5. Interview

1014 Kata
"Saya liat kamu ambil jurusan design grafis dari kampus yang terbilang sangat bagus. Universitas Pelita Bangsa. Saya tau biaya kuliahnya disana itu mahal. Kenapa kamu justru apply-nya jadi staff sosial media?" Jeslin tersenyum mendengar pertanyaan interview tersebut. "Betul, Bu. Saya bersyukur bisa kuliah di tempat yang baik. Jadi potensi kemampuan design saya juga bisa dikembangkan dengan baik. Karena memang banyak pengajar yang bagus di kampus saya. Cuma... ya saya belum pernah terjun ke dunia pekerjaan. Saya hanya punya pengalaman 3 bulan di agency. Itu pun sebenarnya hanya magang. Jadi portofolio saya sebenarnya belum bisa dibilang cukup baik. Saya memang harus memulai dari staff. Saya masih butuh belajar dan praktik yang lebih banyak lagi. Dan saya rasa perusahaan ini bisa menjadi wadah untuk saya bekerja dan berkarya." Jeslin tampak gugup. Namun dia berusaha untuk mengatasi rasa itu. Sebisa mungkin kegugupan itu tidak ditampakan. Jeslin benar-benar menginginkan peluang pekerjaan ini. "Kenapa kamu berpikir perusahaan ini tempat yang tepat? Saya rasa agency akan lebih memberikan tantangan yang menarik, bila dibandingkan dengan kerja di sini." Sekali lagi... motivasi Jeslin untuk bekerja kembali berusaha digali. Jeslin menghela nafas, lalu tersenyum sebelum ia menjawab. "Saya memang ingin bekerja di perusahaan, Bu. Perusahaan ini kan FMCG. Pasti ada banyak kebutuhan design juga di sini. Baik untuk kebutuhan packaging, konten promosi, atau kebutuhan media sosial. Saya juga bisa belajar bagaimana membangun brand awareness. Ada banyak hal yang bisa saya pelajari. Saya harap Ibu mau memberi kesempatan itu kepada saya." Jeslin melihat senyuman terukir di bibir wanita yang ada di hadapannya itu. Ia berharap itu merupakan pertanda baik. "Baik. Pertanyaan dari saya sudah cukup. Nanti akan kami hubungi selama 2 minggu bila lanjut ke proses selanjutnya. Bila tidak dihubungi, maka itu artinya tidak lanjut. Mohon ditunggu sesuai rentang waktu tersebut ya, Mbak." Jeslin mengangguk. "Oke, Bu. Terima kasih juga untuk kesempatannya. Saya bisa pulang berarti?" "Bisa. Terima kasih juga untuk partisipasinya hari ini. Hati-hati di jalan." Jeslin langsung mengambil tasnya, lalu memberikan salam terakhir sebelum ia keluar dari ruangan. Tak lupa ia langsung kembali mengenakan masker. Khawatir bila tiba-tiba ia berpapasan dengan Bimo di kantor itu. Langkah kaki Jeslin langsung menuju ke lokasi parkir tempat mobilnya berada. Kemudian langsung masuk dan menyalakan mesin mobil. Ia sengaja tak memakai mobil mewahnya supaya tidak terlalu mencolok. Karena itu ia hanya mengenakan mobil kecil yang sederhana diantara koleksinya yang lain. Saat hendak memacu laju mobilnya, tiba-tiba matanya menangkap bayangan Bimo yang sedang hendak berjalan memasuki gedung. Jeslin langsung menundukan kepalanya agar tidak terlihat oleh Bimo. Namun ia melihat tangan kekasihnya itu sedang menggenggam ponsel. Tiba-tiba Jeslin terpikirkan untuk mengetes Bimo. Ia langsung mengambil ponsel miliknya lalu menelepon nomor kekasihnya itu. Jeslin bisa melihat dibalik kaca mobilnya kalau Bimo menyadari panggilan telepon darinya itu. Ia menghela nafas lega ketika Bimo ternyata langsung menjawab teleponnya itu. "Halo... kenapa? Aku lagi kerja ini." "Kamu lagi gak bisa telponan ya?" "Iya. Aku lagi di luar gedung. Abis keliling meriksa area. Bentar lagi mau masuk ruangan. Kenapa? Ada yang penting mau di omongin?" "Enggak ada kok. Aku cuma kangen aja. Yaudah lanjutin aja kerja kamu. Sorry ya kalo ganggu." "Oh... oke. Besok malam kita dinner ya. Kalo mala mini aku gak bisa. Ada kerjaan yang harus diselesaikan." "Thank you, sayang. Bye..." "Bye..." Jeslin terus memperhatikan Bimo dari dalam mobil hingga kekasihnya itu hilang dari pandangan matanya. Ia langsung memacu laju mobilnya ketika Bimo sudah masuk ke dalam gedung. Ia segera keluar dari area pabrik itu, lalu menuju kembali ke rumahnya. Namun hatinya sedikit lega ketika memikirkan Bimo. Jeslin sempat berpikir bahwa kekasihnya itu akan mengabaikan panggilan teleponnya. Sebuah prasangka buruk sempat terbesit di benaknya. Dimana bisa saja Bimo memang sudah enggan berkomunikasi lagi dengannya. Akan tetapi pikiran buruk itu baru saja terbantahkan tadi. *** Hari-hari Jeslin mulai terasa membosankan. Ia sudah tidak ada kegiatan kuliah lagi dan hanya menunggu jadwal wisuda saja. Kekasihnya pun juga sulit untuk dihubungi, apalagi diajak kencan. Bimo masih sibuk dengan urusan pekerjaan. Jeslin terbaring di kasurnya sembari menatap langit-langit kamarnya. Selama beberapa saat ia hanya melamun dengan pikiran yang melayang tak tentu arah. Namun tiba-tiba ia langsung meraih ponselnya yang tergeletak di atas kasur. Ia hanya ingin iseng menelepon Bimo. Namun beberapa kali panggilan teleponnya itu berdering, tapi tak kunjung juga diangkat oleh kekasihnya itu. Pada akhirnya ia hanya melempar kesal ponselnya itu. Bimo pasti sedang tenggelam dengan pekerjaannya. Tiba-tiba ponselnya bergetar, tanda bahwa sebuah pesan baru saja masuk. Ia langsung kembali meraih ponselnya tersebut, lalu segera membuka pesan tersebut. 081xxxxxxx Selamat siang, Mbak Jeslin. Apakah saya bisa telepon? Hasil recruitmen sudah keluar dan saya hendak memberitahukannya kepada Mbak Jeslin. Jeslin langsung cepat membalas pesan itu. Ia sudah menunggu selama hampir dua minggu dan bahkan berpikir bahwa tidak akan ada kabar positif dari proses recruitmen yang ia ikuti itu. Jeslin Selamat siang, Bu. Saya bisa ditelepon sekarang kok, Bu. Tidak berapa lama sebuah panggilan telepon masuk setelah ia mengirimkan pesan balasan tersebut. Jeslin langsung mengangkatnya dengan cepat. "Halo, Mbak Jeslin." "Halo, Bu." "Iya... jadi hasil recruitmennya sudah keluar. Saya hendak memberitahu bahwa Mbak Jeslin diterima untuk menjadi staff sosial media kami." "Wah terima kasih, Bu! Saya sangat senang mendengar hasil ini." Jeslin berusaha untuk menahan diri agar tidak terlalu tampak antusias. "Sama-sama, Mbak. Nah saya hendak mengundang Mbak untuk kembali datang ke kantor. Kita harus mediskusikan kapan waktu yang tepat untuk memulai kerja dan tanda tangan kontrak. Perihal gaji pun kita akan negosiasikan secara langsung. Kalau saya undang senin depan apakah bisa?" "Bisa, Bu. Saya gak ada kegiatan apa pun di hari itu." "Oke. Nanti undangan resmi-nya akan dikirimkan via email ya." "Baik, Bu." "Sampai jumpa, Mbak. "Terima kasih, Bu." Jeslin langsung meloncat dan teriak kegirangan. Ia tak menyangka bisa mendapatkan kesempatan pekerjaan ini. Sebuah peluang yang ia dapatkan tanpa bantuan dari siapa pun. Bahkan Bimo pun masih belum tau perihal ini. Namun di tengah kesenangan hatinya, Jeslin tiba-tiba merasa khawatir. Karena cepat atau lambat pasti Bimo akan mengetahui bahwa ia bekerja di perusahaan itu. Jeslin tau bahwa Bimo tidak akan senang dengan keputusannya ini. Kekasihnya itu pasti akan marah besar. Jeslin gembira dengan hasil recruitmen ini, tapi juga sekaligus cemas.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN