"Nah kan... lo makan banyak banget kan. Tuh buktinya semua habis." Fadlan tertawa melihat Jeslin yang tampak kekenyangan.
"Tapi bukan gue yang ngehabisin semua makanan ini ya! Lo yang lebih banyak makannya," protes Jeslin. Jeslin memegang perutnya yang mulai tampak menggembung. Ia memang menyantap makanan lebih banyak dari biasanya.
"Cuma bener kan? Pada akhirnya semua makanan ini habis. Bahkan udah gak ada lagi yang tersisa buat di bungkus. Hahaha."
Jeslin menatap semua piring yang ada di atas meja. Tidak ada lagi yang tersisa di atas piring-piring itu. Semua sudah lenyap di santap oleh Jeslin dan Fadlan.
"Resto ini emang enak banget sih. Kayaknya gue pengen bawa keluarga buat makan di sini deh," ucap Jeslin.
"Kenapa gak bareng pacar lo aja ke sini?" Fadlan menatap penasaran ke arah Jeslin.
"Dia sibuk," jawab Jeslin singkat.
"Yah sesibuk-sibuknya dia... pasti luangin waktu dong buat lo."
"Kok jadi bahas cowok gue sih. Ganti topik ah!" Jeslin enggan membahan kekasihnya dengan Fadlan. Apalagi Fadlan satu kantor dengan mereka. Ia tak ingin membuat celah yang berpotensi hubungannya dengan Bimo akan terbongkar.
"Yah terus mau bahas apa? Bahas hubungan gue sama lo? Kan gak mungkin... lo punya pacar kan. Eh, apa mungkin? Hahaha," canda Fadlan.
Jeslin memicingkan mata sambil menghela nafas. "Ngaco lo mulai deh ah! Yaudah gue mau bayar bill dulu."
Namun ketika Jeslin hendak mengeluarkan dompetnya dari dalam tas, tiba-tiba Fadlan langsung menahan tangannya. Pria itu langsung bangkit berdiri, lalu berjalan menuju ke kasir tanpa berbicara. Jeslin bahkan tidak bisa berkutik melihat betapa cepatnya langkah Fadlan. Pria itu tak menoleh ke arahnya dan membayar semua tagihan makanan mereka.
Jeslin hanya melongo melihat Fadlan yang kembali duduk di hadapannya. Pria itu tersenyum usil, lalu tertawa. "Kok lo yang bayar sih?!" protes Jeslin.
"Yah wajar dong kalo cowok yang bayar?" Fadlan tersenyum.
"Lho, kan kesepakatannya tadi itu... gue yang traktir. Kok malah jadi lo yang bayar sih?" Jeslin merasa tidak enak dengan situasi ini. Karena Fadlan sudah banyak membantunya hari ini. Seharusnya ia yang membayar makan malam hari ini.
"Yaudah next time aja. Hari ini gue yang traktir. Gak enak gue dibayarin cewek. Hahaha." Fadlan menggaruk kepala yang sebenarnya tak terasa gatal itu.
"Yeee.... ini lagi bukan bahas soal gender ya! Lo tuh udah banyak bantuin gue hari ini. Waktu lo juga tersita pas weekend begini kan. Jadi sudah seharusnya gue traktir lo," ungkap Jeslin.
Fadlan menggelengkan kepalanya tanda tidak setuju ucapan Jeslin. "Ini termasuk pekerjaan gue juga, Jes. Kan gue dapet perintah dari atasan buat bantuin lo. Terus gue juga dapet uang lembur kan. Jadi lo gak perlu ngerasa bersalah," ucap Fadlan sambil mengacak-acak rambut Jeslin.
Jeslin langsung merapikan rambutnya yang berantakan dengan jemari tangannya. Ia menatap kesal ke arah Fadlan. "Rambut gue berantakan jadinya!" protes Jeslin.
Fadlan tertawa. "Yaudah yuk pulang. Gue anterin lo ke rumah." Pria itu langsung mengambil jaketnya, bersiap untuk beranjak pergi dari restoran.
"Gue mending pesen taksi online aja deh, Fad. Kita kan sama-sama capek. Kasihan kalo lo tuh harus nganterin gue. Lebih praktis juga kalo gue pesen taksi," ujar Jeslin.
Namun Fadlan langsung menarik tangan Jeslin untuk mengikuti langkah kakinya. "Kagak ada ya lo naik taksi! Lo berangkat sama gue... itu artinya lo juga pulang bareng gue!" tegas Fadlan.
Jeslin hanya bisa pasrah melihat Fadlan yang tidak mau dibantah. Pria itu bahkan membukakan pintu mobil dan memastikan ia benar-benar masuk ke dalam mobilnya. Jeslin akhirnya duduk, walaupun dengan berat hati.
Fadlan langsung masuk ke dalam mobil setelah memastikan Jeslin telah duduk dengan aman. "Oke. Kita berangkat ya," ucap Fadlan sambil menyalakan mesin mobilnya.
Sepanjang jalan Jeslin sesekali melirik ke arah Fadlan yang tampak fokus menyetir. Fadlan tampak menyadarinya. "Kenapa? Gue ganteng ya?"
"Dih. Pede banget lo!" sanggah Jeslin.
"Lah terus ngapain lo ngelirik2 gue daritadi? Hahaha."
Jeslin menghela nafas. "Yah bukan karena lo ganteng pastinya."
"Terus apa? Apa yang mau lo ucapin sampe ketahan gitu ngomongnya."
"Ehm... cuma mau ngomong thank you buat hari ini doang."
Fadlan tertawa. "Ya ampun! Gue pikir mau ngomong apaan. Gue pikir lo mau nyatain perasaan gitu. Hahahaha," canda Fadlan.
Jeslin langsung memukul pelan lengan Fadlan. "Sembarang lo! Gue tuh cuma ngerasa canggung aja ngucapin itu."
"Hahaha. Emang kayak sama siapa aja deh ah. Pake canggung segala. Hahahaha. Dengan senang hati Nona, saya siap membantu anda," ucap Fadlan.
Jeslin tertawa sambil geleng-geleng kepala. Tingkah Fadlan terkadang bisa lucu hingga ia tidak sanggup menahan suara tawanya. Pada akhirnya Jeslin memilih untuk menikmati pemandangan jalan dari kaca mobilnya. Lantunan musik yang mulai di putar Fadlan juga menemani perjalanan mereka.
Jalanan lebih macet dari biasanya. Mungkin karena ini akhir pekan. Karena itu, jalanan mulai tampak lebih ramai. Setelah memerlukan waktu yang lumayan lama, pada akhirnya mobil Fadlan telah tiba di depan rumah Jeslin. Pria itu turun, lalu membukakan pintu mobil untuk Jeslin.
Jeslin tentu terkejut melihat tingkah Fadlan. "Lebay banget lo sampe bukain pintu segala."
"Biar full service. Hahaha," ucap Fadlan sambil tertawa.
Jeslin turun mobil sambil tertawa juga. Tingkah Fadlan benar-benar berlebihan untuknya. "Thank you. Yaudah lo pulang gih. Udah malem banget ini."
Fadlan mengangguk setuju. "Oke. Gue balik ya. Kalo ada yang bisa gue bantu lagi... jangan sungkan buat call."
Jeslin mengangguk sambil tersenyum, lalu melambaikan tangan ke atah Fadlan. Ia tetap berdiri di sana hingga mobil pria itu menghilang dari pandangannya.
Setelah memastikan Fadlan telah pergi, ia mulai berjalan masuk ke dalam rumah. Namun tiba-tiba langkah kakinya terhenti. Ia melihat Bimo tiba-tiba keluar dari mobilnya.
"Kamu di sini? Sejak kapan?" tanya Jeslin dengan raut wajah sangat terkejut.
"Sejak daritadi. Lama banget kamu pulang."
"Kok gak telepon atau kirim chat?" tanya Jeslin lagi.
"Udah. Cuma kamu gak angkat telepon dan bales pesan aku. Seru banget kayaknya... sampe gak pegang HP," jawab Bimo.
Jeslin menggigit bibirnya. Seketika ia merasa gugup. Jeslin bisa merasakan bahwa kekasihnya itu sedang kesal. Raut wajah Bimo menunjukan emosi yang tertahan.
"Maaf ya, Sayang. Tadi aku meeting terus sengaja silent. Eh malah keterusan dan lupa ubah. Daritadi emang masukin HP ke dalam tas. Jadinya gak sadar kalo kamu telepon dan kirim chat. Maaf ya," ucap Jeslin dengan wajah memelas.
Bimo menghela nafas. "Baiklah. Nih aku bawain sate maranggi buat kamu."
"Wah! Makasih sayang. Kamu inget aku aja udah seneng. Apalagi dikasih oleh-oleh gini. Nanti pasti aku makan!" ujar Jeslin.
"Emang kamu belum makan?" tanya Bimo.
Jeslin menggelengkan kepalanya. "Belum kok. Nanti aku makan malam pake ini ya."
Jeslin sengaja berbohong. Ia tidak ingin menyulut pertengkaran dengan Bimo malam ini. Kekasihnya itu tampaknya sedang tidak dalam kondisi mood yang baik. Mungkin Bimo akan marah bila ia makan malam bersama Fadlan hari ini.
Bimo tersenyum. "Yaudah. Aku pulang dulu ya. Maaf gak bisa mampir ke dalam. Udah capek banget soalnya."
Jeslin mengangguk setuju. "Hati-hati di jalan, yang."
Jeslin melambaikan tangannya dan menunggu Bimo masuk ke dalam mobil. Kemudian setelah kekasihnya itu telah berlalu pergi, ia segera masuk ke dalam rumah. Tubuhnya benar-benar sudah sangat terlalu lelah, Rasanya ia ingin segera merebahkan tubuhnya ke atas kasur.