Di sekolah. Michel menendangi semua benda mati yang ada di bawah kakinya. Membuangnya jauh jauh seolah benda mati itu adalah sebuah hama.
Mulutnya tak hentinya mengeluarkan kalimat kalimat cibiran. Kekesalan yang teramat mendalam.
Zelo, Zela, dan Bulan hanya bisa menatap miris sang sahabat yang tengah kalut.
Kini mereka sedang berada di belakang sekolah. Tempat terasing areal sekolahan.
Di tempat ini biasa mereka menghabiskan waktu istirahat atau waktu kosong mereka. Bermain, tertawa, saling adu mulut. Kenangan manis seperti itulah yang diukir mereka ber-lima di tempat ini.
"Udah ya Mich" ucap Zelo menenangkan sang sahabat yang sedang marah besar.
"ARGHSS! APA NYA YANG UDAH ZELO!"
"GUE HAMPIR GILA TAU NGGAK!"
Michel berteriak lantang. Mengeluarkan kekesalan sekaligus rasa sakit yang sedari tadi ia pendam.
"Lo jangan jadi pengecut Mich. Lo cowok jangan beraninya dibelakang aja"
"Kalo cinta buktiin. Rebut dia!"
"Bukanya marah marah nggak jelas. Terus nge-lampiasin amarah lo ke kita!" Ucap Zelo yang sudah mulai kesal. Menurutnya Michel sosok yang tidak gentle. Sangat tidak gentle.
Zela dan Bulan hanya bisa diam. Mereka perempuan. Jika ikut campur. Takut Michel akan mengamuk pada mereka. Dan apalah daya seorang perempuan yang lemah. Sudah kodratnya bukan? Jadi Zela dan Bulan lebih memilih menonton siaran live drama melankolis ini. Tanpa ada niatan membuka suara.
"b******k LO YA"
Bugh!
"Kak"
Zela menghampiri Zelo yang tersungkur ke tanah akibat pukulan mendadak dari Michel.
Sudut bibir Zelo robek. Mengeluarkan darah merah segar dari sana.
Zelo berdiri di bantu oleh Zela. Tatapan Zelo berubah ketika menatap Michel. Tak ada tatapan seoarang sahabat. Tak ada tatapan menenangkan. Yang ada hanya tatapan penuh kekecewaan.
"Kalau lo udah sadar. Lo boleh datengin gue. Minta maaf ke gue"
"Ayo Bul La"
Bulan dan Zela memegangi kedua tangan Zelo. Memapahnya layaknya orang lemah dan lumpuh.
"Yang luka bibir gue. Kenapa kalian lebay sih pake acara papah papah gue" cibir Zelo yang merasa dianggap lemah. Luka robek saja bagi Zelo tidak ada apa apanya.
Zela dan Bulan lantas melepaskan peganganya pada lengan Zelo. Mengusap tengkuk mereka yang tidak gatal. Meringis salah tingkah.
Michel mengusap wajahnya kasar. Menampar pipinya sendiri sekeras mungkin. Sehingga meninggalkan jejak ruam disana.
Hatinya perih melihat punggung sahabatnya yang sudah menjauh.
Sebenarnya tak ada niatan sama sekali Michel menonjok Zelo. Tapi berhubung Zelo banyak bacot saat Michel sedang kalut. Jadilah luka itu menghiasi wajah tampan Zelo.
Punggung Michel ia sandarkan dia sebuah pohon beringin besar. Yang penuh dengan ukiran ukiran absurd yang telah mereka buat.
Ia memukul mukul dadanya sendiri yang terasa sesak dan sakit. Semakin kuat saat rasa sakit itu semakin menjadi jadi. Bukanya hilang dan lenyap.
Kelenjar air mata Michel sudah hampir penuh dan ingin tumpah.
"Gue cinta elo. Kenapa lo bohongin gue kaya gini"
"Katanya lo keluar negri. Tapi nyatanya lo masih di Indo"
"Jalan berdua sama om om"
"Gue cinta elo Dii" isakan tertahan keluar mengiringi setiap curahan kata Michel.
Yahh kekecewaan Michel bermula ke kejadian kemarin. Tepatnya 3 hari setelah kepergian Diandra berlibur ke Maldives. Katanya.
Flasback on
Michel pergi ke toko bunga. Membelikan pesanan bucket bunga mawar merah yang diminta Mama nya.
Sebenarnya ia tidak mau pergi. Dengan alasan masih galau. Karena ditinggalkan Diandra berlibur tanpa pamitan. Tentu saja dirinya sangat merindukan Diandra.
Sahabat yang sudah dicintainya sejak insiden Michel menolong Diandra yang hampir diperkosa Carlo.
Dengan langkah gontai Michel memasuki toko bunga. Yang disambut hangat oleh pemilik toko yang tidak lain dan tidak bukan adalah tantenya sendiri.
"Mau beli bunga?" Tanya tante Ros.
"Yaps tan. Mawar merah ya. Kata Mama rangkainya yang bagus. Kalo enggak toko bunga tante bakal dibakar sama Mama" ucap Michel lusuh. Bercanda tapi tidak terlihat seperti bercanda.
Tante Ros tertawa renyah.
"Berani dia sama Tante"
"Kamu kenapa sih nggak kaya biasanya deh" ucap Tante Ros sembari merangkai bunga mawar yang diminta Michel.
"Lagi galau Tan"
"Kenapa? Ditolak lagi?"
"Udah yang keberapa kali ya? Kayanya udah 123 kali ya ditolak haha" ucap Tante Ros mengejek.
"124 Tan" ralat Michel.
Jadi semakin galau kan kalau mengingat sudah lebih dari seratus kali ia ditolak Diandra. Walaupun ia tak pernah menyatakan perasaanya secara langsung. Tapi sialnya! Diandra selalu menolaknya secara tidak langsung. Alasanya sahabat tak seharusnya memiliki perasaan. Huft... kalimat j*****m macam apa itu?!
"Mbak Ros itu ada pasangan yang mau dirangkaikan bunga mbak" salah satu anak buah Tante Ros menghampiri mereka berdua.
"Yahh layani saja"
"Dia maunya dirangkaikan sama mbak"
"Suruh sabar. Masih ngerangkai punya ponakan"
Michel menghela nafas lelah. Menjatuhkan tubuhnya di sofa empuk. Menyandarkan punggungnya yang terasa letih. Sangat!
Beberapa menit kemudian bunganya jadi. Michel langsung membawanya tanpa membayar. Biar dibayar sang Mama saja.
Saat sudah masuk kedalam mobilnya. Tak sengaja matanya menangkap pemandangan yang sangat tabu sekali.
Berkali kali ia mengerjap memastikan bahwa penglihatanya tidaklah salah.
Sial!Michel mencengkram erat stir mobil.
Itu dia! Orang yang menjadikan Michel galau nggak ketulungan.
Diandra!!
Dia sedang tertawa sambil membawa bunga. Dengan seorang lelaki dewasa disampingnya. Tidak terlihat seperti saudara. Karena Diandra bergelayut manja seperti parasit di lengan pria itu.
Mata Michel masih awas sampai pemandangan dihadapanya membuat Michel muak dan marah. Diandra mengecup pipi pria itu saat hendak memasuki mobil.
Dada Michel bergemuruh hebat. Matanya penuh kobaran api. Dihempaskanya bunga mawar pesanan Mamanya sampai kelopak mawarnya berjatuhan menyebar.
Dengan kecepatan diatas rata rata Michel memacu mobilnya. Membelah jalanan ibu kota yang lengang.
Flashback off
Michel mencengkram tanah. Saat bayangan itu tak ingin menghilang. Selalu terputar di dalam otaknya seperti kaset rusak.
"I hate you Diandra!!!"
*****
Setelah beberapa jam perjalanan. Rio dan Diandra sampai di kediaman barunya.
Ternyata jaraknya tidak terlalu jauh dari rumah Diandra. Mungkin hanya ditempuh dengan waktu beberapa menit saja. Diandra sudah sampai di kediaman Mami Papinya.
Setelah turun dari mobil. Lebih dari 5 orang berpakaian hitam hitam mendatanginya. Wajahnya seram seperti rampok. Tapi penampilanya lumayan lah. Dapat nilai 70!
"Mr. Dav tolong bawakan semua barang barang saya"
"Koper taruh dikamar"
"Yang di dalam kardus. Tolong taruh di ruang kerja saya"
"Mengerti!"
Mr. Dav menganggukkan kepalanya sopan. Segera menjalankan perintah sang majikan.
Diandra masih membatu di tempatnya. Menyaksikan sang suami memberikan perintah kepada para bodyguardnya.
Menurutnya sekarang Rio tampak lebih tegas dan tentunya terlihat sangat berkharisma. Dengan suara bariton sexy nya. Membuat Diandra semakin memupuk benih benih cinta. Mungkin!
Rio berjalan pelan mendekati Diandra yang berdiri dua langkah di belakangnya. Wajahnya masih tenang dingin dan tanpa ekspresi.
"Ayo"
"Hey ayo.." ucap Rio mencoba menyadarkan Diandra yang malah menatapnya takjub.
"Ehh"
"Apa kak?"
Diandra menggaruk pelipisnya yang sedikit gatal.
"Ayo masuk. Nggak mau lihat rumah kita?"
Diandra mengangguk keras. Menunjukkan semangatnya untuk melihat rumah baru mereka.
Dari luar sih sudah terlihat sangat megah dan mewah. Walau tidak terlalu besar. Tapi jujur saja Diandra sangat menyukainya. Apalagi warna cat nya cream dan gold. Diandra menyukainya sangat.

*****
Setelah puas melihat lihat isi rumah yang wah semua. Diandra hendak menyegarkan tubuhnya yang mulai lengket karena keringat. Bau badanya juga sudah masam.Kalau begini Diandra jadi tidak pd berdekatan dengan Rio. Walau bercucuran keringat dia tetap wangi dan ganteng wakwak.
"Kak aku mandi dulu ya"
"Hm"
Kemudian Diandra berjalan ke kamar mandi dengan santai. Bahkan mulutnya menyenandungkan lagu dari Jason Derulo, Marry me.
*****
Rio berdiri di jendela kaca kamarnya yang cukup besar. Memandangi kolam renang yang terletak di belakang rumahnya.
Ingin rasanya mengajak Diandra berenang bersama. Bermain air dan bercanda tawa ria. Namun itu hanya sebuah mimpi saja bagi Rio.
Mengajak Diandra berbicara saja sudah membuatnya kehabisan kata kata dan jantungnya berdegup tak menentu. Apalagi mengajaknya bercanda ria.
Rio menyilangkan tanganya di depan d**a. Menghela nafas panjang. Lalu menghembuskanya lama.
Sampai sebuah tangan mungil melingkari perutnya.
Rio hendak berbalik namun orang itu menahanya.
Wangi shampoo yang sangat menyegarkan menguar dari rambut yang Rio yakini adalah Diandra. Siapa lagi dirumah ini yang berani begini sama Rio. Kalau bulan istrinya sendiri. Tapi biarlah.
"Bentar ya Kak. Aku pengen pakek banget peluk punggung Kakak. Rasanya nyaman banget" ucap Diandra sedikit memohon.
Rio menurutinya dengan diam.
"Kak aku boleh tanya?"
"Apa?"
"Kakak suka aku?" Tubuh Rio menegang. Dan Diandra dapat merasakan itu.
Jantung Rio memompa dua kali lebih cepat. Seiring dengan pelukan Diandra yang semakin mengerat.
"Jawab kak" Rio menghembuskan nafasnya. Ternyata sedari tadi ia menahan nafasnya. Haha..
"Lumayan"
Singkat, padat, jelas. Walau Rio hanya mengatakan lumayan. Namun berhasil membuat hati Diandra si penuhi bunga bunga.
Kepala Diandra menggekeng geleng di punggung Rio. Pelukanya mengerat membuat Rio hampir kehabisan nafas.
"Dii jangan kenceng-kenceng. Nggak bisa napas" parau Rio.
"Oops sorry" Diandra melepaskan pelukanya.
Saat Rio membalik badanya. Matanya membulat. Dadanya kembali bergetar. Bulu kuduknya merinding. Susah payah dia meneguk salivanya.
Yang ditatap hanya cengar cengir tidak jelas. Seperti tidak mempunyai dosa sama sekali.
Diandra memakai baju model kemben yang sangat mini sekali. Membuat kulit kulit mulusnya yang seharusnya tak terlihat menjadi terlihat.
Yahh Rio akui Diandra sangat cantik. Tapi tetap saja Rio tidak menyukai dandanan Diandra ini. Bisa bisa diterkam sama Rio. Rio normal kali bang!
"Astaghfirullah!"
"Baju macam apa itu Dii?"
"Ganti!" Rio berteriak layaknya orang kesetanan.
Diandra melihat pakaianya. Tak ada yang aneh. Biasa saja.
"Nggak mau!"
"Ya ampun Dii. Itu baju kekurangan bahan banget ya. Pabrik mana yang buat" frustasi Rio. Tapi matanya tidak bisa teraih dari Diandra.
"Emang kenapa? Kakak nafsu?"
Deghh
Apa benar Rio nafsu?
P*****
Tbc
Ini terkahir post an gw. Abis itu gue ngilang sampe beberapa minggu kedepan. Selasa gue UNBK. Doain ya ders moga gue bisa ngerjain dengan baik dan benar wkwkk
Loftyu
Sandy Aulia