ILYMH - Semangat Diandra

1761 Kata
Di dalam mobil hening. Bukan hening yang tenang. Tapi hening yang menegangkan. Bagi Diandra tentunya. Dari Diandra masuk ke mobil sampai mobil ini jalan. Rio sama sekali tidak menatap Diandra. Lirik dikit aja nggak. Spekulasi spekulasi mulai bermunculan di kepala Diandra. "Apa kak Rio nyesel udah nyium aku?" "Sebegitu jelekkah aku dimatanya?" "Hm..mungkin dia malu" "Arghss aku nggak suka dicuekin" Diandra mengalihkan pandanganya ke luar mobil. Pemandangan kendaraan yang berjubel lebih menarik. Daripada pemandangan kulkas hidup disampingnya. Jalanan sudah cukup lengang. Dan Diandra tidak tau jalan mana yang ia lalui ini. Biasa Diandra anak rumahan. Paling keluar sekitaran rumah. Paling jauh luar negri langsung.  Diandra menoleh ke arah Rio saat suaminya itu meminggirkan mobilnya.  "Kenapa kak?" "Mau beli sesuatu?" Tanya Diandra. Tapi Diandra melihat lihat keadaan luar tak ada sama sekali orang yang berjualan. Rio perlahan mendekati Diandra. Sontak Diandra memundurkan tubuhnya sampai membentur kaca mobil. "Kak a__pa yang mau kakak lakuin" ujar Diandra terbata bata. Dia benar benar belum siap kalau akan mendapatkan kiss again. Benar benar tidak siap. Saat wajah Rio mendekat. Diandra hanya pasrah menutup matanya. Biar saja Rio menciumnya toh udah sah ini. Yang penting Diandra nggak liat. Ceklek Mata Diandra terbuka. Sialan! Ternyata Rio hanya memakaikanya seatbealt.  Diandra bertambah malu saat Rio menarik ujung bibirnya. Memasang smirk yang sangat teramat menawan. Sorot matanya tajam. Diarahkan pada mata Diandra yang bergerak gerak gelisah. Menghindari kontak mata sama Rio. "Kenapa tadi tutup mata?" "Kamu fikir aku mau ngapain?" Tanya Rio membuat rasa malu Diandra bertambah berlipat ganda. Dengan muka yang ditebalkan. Diandra menatap menantang mata Rio yang masih memasang smirk.  "Enggak aku__aku cuman ngantuk aja makanya tutup mata" Diandra menjawab asal. Hanya kata kata itu yang terlintas di otaknya. "Makanya lain kali jangan lupa pasang seatbelt. Atau mau aku yang pasangin terus?" "Yahh itu terserah kakak aja"  Rio kembali menjalankan mobilnya. Mencoba fokus pada jalanan.  ***** Rio memarkirkan mobilnya di bagasi. Kemudian ia membuka pintu. Keluar tanpa menunggu Diandra yang tergopoh gopoh mengikutinya dari belakang. "Ini rumah kita?" Tanya Diandra saat sudah mensejajari langkah Rio. "Bukan" "Lalu?" "Rumah Daddy aku. Aku mau ambil beberapa barang yang masih ada disini" "Oh oke! Aku tunggu di sana ya kak. Ada tante disana" ujar Diandra yang mendapati anggukan Rio. ***** Mommy Rio tengah bersantai di ruang tv sambil meminum teh hijau yang masih mengepulkan asap. Saking asiknya menonton drama India Mommy Rio tak menyadari bahwa Diandra berada di belakangnya. Orang orang benar. Drama India membawa pengaruh besar pada manusia. Lembut tapi pasti. Diandra memegang pundak Mommy.  Bahu Mommy terangkat karena terkejut. Lalu menolehkan kepalanya. Senyumnya mengembang dan matanya berbinar bahagia. "Ya ampun menantu kesayangan dateng. Sini sini kita gosip bareng."  Diandra menurut mendudukkan bokongnya di sebelah Mommy. Detik berikutnya Mommy memeluk Diandra hangat. Mengelus puncak kepala Diandra lembut. "Oh iya si anak bandel itu a.k.a Rio nyusahin kamu nggak? Kalo nyusahin potong aja anunya hihi."  Diandra mengerutkan alisnya bingung. "Nggak tante Kak Rio baik banget. Ya kadang nyebelin sih bikin darah tinggi" jawab Diandra jujur.  Yahh walaupun sikap Rio tergolong dingin dan membuat Diandra selalu kesal. Karena merasa menikah dengan kulkas berjalan. Tapi Diandra yakin kalau Rio mempunyai kepribadian baik. Perlu waktu untuk menjinakkan Rio yang kaku."Mommy nak. Jangan tante. Kamu sudah jadi anak Mommy sekarang" koreksi Mommy. "Hmm Mom" "Dimana Rio nak. Mommy kangen banger sama dia" ujar Mommy. "Katanya sih mau ambil berkas Mom. Bentar lagi paling kesini" Mommy masih memandangi lekat wajah Diandra. Anaknya beruntung sekali menjadi suami Diandra. Dia terlihat smart, cantik, dan berhati baik. Tak salah jika Mommy menjodohkan Rio dengan anak sahabat lamanya. "Kamu makan apa sih nak kok cantik banget?" Tanya Mommy bercanda. "Bisa aja nih Mommy. Ya aku makan nasi Mom"  "Cantiknya beda sayang. Kamu menawan apalagi mata kamu. Uhh Mommy sangat suka" puji Mommy membuat Diandra mengembangkan senyumnya. "Terima kasih Mommy. Mommy juga cantik" "Gimana semalam. Goals nggak?"  Diandra mengerutkan keningnya. Tak mengerti arah pertanyaan Mommy. Goals? Seingat nya semalam Diandra tidak menonton pertandingan bola. Mengapa Mommy bertanya seperti itu. Jelas saja Diandra tidak tau. "Maksudnya Mom?" "Diandra semalem nggak nonton bola" ujar Diandra polos. Mommy tertawa pelan. "Haha lupakan saja sayang" Diandra mengangguk patuh. "Mom Diandra pingin ke kemar mandi. Dimana ya?"  "Lurus kesana terus belok kiri" ujar Mommy memberi arahan. Kemudian Diandra berjalan sesuai intruksi Mommynya tadi. ***** Diandra merapikan rok nya yang sedikit kusut. Menundukkan pandanganya. Sampai sepasang sandal rumahan membuat Diandra mendongakkan kepala. Seorang cewek cantik kelewat cantik dengan rambut sebahu berdiri dengan angkuhnya di hadapan Diandra. Tanganya ia silangkan di depan d**a.  "Well" ujarnya. Dari nada suaranya sungguh tidak bersahabat. "Lo istri kakak gue haha. Pinter ya dia nyari istri" oceh nya. Diandra hanya diam saja.  "Lo anak kelas 11-A yang deket sama Mich itu kan?" Diandra mengangguk. Entah apa tujuan cewek ini. Diandra gagal faham sumpah. "Jauhin dia atau gue aduin ke kakak gue" "Atau gue umumin ke seluruh sekolah kalau lo udah nikah" "Mau Lo!" ujarnya penuh penekanan. Diandra sedikit terkejut. Menjauhi Michell? Bagaimana bisa. Dia itu sahabat terbaik yang dipunya Diandra. "Apa maksud kak Nisa. A-aku nggak bisa jauhin dia. Dia sahabat aku" tolak Diandra. "Gue aduin lo ke kak Rio" ancamnya. "Kak emangnya kenapa? Kenapa aku harus ngejauhin Michell. Kasih aku alasan" Nisa berjalan mondar mandir didepan Diandra. Mengetuk ketuk dagunya seolah sedang berfikir keras. Mata Diandra kesana kemari. Mengikuti pergerakkan Nisa yang menurutnya sangat aneh."Gue suka sama dia! Puas lo" teriak Nisa tiba tiba sambil mencengkram rahang Diandra kuat. "Gara gara lo dia nolak gue! Dasar adek kelas genit!"  Diandra mencoba lepas dari cengkraman Nisa. Tapi sialnya tenaganya lebih kuat. "Maksud kakak apa aku ga ngerti?"  "Dia suka sama lo! Dia nolak gue gara gara suka sama lo!" Teriak nya dengan wajah merah padam. "Tapi kak mana mungkin. Dia sahabat aku. Dia nggak mungkin suka aku" tolak Diandra yakin.  Nisa melepaskan cengkramanya kasar. Sampai kepala Diandra terlempar kesamping. "Gue gak mau denger alasan. Sampai gue lihat lo sama Mich abis lo"  Nisa berlalu begitu saja dari hadapan Diandra.  Diandra menyandarkan tubuhnya di pintu kamar mandi. Menjauhi Michell sepertinya butuh satu abad. Kaki Diandra tiba tiba melemas. Kepalanya pusing memikirkan semua fakta yang sulit ia terima. Nisa adalah adik Rio. Adik suaminya. Sungguh ini fakta yang tiba tiba. Seluruh sekolah pun mengetahui kalau Nisa anak kelas 12B itu sangat membenci Diandra. Bagaimana mungkin dia menjadi adik ipar Diandra. "DIANDRA!" teriak Rio. Diandra lalu berlari untuk menemui Rio. Mengabaikan lututnya yang kian melemah. "Dimana kak Rio Mom?" Tanya Diandra pada Mommy yang masih ditempatnya semula. "Dikamarnya nak. Dilantai dua. Pintunya ada namanya kok" Diandra mengangguk. Berlari secepat kilat. ***** Diandra menatap ragu pintu berwarna biru tua dihadapanya. Disana tertulis nama Delrio Erlangga Darmawan. Diandra memegang dadanya yang sedikit bergetar. Memukul mukulnya sebentar menghilangkan rasa sakit sekaligus rasa gugup. Pernyataan Nisa cukup mempengaruhi kerja otak Diandra. Membuat fikiran Diandra terbelah belah menjadi beberapa bagian. Sehingga fokusnya kemana mana. Tok..tok.. "Masuk aja. Bantuin aku" teriak suaminya dari dalam. Ceklek Diandra disuguhi pemandangan kamar Rio yang sangat maskulin dan wanginya Rio banget.  Terdapat banyak poster band metallica.  Kamarnya cukup rapi untuk ukuran kamar seorang pria. Hampir semua barang barang Rio berwarna biru. Dari kasur sampai selimutnya. Lemari, sampai barang barang kecil lainya. "Kenapa diam aja. Sini bantuin masukkin baju baju aku ke koper. Kalo kamu nggak capek sih" ucap Rio membuyarkan lamunan Diandra. Diandra membuka lemari Rio. Memasukkan satu persatu baju baju Rio yang jumlahnya lumayan banyak. Setelah selesai Diandra menutup koper Rio. Berjalan pelan mendatangi Rio yang tengah menyusun kardus kardus entah apa isinya. "Udah kak" lapor Diandra. "Ehmm kamu tunggu di bawah aja. Aku nyusul" ucap Rio tanpa menoleh. "Nggak! Aku nunggu Kak Rio aja"  "Hem.. duduk dulu di kasur. Nanti kamu capek. Masih agak lama"  Kali ini Rio menolehkan kepalanya ke Diandra. Tersenyum samar dan singkat sekali. Bahkan Diandra tidak yakin tadi Rio tersenyum. Kemudian Diandra duduk dipinggiran kasur Rio. Matanya masih asik menelusuri kamar Rio yang sangat rapi. Wangi dan tentunya Rio banget. Disudut kamar Rio terdapat lemari kaca yang di dalamnya terdapat miniatur miniatur unik.  Ada miniatur menara eifel. Miniatur ikon ikon terkenal baik yang ada di Indonesia maupun di dunia. Yang paling menggemaskannya lagi. Ada miniatur kartun naruto dan beberapa versi bonekanya. Kedua sudut Diandra terangkat. Ternyata Rio memiliki sifat kekanakan dengan menyimpan barang barang berbau kartun. Diandra salah jika menganggap Rio pria dewasa seutuhnya. Pria dewasa mana yang masih menyukai naruto? Sepertinya hanya suaminya saja. "Cuman koleksi masa kecil" Diandra terkejut bukan main. Sejak kapan Rio duduk disebelahnya? Perasaan Rio tadi sedang berberes di depan Diandra. Apa jangan jangan Rio memiliki jurus seribu bayangan? Seperti di kartun naruto? "Heh?" "Iya cuman koleksi masa kecil aja" "Pasti kamu fikir aku kekanakan kan nyimpenin kartun kartun kaya begituan?" Tanya Rio tepat sasaran. "Iya kak. Emang apa yang ada difikiranku selain itu"  Rio menatap Diandra yang tertunduk. Pipinya terlihat pucat. Wajahnya juga murung tidak seceria tadi. "Kamu sakit?" Tanya Rio tidak ingin berbasa basi. Diandra mengangkat kepalanya. Membalas tatapan Rio. Menggeleng pelan. "Kamu pucat. Apa ada masalah?" Degh Sekujur tubuh Diandra panas dingin. Apakah kentara sekali jika ia sedang banyak berfikir sekarang? Jujur saja pernyataan Nisa beberapa jam yang lalu masih membekas di benak Diandra. Bahkan tidak ingin hilang dari sana. Tetap terngiang dan itu terasa menyesakkan d**a. "Nggak ada kak. Cuman lelah aja" ujar Diandra tak sepenuhnya berbohong. Ia memang lelah. Lelah berfikir. Lelah menebak nebak. Dan lelah untuk semuanya. Sungguh benar benar lelah! "Kamu jangan lelah lelah ya. Senin kamu ada ujian kenaikan kelas kan"  "Banyakin istirahat. Beban beban kamu tinggalin aja dulu. Dibawa enjoy aja" "Nanti kalau nggak naik kelas. Kakak malu loh" ucap Rio.  Sedetik setelah mengatakan itu. Rio mengacak pelan rambut Diandra. Keduanya menegang.  Diandra yang tak percaya dengan apa yang dilakukan Rio. Dan Rio yang tak percaya dengan apa yang ia lakukan. Kenapa ia menjadi jinak saat bersama Diandra. Sungguh menyebalkan! Rio menarik tanganya kikuk. Diandra merasa pipinya memanas. Ia hanya bisa menunduk dan memggigiti bibir dalamnya. Berusaha mati matian agar tidak tersenyum. Usapan kepala sungguh tidak ada artianya bagu seorang Rio. Mungkin. Jadi tidak baik untuk geer di awal. Dampaknya akan sangat buruk bagi hati dan perasaan Diandra. Kemudian Rio berdiri. Keluar dari kamar tanpa mengajak Diandra.  Diandra menatap punggung Rio. Menghela nafas panjang. Menghembuskanya dramatis. "Kamu bisa Dii" "Kamu bisa jinakkin Rio" "Semangat Diandra!" ***** Tbc Sumpah gajelas banget aneh banget ga banget dehh ah.. Lagi males sumpah. Ngetik ini cuman butuh waktu beberapa menit aja. Males ngedit yaa. Sorry kalo ada typo.  Sorry bgt ga bisa bikin yg baper baper. Abisnya gw orgnya kaku hehe sorry ya ga ada feel nya maapin gue. Part berikutnya gw janji. Bikin adegan Rio-Diandra makin sweet okay okay
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN