Hari berlalu penuh kebosanan bagi Indira. Wanita itu sudah terbiasa dengan segala kesibukan yang ia buat sendiri. Namun, sejak kematian sang suami kegiatannya hanya di atas tempat tidur saja, membuatnya dilanda kebosanan yang mendalam. Indira butuh kegiatan yang membuatnya sibuk agar bisa menghindari bayang kesedihan saat ditinggalkan pergi oleh sang suami tercinta.
Sesekali wanita cantik itu masih mempertanyakan pada sang Pencipta tentang jalan hidupnya. Pertanyaan mengapa dan kenapa Tuhan begitu tega mengambil semua orang yang dicintai dan mencintainya selalu hadir saat dirinya merenung sendiri. Maka dari itu Indira butuh kegiatan yang bisa mengalihkan pikiran, jika dibiarkan terus menerus seperti itu tidak menutup kemungkinan Indira akan terkena gangguan jiwa, karena ia yang kadang tersenyum, tertawa, sedih bahkan menangis hingga tergugu dengan sangat pilu, membuat siapa saja yang mendengarnya akan ikut bersedih.
Hari ini tepat sepuluh hari kepergian laki-laki yang menjadi penopang hidupnya, yang berarti sepuluh hari juga ia menjadi janda. Wanita cantik itu tersenyum miring dengan kenyataan bahwa saat ini statusnya sudah bukan lagi seorang gadis, walaupun masih dalam keadaan suci. Tidak pernah terbayangkan bahwa takdir begitu kejam merenggut kebahagiaan yang ia rasakan hanya kurang dari lima jam saja.
"Janda tapi perawan, status macam apa itu?"
Indira mendengus saat mengatakan itu semua di depan cermin. Rasanya membingungkan untuk melakukan apapun tanpa orang yang dicintainya. Separuh jiwanya hilang dan hatinya selalu kosong, hanya istighfar yang selalu menghiasi hati dan pikirannya, karena jika tidak setan akan dengan mudah bersemayam di dalam sana dengan kenangan indah yang terus berputar.
Indira tidak selemah itu, almarhum suaminya akan sedih jika sampai ia dikuasai oleh bayang-bayang indah kebersamaan mereka. Cukuplah ia kenang lewat doa, tidak untuk dirinya bawa dalam imajinasi tinggi yang akan membawanya ke alam lain dan menciptakan kebahagiaan sendiri tanpa mengenal siapapun termasuk dirinya sendiri.
Indira tidak akan membiarkan itu semua terjadi, Indira tidak akan mengecewakan almarhum suaminya yang telah banyak berkorban untuk semua cita-citanya. Wanita cantik itu akan membuat bangga mereka semua yang selalu mendukungnya dengan cara menjadi dokter yang bermanfaat bagi masyarakat. Indira juga akan membangun klinik bersalin untuk orang-orang yang tidak mampu sesuai dengan keinginan almarhum sang suami.
"Semangat Indira!"
Indira menyemangati dirinya sendiri pada cermin yang menampilkan bayangannya. Membubuhkan sedikit pelembab bibir agar tidak kering, mengoleskan sunscreen agar wajahnya terlindungi dari paparan sinar matahari tanpa tambahan make-up apapun. Almarhum Arka tidak suka jika Indira menggunakan make-up, karena menurut Arka wajahnya akan berubah menjadi orang lain, bukan wanita yang dicintainya.
Wanita cantik itu berjanji pada dirinya sendiri untuk mempertahankan hal tersebut, selain karena terlalu malas hal itu juga berguna untuk membuat laki-laki tidak menatapnya penuh kagum. Wajahnya sudah cantik bahkan sangat walau tanpa polesan make-up apapun, jika Indira membubuhkan berbagai jenis bahan make-up untuk mempercantik diri dengan segala urutan, sudah pasti ia akan menjadi pusat perhatian nantinya, dan Indira tidak mau hal itu sampai terjadi. Satu lagi, hal itu juga berguna baginya untuk menilai laki-laki yang tulus dan tidak memandang wajah saja.
Hari ini tepatnya hari senin pagi dengan jam yang baru menunjukkan pukul enam pagi, Indira sudah bersiap-siap untuk melakukan interview di rumah sakit milik teman almarhum suaminya. Rumah sakit yang sempat merawat dirinya kemarin saat terpuruk. Indira berdoa tiada henti, meminta pada sang penguasa alam untuk mempermudah jalan dalam hal kebaikan. Karena menurutnya seorang dokter merupakan pekerjaan yang mulia dan terbaik, terlepas ia dibayar ataupun tidak tetap saja profesinya mulia karena membantu menyelamatkan nyawa seseorang atas izin yang maha kuasa.
Setelah dirasa cukup dengan wajah dan semangat yang ia tanamkan, wanita cantik itu mulai menyiapkan semua yang akan ia bawa hari ini. Berkas lamaran untuk bahan pertimbangan perusahaan sudah ia siapkan dari tadi malam. Walaupun sudah mengirimkan lamaran via email, tetap saja ia harus membawa berkas lamaran secara fisik agar lebih detail.
Indira akan melakukan interview di kantor pusat AA Group atas pemberitahuan dari Dewi yang merubah jadwal interviewnya, bukan di rumah sakit seperti pada umumnya, karena ia juga akan di interview langsung oleh pemilik perusahaan yang didampingi oleh dokter ahli yang menentukan ia layak tidaknya bergabung dengan AA Hospitals.
Menggunakan kemeja berwarna soft pink yang dilapisi blazer hitam, celana kerja wanita berwarna hitam, sandal dengan hak berbentuk tahu setinggi lima senti, dan tidak lupa tas berukuran sedang untuk menyimpan semua barang bawaannya termasuk berkas lamarannya.
"Do'ain semoga diterima ya, Mas. Biar semua hal yang udah kamu korbanin gak sia-sia. I love you muuach."
Meminta doa restu terlebih dahulu pada almarhum sang suami, walaupun hanya melalui sebuah gambar. Mencium dengan penuh cinta sosok yang sudah tidak bisa ia peluk dan cium seperti dulu lagi. Meyakinkan diri bahwa hari ini kehidupan barunya akan dimulai dengan penuh perjuangan.
Wanita cantik itu telah siap untuk menghadapi semua hal yang akan terjadi hari ini. Menuruni anak tangga satu persatu dengan mengulas senyum palsu sebagai tanda semangatnya. Sebelum menuju gedung AA Group, Indira harus memastikan perutnya terisi lebih dulu, dan ia sudah menyiapkan itu semua sedari subuh yang sudah tersedia dengan rapi di atas meja makan hasil tangan terampilnya. Tidak hanya makan di tempat, Indira juga memasukkan makanannya pada kotak bekal untuk makan siangnya nanti.
Jam yang sudah menunjukkan pukul tujuh pagi, Indira bergegas menuju gedung AA Group yang jaraknya lumayan jauh dari apartemen. Menggunakan jasa taksi online, menunggu beberapa saat taksi pesanannya datang.
"Sesuai aplikasi ya, Kak."
"Iya, Pak."
Mobil bergerak maju berbaur dengan pengendara lainnya. Indira tersenyum saat melihat jalanan ramai lancar tanpa adanya kemacetan kecuali pada saat trafic light, berdoa dalam hati semoga semua yang ia inginkan tercapai dengan lancar seperti jalanan kali ini.
Walaupun ia sudah yakin dengan kemampuannya, tetap saja Indira merasa sedikit gugup saat mobil telah berhenti di depan gedung AA Group. Menarik dan mengeluarkan napas berkali-kali untuk sedikit mengurangi rasa gugupnya, setelah dirasa tenang barulah Indira mulai melangkah untuk memasuki gedung dengan tinggi 30 lantai itu.
"Selamat pagi, Mbak. Ada yang bisa saya bantu?" sapa sekaligus tanya satpam dengan ramah saat wanita cantik itu sampai di lobby.
"Pagi, Pak. Saya sudah membuat janji dengan Bapak Angga Arkana, ini buktinya."
Indira menunjukkan bukti email dan percakapannya melalui sebuah aplikasi dengan Dewi tadi malam. Satpam itu meneliti dengan seksama alamat email dan juga nomor telepon milik sekertaris sang CEO yang ditunjukkan Indira hingga ia paham dan percaya. Itu pesan yang ditulis oleh Angga tadi malam melalui Dewi.
"Silahkan Mbak menuju resepsionis untuk lebih detailnya."
Dengan sopan Indira menganggukkan kepala dan pergi menuju resepsionis. Menebarkan senyum untuk kembali menghilangkan rasa gugupnya.
"Permisi, Mbak. Saya Indira dan sudah membuat janji dengan Bapak Angga, di mana saya harus menunggu."
"Boleh tunjukkan bukti, Mbak."
Indira kembali menunjukkan email dan juga percakapannya dengan Dewi, karena dirinya bertemu langsung dengan CEO dari perusahaan yang didatangi olehnya, maka dari itu resepsionis memerlukan bukti untuk itu semua. Indira paham dan mengerti, karena almarhum Arka pun seperti itu jika ada orang yang mengaku ingin bertemu dengannya.
"Silahkan tunggu di lantai 29 menggunakan lift sebelah kiri, Mbak. Di sana ada tiga ruangan dan Mbak bisa bertanya pada Pak Rudi sekertaris Pak Angga."
"Terima kasih, Mbak. Kalo gitu saya permisi ke atas dulu."
"Sama-sama, Mbak. Silahkan."
Indira mengikuti instruksi dari resepsionis tersebut, melangkah dengan percaya diri untuk menuju ruangan Angga. Dalam hatinya tidak henti berdoa semoga saja dirinya diterima menjadi salah satu dokter kandungan di rumah sakit milik Angga.
Di dalam lift yang menampilkan bayangan dirinya sendiri membuat Indira kembali tersenyum palsu. Ia harus semangat tanpa terus terkenang hal indah bersama almarhum.