Perkataan pelayan pribadinya, kini bagaikan hantu yang terus menghantui Paul. Setiap kali dia memejamkan mata, sosok Katherine selalu hadir di dalam bayangannya. Parahnya lagi, imajinasi busuk yang tak diundangnya itu menghadirkan Katherine sedang tidur dengan pria lain. Itu benar-benar menyebalkan. Perasaan itu tidak seharusnya ada. Tidak pantas hadir dalam dirinya. Tapi rasa itu datang tanpa permisi dan menetap tanpa tahu jalan pulang. Dia membencinya. Membenci betapa sulitnya mengusir bayang-bayang itu dari pikirannya. Semakin keras dia mencoba menghapusnya, semakin kuat bayangan itu melekat. “Sial!” umpatnya pelan, penuh amarah pada diri sendiri. Lima tahun lalu, dia tak perlu bersusah payah untuk menyingkirkan Katherine dari benaknya. Dulu, rasa benci telah cukup menjadi pelindung

