Langit pagi itu gelap, seolah ikut merasakan kepedihan yang merambat pelan di d**a Katherine. Awan hitam menggantung berat, tertahan angin dingin yang berhembus kencang dari arah utara. Cuaca begitu buruk, seburuk perasaannya pagi itu. Katherine sempat berpikir, mungkin setelah semua air mata tumpah dan segala keluh kesah diungkapkan, perasaannya akan terasa sedikit lebih ringan. Tapi nyatanya, luka itu tetap ada. Seperti beban tak kasatmata yang menekan kuat di d**a, membuat setiap tarikan napas terasa sempit. Raut wajahnya murung, dan matanya tampak merah serta bengkak akibat tangisan yang tak kunjung reda semalam. Dalam hatinya, ia ingin sekali tetap di rumah, meringkuk di balik selimut dan membiarkan dunia berputar tanpanya. Tapi kenyataan memaksanya bangkit karena pekerjaan tetap me

