ILYMH - Pizza

2132 Kata
Rio mengetuk-ngetukkan bolpoin di dahinya. Kepalanya pusing sekali. Banyak sekali berkas berkas yang harus diperiksa sekaligus ditanda tangani. Ingin rasanya Rio meninggalkan tanggung jawabnya dan meraih cita cita yang Rio impikan sejak dulu. Yahh Rio ingin menjadi seorang polisi. Dulu Rio sekolah polisi. Namun karena Daddynya sudah mau pensiun. Terpaksalah Rio keluar dari sekolah polisinya. Dan kuliah di jurusan perbisnisan. KRIING...KRIING!! Rio mengangkat gagang telepon kantor yang berdering. "Hallo" "Pak ada seorang wanita yang ingin menemui bapak!" "Siapa?" "Maaf pak! Dia tidak ingin menyebutkan namanya" "Dia memaksa sekali Pak!" Rio menghela nafas.  "Tidak apa! Suruh masuk saja!"  "Baiklah Pak!" Kemudian Rio menaruh gagang teleponya. Belum sampai satu menit. Ketukan di pintu sudah terdengar. "Masuk!" Suruh Rio tanpa memandang pintu. Dirinya langsung berpura-pura memeriksa berkas yang menumpuk hampir 5 centi itu. Seorang wanita berkulit kuning langsat. Berambut sebahu dan memiliki tahi lalat kecil di atas bibirnya. Memasuki ruangan Rio dengan membawa sekotak pizza. "Hai Yo!" Sapa Bella.  Kepala Rio yang tadinya tertunduk langsung terangkat. Suara cempreng itu sangat familiar di telinganya. Bella duduk dihadapan Rio tanpa disuruh. Senyum terus mengembang dibibirnya yang dihiasi lipstick merah. Sedangkan Rio hanya melongo dan mengedip-ngedipkan matanya seperti orang bodoh. "Lo...lo..lo!!" Ucap Rio masih agak kaget. "Lo beneran Bella!" Bella mengangguk antusias. "Ya iyalah... emang muka kaya gue gini ada berapa di dunia!" Rio tertawa pelan. Bella tidak berubah masih sama seperti dulu. Ceria dan suka ceplas ceplos. "Udah selesai kuliah lo di Amerika?" Tanya Rio. "Udah lah! Lo kira gue g****k lama lama sekolah!" Sentak Bella kesal merasa diremehkan. Padahal Rio tau sekali bahwa Bella memiliki IQ di atas rata-rata.  "Haha canda kali sensi amat. Kaya banteng di Spanyol lo ah!" "Sialan lo Delrio!!"  Rio semakin gencar mengerjai Bella yang memang gampang sekali marah.  "Gimana udah nemu cowok bule belum?" Tanya Rio. Bella menggeleng sedih. "b******k semua Yo orang Amerika! Masa pacar gue mau merawanin gue. Yahh gue putusin lah! Emang gue cewek apaan!" Curhat Bella dengan emosi yang mengobar. "Mending gue sama lo aja Yo!" Rio terkejut sebentar. Kemudian kembali memasang tampang jahil. "Sorry gue udah ada yang punya" ucap Rio sombong. "Masih si wanita rubah itu!"  Rio menggeleng. Dia menampakkan senyum paling misterius yang ia punya. "Bukan! Ada baru lagi. Cantik dan masih seger" Tanpa sadar Rio telah memuji Diandra di depan Bella. Entah mengapa mulutnya ingin mengatakan itu. Walaupun hati Rio melarangnya. "Yahh ilang dong kesempatan gue buat jadi nyonya Darmawan! Heemm" "Yaelah cari yang lebih dari gue ada kali! Tuh si Rian masih setia nunggu lo! Masih jomblo dia"  Bella mendecak acuh. Rian mantan pacarnya yang sangat b******k dan tukang selingkuh. Saat ditinggal saja langsung insyaf hhh.. "Apaan dih! Jijik gue sama dia!" "Lo jomblo dia juga jomblo kenapa enggak? Toh dia udah insyaf jadi player!" Jelas Rio yang memang merasa kalau sikap Rian sekarang sudah berubah. Tidak pernah main perempuan dan rajin beribadah di masjid.  "Gue bukan jomblo!!! Gue single" Teriak Bella tidak terima. "Apa bedanya kali?"  "Bedalah Yo! Jomblo itu nggak laku. Kalau single masih cari yang terbaik!"  Rio mengacak rambut Bella. Bella juga masih sama seperti yang dulu. Masih pinter ngeles kaya bajaj. "Bisa aja lo!"  "Oh iya apaan nih?" Tanya Rio melihat sekotak pizza di depanya. Walaupun sudah tau isinya. Dia masih nanya. Basa basi saja. "Oh sekarang lo udah gak bisa baca tulis ya! Gue heran deh lo bisa juara kelas terus. Ini PIZZA Tulisanya udah gede gede juga!"  "Ngetes doang sih ah!"  "Cie masih aja tau kesukaan gue!"  Rio membuka tutup pizza. Sehingga pizza bertopingkan keju mozarela itu terpampang jelas di hadapan Rio. Masih hangat dan sangat menggiurkan untuk masuk kedalam perut. "Ittadakimas!"  "Najis! Sok Jepang! Padahal lahir di kolong jembatan fly over!"  Rio terkikik geli. Menonjol pelan dahi Bella menggunakan telunjuknya. Kemudian mereka asik mengunyah pizza. Sampai habis tak bersisa.  ***** Michel menatap gemas ke arah jendela. Bel pulang sudah berbunyi. Tapi dia masih berada di ruangan kelas sendirian.  Zelo, Zela, dan Bulan sudah keluar duluan. Kini Michel sedang bediri di jendela kelasnya yang persis menghadap ke gerbang. Agak jauh sih tapi aktivitas murid murid yang akan pulang terlihat jelas oleh Michel. Michel menundukkan pandanganya. Tanganya mengepal erat.  Disana dia melihat orang yang dari tadi ia hindari. Yahh Diandra siapa lagi. Sekarang dia sedang berada di bawah pohon pinang sendirian. Mungkin dia tidak membawa mobil.  Ditanganya ia sibuk memainkan ponsel dan asik menelpon seseorang. Sepertinya! Michel meremas tanganya semakin kuat. Kakinya terasa gatal ingin menghampiri Diandra. Tapi rasa marah dan egonya lebih besar untuk saat ini. Sebuah mobil sport mewah berwarna merah terang berhenti tidak jauh dari Diandra berdiri. Mata Michel memicing saat seorang pria berstelan kantoran keluar dan bersandar di mobilnya. Saat diperhatikan lebih serius lagi. Ternyata pria itu mengawasi Diandra sambil berbicara di telepon. Michel lebih memfokuskan pandanganya kembali. Wajah pria itu tidak asing baginya. "b*****t! Itu cowok Diandra!" Umpat Michel saat sudah mengingat siapa pria itu. ***** Diandra melambaikan tanganya kepada Bulan, Zela, dan Zelo yang mobilnya sudah bergerak meninggalkan Diandra. Tinggalah Diandra sendiri. Karena bosan Diandra memainkan ponselnya. Bermain talking angela untuk mengusir kebosananya. Drtt..drt.. Diandra menatap layar ponselnya. Berdecak acuh lalu segera mematikanya. Drt...drt.. "Aduh nih om om niat banget sih ah!" "Biarin aja deh!"  Diandra mengabaikan panggilan dari Rio. Masih kesal sama manusia purba dingin itu. Drt..drt.. Diandra menggeram frustasi. Merasa terganggu.  "Hallo apa sih om?!" Ucap Diandra kesal. "Dimana?"  "Di neraka!"  "Oh!" Diandra menggigit bibirnya kesal. Setelah bertanya suami gantengnya hanya menjawab sesingkat itu.  "Ya!" "Di sekolah kan lo? Kakak jemput ya!" "Nggak usah! Bang Minion udah Diandra telpon!" "Dia nggak bakal dateng. Anaknya masuk rumah sakit" Diandra mendecak. Padahal baru beberapa menit yang lalu ia menelpon Bang Minion. Tapi main cancel aja. Emang nggak bisa apa sakitnya dipending.  "Yasudah jemput!" Ucap Diandra menurunkan harga dirinya. "Maaf udah nggak bisa! Kakak ada rapat!"  Sekali lagi Diandra menggigit bibirnya. Memejamkan matanya sebentar. Menekan emosinya yang sudah naik di ubun ubun. "Oke!" "Tengok belakang gih!" "Ogah!" "Cepet" Diandra pun akhirnya membalik badanya malas malasan.  Matanya membulat saat melihat sosok pria tinggi berkulit putih dengan setelan kantor. Bersender di mobilnya sambil menelpon. "Sini!"  Kaki jenjang Diandra menghampiri pria yang tidak lain dan tidak bukan adalah Rio suaminya. Rio menyunggingkan senyum termanis yang ia punya. Walaupun di mata Diandra tidak ada manis manisnya sama sekali. Masih tetap dingin dan hambar. "Ini udah nggak dibutuhin lagi!" Rio menurunkan ponsel Diandra yang masih ditempelkan ditelinganya. "Kok kakak bisa ada di sini? Katanya mau rapat" tanya Diandra kebingungan. "Ya ini rapat! Rapat sama kamu. Istrinya Kakak" jawabnya dingin. Diandra mengangguk saja. Menggigit bibir bawahnya keras supaya tidak menyunggingkan sebuah senyuman.  Sekarang Diandra sudah tidak kesal lagi. Saat melihat kejutan kecil dari sang suami kekesalanya menguap begitu saja. Digantikan dengan perasaan yang entahlah... sulit dijabarkan menggunakan kata kata. "Masuk!"  Rio masuk duluan ke dalam mobilnya. Diikuti Diandra. "Pasang seat-belt!" Suruh Rio namun pandanganya lurus kedepan. "Iya iya bawel!" Gerutu Diandra sambil memasang seat-belt. Perlahan mobil bergerak meninggalkan pelataran sekolah. ***** Di dalam mobil hening. Tidak ada yang berniat membuka suara.  Rio yang fokus menyetir. Dan Diandra yang asik menonton anime di youtobe. Semua asik dengan dunianya sendiri. "Mau makan?" Tanya Rio memecah keheningan. Diandra tidak bergeming. Film nya terlalu asik untuk dilewatkan barang sekejap.  "Mau makan?" Tanya Rio untuk yang kedua kalinya. Masih sama.. tidak ada respon dari Diandra. Gadis itu malah menggigiti kukunya dan tersenyum-senyum sendiri. Tamako Love Story. Dia sedang menonton itu.  "Diandra!" Sentak Rio keras. "Hmmm..." jawab Diandra hanya dengan sebuah deheman yang tidak berarti. "Siniin!"  Rio merebut ponsel Diandra secara paksa. Melemparkanya ke jok belakang. Diandra hanya bisa melongo saja. Dan mencebikkan bibir kesal. "Kaaakk!! Kenapa hp Diandra dibuang?" Tanya Diandra. "Kenapa gak suka? Marah?" "Nyebelinn tau nggak!" Ucap Diandra membuang pandanganya keluar jendela. Ternyata diluar sedang turun hujan rintik-rintik. "Suami kamu tuh siapa? Kakak atau hp?"  Diandra memalingkan wajahnya ke arah Rio. Memberikan tatapan tidak sukanya. Itu sebuah pilihan yang benar benar tidak bisa dipilih.  "Ya.. yaa.. su..suami Diandra it..ttu kakak" serah Diandra saat Rio melihatnya. Daripada diturunkan ditengah jalan. "Mampir ke toko pizza ya? Kamu suka kan?" Diandra mengangguk pelan. Di dunia ini siapa coba yang tidak menyukai roti pipih bulat itu. Rasanya sangat lembut dan arghss.. sulit dijabarkan menggunakan kata kata.  JEDAAAR!!!  Tiba tiba suara petir menyambar dengan suara yang sangat menggetarkan telinga. Diandra menutup telinganya dan memejamkan matanya kuat-kuat. Sungguh Diandra sangat takut mendengar suara petir. JEDAAAR!!! "KAK RIOOO!!!"  Diandra menghambur kepelukan Rio. Bersembunyi di bawah ketiak sang suami. Mulutnya tidak henti-hentinya mengeluarkan isakan-isakan ketakutan. "Kak aku tak..takut" Ucap Diandra lebih mengeratkan pelukanya pada tubuh Rio. Rio yang mendengar sang istri terisak segera menepikan mobilnya. Untung jalanan sepi jadi Rio bisa parkir sesuka hatinya. "Udah nggak apa apa" ucap Rio mengelus puncak kepala Diandra. "Kak..peluk!"  Rio yang memang tidak membalas pelukan Diandra termenung sebentar. Lalu menggerakkan tanganya ragu melingkarkanya di punggung Diandra. Mengusapnya pelan memberikan ketenangan pada Diandra yang benar benar ketakutan. Tubuh Diandra bergetar dan menegang. "Jangan takut ada kakak disini"  Rio menumpu kan dagunya di kepala Diandra. Berulang kali ia menghela nafas panjang lalu membuangnya.  Sedangkan Diandra masih terisak-isak di dalam pelukanya. Diluar hujan mereda. Begitu pula tangisan Diandra yang juga ikut mereda. Rio menarik Diandra untuk menjauh dari tubuhnya. Rio menatap wajah Diandra yang sembab dan berantakkan sekali. Diandra berupaya mengusapi bekas-bekas air matanya. Sangat memalukan menangis di depan Rio. Di dalam hati Diandra menggerutu kesal. Bagaiamana mungkin dirinya menunjukkan kelemahanya pada seorang Rio. Dan apa ini! Diandra yakin sekarang wajahnya sangat jelek sekali. Kata Kak Arkan Diandra selalu jelek saat sedang menangis. "Takut?" Tanya Rio sembari mengusap air mata yang berada di ujung mata Diandra. Diandra mengangguk pelan. Dari kecil Diandra memang mempunyai fobia pada petir. Apalagi petir yang disertai kilat. Diandra sangat takut. "Diandra!" Panggil Rio sangat lembut. "I..iya kenapa?" Jawab Diandra gugup tanpa menatap Rio. Wajahnya terlalu jelek sekarang untuk ditunjukkan pada pria tampan disampingnya. "Nggak apa-apa manggil aja" jawab Rio enteng.  "Nyebelin!"  Setelah itu Rio kembali melajukkan mobilnya ke toko pizza terdekat. ***** Seorang pelayan wanita mendatangi meja Rio dan Diandra. Wajahnya cukup cantik dengan kulit eksotisnya. Rambutnya yang berwarna pirang digelung sehingga memperlihatkan leher jenjangnya. Body nya sangat waw dan membuat Diandra terpelongo. "Ini pelayan atau pramugari?" Batin Diandra bertanya-tanya. Pelayan itu meletakkan buku menu di hadapan Rio dan Diandra. Namun matanya tidak lepas menyorot Rio yang asik membaca buku menu bersama Diandra tentunya. "Pizza mozarella!" Seru Diandra dan Rio berbarengan. Keduanya saling menatap dengan tatapan yang entahlah. Sedetik kemudian mereka tertawa merutuki kekonyolan masing-masing. "Kamu suka pizza mozarella juga?" Tanya Rio. "Iya kak. Nggak nyangka kesukaan kita sama"  "Minum apa? Kali ini jangan sama!" Tanya Rio was-was.  Pandangan Diandra menyusuri buku menu. Mulutnya komat-kamit membaca nama-nama minuman yang semua ia sukai.  "Hot dark chocolate aja"  "Kalau saya coffe latte!"  Si pelayan langsung menulis pesanan Diandra dan Rio. Setelah itu ia mengambil buku menu. Namun ia tidak segera beranjak dari situ. "Mas.. mas boleh minta foto nggak?" Ucap pelayan itu. Rio menolehkan kepalanya 90 derajat menatap pelayan itu yang tersenyum sok manis. "Maaf saya bukan artis!" Tolak Rio. "Tapi mas mirip sama artis Korea loh. Lee Min Ho"  "Maaf saya tidak perduli!" Diandra meremas tanganya di bawah meja. Menundukkan kepalanya dalam berusaha menahan tawanya yang ingin meledak. "Ayolah mas!" Paksa pelayan ganjen itu. "Minta izin dulu sama dia" Rio menunjuk Diandra menggunakan dagunya. Diandra mengangkat kepala. Menatap Rio bingung. "Dek ini kakak kamu kan? Boleh ya mbak foto sama kakak kamu?"  Diandra melebarkan matanya kesal. Kakak dari hongkong orang Rio suaminya dibilang kakaknya. "Silahkan!"  Rio menendang pelan kaki Diandra yang ada dibawah kursi. Memberi isyarat bahwa Rio  tidak menyukai penerimaan Diandra. "Fotoin ya dek!"  "Saya belum habis ngomongnya mbak" "Maksud saya silahkan pergi dan ambil pesanan saya!" Ucap Diandra tegas. Pelayan itu berdecih kesal lalu pergi mengambil pesanan. "Sejak kapan pinter ngelawak?" Tanya Rio datar. "Siapa yang ngelawak. Memang aku sule apa?"  Rio mengangkat bahunya. "Sedikit mirip sih" PLAAKK Rio meringis kesakitan saat sebuah tas melayang ke kepalanya. "AKU NGGAK MIRIP SULE! MBAK MBAK ITU YANG MIRIP SULE! SAMA-SAMA BUCERI!" teriak Diandra. Mereka sekarang jadi sorotan seluruh mata yang ada di toko pizza ini. Ada yang memandang takjub. Ada juga yang memandang ngeri. Iyalah siapa yang tidak ngeri. Gadis cantik bak bidadari menabok pria dengan sadis. Bahkan jika dilihat lihat wajah Diandra yang kalem dan anggun itu tidak akan mungkin melakukan hal itu.  Tapi kenyataanya... sudahlah! "Apa itu buceri?" Tanya Rio. Diandra menatap Rio tajam. "Bule ngecat sendiri" Rio terkekeh pelan lalu mengacak rambut Diandra. "Kata-kata darimana itu?" "Biasanya orang kepo nggak selamat dunia akhirat loh" "Oh iya!" Seorang pelayan pria menaruh dua pizza berukuran jumbo di atas meja Diandra dan Rio. Disusul Hot dark chocolate dan coffe latte. Pelayanya sekarang sudah ganti. Mungkin dia malu sudah ditolak mentah mentah. Kemudian mereka makan dalam hening. Larut dengan kelezatan pizza dan larut dalam fikiranya masing-masing. ***** Tbc Hay mumpung hari ini gue libur jadi gue post deh  SEMOGA SUKA YA KAWAN KAWAN
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN