Perjalanan hidup yang pahit dan kesakitan yang harus dirasakan nyatanya tidak membuat seseorang kebal akan luka. Air mata akan tetap mengalir deras tanpa terasa, membasahi pipi. Luka itu terus menganga dengan lebarnya tanpa ada obat sebagai penawar rasa sakitnya. Kisah cinta yang terhalang restu tak pernah berjalan dengan mulus walaupun restu itu akhirnya didapati. Pengalaman yang mengajarkan itu semua, hingga membuat wanita itu memilih untuk mengunci hatinya, agar nama sang suami tersimpan dengan rapi di dalamnya.
Bayangan kesakitan saat pertama kali melihat jasad Arka di ke bumi kan membuat lelehan bening itu tanpa sadar apalagi diminta mengalir begitu saja. Sejenak ia masih berharap bahwa ini hanya mimpi buruk yang ia alami disaat hatinya gelisah. Namun, kenyataan menarik paksa dirinya untuk sadar bahwa itu semua kebenaran yang harus ia jalani.
Laki-laki yang berjanji tidak akan pernah meninggalkannya, laki-laki yang berkata ingin memiliki anak dengannya, laki-laki yang menjanjikan gerbang kebahagiaan untuknya telah pergi terlebih dahulu menghadap Tuhan. Ingin rasanya Indira menyalahkan Tuhan atau laki-laki itu, tapi ia sadar itu semua sudah takdir yang tidak bisa di ubah. Bagaimanapun caranya, jika memang garis hidupnya harus seperti ini ia tidak akan bisa berbuat apa-apa.
Indira hanya bisa memendam segala kesakitan dan kerinduan yang teramat dalam pada laki-laki yang telah menjadi suaminya. Suami yang tidak pernah bisa menafkahi nya secara batin.
Bayangan Indira tentang perannya sebagai seorang suami yang akan ia layani dari bangun tidur hingga ia tidur lagi musnah seketika, saat dokter mengatakan kata maaf karena tidak bisa menyelamatkannya.
Dunianya berputar pada saat itu, bumi seolah tidak mempunyai gaya gravitasi yang bisa menahan tubuhnya, kakinya tidak berpijak dan semuanya terasa gelap. Dunianya hancur saat kata maaf itu terucap dari mulut dokter penuh sesal. Tidak ada kata yang bisa ia dengar lagi setelah itu, karena ia tidak bisa mendengar ataupun melihat setelah ia jatuh pingsan.
Bayangan itu kembali hadir dan begitu menyakitkan. Indira berkali-kali menepuk dadanya yang terasa sesak saat tiba-tiba bayangan itu kembali hadir. Tuhan begitu tega tidak mengizinkan dirinya melayani Arka, laki-laki yang mencintai dan dicintainya.
Rindu yang tidak akan pernah bisa tersampaikan selain melalui doa. Merindukan seseorang yang telah berbeda alam itu rasanya lebih sakit dari yang dibayangkan.
Indira bahkan berdoa agar Tuhan mengambil nyawanya juga. Ia ingin bertemu dengan orang-orang yang disayang dan dicintainya. Agar rindu itu tersampaikan pada pemiliknya. Rindu itu begitu berat, dan membuatnya ingin menyerah.
Sekuat dan setegar apapun seseorang akan lemah dan rapuh disaat merindukan sosok yang sudah pergi dari dunia ini.
"Aku rindu, Mas. Aku mau ketemu kamu, mau dipeluk dan dimanja kayak dulu. Kamu jahat, Mas. Kamu hutang banyak janji sama aku," lirih Indira menyampaikan segala sesak di dadanya pada foto sang suami.
Senyum Arka dalam foto itu begitu menyejukkan hatinya. Indira sangat ingat di mana meraka berfoto saat itu. Taman Mini Indonesia Indah, pada tanggal tiga Maret 2019, tanggal anniversary hubungan mereka yang ke dua tahun. Mereka berdua sama-sama manusia yang sangat jarang atau tidak suka berfoto. Saat itu Indira yang menginginkan untuk pergi ke tempat wisata itu. Indira menyiapkan banyak hal yang salah satunya membawa kamera, karena ia ingin memotret beberapa tempat di sana. Arka selalu mengikuti apapun yang Indira inginkan, termasuk harus membeli kamera baru sebelum menuju tempat wisata sejarah Indonesia itu.
Dalam foto tersebut mereka menggunakan out fit yang sama, kaos putih berlengan panjang dengan blue jeans. Rambut Indira yang tergerai indah merupakan bagian kesukaan Arka. Di sana mereka banyak berfoto dengan berbagai gaya, yang tentu saja Diwa dan Dewi sebagai fotografer dadakan nya. Walaupun menggerutu tetap mereka lakukan.
Foto yang selalu Indira bawa adalah saat gaya mereka duduk di sebuah kursi panjang, mata mereka saling memandang, tangan Arka merangkul kepalanya, kaki mereka sama-sama menyilang, dengan senyum dan tatapan penuh cinta.
Betapa romantisnya mereka kala itu. Ah! Bukan hanya kala itu, karena mereka berdua memang selalu romantis kapanpun dan di manapun, membuat jiwa para jomblo selalu merasa iri dengan hubungan mereka.
Mereka berdua sama-sama dewasa, jadi sangat jarang bahkan tidak pernah terjadi pertengkaran yang serius selain rasa cemburu Arka yang berlebihan. Indira sangat menikmati perannya sebagai putri yang selalu diprioritaskan oleh sang kekasih.
Kenangan indah itu akan selamanya ada di dalam hati dan memorinya. Arkadia Castello, laki-laki yang namanya terkunci rapi di dalam hati seorang Indira Faradiba. Laki-laki yang berjanji untuk selalu menjaga dan melindunginya, tapi ingkar karena alam semesta yang tidak merestui.
"Kamu hutang banyak janji sama aku, Mas. Dan kamu gak nepatin itu. Kamu bohong. Aku sebel sama kamu," celoteh Indira masih pada foto itu.
Jika sampai orang lain melihatnya mungkin mereka akan mengira Indira mengalami gangguan jiwa, karena berbicara, menangis dan tersenyum sendiri sambil melihat dan mendekap sebuah bingkai foto. Jiwanya memang cukup terguncang dengan kepergian Arka, seseorang yang selama ini menjadi tumpuan hidupnya.
Namun, biarkanlah wanita itu mendalami kesedihannya, sebelum kepahitan hidup kembali menyerangnya. Biarkan untuk sementara waktu Indira bermain dengan imajinasinya, karena ia hanya ingin melampiaskan rasa sakit yang di alaminya. Hanya sebentar, sebelum perjuangan hidup kembali harus ia hadapi.
"Gimana kabarnya, Kak?" tanya Dewi yang membuyarkan kenangan indah Indira.
Dewi sudah datang dari lima belas menit yang lalu. Namun, Dewi tidak masuk karena ingin memberikan waktu pada Indira untuk melampiaskan kesakitan yang ia rasakan pada foto Arka. Dewi yakin Arka juga menangis di atas sana jika melihat pujaan hatinya terpuruk seperti itu.
Dewi dan Diwa merupakan saksi bagaimana Arka dan Indira membangun cinta di atas halangan restu dari nyonya besar Castello. Dewi yang melihat secara langsung bagaimana Indira dihina dan direndahkan di sebuah restoran oleh Monica dan Yasmin, ibu dan adik perempuan Arka, setelah mengetahui anaknya berhubungan dengan seorang anak yatim piatu.
Saat itu Dewi sedang makan siang, tanpa sengaja ia melihat Monica dan Yasmin duduk di meja yang tidak jauh darinya. Dewi urung menyapa saat melihat Indira masuk ke dalam restoran dan duduk meja yang sama. Curiga dan meyakini ada yang tidak beres Dewi menajamkan telinganya untuk mendengar apa yang akan dibicarakan oleh mereka bertiga.
"Seharusnya kamu sadar diri siapa kamu dan siapa anak saya. Upik abu yang berharap jadi Cinderella? Mimpi kamu terlalu jauh, Nona. Kamu cuma yatim piatu yang dicap sebagai pembawa sial oleh orang disekitar. Cara apa yang kamu gunakan untuk menarik perhatian anak saya?" cercaan dari Monica Castello tanpa perasaan.
"Apalagi jika bukan menyerahkan tubuhnya sama, Kakak. Gak mungkin 'kan Kakak mau sama gadis yatim piatu kayak dia kalo gak dikasih kehangatan ranjang?" sela Yasmin Castello dengan nada merendahkan.
"Maaf Tante, saya tidak menggunakan cara apapun untuk menjerat Arka. Kami saling mencintai, dan bukan ingin saya menjadi seorang yatim piatu," jawab Indira setelah mengumpulkan keberaniannya.
"Halal! Mana ada maling ngaku. Penjara bakal penuh kalo begitu," sela Yasmin dengan geram.
"Kamu pikir saya percaya? Gadis yatim piatu pembawa sial dan juga miskin bermimpi menjadi Tuan Putri. Jangan mimpi! Sekarang saya tanya baik-baik sama kamu. Apakah satu milyar cukup untuk kamu pergi meninggalkan Arka? Saya tidak akan menawarkan lebih dan saya tidak mau menerima penolakan. Saya rasa nominal segini cukup untuk kamu hidup enak."
Dewi tersenyum miring saat itu, Monica selalu menilai apapun dengan uang. Monica tidak pernah mempercayai cinta Indira pada anaknya, sehingga hal tersebut yang sering membuat Arka bertengkar dengannya. Monica selalu menuduh Indira yang hanya menginginkan harta keluarga Castello untuk kehidupan mewahnya.
"Maaf, Tante. Saya tidak butuh uang Tante. Saya mencintai Arka tulus. Jika tidak ada lagi yang ingin Tante bicarakan saya permisi dulu."
"Dasar gadis tidak punya sopan santun, gak tau diri."
Monica dan Yasmin sangat marah pada saat itu, mereka terus menggerutu dengan kesal atas sikap Indira yang menurut mereka tidak tahu diri. Dewi kembali tersenyum dan menggeleng atas kelakuan ibu dan anak itu. Dewi pergi saat Indira sudah keluar dari restoran itu, mengikuti Indira pergi ke mana yang ternyata pergi ke sebuah taman yang tidak jauh dari restoran tadi. Indira memang sangat menyukai taman, dan akan berdiam diri di taman sampai suasana hatinya membaik.