Mimpi Angga

1409 Kata
Setelah puas bermain air dan mengambil banyak foto mereka memilih pulang, karena jam yang sudah menunjukkan pukul tiga sore, juga satu jam lagi tempat itu akan ditutup. Jalanan yang terjal dan juga jauh untuk menuju parkiran membuat pengurus tempat tersebut menutup area wisata pada jam empat sore. Hal itu untuk menjaga keamanan pengunjung, karena jika terlalu sore dikhawatirkan mereka akan kesulitan saat berjalan pulang. "Kakak yang bawa." Angga meminta kunci mobil pada Amira, dengan senang hati Amira memberikannya. Adiknya yang satu itu pendiam dan akan lebih pendiam lagi jika ada laki-laki lain di dekatnya, walaupun Bima dan Kemal bukan seperti orang lain bagi keluarga Angga. "Mira mau pulang sama Kakak gak?" tawar Bima dengan nada menggoda. "Gak ada. Lo berdua jadi pengawal di belakang," sela Angga cepat. "Aelah galak amat calon Kakak ipar," balas Bima. "Maaf, saya tidak menerima circle pertemanan menjadi periparan. Anda ditolak." "Sadis!" sela Kemal dengan cepat. Bima mendengus kesal, sedangkan mereka tidak ada yang peduli dan lebih memilih masuk ke dalam mobil masing-masing. Angga langsung menjalankan mobilnya yang disusul oleh mobil Kemal di belakangnya. Perjalanan diisi dengan musik yang berputar dengan merdunya. Mereka bertiga mengikuti lagu milik grup band Michael Learns To Rock dengan judul That's Why You Go Away. Mereka hanyut dalam lagu tersebut, membuat keadaan di dalam mobil begitu ramai. Angga selalu bahagia dan begitu menikmati saat bersama kedua adiknya itu. Memiliki adik cantik membuat Angga tidak perlu bingung untuk mencari pasangan saat akan menghadiri acara penting. Cukup membawa salah satu adiknya untuk dijadikan partner dan ia tidak akan diledek sebagai jomblo, dengan catatan itu adalah acara yang tidak diketahui oleh orang lain jika itu adiknya. Lain cerita jika itu acara yang diadakan teman-temannya, sudah pasti ia akan diledek habis-habisan. Perjalanan yang harus mereka tempuh untuk sampai ke rumah memerlukan waktu sekitar tiga jam lamanya, maka dari itu musik merupakan teman yang pas sebagai pelengkap perjalanan mereka. "Dih dia tidur." Amara melihat ke kursi belakang dan menemukan Amira yang sudah terlelap dengan asal. Amira tipe gadis yang lebih menyukai rumah dalam kehidupannya. Gadis yang tidak menyukai belanja dan nongkrong di sebuah mall. Amira lebih suka menyegarkan pikirannya di sebuah air terjun yang disuguhkan alam, sama seperti Angga, Kemal dan Bima. Sedangkan Amara gadis yang menyukai segala jenis destinasi liburan, entah itu hutan, pantai, gunung, curug ataupun mall. "Biarin, Dek. Gak biasa jalan kaki sekalinya jalan lumayan jauh. Nanti rendem kakinya di aer anget yang dikasih garem ya, biar pegelnya ilang." "Siap, Bos!" Mobil sudah berhenti dan mereka turun secara bersamaan karena Amira juga sudah bangun sejak setengah jam yang lalu. Mereka menuju kamar masing-masing sebelum kembali berkumpul untuk makan malam bersama orang tuanya. Lelah setelah jalan-jalan bersama kedua adik dan sahabatnya, Angga memilih untuk langsung merebahkan diri di atas kasur kesayangannya. Tubuhnya cukup pegal, tapi otak dan perasaannya sangat bahagia. Menikmati waktu libur bersama adik-adiknya merupakan kebahagiaan yang sempurna bagi seorang Angga Putra Arkana. "Ngapain nih anak kuya telpon malem-malem gini," Tanya Angga saat melihat handphonenya berdering dan membaca id pemanggil si penelepon. Tertera nama Dewi LS di sana, LS sendiri singkatan dari Lawyer Stress, karena mereka berdua memang jarang sekali akur. "Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh." Di seberang sana Dewi mendengus karena Angga langsung menjawab salam saat ia mengangkat panggilannya. Padahal Dewi belum mengucapkan salam padanya. "Gue belom ngucapin salam, Pea!" balas Dewi yang membuat Angga tertawa pelan. "Oh belom ya? Ya udah gue yang ngucapin. Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh, selamat malam dengan saya Angga Putra Arkana, dengan Ibu siapa dan ada yang bisa saya bantu?" tanya Angga formal dengan mode gilanya. "Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Selamat malam juga, saya Nyonya Dewi Diwangga." "Baik Nyonya Diwa, ada yang bisa saya bantu?" jawabnya dengan pertanyaan yang sama. "Begini, Pak. Saya lupa tanggal haid saya berapa, apakah Bapak tau?" "Anda menghubungi orang yang tepat Ibu. Setelah saya terawang ternyata jadwal menstruasi Ibu itu jatuh pada tanggal 33 bulan 14 setiap bulan purnama." Diwa yang berada di sebelah istrinya hanya tertawa pelan mendengar percakapan unfaedah dari mereka. "Emang ada ya? " tanya Dewi polos membuat Angga tertawa. "Lawyer tapi oon." "Tapi cinta, 'kan." "Oh sorry ya, saya tidak suka bekas orang. Saya suka daun muda yang masih fresh. Btw ngapain lu telpon gue, kangen ya?" "Dih! Ogah banget kangen sama jomblo abadi kalo di sebelah gue ada pria sejati." "Edas! Lo kira gue kaga sejati?" "Au ih! Orang gue kaga tau. Iya, Kak Indi 'kan udah sembuh, dia tadi nanyain kapan bisa interview katanya?" "Ceweknya almarhum?" "Iya." "Senin aja suruh datang ke kantor pusat, ntar gue langsung yang interview sama dokter Hadi. Gue kirimin notice biar bisa ketemu gue di sana." "Widih mantap! Ya udah ntar gue bilangin ke orangnya. Makasih ya, gue tutup dulu bosen ngomong sama lu. Babay assalamu'alaikum." Sambungan terputus sebelum Angga menjawab. Angga menggelengkan kepala dengan kelakuan teman yang tidak pernah berubah. "Waalaikumsalam." Walaupun tidak di dengar oleh Dewi, Angga tetap menjawab salam darinya. Angga menyimpan handphone di atas nakas, mematikan lampu utama menggantinya dengan lampu tidur yang membuat kamar menjadi remang, mengambil guling yang akan ia dekap semalaman. Angga salah satu jenis manusia yang tidak bisa tidur tanpa guling. Esok hari ia harus kembali ke Jakarta untuk bergelut dengan pekerjaan, dan berharap mimpinya akan indah pada malam ini. *** Angga membuka matanya seketika, mengingat kembali mimpi yang baru saja ia alami karena terasa begitu nyata. Mimpi bertemu almarhum Arka di sebuah taman ilalang yang begitu luas. Entah itu mimpi atau memang Arka mendatanginya, karena pertemuan itu sangat nyata. Arka meminta bahkan memohon padanya untuk menjaga Indira, wanita rapuh yang masih dibalut kesedihan atas kehilangannya. "Tolong jaga Indira, Ga. Gue gak bisa ngelindungin dia lagi. Tolong kasih tempat yang layak buat dia." Kata-kata penuh permohonan itu masih terngiang-ngiang dalam telinganya. Di sana Arka bahkan menceritakan betapa baik dan cantiknya Indira, betapa ia mencintai wanita yang berumur dua tahun lebih tua dari mereka itu. Angga tersenyum mengingat itu, ternyata tidak hanya selagi Arka hidup, bahkan saat bertemu di alam mimpi pun Arka tetap membanggakan kekasihnya itu. Pertama kali seumur hidupnya melihat bagaimana cinta itu bekerja, dan Itu terjadi pada orang yang memiliki hubungan pertemanan cukup dekat dengannya. Melihat jam yang ada di handphonenya menunjukkan pukul dua lebih tiga puluh tujuh menit Angga kembali tersenyum. Sepertinya Allah memang sengaja membangunkan dirinya untuk bermahabah, meminta setiap apa yang ia inginkan di waktu yang paling disukai oleh sang Pencipta. Meminta dan berdoa di sepertiga malam merupakan waktu yang paling di dengar oleh Allah, maka dari itu Angga lebih suka meminta di waktu yang lebih banyak dikabulkan oleh Allah. Angga bangun dan menuju kamar mandi, berwudhu dan mulai melaksanakan sholat malamnya. Berdzikir dan meminta pada sang Maha Pencipta untuk keberkahan, keselamatan, kesehatan dan banyak lainnya dalam menjalani hidup. Bukan hanya untuknya, melainkan untuk semua orang yang disayangi olehnya. Angga juga tidak lupa akan mengirimkan doa untuk almarhum Arka yang baru saja mendatanginya lewat mimpi. Angga percaya mimpi itu hanyalah bunga tidur semata. Namun, Angga selalu mengingat perkataan orang tuanya, jika mimpi bertemu bahkan mengobrol dengan seseorang yang sudah tiada, maka orang itu merindukan dirinya dan meminta kiriman doa darinya. Pria tampan yang kini menggunakan baju koko serta sarung dengan peci hitam menghiasi kepalanya itu sudah selesai dengan segala kegiatannya pada Sang Pencipta. Angga tidak lagi melanjutkan tidur, melainkan turun untuk menuju dapur. Membuat minuman hangat di tengah cuaca yang cukup sejuk adalah hal yang ia pikirkan. Kebetulan kue kesukaannya masih ada di dalam kulkas, hal yang akan membuat ketenangannya semakin terasa lengkap dengan sebuah buku yang akan ia baca di balkon kamarnya nanti. Terkadang Angga pun memikirkan tentang pernikahan, waktu seperti ini mungkin akan menjadi momen indah nantinya bersama sang istri kelak. Di mana mereka akan melaksanakan ibadah malam untuk merayu Tuhan dalam untaian doa, yang akan dilanjutkan dengan ibadah penuh keromantisan bersama pasangan halalnya kelak. Angga laki-laki dewasa yang sudah cukup dari segi umur, mental dan materi untuk sebuah pernikahan. Namun, sampai saat ini belum ada satupun seorang wanita yang mampu menggetarkan hatinya. Dulu, pada zaman kuliah pernah ada seorang wanita yang membuatnya tertarik, tapi Angga tidak pernah berniat untuk menjalin hubungan walaupun ia yakin wanita itu sudah lebih dulu menyukai nya. Apalagi mereka berpisah setelah lulus kuliah dan tidak pernah berkabar lagi hingga saat ini. Air yang ia masak sudah mendidih, membuat Angga harus menghentikan khayalan indahnya bersama sang calon pendamping yang entah siapa itu nantinya. Segera Angga membuat minuman yang ia mau, mengambil lapis surabaya beberapa potong dan ia bawa menuju balkon kamarnya. Tempat yang akan menjadi pelabuhan terakhir untuk menghabiskan malam ini hingga waktu subuh tiba.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN