Terlalu Fokus

1264 Kata
Angga melihat dari pintu gerbang tempat pemakaman umum seorang wanita yang sedang menundukkan dalam kepalanya. Wanita itu terlalu fokus dengan kesedihan sehingga tidak mendengarkan langkahnya sama sekali. Angga mendengar bagaimana wanita itu begitu menderita akan cinta yang sudah dipisahkan oleh alam. Menagih janji yang tidak akan pernah bisa ditepati oleh Arka. Wajar jika Indira begitu terpukul atas kehilangan Arka, mereka sudah bertunangan, dan setahunya mereka akan mengadakan pesta pernikahan tahun ini, dengan tanggal yang belum ditentukan. Angga tidak mengganggu kesedihan wanita yang baru saja resmi menjadi karyawan di perusahaannya itu, karena niatnya hanyalah ingin membacakan doa untuk almarhum temannya. Angga mulai membaca doa untuk para ahli kubur, sama sekali tidak menghiraukan wanita yang baru saja menyadari keberadaannya, hingga wanita itu ikut membaca al-fatihah mengikutinya. Angga memaklumi bagaimana sedihnya kehilangan seseorang yang menjadi tumpuan hidup. Sudah menjadi rahasia umum bagaimana kisah cinta mereka berdua yang selalu saling membanggakan satu sama lain. Pacaran tanpa sentuhan berlebih yang disebut dengan pacaran sehat oleh sebagian orang, karena mereka yang hanya melakukan pelukan saat kontak fisik. "Bersedih lah secukupnya, jangan terlalu larut hingga kamu melupakan jika semua ini sudah menjadi takdir yang ditetapkan Tuhan. Semangat walaupun kehilangan itu sangat menyakitkan. Saya permisi dulu, assalamualaikum." Tidak mencoba lagi menawarkan untuk pulang bersama, Angga lebih memilih untuk pergi terlebih dahulu dari sana. Meninggalkan Indira yang masih bertahan dengan kesedihan. Pekerjaannya masih banyak, dan ia hanya menyempatkan diri ke tempat peristirahatan terakhir Arka, sekalian lewat untuk menuju rumah sakit yang berada di kawasan Jakarta Barat. "Waalaikumsalam," jawab Indira. Setelah mendengarkan jawaban dari salamnya Angga benar-benar pergi dari hadapan Indira. Berjalan dengan sedikit cepat karena ia harus menghadiri meeting dengan para petinggi rumah sakit di sana. Walaupun ia pemilik rumah sakit tersebut, Angga tetap berusaha untuk datang tepat waktu, karena tempat meeting pun ia yang menentukan. Jakarta dengan macetnya menjadi hal yang sangat amat biasa, apalagi saat traffic light berubah warna dari merah menjadi hijau. Mobil bergerak secara perlahan menunggu giliran dirinya maju. Angga menekan sedikit dalam pedal gas saat jalanan sedikit lengang. Lima menit kemudian Angga sudah memarkirkan mobilnya di parkiran khusus para petinggi rumah sakit. Berjalan dengan santai, memasang sedikit senyum dan menganggukkan sedikit kepala membalas senyum serta sapa pada para petugas rumah sakit. Angga sengaja berjalan dengan menyusuri setiap koridor rumah sakit, bukan menggunakan lift khusus staf rumah sakit. Tujuannya sekalian untuk melihat keadaan rumah sakit miliknya. "Siang, Pak Angga." Seorang dokter dengan usia di atas empat puluh tahun menghampiri Angga. Dokter yang mempunyai jabatan cukup tinggi di rumah sakit miliknya. "Siang, Dok. Udah kumpul semua?" "Sudah, Pak." Mereka berjalan bersama, kali ini menggunakan lift khusus staf karena ruang meeting berada di lantai dua belas. Sempitnya lahan membuat semua cabang AA Hospitals memilih meninggikan bangunannya. Berbeda dengan cabang yang berada di daerah-daerah, bangunan justru melebar karena luasnya lahan. Memasuki ruang meeting sudah menunggu para petinggi rumah sakit. Meeting yang membahas tentang beberapa masalah termasuk keluhan pasien yang disampaikan melalui email resmi AA Hospitals yang dikelola oleh pusat. Sehingga keluhan itu tentu sampai pada Angga. Dan rumah sakit yang saat ini Angga kunjungi mendapatkan keluhan terbanyak dibandingkan dengan rumah sakit yang lain. "Silahkan di mulai, Dok." Angga mempersilahkan Direktur rumah sakit untuk memulai meeting yang dipimpin langsung olehnya dan dihadiri oleh semua kepala bagian. Laki-laki berusia di bawah enam puluh tahun bernama Cahyadi membagikan beberapa lembar kertas yang merupakan materi meeting. Setelah satu setengah jam lamanya Angga hanya mendengarkan rincian agenda yang diikuti dengan tanya jawab dalam meeting tersebut. Akhirnya mereka selesai dengan keputusan yang telah Angga ambil. "Oya, satu lagi. Mulai bulan depan saya gak mau ada laporan masalah keluhan dari keluarga pasien. Jalankan rumah sakit ini sesuai prosedur yang sudah ada." "Baik, Pak. Akan segera kami perbaiki." Tenang, tanpa amarah ataupun wajah datar seperti kebanyakan para CEO pada umumnya. Angga merupakan sosok yang ramah dengan kepimpinan yang tidak diragukan. Tiga tahun perusahaan berada di bawah kendalinya semua semakin maju, membuat bangga kedua orang tuanya. Setelah itu mereka semua bubar menuju ruangan masing-masing. Angga memilih kembali berkeliling sebelum ia kembali menuju kantor pusat. Banyak kejadian yang membuat Angga menggelengkan kepala setiap melewati beberapa ruangan. Seperti saat melewati ruangan operasi, Angga melihat ketegangan dan kekhawatiran pada raut wajah keluarga pasien. Sedangkan saat ia masuk ke ruang unit gawat darurat keadaan begitu sibuk untuk dokter dan para perawatnya. Angga hanya melihat bagaimana dokter yang sedang memeriksa keadaan pasien yang membutuhkan pertolongan pertama itu. Mereka tidak peduli akan kehadirannya, dan hal itu membuat Angga senang karena mereka mengerjakan tugasnya dengan sungguh-sungguh. Setelah puas berkeliling tanpa ada yang menemani, Angga memutuskan untuk kembali menuju Kantor pusat. Berjalan dengan sedikit terburu karena mendung sudah mulai menyapa. Membalas sekadarnya sapaan orang-orang yang mengenalnya. Angga langsung masuk mobil karena ternyata gerimis kecil sudah berjatuhan. Langit begitu gelap karena awan hitam yang menutupi matahari. Hujan yang awalnya hanya gerimis berubah menjadi serbuan air membuat genangan di beberapa titik. Sweeper bergerak ke kanan dan ke kiri untuk menyapu air yang menghalangi jarak pandang jalan yang ada si depannya. Angga membawa mobilnya dengan perlahan karena kondisi di luar. Melewati jalan yang sama seperti saat ia menuju rumah sakit, karena itu merupakan jalan alternatif untuk menghindari kemacetan. Tidak jauh dari area pemakaman Arka, Angga melihat Indira berteduh di sebuah warung kecil penjual bunga yang sudah tutup. Kebimbangan mulai menyapa antara menawarkan tumpangan atau terus saja tanpa memperdulikan nya. Angga takut ia akan kembali ditolak jika menawarkan tumpangan pada Indira. Namun, di sisi lain Angga juga mengingat pesan yang disampaikan Arka dalam mimpinya itu. Angga bahkan menghentikan sejenak mobil dengan jarak enam puluh meter untuk berpikir dan menimbang keputusan yang akan ia ambil. Akhirnya, setelah berpikir hampir dua menit lamanya Angga kembali menjalankan mobil. Mengambil resiko malu jika sampai kebaikannya kembali ditolak oleh wanita cantik itu. Bukan hanya sekadar mengingat pesan almarhum Arka, tapi juga karena ia tidak tega membiarkan Indira sendirian di sana. Mengingat kejahatan itu datang karena adanya kesempatan, bukan hanya sekadar direncanakan. Indira cantik dengan tubuh seksi menggoda, duduk sendirian di tempat sepi dalam keadaan hujan. Angga hanya takut akan ada laki-laki kurang ajar yang menggoda bahkan berniat jahat padanya. Maka dari itu Angga memutuskan untuk menawarkan tumpangan, dan akan memaksa jika sampai ditolak. Setelah menghentikan mobil tepat di depan warung Angga keluar dengan melebarkan payung terlebih dahulu. Berjalan memutari mobil untuk menghampiri wanita yang menatapnya dengan pandangan bingung dan mungkin tidak enak. Sepatu hitam mengkilap nya kotor karena genangan air yang tidak ia pedulikan. Melipat payung terlebih dahulu sebelum ia mengajak Indira pulang bersama. "Bahaya seorang wanita di tempat sepi di tengah hujan seperti ini. Saya antar pulang dan jangan ditolak." Bukan sebuah ajakan, tapi seperti perintah yang tidak mau dibantah. Entah mengapa Angga seperti memiliki tanggungjawab pada wanita itu, membuatnya tidak bisa membiarkan Indira begitu saja. Sedangkan Indira hanya diam mendengar perkataan Angga, membuat Angga sedikit was-was akan penolakan. Bingung, ya Indira bingung. Diam yang ia lakukan adalah bentuk dari kebingungan yang ia sampaikan. Indira bingung antara menolak atau menerima ajakan laki-laki yang telah resmi menjadi bos nya itu. Benar kata Angga yang bahaya jika ia berada di tempat sepi seperti itu. Namun, untuk menerima tumpangan itu pun rasanya begitu canggung dan tidak sopan. Apalagi mobil mewah Angga pasti akan kotor nantinya oleh alas kaki mereka. Indira sudah memesan taksi online, tapi entah mengapa semua pesanannya selalu dibatalkan. Apa mungkin karena ia berada di sekitar pemakaman sehingga para supir itu takut yang memesan bukan manusia? Sehingga mereka membatalkan sepihak orderannya. "Terima kasih, Pak. Maaf merepotkan." Akhirnya hanya kalimat itu yang bisa ia sampaikan. Angga tidak membalas, ia hanya kembali membentangkan payung untuk memayungi mereka berdua. Setelah Indira masuk dan duduk tenang di dalam mobil barulah Angga masuk.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN