Matahari menyengat terik di atas kepala, menyulut peluh yang merembes dari dahi Katherine. Dia keluar dari sebuah butik dengan langkah lunglai, wajahnya menunduk lesu. Itu bukan butik pertama yang dia masuki hari itu. Dia bahkan tak ingat sudah berapa pintu yang diketuknya. Entah sudah keberapa kalinya dia menelan penolakan dengan paksa, seolah harapan hanyalah ilusi yang terus-menerus menguap di hadapannya. Dia telah mencoba melamar sebagai tukang cuci piring di beberapa restoran, namun semuanya menolak. Rata-rata tempat itu telah bergantung pada mesin pencuci piring otomatis. Lalu dia mencoba sebagai pelayan, namun tatapan meremehkan yang menyambutnya lebih dulu berbicara sebelum kata-kata keluar. Tak satu pun bersedia memberinya kesempatan. Sudah dua hari penuh ia berjalan menembus

