"Mamih paling nggak suka sama tukang selingkuh." Aku meringis pedih mendengar ucapan Mamih. Saat ini kami sudah berada di dalam mobil Mamih, duduk di bangku belakang. Sementara supir pribadi Mamih tengah fokus menyetir di depan sana. "Amel nggak selingkuh, Mih. Tadi itu beneran cuma mamanya temen." "Terus kenapa dia bilang kamu itu pacar anaknya?" Aku terdiam seketika. Kalau aku menceritakan awal mula masalahnya, pasti Mamih bakalan bilang ini nggak masuk akal. Aku juga nggak nyangka akan ketemu mama Mas Devano di sini. Orang-orang di Jakarta tuh banyak, jutaan. Dan aku mikir peluangku untuk bertemu mama Mas Devano sangat-sangat-sangat dikiiiit sekali. Bahkan aku kira kami nggak akan bertemu lagi setelah kejadian waktu itu. Tahu-tahu malah ada plot yang disebut kebetulan. "Kamu tahu,

