yang sangat periang. Sangat mirip dengan kamu yang sekarang, Les!" Mira tersenyum, menatap Lessa yang kini mencondongkan tubuhnya lebih dekat ke arahnya.
"Tetapi, itu hanya bertahan saat Dika mau naik ke kelas tiga SD. Bibirnya yang selalu tersenyum dan tertawa riang, langsung sirna saat Nyonya Ellis dan Papanya setiap hari selalu bertengkar hebat."
"Dika yang tidak tahu apa-apa juga sering terkena imbasnya. Baik, Ellis maupun Papanya sering memarahi Dika dan bahkan melakukan kekerasan fisik terhadapnya."
Lessa terkejut. Dadanya mendadak berat. Dia mendengarkan cerita Mira dengan saksama.
"Dan sejak saat itu, setiap malam, Dika selalu ketakutan dan menangis melihat pertengkaran kedua orangtuanya yang setiap harinya semakin menjadi-jadi."
"Hingga akhirnya, kedua orangtua Dika memutuskan untuk berpisah. Dan sejak saat itu, kehidupan Dika berubah drastis. Bahkan kala itu, kedua orangtuanya tidak ada yang mau menjadi pengasuh Dika. Mau tidak mau, Nyonya Ellis lah yang terpaksa tinggal bersama Dika. Namun, sejak hari itu, Nyonya Ellis sama sekali tidak memperdulikan Dika. Bahkan, ia tidak mau merawat anaknya sama sekali. Nyonya Ellis juga jarang sekali pulang ke rumah. Hal itu membuat kepribadian Dika juga berubah. Dia menjadi orang yang dingin dan sangat kasar. Bahkan, saya sendiri sempat tidak mengenali Dika."
Mira menghentikan ucapannya sejenak, untuk mengambil napas dalam-dalam. Sementara kedua mata Lessa telah basah saat cairan bening itu tiba-tiba keluar dari matanya, dan mengalir di kedua pipinya.
"Pada suatu saat, waktu Dika kelas satu SMP, semangat hidupnya muncul kembali. Saya langsung merasa lega melihat Dika yang kembali tersenyum setiap harinya. Kala itu, Dika punya seorang pacar. Cantik sekali seperti Lessa. Akan tetapi, itu tidak bertahan lama. Perempuan yang Dika cintai dengan tulus, justru membalas perasaan Dika dengan sebuah pengkhianatan. Sejak saat itulah, Dika mulai masuk ke dalam lingkaran hitam. Dia mulai mengenal alkohol. Dia juga masuk ke dalam geng motor ilegal yang sering mengadakan balap liar. Dan Dika hampir saja menjadi pecandu n*****a, namun terhenti saat ia masuk penjara selama empat bulan. Dan waktu itu Papanya yang menebus Dika untuk bisa keluar dari sel."
"Dampaknya sekarang, Dika jadi anak yang pemurung, pembangkang, dan berhati dingin. Benar kata Lessa, sejak hari itu hingga sekarang ini, sorot mata Dika benar-benar redup dan kosong. Dan Sejak saat itu juga, saya tidak pernah melihat lagi sisi positif Dika. Hanya kegelapan dan kebencian yang terpancar di wajahnya. Dan kamu, Les ...." Mira menatap Lessa yang tengah meneteskan air matanya semakin deras.
"Kamu jangan nekat mendekati Dika. Saya gak mau kamu kenapa-napa. Karena Dika bisa melakukan apapun diluar batasan. Sebab yang saya tahu, hati dan perasaan Dika itu sudah mati. Asal kamu tahu juga, satu tahun yang lalu, Dika hampir saja membunuh temannya sendiri karena masalah sepele. Dari masalah itu, Dika sama sekali tidak merasa kapok, justru Dika semakin memberontak dan tidak bisa diatur."
"Maka dari itu, kamu harus bener-bener jaga diri kalau sama Dika, Les," peringat Mira mengakhiri ceritanya.
Setelah mendengar semuanya, Kepala Lessa menunduk lemah. Bahunya melemas. Napasnya terasa berat. Lessa tidak pernah menyangka akan mendapat pernyataan sepahit ini. Dari semua cerita Mira, Lessa dapat menyimpulkan, jika Dika sepertinya butuh tempat pelarian. Dika butuh seseorang untuk menyuarakan rasa kecewa dan kehampaan di dalam dirinya. Dan Lessa mengerti, ternyata inilah alasan mengapa Dika selalu berkata kasar dan meluapkan emosinya. Karena memang itu yang Dika butuhkan.
Tubuh Lessa termangu. ia menghapus air matanya yang terus mengalir. Kondisi Dika sepertinya lebih parah dari kondisinya sendiri. Lessa menarik napas panjang, mencoba mengisi kesesakan di dalam dadanya.
"Kalau gitu, Saya akan ambilkan kamu makan. Dan oh, Pak Dimas tadi mengirim pesan buat Lessa. Katanya Lessa jangan lupa minum obat. Memangnya, Lessa sakit?" tanya Mira dengan membelai lembut kepala Lessa. Mira sedikit memberikan sorot cemas kala melihat wajah Lessa yang cukup pucat.
Kepala Lessa menggeleng lemah. Lantas menarik kedua sudut bibirnya ke atas agar Mira tidak usah khawatir terhadapnya.
"Lessa gapapa. Cuma minum vitamin aja," jawab Lessa.
Mira mengembuskan napas lega. Lantas kembali mengusap kepala Lessa dengan penuh sayang.
"Kalau gitu, Bibi ke bawah dulu."
Lessa mengangguk, tersenyum simpul kala Mira meninggalkan kamarnya. Bibirnya yang mungil itu kini mendesah pelan. Tangannya terulur untuk mengambil sebingkai foto berukuran sedang yang terletak di nakas meja sebelahnya. Mengusap lembut foto itu dengan ibu jarinya.
Rasa rindu kembali menyeruak menumpuk di dadanya. Matanya terus terpusat pada seorang perempuan cantik yang tengah tersenyum di dalam pigura. Lessa turut tersenyum, menyamakan senyuman yang tercetak di wajah perempuan itu. Keduanya memiliki beberapa bagian wajah yang hampir serupa. Mulai dari mata bulat bernetra cokelat muda, bibir kecil yang ranum, serta pipi yang sedikit mengembang. Hanya saja bentuk rahang wajahnya yang berbeda. Lessa memiliki wajah yang sedikit oval, sedangkan wanita di foto itu memiliki wajah yang bulat.
Lessa memeluk pigura itu dengan erat. Memejamkan matanya, mengalirkan cairan bening yang langsung membasahi kedua pipinya lagi. Walaupun ia tidak pernah merasakan pelukan hangat dari wanita itu. Tidak pernah juga merasakan belaian lembut yang mengusap kepalanya. Bahkan, Lessa tidak pernah melihat wanita itu secara langsung. Namun, Lessa dapat merasakan kerinduan yang teramat dalam di hatinya.
Ingin rasanya ia bertemu sekali saja. Memeluk erat wanita yang telah melahirkannya. Dan wanita yang telah pergi selama-lamanya. Pergi tanpa diberi kesempatan untuknya merasakan kasih sayang seorang ibu.
Lessa mendongak. Merasakan kedua matanya yang memberat. Menumpahkan segala sesak yang menyergap hatinya. Bibir Lessa mulai bergetar dan bersuara lirih, "Mama ... Lessa kangen. Lessa pengen ketemu, Mama...."
Tanpa sadar, tubuhnya melemas. Matanya kian memberat. Hingga akhirnya ia terpulas dengan kedua tangan yang memeluk pigura itu dengan erat. Entah sampai kapan ia terus seperti ini. Menangis sepanjang malam, seolah menjadi dongeng pengantar tidur yang menyakitkan. Memanggil-manggil nama Mamanya yang tak akan kembali pulang ke dalam pelukannya.