3. Rencana

1014 Kata
Jeslin tampak sibuk di depan laptopnya. Dia sedang merapikan dan memperbaharui curriculum vitae miliknya. Kemudian ia melanjutkan dengan memperbaharui portofolio miliknya. Ia mempersiapkan semua yang diperlukan untuk melamar pekerjaan. Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu. Jeslin langsung menghentikan aktivitasnya, lalu membuka pintu. "Kenapa, Bi?" "Makan malam udah siap, Non. Tuan dan Nyonya sudah di ruang makan." "Oke, Bi. Thank you ya." Jeslin langsung menutup pintu kamarnya, lalu berjalan menuju ruang makan. Ia langsung menemukan ke dua orang tuanya telah duduk di sana. Meja makan pun juga telah dipenuhi berbagai hidangan. "Malam, Pa... Ma... maaf aku telat. Tadi keasikan di depan laptop soalnya." "Gak papa, Sayang. Buruan duduk dan langsung ambil makanan." Riana langsung membuka peralatan makannya. "Kita udah lama banget gak makan bareng," ujar Julianto. "Iya, Pa. Udah lama banget. Abis Papa dan Mama terlalu asik kerja di Hongkong sih," keluh Jeslin. Riana tersenyum. "Kan kita kerja, Sayang. Bukan lagi holiday." "Perginya satu bulan. Berasa kayak lagi holiday, Ma." "Habis ini client penting. Peluang pertama kita buat bisa ekspor ke Hongkong. Papa pengen banget produk bumbu kita bisa ekspor luas ke sana." Julianto berkata dengan wajah serius. Jeslin menghela nafas. "Baiklah. Mari kita tidak berbincang soal perusahaan di ruang makan. Aku benar-benar lapar sekarang." Julianto dan Riana mengangguk setuju. Mereka mulai mengikuti Jeslin yang mulai menuangkan nasi dan lauk ke atas piring. Aktivitas makan malam pun akhirnya dimulai, tanpa mengeluarkan banyak suara. Setiap orang mulai fokus menikmati makan malam. Jeslin langsung meletakan sendok dan garpunya setelah selesai makan, lalu meminum es teh manis miliknya. Julianto dan Riana juga tampak sudah menyelesaikan makan malamnya. "Jadi kapan kamu bakalan wisuda?" tanya Riana. "Mungkin dua bulan lagi, Ma. Belum keluar jadwal pastinya," jawab Jeslin. "Apa Bimo bakalan hadir di acara kamu itu?" timpal Julianto. Jeslin mengangkat ke dua bahunya. "Entahlah. Dia akhir-akhir ini tambah sangat sibuk. Mungkin dia gak bisa datang." "Seharusnya dia datang. Itu acara penting. Kalo akhir-akhir ini dia jarang ke rumah, Mama mungkin paham karna dia sibuk kerja. Cuma kalo acara wisuda... seharusnya dia meluangkan waktu." Riana menatap anaknya itu dengan serius. "Iya, Ma. Cuma aku juga gak bisa pastiin kesibukan dia tuh apa dua bulan lagi. Dia sih bilang bakalan datang. Yah tapi dia emang lagi sibuk banget." "Ya sudah kalo dia memang nantinya gak bisa datang. Kita gak bisa paksain juga. Gimana rencana kamu berikutnya? Jadi mau buka kantor design?" "Kayaknya aku mau kerja kantoran dulu deh, Pa," jawab Jeslin. "Kerja di kantor Papa?" tanya Julianto lagi. Jeslin menggelengkan kepalanya. "Aku mau cari pengalaman di company lain dulu, Pa. Gak asik kalo di perusahaan Papa. Gak ada tantangannya." "Kita itu punya perusahaan, Sayang. Kenapa kamu malah kerja di perusahaan orang lain," timpal Riana. Orang tua Jeslin memiliki perusahaan di bidang distribusi makanan kaleng impor dan juga pabrik makanan kaleng sendiri. Perusahaan tersebut dirintis ke dua orang tua Jeslin dan terus berkembang menjadi lebih besar. "Enggak ah. Aku mau belajar dari tempat lain dulu. Abis itu aku mau buka usaha sendiri," tegas Jeslin. "Suatu hari nanti kamu harus jalanin perusahaan kita, Jeslin. Kamu anak satu-satunya. Cuma kamu yang akan warisin semua bisnis Papa dan Mama." Julianto menatap Jeslin dengan raut wajah serius. "Papa bisa memperkerjakan CEO kalo nantinya udah mau pensiun. Aku punya hidupku sendiri. Mimpiku sendiri." "Sudah... sudah... gak perlu dilanjutin lagi. Jeslin masih muda, Sayang. Nanti kalo sudah matang, kita baru akan bahas soal itu lagi. Biarkan dia menjalani apa yang dia mau." Riana berusaha menenangkan situasi sebelum memanas. "Aku gak minat jalanin perusahaan Papa dan Mama." "Jeslin... cukup." Riana menatap tajam ke arah anaknya itu. Jeslin seketika langsung terdiam. Kemudian meneguk sisa es the manis yang ada di hadapannya. "Baiklah... aku ijin kembali ke kamar." "Oke. Makan malam memang sudah selesai. Jangan tidur terlalu malam. Besok pagi kita harus sarapan bareng," ucap Riana. Jeslin mengangguk setuju. Kemudian berjalan kembali ke dalam kamarnya. Gadis itu meninggalkan ke dua orang tuanya yang masih terduduk di ruang makan. Ketika langkah kaki gadis itu sudah sampai ke dalam kamarnya, ia langsung membuka laptop, lalu melanjutkan merapikan CV dan portofolio miliknya. Jeslin berkutat serius di depan laptop selama beberapa waktu. Tanpa terasa waktu telah menunjukan pukul sepuluh malam. Jeslin langsung menutup laptopnya setelah mengirimkan berkas lamaran melalui email. Ia kemudian mengambil ponselnya, lalu menelepon Edwin, sahabat Bimo. "Gue udah kirim berkas lamarannya via email," ucap Jeslin. "Serius?! Lo gila sih, Jes. Bimo bisa marah besar kalo sampe dia tau nanti." "Yah itu urusan nanti. Yang penting keterima dulu." "Lo dapet ngide darimana sih buat kerja di perusahaan Bimo. Ada gila-gila nya emang lo itu." "Yah mumpung ada lowongan staff media sosial, kan. Jadi kenapa gak sekalian cari pengalaman di sana." "Jeslin... tapi gak perlu jadi staff juga kali. Di perusahaan Bimo pula. Lo bisa cari company lain kalo emang mau nyari pengalaman. Bimo tuh bisa marah besar lho." "Iya. Gue tau. Cuma gak papalah. Biarin aja. Itu urusan nanti aja." "Motivasi lo apaan sih ngelakuin hal gila ini? Coba jujur sama gue. Gak mungkin sekedar cuma mau cari pengalaman doang." "Yah gue mau tau lingkungan kerja Bimo aja. Paling gak akan lama setelah itu... gue resign. Hahaha." "Lo bener-bener gila. Gue gak bisa bayangin Bimo bakalan marahnya kayak gimana ntar." "Gak usah lo bayangin kalo gitu. Yaudah. Gue cuma mau cerita itu aja. Sisanya gue yang hadapi dan jalani." Terdengar helaan nafas Edwin. "Yaudah terserah kau aja lah." Jeslin tertawa. "Yowes... bye.." Setelah menutup panggilan teleponnya, Jeslin langsung bersiap untuk tidur. Gadis itu langsung naik ke atas kasur. Kemudian mencoba untuk terlelap untuk tidur. Namun berbagai pikiran mulai bermunculan di benaknya hingga membuat Jeslin sulit untuk mengantuk. Ucapan Edwin tadi terlintas di dalam kepalanya. Tiba-tiba terbayang kemungkinan suatu hari nanti Bimo akan tau kalau ia bekerja di perusahaan itu. Jeslin sangat tau bahwa Bimo tidak akan menyukai gagasan itu. Bimo pasti marah besar. Akan tetapi Jeslin benar-benar ingin melakukannya. Ia sangat penasaran tentang bagaimana lingkungan kerja kekasihnya itu. Seperti apa rekan kerjanya. Selain itu, ia ingin tau apa saja yang Bimo hadapi dan kerjakan. Jeslin lalu buru-buru berusaha mengusir pikiran tersebut. Lagipula... belum tentu dia akan dipanggil interview dan di terima perusahaan itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN