Hari ini Indira sudah diizinkan untuk pulang, sebenarnya belum, tapi Indira memaksa untuk pulang karena merasa sudah sehat. Lagi pula, walaupun Arka menitipkan harta yang tidak sedikit, akan tetap habis jika untuk membayar biaya rumah sakit yang tidak murah, apalagi kamar yang ditempatinya merupakan jenis VIP dengan perawatan premium, biayanya sudah pasti mencapai puluhan bahkan mungkin ratusan juta untuk tiga hari dirinya di rawat.
Indira tidak mau terlena dengan warisan yang ditinggalkan sang suami, karena setelah ini hidupnya mungkin tidak akan bisa tenang perihal harta tersebut. Bagaimanapun seorang Monica Castello tidak mungkin membiarkan harta almarhum anaknya dinikmati oleh Indira dengan bebas. Monica pasti akan melakukan berbagai cara untuk merebutnya dari Indira, tidak peduli jika itu sudah diwariskan pada Indira atas kesadaran Arka sendiri, karena sejak awal Monica meyakini bahwa Indira hanya menginginkan harta keluarganya saja.
Masih terbaring lemah di atas kasur apartemen kecil miliknya, Indira mencoba mandiri dengan selalu ingin melakukan hal sendiri. Seperti mencoba ke kamar mandi tanpa memanggil orang lain yang dibayar oleh Dewi untuk membantunya.
"Alhamdulillah udah jauh lebih baik, Wi. Kamu gak perlu datang tiap hari Wi buat nengokin Kakak. 'Kan udah ada orang yang bantuin, jarak kamu juga jauh dari rumah kesini."
"Gak apa-apa, Kak. Lagian bosen juga sendirian di rumah."
Dewi memiliki firma hukum cukup besar, sedangkan dirinya hanya menangani kasus-kasus milik Arka saja, kasus yang lain selalu di alihkan pada rekan seprofesi nya, kecuali kasus itu benar-benar mengharuskan Dewi yang mengambil alih. Maka dari itu pekerjaan Dewi tidak terlalu dituntut dan sibuk dan lebih banyak berada di rumah, karena selama menjadi pengacara Arka, Dewi hanya menangani beberapa kasus saja.
"Gimana tanggapan Angga buat lamaran kerja aku, Wi?"
"Kata Angga buat badan Kakak bener-bener fit dulu aja. Kalo udah sembuh total kita ke sana buat ngomongin kerjaan."
Indira bernapas dengan lega, setidaknya ia mempunyai kesempatan untuk bekerja dan menghasilkan uang, dan lebih dari itu ilmu yang didapatkannya menjadi berguna untuk banyak orang.
Indira yakin dengan kemampuannya, maka dari itu ia juga yakin jika akan diterima di rumah sakit milik Angga. Wanita cantik itu berjanji tidak akan menyia-nyiakan kesempatan yang ada. Indira akan berusaha semampunya untuk menjadi dokter yang bisa dibanggakan oleh orang-orang yang telah membantunya hingga menjadi seorang dokter. Terutama untuk almarhum suaminya yang sudah berkorban banyak untuknya.
"Makasih ya, Wi."
"Udah jadi tugas aku, Kak."
Setelah itu mereka banyak mengobrol tentang semua hal termasuk cara menghadapi keluarga Castello, menyiapkan rencana jika sewaktu-waktu keluarga itu menginginkan harta yang telah diwariskan pada Indira.
***
Di lain tempat, Angga baru saja selesai dengan segala aktivitas paginya. Setelah pulang dari lari pagi yang penuh dengan ledekan dari Amara, Angga lebih memilih untuk langsung sarapan dan mengganggu kedua adik kembarnya itu.
"Kak jalan-jalan yuk. Bosen nih di rumah aja."
Amara si adik bungsunya yang sangat manja pada semua orang. Terlahir hanya tiga menit dari kakaknya Amira, tetapi sikapnya sangat jauh berbeda dengan Amira yang begitu dewasa dan benar-benar menempatkan dirinya menjadi seorang kakak. Sedangkan Amara benar-benar menempatkan dirinya sebagai seorang anak bungsu yang begitu manja.
Namun, otak pengusaha yang tertanam pada dua adiknya merupakan turunan dari sang ayah. Jika Angga dibebankan untuk mengurus perusahaan, berbeda dengan kedua adiknya yang dibebaskan untuk mengembangkan kemampuan mereka dalam bidang usaha. Amira dengan keahlian masak memasak memilih untuk membuka toko kue yang kini menjadi kafe dan tersebar di beberapa tempat. Sedangkan Amara dengan kecintaannya pada bunga memilih membuka toko bunga yang juga sudah memiliki beberapa cabang.
"Jalan-jalan ke mana?"
"Ke mana kek."
"Ya udah siap-siap, sekalian ajak Amira."
"Udah siap dong," sela Amira yang ternyata sudah rapi.
"Idih! Niat sekali," ledek Amara.
"Kita padahal mau jalan berdua ya, Dek?" ledek Angga.
"Tidak peduli," balas Amira.
Tidak lagi berdebat Amara pergi menuju kamarnya, berganti baju dengan cepat karena takut jiwa jahil Angga akan kumat dan berakhir dirinya yang ditinggalkan.
Sedangkan Angga sendiri hanya mengambil topi di kamarnya. Mereka bertiga berjalan menuju mobil setelah pamit pada kedua orang tuanya yang sedang bersantai di taman belakang.
Hal paling menyebalkan untuk Angga saat dirinya harus menjadi supir bagi kedua adik cantiknya. Lihatlah Amira dan Amara, mereka dengan santainya menduduki kursi tengah, sedangkan dirinya duduk di belakang kursi kemudi sendirian.
"Ini maksudnya Kakak jadi supir gitu?" tanya Angga dengan nada menyindir.
"Mira abis cek toko jadi cape kalo harus nyetir," balas Amira dengan cepat.
"Mara juga sama," timpal Amara cepat.
"Ya udah gak usah berangkat. Kita begini aja sampe ini mobil jalan sendiri."
Angga justru menyetel kursi agar lebih bersandar, menyandarkan tubuhnya dengan melipat kedua tangan di bawah d**a. Membiarkan kedua adik kembarnya melakukan suit untuk siapa yang menyetir, karena sekarang justru Angga benar-benar tidak ingin mengendalikan benda bulat itu.
"Pake supir deh," saran Amara.
"Capek deh!"
Amira keluar dan membuka pintu bagian depan, membuat Angga tersenyum dan bergeser menuju kursi di sebelahnya.
"Berang-berang makan ketupat. Berangkat!" teriak Amara karena akhirnya mereka bisa berangkat.
Amira mulai menjalankan mobilnya, keluar gerbang komplek rumah yang pada siang hari ini terlihat sepi, karena akan ramai pada sore hari.
Mobil terus melaju menuju jalan puncak, tanpa protes dari kedua penumpangnya, Amira membawa mobil menuju curug yang terkenal dengan keindahan dan kesegaran air terjunnya. Keindahan yang disuguhkan oleh alam membuat Angga dan Amira berteriak dengan bahagianya, sedangkan Amara di awal menggerutu karena harus berjalan naik turun untuk sampai ke tempat tujuan.
Namun, setelah melihat panorama alam yang memanjakan mata dengan air dari kolam yang begitu segar membuat Amara tak kalah bahagianya. Air terjun dengan tinggi empat meter dari hulu, kolam berukuran cukup besar dengan air berwarna hijau. Sejuknya air membuat mereka langsung menceburkan diri menuju kolam jernih itu setelah menyimpan tas yang berisi baju ganti.
"Woy kadal! Liburan gak ngajak-ngajak lo."
Ketiga manusia yang tengah asik berenang itu serempak menoleh saat mendengar teriakan dan panggilan untuk Angga dari seorang laki-laki tampan yang bernama Bima Satria Arjuna. Angga mendelik penuh permusuhan pada kedua sahabatnya. Entah mereka sengaja membuntuti atau memang kebetulan bertemu di sana.
"Ngapain lo berdua?" tanya Angga dengan penuh curiga.
"Nyari congklak," jawab Kemal asal.
Amira menundukkan kepalanya saat tak sengaja matanya bertemu pandang dengan Kemal. Sedangkan Amara terlihat cuek dengan menenggelamkan seluruh tubuhnya ke dalam air.
Tempat yang mereka datangi adalah kawasan yang sepi pengunjung, karena kebanyakan orang malas datang ke tempat itu dari jarak yang harus ditempuhnya. Belum lagi dari parkiran menuju air terjun yang cukup jauh dan harus berjalan kaki dengan jalan yang cukup terjal juga curam. Sehingga membuat orang-orang malas, kecuali yang memang menyukai tantangan. Seperti saat ini, hanya ada mereka berlima dan beberapa orang penjaga kawasan tersebut.
"Bilang aja lo berdua ngikutin gue," balas Angga dengan cuek.
"Au ah gelap," tak kalah cuek Kemal pun membalasnya.
"Mara sombong deh gak mau nyapa, Kakak."
Tanpa memperdulikan omongan Angga, Bima lebih memilih untuk berbicara pada Amara yang baru saja mengeluarkan kepalanya dari air.
"Gak usah goda-goda adek gue deh," sela Angga cepat.
Angga merupakan kakak paling posesif di dunia, tidak boleh ada laki-laki yang mendekati adiknya secara langsung, walaupun itu untuk kedua sahabatnya yang sudah tidak diragukan dalam segala hal. Baik itu fisik, materi bahkan ahklak sekalipun. Namun, itu semua tidak membuat Angga membiarkan mereka mendekatinya, karena Angga takut kedua adik kesayangannya terluka secara batin mengingat bagaimana populernya Kemal dan Bima.
"Maaf siapa ya?" tanya Amara pura-pura tidak mengenal Bima.
"Ya Allah. Orang ganteng kayak gini masa Mara gak kenal?" tanya Bima dengan pura-pura terluka.
"Orang gila gak bakalan ngaku dia gila. Begitupun orang ganteng gak bakalan ngaku ganteng," sindir Kemal dengan menyeburkan dirinya ke dalam air yang berjarak sekitar satu meter dengan Angga dan adik-adiknya.
Angga menghampiri teman-temannya, karena Kemal dan Bima tidak akan mau berdekatan dengan kedua adiknya. Bukan karena benci ataupun apa, tapi karena mereka bukan mahramnya. Bersenang-senang dalam air untuk menghilangkan segala jenis kepenatan yang menghampiri setiap hari otak dan tenaganya, agar esok ia lebih siap dalam menghadapi kenyataan hidup dalam pekerjaan yang tidak pernah ada habisnya.
Setelah ia mengambil alih perusahaan hidupnya selalu ditemani oleh dokumen-dokume yang selalu menumpuk, dan sangat jarang menghabiskan waktu untuk bersenang-senang seperti saat ini.