Hari itu mulai kembali cerah seperti cuaca siang ini. Senyum itu kembali hadir walaupun samar menghiasi bibir lembabnya. Matahari seperti kembali menyinari bumi setelah awan gelap yang menutupnya, membuat wanita cantik itu menatap sang surya yang terasa hangat menyinari wajah.
Wanita yang sudah resmi menjadi dokter kandungan di rumah sakit ibu dan anak itu berdiri di pelataran luar gedung, menatap cahaya terik yang membuat orang-orang kepanasan. Namun, entah mengapa bagi wanita cantik itu matahari justru hanya mampu menghangatkan tubuh yang beberapa hari ini terasa dingin tanpa laki-laki yang dicintainya.
Hari barunya akan dimulai setelah ia resmi menandatangani kontrak kerja sebagai dokter berstatus training di AA Hospitals, membuat ia tersenyum karena ternyata hidupnya masih diberikan sedikit kemudahan dalam mencari kerja.
Lagi dan lagi ini semua tidak luput dari jasa almarhum sang suami, raganya tidak lagi bisa ia dekap di dunia nyata, tapi bantuan dan kasih sayangnya masih bisa ia rasakan hingga detik ini. Jika bukan karena almarhum suaminya mungkin proses pencarian kerja tidak akan semudah ini. Walaupun ia yakin dengan kemampuan diri sendiri, tapi tetap saja menggunakan orang dalam tetaplah lebih cepat dibandingkan dengan benar-benar usaha sendiri.
Rasanya sedikit mustahil juga pemilik perusahaan langsung yang mewawancarai dokter baru tanpa pengalaman selain koas seperti Indira, jika memang tidak bersangkutan dengan seseorang yang dikenalnya. Maka dari itu pertemuan hingga memiliki hubungan khusus dengan Arka merupakan suatu keberuntungan yang tiada tara untuk seorang Indira yang dicap sebagai pembawa sial oleh sebagian orang.
Beberapa orang yang melewatinya sedikit bingung saat melihat seorang wanita cantik seperti sedang menantang matahari yang menyengat kulit. Kepalanya mendongak untuk melihat sang surya dengan senyum kecilnya. Saat semua wanita menghindari cahaya matahari yang akan menggosongkan kulit, wanita cantik itu justru seperti dengan sengaja menampakkan wajah mulusnya untuk disapa langsung oleh tabir surya.
"Terima kasih, Mas. Kamu selalu mempermudah semua urusanku walaupun kamu sudah tidak ada disini."
Seperti melihat bayangan Arka di tengah sinar terang yang sedikit menyakiti mata, Indira mengucapkan rasa terima kasihnya pada sang suami yang selalu membantu dirinya. Senyum Arka yang terukir indah perlahan menghilang saat ia disadarkan oleh seseorang.
"Hey, belum pulang?"
Indira menoleh, tersenyum sedikit dan langsung menundukkan pandangannya. Sejak kapan laki-laki yang sudah menjadi bos nya itu ada di sana. Rasanya sungguh malu saat ia ketahuan tersenyum pada sang surya seperti orang gila.
"Baru mau, Pak."
"Oh ya kenalin, ini dokter Hadi kepala pimpinan AA Hospitals. Nanti kamu dituntun sama beliau."
Angga memperkenalkan laki-laki berkepala botak dengan lesung pipi yang akan terlihat saat ia tersenyum. Menampilkan kesan manis dan tegas dalam waktu bersamaan.
"Indira, Dok."
Dengan sopan Indira mengulurkan tangannya pada dokter senior yang akan menjadi pembimbingnya nanti.
"Hadi. Selamat bergabung bersama AA Hospitals. Saya harap dokter betah dan bersedia bekerjasama dengan kami semua. Tunjukkan pada kami kemampuan terbaik anda."
"Terima kasih, Dokter. Saya akan bekerja semampu saya, semoga ilmu yang saya dapatkan bisa saya terapkan di rumah sakit nanti. Saya mohon bimbingannya."
"Sama-sama dan jangan sungkan bertanya. Kalo begitu saya permisi dulu. Saya tunggu kesiapan dokter Indira di RSIA Ananda. Selamat siang, assalamu'alaikum."
"Siang dokter, waalaikumsalam."
Dengan kompak Angga dan Indira menjawab, setelah itu dokter Hadi pergi meninggalkan mereka berdua yang masih berdiri di depan lobby AA Group.
"Kalo begitu saya juga permisi, Pak."
"Mau bareng saya? Saya sekalian mau kunjungan ke bagian farmasi," tawar Angga pada Indira yang berpamitan padanya.
"Terima kasih, Pak. Tapi saya mau ke makam almarhum Arka dulu."
"Boleh saya ikut? Sekalian saya mau ziarah juga."
Indira terlihat bingung dengan sikap Angga, padahal Angga berani bersumpah bahwa tawaran dan perkataannya semua sungguh-sungguh. Angga ingin berziarah secara langsung pada kuburan Arka, dan ia belum tahu dimana Arka di kuburkan. Kebetulan Indira akan ke sana apa salahnya jika mereka pergi bersama.
Namun, Angga melupakan siapa Indira dan bagaimana sikapnya. Jika perempuan lain mungkin akan dengan senang hati menerima tawaran Angga, maka berbeda dengan Indira yang sungkan karena status mereka yang merupakan bos dan pegawai, juga Indira yang memang tidak pernah menerima tumpangan dari laki-laki manapun selain Arka.
"Maaf, Pak. Bukan bermaksud tidak sopan, hanya saja saya tidak nyaman jika kita harus berada dalam mobil yang sama dan hanya berdua. Jika Bapak mau berziarah silahkan datang ke tempat pemakaman umum ini."
Dengan sopan Indira memberikan alamat tempat peristirahatan terakhir Arka. Indira tidak mau almarhum suaminya cemburu karena dirinya yang datang dengan laki-laki lain, walaupun itu temannya. Indira harus tetap menghargai dirinya walaupun Arka sudah tiada.
"Oh, oke. Makasih ya. Kalo gitu saya duluan," pamit Angga dengan memberikan seulas senyumnya.
Indira mengangguk dan membalas senyuman Angga walaupun samar, setelah itu ia pun berjalan menuju pinggir jalan raya sambil memesan taksi online. Ia sudah sangat rindu dengan suaminya, walaupun ia hanya bisa memeluk pusaranya. Tidak apa, yang penting ia mengirimkan doa langsung di rumah baru sang suami.
"Mbak Indira?" tanya sang supir yang masih muda setelah kaca jendela mobil itu turun.
"Iya, Pak."
Dengan segera Indira naik di kursi bagian belakang supir. Setelah memastikan keadaan penumpangnya aman dan duduk dengan nyaman sang supir kembali bertanya dengan ramah.
"Sesuai aplikasi ya, Mbak."
"Iya, Pak. Bisa ambil jalan alternatif, Pak? Biar kita gak terlalu lama di jalan," tanya Indira yang melihat garis merah pada peta aplikasi.
"Bisa, Mbak. Tapi jujur saya gak tau jalannya dan cuma modal aplikasi aja, soalnya saya dari Jakarta Selatan, jadi ini bukan kawasan saya."
"Oh! Gak apa-apa, Pak. Nanti saya tunjukkin."
"Baik, Mbak."
Supir itu langsung menjalankan mobilnya menuju lokasi yang ingin dituju oleh Indira. Menuruti jalan yang ditunjukkan oleh Indira, karena terkadang mengikuti peta dari aplikasi bukan sampai pada tempat tujuan melainkan ke tempat lain, maka dari itu sang supir tidak mau berpatokan pada peta yang disediakan oleh aplikasi itu.
Mobil berhenti tepat di depan gerbang pemakaman Arka. Setelah membayar ongkos taksi dengan menambahkan sedikit tips karena mereka memakai jalur berbeda Indira langsung turun. Menarik napas sebentar sebelum ia masuk ke tempat peristirahatan terakhir sang suami. Belum juga masuk air matanya sudah menumpuk dengan d**a yang begitu sesak.
Indira melangkah pelan dengan air mata yang menetes mengiringi langkahnya. Kesakitan yang langsung terasa begitu ia melihat pusara yang masih basah dengan bunga yang sudah layu. Sepuluh hari lebih ia berpisah dengan laki-laki yang sangat dicintai dan mencintainya, membuatnya mati dalam raga yang masih hidup.
"Assalamu'alaikum, Mas."
Hanya kata itu yang mampu terlontar dari mulut yang bergetar karena menahan tangis. Jiwa rapuhnya langsung hadir saat ia melihat batu nisan yang bertuliskan nama Arkadia Castello, membuat lelehan bening itu mengalir tanpa henti.
Rindu yang begitu menyesakkan d**a membuat jiwa seakan mati tak berdaya. Hidupnya kehilangan arah tanpa orang yang dicintainya. Rasa yang begitu besar seakan menariknya untuk ikut bersama sang suami ke liang lahat. Begitu melelahkan saat hati dan pikiran kembali mengingat hal yang begitu menyakitkan, membuat air mata itu tak mau berhenti menetes.
Rindu yang tidak akan pernah tersampaikan karena sosok itu tidak pernah ada di dunia ini. Benar kata orang, merindukan orang yang sudah tiada rasanya lebih menyakitkan daripada merindukan orang yang membenci kita. Perbedaan alam membuat jarak tak tembus pandang hingga kita tidak bisa lagi bahkan hanya untuk melihat senyum bahagianya.
"Kamu bohong, Mas. Katanya kamu mau bahagiain aku, katanya kamu mau punya lima orang anak dari aku. Katanya kamu mau bawa aku buat liat tujuh keajaiban dunia. Kapan, Mas! Kapan?" tanya Indira dengan menggebu.
"Aku rindu, Mas."
Dengan lirih setelah tidak mendapatkan jawaban dari sang suami, kata rindu lah yang akhirnya keluar. Bukan hanya sekedar menetes lagi air matanya, sekarang wanita cantik itu bahkan terisak pelan dengan tubuh bergetar. Kepalanya menunduk dalam dengan tangan yang menggenggam gundukan tanah yang menutupi jasad sang suami. Hingga ia tersadar saat seseorang membacakan doa tepat di depannya dengan khusyu, membuat Indira menghentikan tangisnya dengan paksa dan ikut mengamini doa yang dipanjatkan untuk suaminya.