Rio menegang. Meresapi tiga kata Diandra yang begitu mengena di hatinya.
Apakah dia nafsu? Jawabanya tentu iya. Lelaki normal mana yang tidak nafsu melihat perempuan yang kelewat cantik. Memakai baju seperti yang di pakai Diandra. Mimi peri saja mungkin nafsu. Lol!
Diandra masih saja nyengir. Memperhatikan raut wajah Rio yang berubah 100%.
Dari wajah yang benar benar dingin dan menakutkan menjadi ling lung. Terkesan seperti anak ayam yang kehilangan induknya. Ahh lupakan!
"Kaaak nafsu nggak?" Rengek Diandra sangat manja.
Ia berdiri satu langkah di depan Rio. Memposisikan dirinya sedekat mungkin.
"Eng-eng enggak!" Dingin namun penuh keraguan.
"Bohong ih. Mukanya merah gitu"
"Enggak" mata Rio bergerak ke arah lain.
"Idihh kakak mahh... jujur aja sih. Gue nggak akan marah"
Cih-, Rio mendecih pelan. Kenapa Diandra jadi maksa begini. Sepertinya pingin banget gitu dinafsu-in sama Rio. Susah mah jadi orang ganteng.
"Betulan eng-,"
Cuppp
Diandra berjinjit mencium pipi kiri Rio singkat. Terlihat wajah Rio melongo dan meraba raba pipinya seperti orang sakit jiwa.
"Gimana?"
"Ciuman aku keren?"
Rio masih terdiam. Menatap istrinya dengan tatapan yang entahlah.
Diandra memegang dagu Rio. Mengatupkan mulut Rio yang sedikit terbuka.
"Makanya kak jangan bilang enggak sama Diandra"
"Kalo bilang lagi bakal dapat satu ciuman" ucap Diandra sembari terkikik pelan menyadari kekonyolanya sendiri.
Baru kali ini ia menjadi pribadi gadis yang agresif. Biasanya saja dia suka malu malu meong.
Tapi tidak apa apa. Toh agresif sama suami sendiri.
"Kamu sakit?"
"Kamu demam ya?"
"Kamu udah hilang akal?" Gidik Rio memikirkan semua yang mungkin terjadi pada Diandra.
Diandra tersenyum lebar. Menunjukkan deretan gigi putihnya.
Melihat itu darah Rio berdesir. Perasaan perasaan yang sangat tabu bermunculan di dalam benaknya.
Perasaan untuk melindungi, mencintai, dan menyayangi Diandra sepenuh hati.
Ceklek!!
Mr. Dave mumbuka pintu kamar Rio tanpa mengetuk. Ditanganya ia membawa sekoper besar yang berisikan pakaian Rio.
"Maaf tuan! Saya ingin menaruh koper tuan" ucap Mr. Dav sopan.
Rio menatap Mr. Dav dengan tatapan tajam yang seakan menembus retina Mr. Dav. Rahangnya menegas. Otot otot diwajahnya mulai bermunculan.
"Kamu sudah bosan bekerja hah!?" Tanya Rio tenang namun penuh ancaman.
"Kamu sudah lupa caranya untuk mengetuk pintu!"
"APA KAMU SUDAH LUPAAA HAAHH!!!"
Diandra berjingkat kaget mendengar teriakan suaminya yang membahana. Baru sekali ini Diandra melihat Rio semarah ini. Bahkan dia meledakkan amarahnya pada Mr. Dav yang jauh lebih tua diatasnya.
Tanpa Diandra duga sebelumnya. Rio menarik Diandra kedalam pelukanya. Badan tegap Rio memunggungi Mr. Dav. Seolah olah ia tak ingin Mr Dav melihat tubuh Diandra yang hanya memakai pakaian minim.
"Apa yang kamu tunggu! Keluar" usir Rio sadis.
Kaki Mr. Dav yang lemah dan bergetar. Meninggalkan kamar Rio dengan langkah yang diseret.
Bukan sekali dua kali ia mendapat amukan Rio. Bahkan sudah tidak dapat dihitung menggunakan jari. Itu semua juga akibat kecerobohanya. Bagaimana bisa ia masuk kedalam kamar pengantin baru tanpa mengetuk.
Mr. Dav menutup pintu sangat pelan.
Setelah sampai diluar kamar. Ia mengacak rambut nya frustasi.
"Bodoh kamu Dav!"
*****
Setelah kepergian Mr. Dav. Posisi Rio sama sekali tidak berubah. Masih memeluk Diandra dengan nafas yang memburu.
Kedua sudut Diandra terangkat. Tangan mungilnya mulai berani membalas pelukan hangat suaminya.
Menyenderkan kepalanya di d**a bidang Rio. Terdengar jantung Rio berdegup sangat kencang dan tidak beraturan.
Nafasnya pun terdengar tersengal sengal.
"Sudah ya kak marahnya"
"Diandra takut kalo kakak kaya tadi. Kejam banget"
"Mr. Dav kan lebih tua" cerocos Diandra menasehati Rio. Layaknya Rio seorang bocah yang sedang melanggar peraturan orang tuanya.
"Kamu bodoh!" Cerca Rio.
"Jangan pakai baju kaya begini lagi"
"Kakak nggak suka tubuh istri Kakak dilihat orang lain"
Hati Diandra menghangat. Jadi itu alasanya mengapa Rio marah besar. Ia tidak ingin tubuhnya terekspos oleh Mr. Dav. Haha... tapi itu sepertinya keterlaluan sangat.
"Tapi itu keterlaluan Kak"
"Mr. Dav udah tua. Nggak mungkin dia berpikir macem macem sama Diandra"
"Umurnya mungkin sebaya sama papi Diandra"
"Jangan berlebihan yaa"
Diandra mengusap usap punggung Rio. Memberikan ketenangan pada suaminya yang sedang marah besar.
"Ayo berenang?"
Kalimat itu muncul begitu saja dari mulut Rio. Membuat Rio langsung memejamkan mata. Jantungnya yang sudah normal kembali berdetak kencang.
Kepala Diandra mendongak. Menatap Rio yang juga sedang menatapnya.
"Apa kak gak denger"
"Huh lupakan. Nggak jadi!" Ketus Rio sembari melepaskan pelukanya.
Berjalan santai dan duduk di pinggiran ranjang. Diandra termenung sebentar kemudian mengikuti jejak Rio. Duduk bersebelahan dengan Rio. Menempel tanpa memberikan space sedikit pun.
"Apa kak? Sumpah gak denger tadi" ucap Diandra sok polos. Padahal ia mendengar apa yang dikatakan Rio. Diandra hanya ingin mengerjai suaminya saja.
"Lupakan aja. Sudah nggak mood"
"Eumm... kayanya kolam dibelakang itu bersih ya kak"
"Boleh nggak Diandra berenag disana?"
"Kasihan bikini Diandra udah lama nggak ke pake" ucap Diandra mencoba mengompori Rio.
Benar saja. Kepala Rio langsung memutar 90 derajat. Matanya menyiratkan ancaman yang sangat mengerikan. Tapi masa bodoh. Diandra tidak takut sama sekali.
"Mau pake apa tadi?"
"Bikini" jawab Diandra santai tanpa beban.
Sedangangkan Rio berusaha mati matian menahan amarahnya yang sudah di ubun ubun. Apa apaan memakai bikini? Ingin memberikan tontonan gratis?
"Nggak... nggak usah berenang"
"Alaahhh kan tadi kakak yang ngajak"
"Kan sudah Kakak bilang kalau Kakak nggak mood lagi" ketus Rio kembali melayangkan pandanganya kedepan.
"Yaudah"
Diandra merangkak ke atas kasur. Kemudian menyelimuti tubuhnya dari kepala sampai ujung kaki.
"Sana kakak keluar. Diandra marah sama kakak" teriak Diandra dibalik selimut.
"Oke!"
Rio keluar dari kamar.
Braak
Saat pintu sudah ditutup Diandra kembali bangun. Memejamkan matanya emosi.
"Orang marah bukanya dibujuk malah pergi benaran"
"SUAMI NGGAK PEKA"
"BERHATI BATU.. MANUSIA SETENGAH KULKAS!!"
"UNTUNG GANTENG.. UNTUNG KAYA... KALO NGGAK UDAH DIANDRA TENDANG TUH ORANG"
"LIHATLAH PEMBALASAN DARI DIANDRA!!"
*****
Rio duduk di sofa ruang tv. Memainkan ponselnya. Tidak memperdulikan tv yang sedang menayangkan Ftv recehan.
Rio menekan beberapa digit angka yang sudah sangat dihafalnya.
Menekan tanda hijau. Tak butuh waktu lama orang itu mengangkat telepon Rio.
"Hallo"
"Dira apa hari ini ada rapat?"
"Tidak tuan. Hari ini anda free"
"Sampai kapan?"
"Hanya hari ini saja tuan. Besok tuan harus menghadiri undangan pernikahan salah satu investor di Thailand"
Rio memijat pelipisnya yang berdenyut. Ia kira hari tenangnya akan berlangsung lama. Ternyata cuman hari ini. Susah jadi orang penting.
"Terima kasih Dira"
Bep
Rio mematikan sambungan telepon. Menyandarkan punggungnya di sandaran sofa. Mencoba merilex kan otot ototnya. Matanya memejam.
"Tu.... tuan" panggil Mr. Dav dari arah belakang.
"Hm" jawab Rio tanpa menghentikan aktivitasnya.
"No..nona Diandra"
"Kenapa dengan Diandra?"
Mr. Dav menggaruk tengkuknya. Sedikit takut untuk menyampaikan maksudnya.
"Dia sedang berenang menggunakan bi-"
Rio berdiri sehingga Mr. Dav menghentikan ucapanya.
Wajah Rio kembali menegang. Rasa kesal kembali menyergapnya.
"Anak itu benar benar"
Kemudian Rio berjalan ke kolam renang. Menghampiri sang istri yang sangat keras kepala.
*****
Di kolam. Diandra tersenyum gembira. Hamparan air biru nan jernih dihadapanya. Membuat rasa suntuknya menghilang seketika.
Air di dalam kolam itu sangat tenang dan sangat menggiurkan untuk dikunjungi.
Diandra melepaskan jubahnya. Tinggalah ia hanya dengan bikini berwarna pink dibadanya.
Sebentar ia melakukan pemanasan agar tidak keram saat berenang.
"Satu..."
"Dua..."
Pada hitungan kedua seseorang memanggil namanya. Sehingga ia tidak jadi nyebur.
"NONA"
"Kenapa Mr. Dav?"
"Saya mau renang" tukas Diandra sedikit kesal.
"Tuan Rio tidak suka perempuan yang memakai bikini"
"Biarin"
"Sudah Mr. Dav pergi aja. Nanti Rio marah lohh"
Mr. Dav hanya bisa mengangguk pasrah.
Diandra mengkibaskan rambut panjangnya kesal.
Baru saja Diandra ingin masuk ke dalam kolam. Gangguan kembali terjadi.
Tangan kekar menarik tanganya sehingga tubuhnya tertempel sempurna di d**a bidang orang itu.
Yahh dia Delrio Erlangga Darmawan. Siapa lagi yang berani seperti ini.
Diandra mendongak menatap wajah suaminya.
"Apa?" Tanya Diandra.
"Masuk!"
Diandra memutar bola matanya kesal.
"Nggak!! Diandra mau renang" tolak Diandra sembari berusaha melepaskan cekalan Rio. Namun hasilnya nihil. Tenaga Rio lebih kuat. Yahh jelaslah!
"Masuk sendiri atau kakak gendong"
"Gendong aja kalau bisa. Berat loh. Diandra udah gendut sekarang" ucap Diandra membanggakan berat badanya yang cukup ideal.
"Ngeremehin?"
"Yahh bisa dibilang begitu" balasnya.
"AAAA... TURUNIN KAKK!!!"
"DIANDRA TAKUT KETINGGIAN" Teriak Diandra sangat histeris saat Rio tiba tiba menggendongnya ala bridal.
"Nggak usah alay"
"Diandea lompat nihh dari gendongan Kakak"
"Biar kalo Diandra mati kakak jadi duda" ancam Diandra.
Rio menunduk menatap Diandra. Kedua sudut bibirnya terangkat. Tersenyum dengan gaya tengil.
"Nggak papa. Duda keren tajir kayak Kakak masih banyak yang mau" sombong Rio.
PLAK...PLAKK
Diandra memukuli d**a Rio histeris. Bisa bisanya suaminya berkata seperti itu. Kan tadi cuman bercanda.
Bibir Diandra sudah manyun beberapa centi. Tanganya ia lipat di depan d**a. Biar saja ia jatuh. Mati sekalian tidak apa apa.
Dalam hati Rio terkekeh. Lucu juga jika menggoda Diandra. Mungkin menggoda Diandra adalah salah satu hobinya sekarang. Hitung hitung buat ngilangin stres.
"Jangan liat liat!" Tegas Rio saat bertemu Clift salah satu anak buah Mr. Dav.
Clift segera mengalihkan pandanganya dan berlalu dari hadapan Rio setelah mengangguk sopan.
"Over protectiv!!" Cibir Diandra.
"Habis kamu sexy sih"
Plakk
"Aisshh" ringis Rio saat kepalanya ditampol oleh Diandra.
"Dasar m***m"
Rio tidak menanggapi perkataan Diandra. Berjalan lurus memasuki kamar.
*****
Tbc
Ini bener bener yabg terakhir gue post. Maaf yaa yg terakhir tapi jelek. Gue minta maaf. Semoga tetep setia yaa bca cerita gaje gue ini.
Dan maaf juga kalau ada yg kecewa sama perubahan sikap Diandra. Sekarang dia lebih kasar nggak lembut sorry yaaaaa