Pagi ini, kelas terasa begitu sepi. Semua siswa di dalamnya sibuk dengan tugas yang baru saja dibagikan. Nando sendiri terus termenung memikirkan kondisi Lessa. Bahkan Zikri sama sekali tidak menegurnya. Di sisi lain, Ara tampak lesu. Ditatapnya kursi di sebelahnya yang kini kosong. Sorot matanya meredup. Dadanya terasa sesak. Bahkan, napasnya seakan tertahan di kerongkongan. Kepala Ara mendongak kaget saat Nando tiba-tiba menempati kursi itu. Menatapnya dengan wajah yang sangat serius. "Ra. Gua denger Lessa butuh pendonor tang sumsum belakang." Ara menelan ludahnya susah payah. Kedua tangannya berkeringat. Jantungnya seperti berhenti berdetak. Ara terpaku. Balik menatap sorot hitam Nando. "Jadi ... Lo?" Nando langsung mengangguk. Bibirnya tersenyum tipis mendengar suara Ara yang ser

