"Kamu mau sampe kapan kerja di kantor Bimo?" tanya Julianto, Ayah Jeslin. Jeslin menghela nafas. Ia paling benci harus bertengkar dengan ayahnya saat sedang sarapan. Apalagi makan bersama dengan keluarganya merupakan hal yang sangat jarang. "Kita lagi makan, Pa. Jangan ngebahas sesuatu yang ujung-ujungnya kita bakalan berantem deh," protes Jeslin dengan nada pelan. Ia berusaha untuk tidak menggunakan nada tinggi di depan ke dua orang tuanya. Ini masih pagi hari. Ia tidak ingin memulai harinya dengan sebuah pertengkaran. "Iya, Pak. Kita selesaikan makan dulu lah," ucap Riana. "Sudah enam bulan kamu kerja di sana, Jeslin. Kamu itu ngapain sih sebenernya? Apa yang dicari di sana? Papa gak ngerti jalan otak kamu," kata Julianto. "Yah just kerja aja, Pa. Cuma isi waktu sebelum kerja benera

