Diandra berdiri di balik pintu kamar mandi. Memegangi dadanya yang berdebar hebat. Rasa hangat bibir Rio masih membekas di bibirnya.
Perlahan Diandra mengelus bibirnya. Masih terasa panas mungkin sekarang bibirnya membengkak.
"Arghss.... first kiss gue!" Di detik selanjutnya Diandra berteriak dan menggosok gosok permukaan bibirnya.
"Huaa kenapa first kiss gue nggak kekinian banget"
Diandra masih berteriak nggak jelas. Meluapkan semua amarahnya. Dia sebenarnya ingin. Tapi kan... arghhss waktunya masih belum tepat. Diandra tadi belum siap. Belum gosok gigi juga.
Pasti Rio kapok deh nyium Diandra.
Untung saja kamar mandi Diandra kedap suara. Jadi dia bebas mengekspresikan kekesalanya.
Diandra segera menanggalkan semua pakaianya. Berdiri di bawah shower dan membiarkan tubuhnya terguyur air dingin. Sengaja Diandra mandi air dingin. Supaya kepalanya yang panas bisa mendingin.
*****
Setelah beberapa menit bergumul dengan air. Diandra keluar.
Pertama tama ia membuka sedikit pintu kamar mandi. Melongokkan kepalanya mengintip. Memastikan bahwa keadaan aman terkendali jika ia keluar.
Aman..
Tak ada Rio di mana mana. Dan tak ada suara Rio. Hanya suara air conditioner yang terdengar menderu.
Diandra keluar mengendap endap. Seperti detektif.
Matanya membulat sempurna saat melihat Rio yang berdiri diambang pintu kamar.
Ditanganya dia membawa dua mug yang masih mengepulkan asap. Yang Diandra yakini adalah s**u atau paling tidak teh hijau.
Rio masih berdiri di ambang pintu. Menatap Diandra dengan tatapan yang. Entahlah..
"Eh kak habis dari mana?" Sapa Diandra mencoba mencairkan suasana.
Alih alih menjawab pertanyaan Diandra. Rio lebih memilih berjalan mendekati Diandra.
"Minum" ujar Rio dingin. Menyodorkan mug yang ia bawa tadi. Benar saja mug itu berisi s**u coklat yang beraroma lezat.
"Makasih"
Diandra meniup niup mugnya. Berharap cara itu dapat mendinginkan s**u pemberian Rio. Hal yang sama juga dilakukan Rio.
"Kak Rio copas copas gue aja"
Setelah menyeruput sedikit. Diandra meletakkanya di meja.
"Aku tidur duluan ya ngantuk"
Tanpa menunggu jawaban dari Rio. Diandra merebahkan badanya dan menutup seluruh badanya dengan selimut.
Suara langkah kaki mendekat. Diandra memejamkan mata mencoba tak perduli. Namun hatinya tak bisa berbohong.
Dia perduli!
Kasur Diandra bergoyang sesaat. Kemudian bergoyang kembali.
Diandra membalikkan badanya ingin tau apa yang terjadi.
"Heh? Kok tidur disofa?" Tanya Diandra heran saat Rio menata bantal di sofa.
Rio melirik Diandra sekilas. Tatapanya tajam dan dingin sekali. Kemudian merebahkan badanya. Tak mau repot menjawab pertanyaan Diandra. Diandra juga kembali berguling ke kasur. Tak ingin bertanya lebih lanjut. Jika yang ditanyai saja enggan menjawab.
"Untung ganteng. Kalo nggak udah gue uleg bareng sambel trasi" umpat Diandra.
Diandra memejamkan matanya kembali. Mencoba tak memperdulikan sang suami. Toh Rio juga nggak perduli. Buat apa perduli. Buang buang energi aja. Apalagi keperdulian kita nggak dihargai. Kan sakit!
"Ishh pria dingin menyebalkan"
*****
Kring...kring...
Bukan bel sekolah melainkan alarm yang sengaja dipasang Diandra.
Tangan Diandra meraba jam beker nya. Mematikanya cepat. Atau telinganya akan segera menuli.
Saat ingin bangun. Badan Diandra seperti ditumpu beban yang sangat berat. Bukan semua badan hanya perutnya saja. Terasa keras dan berat sekali.
Kemudian Diandra membuka matanya. Matanya membulat. Apa apaan ini!
*****
Pukul 03.00 Rio terbangun tiba tiba dari tidurnya. Udara yang dingin membuatnya tak bisa memejamkan mata kembali.
Apalagi diluar terdengar rintikkan hujan.
Dengan kesal Rio mematikan ac. Lalu kembali berbaring di sofa.
Tidur di sofa yang kecil membuat tubuh Rio pegal pegal. Apalagi sofanya pendek sehingga kaki Rio yang panjang terpaksa menekuk. Mungkin panjang sofa Diandra ini hanya 140 cm saja. Sedangkan tinggi Rio 187. Bayangkan bagaimana tersiksanya Rio.
Rio mendekap guling dengan erat. Berharap dia tidak kedinginan lagi. Tapi sialnya dia malah semakin kedinginan.
"Sial! Sial! Sial! Mengapa menikah harus semenyiksa ini" Rio terduduk. Mengacak rambutnya.
Dia sedikit menyesal karena menerima perjodohan konyol orang tuanya. Tapi mau bagaimana lagi. Semuanya sudah terjadi. Ibarat nasi yang sudah menjadi bubur. Lembek nggak akan bisa keras lagi. Aisshh.
Mata Rio menatap nyalang tempat kosong di sebelah Diandra.
"Daripada mati kedinginan tidur disampingnya ajalah" kemudian Rio berjalan ke kasur Diandra. Membaringkan tubuhnya pelan pelan. Supaya tak ada pergerakkan yang nantinya akan membuat Diandra terbangun. Bisa kacau yakan?
Selimut yang berada di kaki Diandra. Ia raih dan menyelimuti dirinya beserta Diandra.
Begini lebih menghangatkan tubuh Rio.
Perlahan matanya memejam. Hingga ia tak sadar telah mendekat dan memeluk Diandra. Menjadikan Diandra sebagai guling bernyawanya.
Karena merasa hangat. Rio semakin mendekap Diandra yang ia kira adalah guling.
*****
Diandra menghentakkan tangan Rio. Kemudian berdiri di samping ranjang. Menatap takut takut ke arah Rio yang mulai menggerakkan matanya.
"Kenapa?" Tanya Rio parau.
"Ka-kakak kenapa kenapa__"
"Oh semalam dingin. Jadi aku pindah disini" sela Rio sebelum Diandra sempat melanjutkan kata katanya. Rio yakin kalau Diandra akan bertanya "Kakak kenapa ada disini?"
"Bu-bukan itu yang ingin aku tanyakan"
Rio mengangkat sebelah alisnya. "Lalu?"
Diandra meremas ujung baju tidurnya. Pipinya memerah saat mengingat tadi dia dipeluk Rio. Mungkin dari semalaman.
"Kenapa kakak peluk aku?" Ujar Diandra pelan. Namun Rio dapat mendengarnya.
Sebenarnya Rio terkejut. Tapi ia tetap memasang ekspresi tenang dan dingin seperti biasanya.
"Oh mungkin aku kira kamu guling"
"Oh iya mungkin" Diandra menundukkan pandanganya. Sedikit kecewa.
*****
Diandra dan Rio tutun bersama ke lantai satu. Berjalan beriringan layaknya pengantin baru yang normal.
Beruntunglah ini hari minggu. Jadi Diandra tak perlu repot berangkat kesekolah.
Di meja makan hanya ada Rizkan, Mami, dan Chello yang di gendong oleh babby sitter yang baru dipekerjakan hari ini.
Papi? Mungkin sedang ada urusan jadi berangkat pagi pagi sekali. Maklum orang sibuk.
"Duh duh yang penganten baru. Roman romanya pengen selalu lengket aja" goda Mami.
Diandra hanya tersenyum kikuk. Kemudian menarik kursi lalu duduk.
Sedangkan Rio memasang ekspresi dingin tanpa senyum. Tenang tapi menghanyutkan.
"Mi mau selai kacang itu dong" pinta Diandra.
"Ini" bukan Mami yang mengambilkanya. Melainkan suaminya, Rio.
"Eh makasih kak"
"Ekhem masa udah nikah panggilanya masih kakak. Honey dong. Atau nggak sayang"
"Papa Mama juga boleh tuh" ucap Mami melengkapi perkataan Rizkan tentang panggilan Diandra.
"Ih apaan sih kak Mi. Udah deh jangan godain aku terus" ucap Diandra sambil mengoleskan selai ke rotinya.
"Suka kan tapi?" Rizkan menaik turunkan alisnya seperti orang bodoh.
Diandra memilih diam menyantap makananya. Rizkan itu paling nggak bisa diajak berdebat. Otaknya jauh lebih unggul dari Diandra. Bisa diskak matt nanti.
Rio terlihat diam saja. Memakan roti panggangnya dalam diam. Membuat Mami dan Rizkan saling pandang.
"Oh iya nak Rio kalian jadi pindahan hari ini?" Tanya Mami.
"Iya Mi jadi" jawab Diandra.
Rio yang hendak membuka suara. Bungkam seketika.
"Yang ditanya siapa. Yang jawab siapa" kesal Rio dalam hati.
"Habis ini langsung pindahan Yo?"
"Iya Mi" lagi lagi Diandra yang menjawab. Tanpa melepas tatapan dari rotinya.
Rio geram sendiri jadinya. Sejak kapan nama Diandra berubah jadi namanya. Sekali lagi dia menjawab pertanyaan yang dilontarkan mertuanya. Dapat bonus deh.
"Yo kamu butuh bantuan Mami?"
"Kita berdua bisa kok Mi"
Sudah! Habis kesabaran Rio kali ini.
Rio memegang kedua bahu Diandra. Memaksa Diandra untuk menatapnya.
Tanpa aba aba dan tanpa memperdulikan penonton. Rio mengecup bibir Diandra. Menggigitnya pelan. Itu sebagai hukuman karena Diandra begitu cerewet.
"Jangan cerewet. Cepat habiskan rotimu aku tunggu dimobil" setelah melepaskan pagutanya Rio keluar dengan perasan yang campur aduk.
Diandra mulai senyum senyum nggak jelas.
Keempat penonton hanya bisa melongo. Melihat adegan tak senonoh tersebut.
"Ya ampun Chello. Hilang sudah kepolosan mata Chello" ujar Rizkan menatap Chello yang malah nyengir kuda.
"ium.. akak di ium" oceh Chello membuat Mami dan Rizkan tergolek pasrah. Bayi memang menangkap apa yang dilihatnya dengan cepat. Sedangkan Diandra tertawa sembari mengacungkan kedua jempolnya pada Chello. Chello semakin tergelak dan mengoceh yang di mengerti olehnya sendiri.
******
Rio duduk di balik kemudi. Lebih baik menunggu Diandra dimobil. Daripada ia digoda disana.
Entah kenapa Rio selalu ingin mencium Diandra. Rasanya beda dari bibir bibir wanita lainya. Lebih lembut, lebih manis, dan tidak ada rasa lipstik nya.
Ceklek
Pintu mobil terbuka menampilkan Diandra yang tersenyum Riang.
"Let's go kak" ujar Diandra semangat.
Rio menggelengkan kepalanya. Harus ekstra sabar menghadapi abg labil seperti Diandra. Kalau tidak sabar sabar. Bisa cepat masuk kubur.
Kemudian mobil Rio bergerak meninggalkan rumah Diandra.
#####
Tbc
Sorry ya gw lambat update. Gw mager bgt. Apalagi gw baru dapet film horor baru. Arghss jadi tambah males nulis akunya..
Semoga suka ya. Walau gw agak nggak yakin sih part ini bagus wkwk