Dika menyesap minuman keras di tangannya. Napasnya terembus dengan berat. Fokus Dika tertuju pada satu titik di hadapannya. Pikirannya dibuat kalut tanpa sebab. Dika bahkan memutuskan untuk bolos sekolah dan berdiam diri di sarangnya. Mengabaikan penampilannya yang acak-acakan, karena sedari semalam anak itu tidak bisa tidur. Atau mungkin lebih tepatnya memilih untuk tidak tidur. Dika menarik napasnya kala deru motor terdengar menggelegar di luar sana. Dika memilih tidak peduli kali ini. Dan menyesap minumannya sekali lagi. Saat ini Dika berada di sebuah bangunan terbengkalai, bekas pabrik kertas yang telah ditinggali pemiliknya lebih dari sepuluh tahun yang lalu. Bangunan kumuh itu kini dijadikan sebagai markas komplotan geng motor liar yang diisi oleh Dika dan banyak lainnya. Bangunan

