Gugup luar biasa dirasakan oleh Indira saat ia di arahkan menuju ruangan CEO yang tak lain adalah ruangan Angga oleh sekretarisnya. Menyiapkan senyum terbaik tapi bukan bermaksud untuk menggoda, melainkan menyiapkan segala pertanyaan dari orang yang akan menginterview dirinya. Bersikap setenang mungkin walaupun dalam hati begitu resah. Ini merupakan pengalaman pertama baginya melakukan sesi interview, karena selama ini ia hanya fokus pada pendidikan yang lebih banyak dibiayai oleh almarhum suami tujuh jamnya itu.
"Permisi, Pak Angga."
Dengan sopan Indira menyapa Angga yang tengah duduk santai di atas sofa empuk ruangannya. Jam masih terlalu pagi sebenarnya untuk sesi interview, karena Angga juga baru tiba sekitar dua puluh menit yang lalu, dan saat ini Angga masih sibuk dengan handphonenya. Angga terbiasa memulai kerja pada pukul sembilan pagi, walaupun ia datang pada pukul tujuh tiga puluh. Satu jam setengah biasanya Angga gunakan untuk mendengarkan sholawat dan lainnya untuk mempersiapkan otak sebelum ia bekerja. Sekarang baru jam delapan lebih sepuluh menit, dan seorang wanita cantik yang akan bergabung dengan rumah sakitnya sudah datang dengan senyum manis yang menghiasi bibir, membuat hari Angga terasa berbeda.
Angga membalas senyuman wanita cantik yang, menggunakan setelan rapi dengan rambut yang ia kuncir cukup tinggi, memperlihatkan leher jenjang nan mulus yang membuat laki-laki tergoda. Angga sampai harus mengucapkan istighfar berkali-kali dalam hatinya saat mengagumi dan berpikir lain pada wanita cantik mantan kekasih almarhum temannya.
Lagi, Angga teringat akan pesan dari almarhum Arka tadi malam yang meminta dirinya untuk menjaga Indira. Angga begitu mengagumi akan keberuntungan Indira yang sangat dicintai Arka. Bahkan setelah dunia mereka berbeda Arka tetap memikirkan wanita cantik itu.
"Ya, silahkan masuk." Perintah Angga setelah mematikan sholawat di handphonenya.
Entah mengapa Angga sedikit merasakan grogi saat Indira menampilkan senyum indahnya. Angga ingin bersikap biasa dan layaknya sebagai teman, tapi saat melihat bibir merona itu melengkung Angga menjadi salah tingkah, dan sejujurnya itu sangat memalukan.
"Pagi sekali ya."
Mencoba menenangkan hati, Angga memilih untuk berbasa-basi, dan memang sekarang belum waktunya untuk bekerja, jadi Angga masih ingin bersantai.
"Maaf, Pak. Saya hanya takut kesiangan," balas Indira jujur.
"Gak apa-apa. Oya, karena ini belum waktunya saya bekerja jadi kita ngobrol santai dulu aja. Bicara layaknya teman aja walaupun kita belum pernah ngobrol sebelumnya."
Entah apa yang ada di dalam pikiran Angga hingga ia berkata seperti itu, yang pasti Angga hanya mengeluarkan kata apa yang diperintahkan oleh otaknya. Namun, di sisi lain justru Indira yang meras tidak enak karena telah mengganggu waktu Angga.
"Maaf jika sebelumnya saya sombong sama, Bapak."
"Panggil saya Angga aja selagi ngobrol, berasa tua saya. Kecuali di jam kerja."
Mencoba mencairkan suasana Angga ingin lebih akrab, dalam artian sebagai teman bukan sebagai bos.
"Tapi ini di kantor."
"Ruangan saya, jadi gak masalah. Oya, gimana pembangunan klinik punya kamu?"
Angga ingat almarhum Arka sedang membangun sebuah klink bersalin sebagai hadiah kelulusan Indira, karena semua peralatan yang dibutuhkan untuk klinik itu nantinya dibeli dari perusahaan Angga.
"Masih dalam proses pembangunan," jawab Indira dengan menunduk tanpa mau melihat Angga.
Bukan bermaksud tidak sopan, hanya saja memang itu kebiasaan Indira pada orang yang tidak dikenalnya. Bagaimanapun Indira tidak mengenal Angga dengan baik walaupun mereka beberapa kali bertemu, tapi mereka tidak pernah mengobrol layaknya seorang teman.
"Tapi nanti gimana kalo kamu kerja disini?"
"Klinik Itu masih sangat lama dan juga memang semua biaya pengobatannya akan digratiskan. Maka dari itu saya harus menabung terlebih dahulu agar semua itu terwujud," jawab Indira dengan yakin.
Seiring berjalannya waktu obrolan yang awalnya kaku menjadi lebih santai, hingga tanpa terasa sudah satu jam lamanya. Sebenarnya obrolan itu juga interview berjalan yang dilakukan Angga tanpa disadari Indira. Ternyata dokter Hadi tidak bisa menemani Angga untuk menginterview Indira, karena ia harus melakukan operasi dadakan yang tidak bisa ditunda.
Angga tidak masalah untuk itu, Angga juga tidak merasa bahwa dirinya tidak dihormati oleh bawahannya itu, karena menyelamatkan nyawa seseorang lebih berharga daripada menghormati dirinya.
"Selamat bergabung dengan AA Hospitals dokter, Indira."
Angga mengangsurkan tangan kanannya untuk berjabat dengan Indira. Memberikan ucapan selamat atas diterimanya Indira menjadi salah satu dokter di rumah sakit miliknya.
Sedangkan Indira sedikit bingung karena merasa dirinya belum melakukan wawancara kerja, bahkan Angga belum melihat berkas-berkas yang dibawa olehnya.
"Terima kasih, tapi maaf sebelumnya kamu bahkan belum melihat berkas-berkas milik saya. Saya tidak mau diterima hanya karena rasa kasihan saja."
Indira menunduk saat mengatakan itu, ia tidak mau diterima bekerja hanya karena sebatas kasihan saja. Indira ingin diterima karena kemampuannya, bukan karena rasa iba.
"Saya tidak kasihan, karena pekerjaan kamu juga menyangkut nyawa seseorang. Saya menerima kamu melihat dari CV dan nilai akademisi kamu sendiri. Kamu juga akan menjalani masa training selama tiga bulan sebelum ditetapkan menjadi dokter yang sesungguhnya di AA Hospitals. Buktikan pada saya jika nilai yang kamu dapatkan sesuai dengan kemampuan kamu," balas Angga tegas.
"Baik, terima kasih untuk kesempatannya, Pak. Kapan saya bisa mulai bekerja?"
"Untuk kapan dan ditempatkan di mana nanti kamu akan dihubungi dokter Hadi. Apakah kamu siap jika ditempatkan di luar kota?"
Indira terdiam sebelum menjawab pertanyaan laki-laki yang sudah resmi menjadi bos nya itu. Bingung apakah ia siap atau tidak meninggal kota yang menjadi tempat tinggalnya selama ini. Dengan penuh pertimbangan dan keyakinan Indira akhirnya memutuskan bersedia.
"InsyaAllah saya siap."
"Bagus kalau begitu. Tapi saya bisa pastikan bahwa kamu akan ditempatkan di Ibukota, karena itu pesan almarhum Arka."
Angga mengingat kembali pesan dari temannya dipertemuan mereka kemarin untuk menjaga Indira, walaupun Angga sedikit tidak yakin dengan apa yang terjadi, tapi entah mengapa Angga memang ingin melaksanakan permintaan almarhum temannya itu. Dan hal itu sukses membuat Indira bingung sekaligus bersedih.
"Maksudnya?"
"Oh, tidak apa-apa."
"Oh... Baik, sekali lagi terima kasih, Pak. Kalau begitu saya permisi terlebih dahulu," pamit Indira.
"Ya silahkan. Minta tolong Rudi untuk mengantarkan ke ruangan HRD, di sana kamu akan dijelaskan secara detail tentang segalanya."
"Baik, Pak. Assalamu'alaikum."
"Waalaikumsalam."
Setelah Indira keluar Angga menghembuskan napas berkali-kali entah untuk apa. Pandangan Indira yang sendu membuat Angga tertarik untuk masuk ke dalamnya jika saja tidak ia tahan. Wanita itu cantik dengan perilaku yang baik, sopan dan juga cerdas. Angga merasakan adanya keanehan dalam dirinya.
Jujur dalam hati Angga merasakan ketertarikan pada Indira. Wajar jika Arka begitu mengagumi dan membanggakannya dulu, karena Angga pun mengakui Indira begitu cerdas dan lugas dalam menjawab semua pertanyaan Angga, walaupun ia terlihat kaku.
"Astaghfirullah! Kenapa jadi mikirin dia lagi sih?"
Sebelum ia menjadi lebih tidak terkontrol Angga lebih memilih memulai pekerjaan. Bahaya jika ia terus memikirkan wanita yang meninggalkan harum parfum di ruangannya itu. Walaupun Angga mengakui pesona Indira benar-benar kuat memikat dirinya, sehingga tanpa sadar Angga membenarkan pikirannya yang mengatakan tidak apa-apa jika ia menyukai wanita mantan temannya itu, karena Angga yakin saat ini Indira tidak mungkin memiliki pasangan, mengingat bagaimana ia dulu mencintai Arka dan sebaliknya.
Berkutat dengan pekerjaan merupakan salah satu hal yang membuat Angga mudah melupakan kerisauan hati dan pikirannya. Di saat orang lain begitu malas untuk bekerja, Angga justru sangat selalu bersemangat, apalagi jika itu hari senin. Setelah mengistirahatkan tubuhnya pada hari minggu, semangat Angga akan bertambah dua kali lipat saat hari senin, salah satu hal yang selalu mendapatkan ledekan akibat jomblo dari adiknya.
Dering telepon kantor membuat tangan Angga refleks mengangkat gagang telepon tanpa mengalihkan mata dari kertas yang sedang ia baca.
"Ada dokter Hadi yang ingin bertemu dengan, Bapak."
"Suruh masuk."
Angga langsung mengembalikan gagang telepon, hanya hitungan detik pintu ruangannya di ketuk dan masuk lah seorang laki-laki berumur lima puluh lima tahun lebih dengan rambut plontos nya.
Angga mengalihkan pandangannya dan menutup dokumen yang sedang ia baca. Bangkit dari kursi kebesarannya dan menghampiri salah satu dokter terbaik di rumah sakit miliknya.
"Selamat siang, Angga. Maaf tadi Om gak bisa menghadiri undangan kamu."
"Siang, Om. Gak apa-apa semuanya udah selesai dan keselamatan pasien tetap nomor satu. Angga udah nerima Indira sebagai salah satu dokter di rumah sakit kita. Tempatkan dia di RSIA Ananda yang ada di Jakarta Timur. Angga memberikan masa uji coba selama tiga bulan sebelum ia resmi bergabung dengan kita. Tolong awasi dan berikan pengarahan padanya."
Angga langsung menyebutkan apa yang menjadi tugas Hadi untuk Indira. Hadi merupakan salah satu dokter bedah terbaik dan kepercayaan Angga. Tugasnya bukan hanya seorang dokter, melainkan badan pengawas rumah sakit secara keseluruhan. Hadi adalah anak dari pembantu kakek Angga yang disekolahkan hingga menjadi dokter dan mengabdi pada keluarga Angga.
"Dia dokter apa?"
"Kandungan, kalau dari akademis nilainya sempurna, tapi kita coba liat tiga bulan ke depan, kemampuan sama gak kayak nilainya."
Angga memberikan berkas lamaran milik Indira yang diteliti oleh Hadi. Sedikit bangga saat seseorang mendapatkan nilai yang cukup sempurna di atas rata-rata apalagi di usia yang sangat muda untuk seorang dokter, membuat Hadi kagum dengan hal itu.
"Tapi buat RSIA yang di Jakarta Timur dokter kandungannya udah cukup. Gimana kalo yang di Jakarta Pusat?"
"Gak bisa pertukaran?" Hadi menaikan sebelah alisnya curiga.
"Kayaknya maksa nih?" ledek Hadi.
"Apa sih, cuma mastiin jarak tempuh dari apartemen nya aja."
Hadi tersenyum lucu, sepertinya ada sesuatu antara calon dokter baru di rumah sakit yang diawasi olehnya dengan sang keponakan. Namun, Hadi tidak mau meledek ataupun memojokkan karena takut Angga akan malu.
"Ya, ya, ya. Di usahakan yang deket apartement," ledek Hadi lagi membuat Angga melotot.
"Gak usah mikir macem-macem deh. SP lima nih," ancam Angga dengan candaan.
Hadi tertawa, obrolan dilanjutkan membahas segala hal tentang rumah sakit. Namun, pikiran Angga tetap tidak fokus karena memikirkan wanita cantik yang baru saja resmi bergabung dengan perusahaan yang ia kelola.