Jeslin berjalan memasuki restoran sushi, tempat dimana ia sedang janjian bersama teman-temannya. Ketika seorang pelayan menghampirinya, Jeslin langsung memberitahu bahwa ia telah melakukan reservasi sebelumnya. Pelayan itu langsung menghantarkan Jeslin ke lokasi duduk miliknya.
"Thank you, Mbak." Jeslin tersenyum tipis ke pelayan itu.
"Mau pesan sekarang? Atau mau ada yang ditunggu?"
"Nanti aja. Nunggu teman-teman saya datang," jawab Jeslin.
"Baik. Panggil saya aja kalo udah mau pesan.'
Jeslin langsung memainkan ponselnya ketika pelayan itu telah pergi. Ia langsung mengirimkan pesan ke group chat dengan teman-temannya itu.
"Kalian dimana?" tulis Jeslin. Namun tak berapa lama, tiba-tiba beberapa orang menghampiri Jeslin hingga membuatnya terkejut.
"Ya ampun... kalian ngapain sih pake acara ngagetin. Iseng banget!" protes Jeslin sambal memegang dadanya.
Lita tertawa cekikikan. "Seru juga bikin lo kaget."
"Si Jeslin masih gak berubah. Gampang kagetan," ucap Nura.
Sofie mengangguk setuju. "Lo emang paling asik kalo di kerjain, Jes."
Jeslin menghela nafas. "Jantung gue hampir mau copot tau gak! Buruan duduk. Gue udah laper."
Wajah kesal Jeslin justru membuat ke tiga temannya itu semakin senang. Namun pada akhirnya mereka mematuhi Jeslin. Setelah semuanya sudah duduk, mereka langsung memilih menu yang akan di pesan, lalu memanggil pelayan untuk melakukan pemesanan.
"Jadi rencana lo apa, Jes?" tanya Lita.
"Gue kayaknya bakalan kerja kantoran dulu. Baru abis itu bukan agency design. Lo?"
"Gue bakalan buka usaha restoran sih. Gue mau langsung buka bisnis," ungkap Lita.
"Modal dari mana lo? Orang tua?" Nura tampak penasaran.
Lita menganggukan kepala. "Yah modal dari mana lagi. Gue gak punya uang sebanyak itu kan. Hahaha."
"Gue juga sih. Gue bakalan terusin bisnis orang tua gue. Mereka minta gue buat jalanin usaha ekspedisi mereka," ujar Sofie.
"Itu kan bukan lo banget," timpal Nura.
Jeslin mengangguk setuju. "Lo kan suka banget sama fashion. Lo aja ambil jurusan yang relate sama fashion biar bisa jadi fashion designer. Lo nyerah sama mimpi lo itu?"
Sofie menghela nafasnya, "Maunya sih enggak nyerah. Cuma gue gak tega sama orang tua gue. Mereka udah tua dan gue anak tunggal. Gue doang yang bisa bantuin mereka."
"Yah kan bisa rekrut orang professional untuk ngejalanin bisnisnya," ucap Jeslin.
"Ini bukan cuma soal keahlian, Jes. Ini tentang kepercayaan. Emang bener kita bisa rekrut orang professional. Cuma belum tentu orang itu bisa dipercaya." Sofie berusaha menjelaskan alasan keputusannya itu.
"Sudah... sudah... sushi kita udah dateng tuh." Nura menunjukan pelayan yang sedang berjalan membawakan berbagai hidangan sushi.
Setelah semua sushi tersaji di atas meja, Jeslin tampak antusias. Gadis itu bahkan langsung menaruh beberapa potong sushi salmon ke atas piringnya. "Ah... gue udah lama gak makan ini!" seru Jeslin.
"Pantesan lo nyaranin buat ke resto ini," timpal sofie.
"Yah tapi pada suka kan? Hahaha." Jeslin menyunggingkan senyumnya.
"Iya, sih. Sushi di sini enak!" seru Nura.
"Lo belum cerita, Nur. Rencana lo ke depannya apa?" Lita tampak penasaran.
"Gue pengen jadi model dan artis!" Nura menjawabnya dengan penuh keyakinan.
Seketika semua orang terkejut. Nura memang aktif menjadi model. Namun tidak menyangka bahwa ia akan benar-benar serius menjalankan itu sebagai sebuah profesi.
"Orang tua lo setuju?" tanya Jeslin. Keluarga Nura memiliki bisnis kontraktor dan property. Pilihan profesi Nura sangat berbeda jauh dengan bisnis yang dijalankan oleh keluarganya.
"Setuju aja. Soalnya... gue bilang ke mereka kalau gak selamanya ada di depan layar. Nantinya bakalan jadi pengusaha dan produser di bidang entertainment ini," ungkap Nura.
Jeslin menatap takjub ke arah Nura. "Lo ternyata ambisius juga ya, Nur. Gak nyangka."
"Ya iyalah! Masa gue kerja sama orang terus. Kita tuh harus jadi kepala, bukan ekor!" tegas Nura.
"Nih anak sekalinya ambis... malah ambius banget!" Sofie geleng-geleng kepala.
"Iyah! Giliran lagi santai... dia si yang paling santai," timpal Lita.
"Kalo terus-terusan ambis... capek juga kali. Oh ya, lo mau kerja di company mana, Jes?" tanya Nura.
Jeslin menyantap satu potong sushi terlebih dahulu, sebelum menjawab pertanyaan Nura tersebut. "Gue bakal jadi staff media sosial di company Bimo."
Nura, Sofie, dan Lita langsung teriak dengan raut wajah penuh keterkejutan. "Aduh! Sakit kuping gue!" protes Jeslin sambil memegang telinganya.
"Lo gila ya, Jes!" seru Nura.
"Lo tuh ngapain, Jes?" tanya Sofie dengan mata terbelalak.
"Yah cuma mau nyoba jadi karyawan aja." Jeslin kembali memakan sepotong sushi.
"Terus ngapain harus di kantor Bimo, Jes?! Wah ada gila-gilanya nih anak!" Lita menepuk keningnya.
"Kenapa harus di kantor orang? Kalo bisa di kantor pacar sendiri," jawab Jeslin sambil tertawa.
"Yah kenapa gak di company orang tua lo?" Nura menimpali dengan pertanyaan lagi.
"Emang pengen di tempat Bimo sih. Biar gue juga tau dia tuh sesibuk gimana sih. Biar tau apa yang dia hadapi selama ini. Pengen ngeliat langsung aja sih," ungkap Jeslin.
Seketika suasana menjadi hening. Semua orang terlihat masih terkejut dan tidak menyangka dengan jawaban Jeslin itu.
"Jes... Bimo tau soal ini?" Nura memecahkan keheningan dengan mengajukan pertanyaan.
Jeslin menjawab dengan menggelengkan kepalanya.
Sofie langsung memegang kepalanya. "Bimo bakalan marah banget kalo sampe dia tau, Jes."
"Lo mending minta ijin dulu deh, Jes," saran Sofie.
Jeslin kembali menggelengkan kepalanya. "Bimo pasti gak akan ijinin. Jadi mending modal nekat aja."
"Lo mikir gak sih, Jes. Kalo lo tuh sedang ciptain bom di hubungan lo." Lita menatap serius ke arah Jeslin.
"Gue tau Bimo bakalan marah. Dia gak suka hubungan pribadi dan pekerjaan itu kecampur. Cuma pekerjaan dia juga seringkali jadi bahan berantem dihubungan kita. Gue emang pengen kerja kantoran dulu, sebelum mulai usaha sendiri. Yah... gue pikir... kenapa gak sekalian aja di kantor dia? Gue cuma pengen tau suasana kerja dia tuh kayak apa. Gak berapa lama setelah itu... gue pasti cabut kok." Jeslin berusaha menjelaskan apa yang dia pikirkan dan rasa.
Suasana seketika menjadi hening. Selama beberapa saat tidak ada yang mengeluarkan suara. Jeslin berusaha memecehakan kesunyian dengan kembali mengambil sepotong sushi. "Sudah. Mending abisin nih sushi. Gak usah pikirin itu gimana-gimana. Jalani aja dulu yang sekarang."
"Lo bener-bener ada gila-nya, Jes," ucap Nura. Lita dan Sofie pun mengangguk setuju.
Namun pada akhirnya mereka mengikuti Jeslin dengan mengambil beberapa potong sushi, lalu menyantapnya hingga habis. Topik obrolan pun berubah menjadi lebih ringan. Sesekali Jeslin tertawa dengan celotehan teman-temannya. Mungkin ini akan menjadi ajang terakhir kali berkumpul sebelum masing-masing diantara mereka terjun ke dunia kerja. Dunia sesungguhnya untuk fase menjadi dewasa.