Mencoba Bangkit

1054 Kata
Takdir hidup tak bisa diubah, karena itu sudah menjadi kehendak Tuhan. Namun, nasib seseorang akan bisa diubah jika orang itu mau melakukan perubahan. Nasib adalah sesuatu yang berjalan atas usaha yang kita jalani, dan tentunya atas kehendak Tuhan. Setelah mendapatkan dukungan dari pasangan suami istri yang merupakan sahabat sekaligus rekan kerja almarhum suaminya, Indira bertekad ingin merubah nasibnya menjadi lebih baik. Indira akan buktikan pada semua orang yang selalu memandangnya rendah dan hina. Indira akan membuktikan bahwa dirinya manusia berguna dengan pekerjaan mulia. Bukan seorang gadis pembawa sial seperti yang mereka sebutkan. "Wi, Kakak mau pulang sekarang aja. Kakak udah sehat," pinta Indira pada Dewi. Indira tidak mau berlama-lama berada di dalam rumah sakit. Apalagi ruang rawat yang dipakainya bertaraf puluhan juta untuk beberapa hari saja. Indira tidak ingin menghambur-hamburkan uang hanya untuk penyembuhan dirinya. "Dokter belum ngizinin, Kak. Jadi Kakak sabar dulu aja," balas Dewi yang kini memberikan apel untuknya. "Biayanya pasti sangat besar, Wi. Kakak gak mau lama-lama dan ngabisin uang cuma-cuma kayak gini. Kita bisa berobat jalan kok." "Gak, Kak. Almarhum Arka bakalan marah kalo Kakak dapet perawatan biasa." "Dia udah gak ada, Wi. Lagian Kakak cuma kecapean, cukup istirahat aja sama minum vitamin." "Walaupun dia udah gak ada Arka tetep merhatiin Kakak. Arka juga tetep ngasih nafkah sama Kakak lahir sama Kakak. Ini semua tetep Arka yang biayain. Jadi Kakak gak usah khawatir, nanti kita tanya sama dokter kapan Kakak bisa pulang. Sekarang yang paling utama Kakak harus tenangin diri sama pikiran aja. Jangan mikirin apapun dulu biar kondisi Kakak stabil." Indira tidak bisa lagi merayu Dewi, karena semua yang dikatakan oleh pengacaranya itu benar. Suaminya tetap memberikan nafkah secara lahir padanya walaupun mereka sudah berbeda alam. Betapa beruntungnya ia bisa bertemu dan pernah memiliki Arka dalam hidupnya. Betapa Indira bersyukur akan hal itu. Memiliki laki-laki yang memikirkan kebahagiaan dirinya, bahkan sebelum ajal menjemputnya. "Kira-kira Angga mau terima Kakak gak ya buat jadi dokter di sini?" tanya Indira khawatir. "InsyaAllah, Kak. Angga pasti bisa liat kemampuan Kakak. Nilai Kakak sempurna, jadi kesempatan buat Kakak terbuka lebar. Harusnya Angga bisa liat itu sih." "Semoga ya." "Aku angkat telepon dulu, Kak." Indira mengangguk, kembali termenung setelah Dewi pergi keluar. Hidupnya akan kembali penuh dengan kesulitan bahkan mungkin lebih setelah Arka tiada. Terkadang Indira menyalahkan Arka untuk itu semua, karena posesif nya Arka sehingga dirinya harus menggantungkan dirinya pada Arka dulu. Sehingga setelah kepergian Arka Indira menjadi bingung sendiri. Indira yakin keluarga Castello tidak mungkin tinggal diam begitu tahu bahwa harta milik Arka sudah menjadi miliknya. Entah apa yang akan mereka lakukan jika sudah mengetahui itu. Indira juga merasa bingung dengan itu semua. Apakah ia harus menerima apa mengembalikan semua harta yang ia terima itu. Apakah ia layak mendapatkan semua itu. Sedangkan dirinya tidak pernah sekalipun melayani Arka sebagaimana layaknya seorang istri pada suaminya. Indira tidak mau bergantung pada harta yang diberikan oleh Arka. Indira berdoa semoga ia bisa diterima di rumah sakit milik teman almarhum suaminya ini. Indira ingin membuktikan kemampuannya sebagai dokter kandungan yang kompeten dan mumpuni. *** Pagi ini Angga bangun dengan tubuh yang segar. Menyambut hari dengan senyuman adalah cara terbaik yang bisa ia lakukan sebagai bentuk rasa syukurnya pada Tuhan. Adiknya sebentar lagi akan melangsungkan pernikahan dengan laki-laki yang menjadi incaran semua wanita. Ia sudah berjanji akan menjadi ketua panitia acara pertunangan dan pernikahannya. Angga bangun dari kasur yang memiliki gaya gravitasi sangat kuat itu. Entah mengapa kasur di rumah orangtuanya seperti memiliki gaya gravitasi yang begitu tinggi dibandingkan kasur yang ada di rumahnya. Padahal merk dan tipe nya sama, tapi sungguh tarikan pada kasur yang ada di rumah orangtuanya itu lebih kuat, sehingga membuat Angga malas sekali untuk bangun. Hari ini ia menjadwalkan untuk berolahraga dan mengajak Amara, karena Amira sedang kedatangan tamu bulanannya. Angga sudah terlalu lama tidak melakukan olahraga bersama dengan adiknya di kompleks perumahan nya. Niat awal Angga ingin kembali melanjutkan tidur setelah sholat subuh, tapi ia urungkan karena mengingat tidak baik untuk kesehatan tubuh. Angga sudah siap bersama Amara, mereka berjalan menuju gerbang sebelum berlari menuju lapangan. Jika orang tidak mengenal mereka sudah pasti akan menganggap mereka pasangan. "Drama dimulai," ujar Amara saat melihat banyaknya wanita yang mulai memperhatikan mereka. Amara akan bertugas sebagai pengawal bagi Angga jika mereka pergi berdua. Karena Amara harus menjadi tameng yang melindungi kakaknya dari goda dan rayu para wanita yang mengidolakan Angga. "Apa sih, Dek?" tanya Angga dengan tersenyum. "Noh liat fans di depan." "Kita lomba yuk." "Siapa takut." Amara memilih berlari terlebih dahulu yang disusul oleh Angga. Mereka benar-benar seperti sepasang kekasih yang saling kejar-kejaran, membuat para wanita meleleh. Apalagi saat melihat peluh menetes di dahi Angga, ingin sekali rasanya mereka mengusap dan membersihkannya. Mereka bahkan mengatakan bersedia menjadi handuk yang menggantung di leher Angga. Bukan hanya Kemal yang menjadi idola di sana, tetapi Angga dan Bima juga. Bedanya Kemal selalu menghindar dan tidak pernah mau bersosialisasi karena tidak mempunyai tameng apalagi dengan wanita, sedangkan Angga sendiri lebih berani memunculkan wajahnya karena mempunyai dua pengawal cantik yang akan melindunginya. "Udah berenti, Mara capek." Amara melambaikan tangannya dengan mendudukkan diri di kursi taman. Mengatur napasnya yang naik turun setelah berlari, padahal ia berlari kurang dari satu kilo meter. Angga hanya menggelengkan kepala melihat itu semua. Adiknya memang cukup malas dalam menjaga kebugaran tubuhnya. "Gimana sih, Dek? Baru segitu juga. Ayok kita lari lagi, satu kilo aja belom." "Gak! Mara Capek, engap ini." "Huhh, cemen. Ya udah Kakak lari dulu." Angga melanjutkan larinya untuk mengelilingi lapangan. Memberikan senyuman pada para wanita yang menyapa dan berusaha mengikutinya. "Kak boleh bareng gak?" Seperti saat ini, dua orang wanita tengah mengimbanginya berlari di kanan dan kirinya. 3#RT Angga mempercepat larinya untuk menghindar dari dua wanita itu. Angga paling tidak bisa jika sedang berlari sambil mengobrol, karena itu hanya akan menghambat pernapasan nya. Karena Angga berniat untuk berolahraga, bukan mengobrol sepanjang jalan apalagi mencari pacar. Angga berhenti di depan pedagang minuman. Membeli dua botol air mineral untuknya dan sang adik yang saat ini sedang menunggu dirinya di kursi panjang. "Minum, Dek." Angga menyodorkan botol air mineral yang telah dibuka pada Amara. "Cie yang abis digodain cewek sekseh," goda Amara sebelum meneguk air minumnya. Angga hanya tertawa mendengar ledekan dari adiknya. Tidak mau memperpanjang Angga mengajak Amara untuk pulang. Mereka akan sarapan di rumah dengan menu yang sudah di masak oleh Ibu dan adiknya itu. Menu yang tidak pernah gagal dalam memanjakan lidahnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN