Diandra menghabiskan dua porsi pizza mozarella berukuran jumbo. Bahkan pizza Rio yang tidak habis di embat juga sama Diandra.
Begini jadinya saat Diandra tengah tanggal merah. Nafsu makanya berubah menjadi tinggi dan tidak terkontrol. Apalagi jika sudah menemukkan makanan yang berupa roti-rotian. Rasanya Diandra tidak ingin berhenti mengunyah.
Rio hanya bisa menggeleng-geleng kepala. Diandra mempunyai badan yang mungil. Namun perutnya seperti karet. Muat menampung banyak makanan.
"Sudah?" tanya Rio saat Diandra menyeruput limun dinginya. Entah minuman yang keberapa limun itu. Heran sendiri Rio jadinya.
"Sudah kak!"
"Kenyang kak"
Rio mendecak keras. Bagaimana mungkin Diandra hanya bilang kenyang. Mungkin kalau Rio jadi Diandra perutnya sudah meledak di tempat. Memakan dua potong saja Rio sudah merasa kenyang.
"Ayo pulang" ajak Diandra.
"Bayar dulu!" Rio menarik tangab Diandra yang hemdak berdiri. Namun terlepas. Gadis kecil itu terlalu lincah.
"Daghh kakak yang bayar!"
Diandra melambaikan tanganya pada Rio dan berjalan keluar toko. Meninggalkan Rio yang terlihat menggeleng.
Rio berjalan ke kasir. Membayar seluruh pesananya yang lumayan banyak.
*****
Diandra menarik pintu mobil. Tapi sialnya pintunya terkunci. Akhirnya Diandra berdiri bersandar saja.
Jam sudah menunjukkan waktu 16.00 sudah cukup sore bagi siswi SMA yang belum pulang kerumah. Masih memakai baju seragam. Kini Diandra terlihat seperti siswi yang tidak baik-baik.
Rio keluar dari toko dan berjalan dengan wajah datar ketempat Diandra. Ralat mobilnya.
Rio melewati Diandra tanpa menyapa bahkan melirik. Ia langsung masuk ke dalam mobil. Diandra hanya termenung ditempat. Menggeram kesal.
"Masuk atau kakak tinggal!" Seru Rio dari dalam mobil.
Mulut Diandra komat-kamit menirukan ucapan Rio. Sesekali tanganya mengepal dan meninju-ninju wajah Rio dari luar kaca.
"Satu!"
"Iya iya ini masuk"
Lantas Diandra masuk kedalam mobil. Menutup pintu mobil agak kasar. Menimbulkan suara berdebam yang menggetarkan mobil. Sungguh jika ia lupa kalau sekarang dia menjabat sebagai istri Rio. Mungkin tasnya sudah ia layangkan ke kepala Rio. Diandra takut dosa dan kualat. Yaah walaupun tadi Diandra sudah melakukannya.
Maafkan aku ya Tuhan
Mobil bergerak perlahan. Jalanan cukup macet sore ini. Karena berbarengan dengan karyawan kantoran yang mendambakan ruman mereka.
Guratan-guratan jingga sudah mulai terbentuk di langit. Sedikit gelap sepertinya akan turun hujan kembali. Diandra menghembuskan nafasnya lelah. Disandarkan tubuhnya kebelakang. Memejamkan matanya. Lalu tertidur.
Rio yang mendengar dengkuran halus di sampingnya. Menoleh ke Diandra.
Senyuman yang sangat samar ia sunggingkan. Tangan kirinya membelai lembut puncak kepala Diandra. Membuat Diandra semakin nyenyak dalam tidurnya.
"Have a nice dream my princess"
*****
"Putri tidur bangun!" Bisik Rio tepat di telinga Diandra.
Diandra menggeliat dan mengucek-ucek matanya. Mulutnya menguap lebar. Saat itu juga Rio menutup mulut istrinya. Sedangkan Diandra salah tingkah dan menggaruk pipinya yang tidak gatal.
"Lama banget tidurnya" rajuk Rio.
"Kaya snow white"
Diandra terkikik geli. Tidak menyangka bahwa pria dewasa macam Rio pernah menonton kartun disney snow white. Demi spongebob yang nyembah dewa neptunus. Diandra ingin tertawa sekarang juga.
"Kenapa? Muka kamu kok merah." Tanya Rio heran.
"Nggak apa-apa!"
"Biasanya sih perempuan kalo bilang nggak apa-apa pasti ada apa-apa!" Paksa Rio yang sudah tau jalan fikiran seorang wanita. Rio tidak habis fikir dengan wanita. Terlalu aneh untuk dimengerti. Dan wanita suka memaksa pria untuk terus-terusan peka. Memang para pria dukun apa! Disuruh menebak-nebak isi hati wanita.
"Nggak apa-apa kak. Cuman masih ngantuk aja" ucap Diandra tidak sepenuhnya berbohong. Dia memang masih sangat mengantuk.
Rio memasang senyum misterius lalu perlahan tubuhnya mendekati Diandra. Tentu saja Diandra ketakutan. Ingin berlari tapi itu konyol dan malu-maluin.
Bagaimana ini?!
"KYAAAAA!!!!"
Tidak ada ciuman seperti yang dibayangkan Diandra. Ternyata Rio menggelitiki perutnya. Bagaimana Rio bisa tau kalau kelemahanya adalah dikelitiki di bagian perut.
Tangan Rio tidak henti-hentinya menggelitiki Diandra. Membuat Diandra menjerit-jerit kegelian. Ia berusaha lepas namun badanya sudah terlanjur lemas.
"Kak Rio udah dong.. haha"
"Ini hukuman!" Ucap Rio terdengar sangat mengerikan di telinga Diandra.
Keduanya berhenti saat kecapaian. Udara di mobil menjadi panas. Ac yang masih menyala sama sekali tidak ada efeknya di kulit mereka.
Nafas Diandra menderu diiringi degupan jantungnya yang berdetak dua kali lebih cepat. Bahkan empat kali lebih cepat.
Tidak jauh beda dengan Rio. Nafasnya memburu. Peluh berjatuhan di keningnya. Anak-anak rambutnya yang basah menjuntai di dahi Rio. Sekarang Rio terlihat berantakkan. Tapi sialnya ia menjadi lebih sexy dan tampak sangat liar.
Mata Rio yang tajam menyorot mata Diandra yang teduh. Keduanya saling bertatapan. Bibir Diandra bergetar menahan rasa gugup yang tiba-tiba datang melanda.
Ingin ia memalingkan wajahnya. Tapi pemandangan Rio yang berantakkan ini begitu langka dan mungkin tidak akan Diandra lihat lagi. Ini tidak boleh disia-siakan.
"Diandra!" Ucap Rio parau.
"Apa"
"Kamu tau apa persamaan kamu sama bintang?"
Diandra menggeleng lemah. Ibu jari Rio terangkat dan mengelus pipi Diandra seringan bulu. Mata Diandra terpejam menikmati sentuhan Rio. Rasanya ia ingin kembali tidur.
"Kamu sama bintang sama-sama bersinar. Kamu cantik sama kaya bintang dilangit itu" Rio menunjuk bintang dilangit yang terang sendiri dibandingkan bintang-bintang yang lain.
Merinding! Bulu kuduk Diandra merinding. Baru kali ini Diandra di gombalin dan terasa sangat menjijikkan sekaligus menyenangkan. Apakah ini yang dirasakan Bulan saat Zelo selalu menggombalinya. Pantas saja Bulan selalu marah-marah. Tapi kenapa Diandra tidak bisa marah pada Rio.
"Kakak..." ucap Rio terbata-bata. Wajahnya memerah dan matanya bergerak gelisah.
Diandra tersenyum ringan. Menggenggam tangan Rio erat. Terasa sangat dingin dan kaku. Diandra semakin erat menggenggam tangan suaminya. Mentransfer kehangatan yang ia punya.
"Kenapa kak ngomong aja" ucap Diandra sangat lembut.
"Kakak pengen cium."
Diandra melotot lalu menundukkan kepalanya dalam. Tidak berani menatap suaminya yang ternyata menginginkan ciuman darinya.
"Boleh kak" jawab Diandra malu-malu.
"Tapi sebentar aja ya kak. Lima menit!"
Rio mengangguk antusias. Biar lima menit kek? Satu menit kek? Bahkan satu detik pun Rio jabanin. Yang penting bisa menghilangkan rasa hausnya.
Perlahan wajah Rio mendekat. Nafas hangat Rio menyapu permukaan wajah Diandra yang memerah.
Segera saja keduanya saling menutup mata.
Cuuup_
Rio menempelkan bibirnya pada bibir Diandra. Memagutnya pelan dan penuh kelembutan.
Entah sejak kapan tangan Diandra sudah melingkar ke leher Rio.
Keduanya larut dalam ciuman lembut itu. Sampai lebih dari waktu yang dijanjikan. Keduanya masih asik dan tidak perduli dunia luar. Padahal status mereka masih di dalam mobil yang terletak di pelataran rumah.
Rio melingkarkan tanganya pada pinggang Diandra. Merengkuhnya erat dan terasa protektiv.
Saat pasokan oksigen sudah menipis barulah Rio melepaskan pagutanya. Bibir Diandra terlihat membengak dan memerah.
Rio menyelipkan rambut Diandra kebelakang telinga. Mengecup kening Diandra singkat namun dalam.
Diandra memegang dadanya yang ingin melompat keluar. Kecupan di dahinya begitu membuatnya senang dan merasa dicintai oleh Rio.
"Terima kasih" ucap Rio.
"Boleh aku peluk kakak?" Tanya Diandra takut-takut.
Rio mengembangkan senyumanya. Dengan senang hati ia membuka lebar tanganya. Merasa mendapatkan izin Diandra menubruk d**a Rio. Melingkarkan tanganya di pinggang Rio yang terasa keras dan padat.
Rio mengusap puncak kepala Diandra. Memejamkan matanya dan menikmati setiap detiknya moment berharga ini.
"Jantung gue ini kenapa ya?"
*****
Suasana pesta pernikahan pewaris tunggal Gerbino corp terlihat sangat mewah dan elegan. Dengan dekorasi yang di d******i warna putih.
Semua tamu undangan pun memakai baju berwarna putih. Menyesuaikan dress code pernikahan ini. Dress code pun sudah dituliskan di dalam undangan.
Tapi sialnya Rio tidak membaca itu. Sehingga sekarang ia memakai setelan jas berwarna hitam. Begitupun dengan Diandra.
Di dalam mobil Rio merasa cemas. Ingin keluar tapi sangat malu. Pasti mereka akan menjadi sorotan di dalam. Tapi kalau pulang tanggung sekali. Sudah jauh-jauh dari Jakarta ke Bandung. Rugi BBM dong!
"Kak Rio nggak masuk?"
"Ayo!" Rio menggenggam tangan Diandra. Namun Diandra melepaskanya.
"Nggak kak. Kata kakak kan aku disuruh nunggu di mobil"
Rio mengepalkan tanganya frustasi. Gadis kecil di depanya ini begitu polos dan lugu. Sampai tidak bisa membedakan mana yang serius dan mana yang bercanda.
"Kakak tadi cuman bercanda"
"Masuk aja sendiri kak. Malu!"
Rio mulai marah. Ia memukul stir keras. Diandra berjengit kaget.
"JANGAN BUAT KAKAK MARAH! IKUT KAKAK MASUK! ATAU KAKAK SERET!" bentak Rio.
Diandra tertegun. Mana Rio yang lembut tadi. Kenapa sekarang Rio berubah galak seperti ini.
Sekuat tenaga Diandra menahan tangisanya. Ia mengangguk pelan dan keluar dari dalam mobil. Benar saja semua mata langsung tertuju pada Rio dan Diandra.
Jujur saja Rio saat ini sangat malu sekali. Apalagi dengan adanya Diandra. Rio seprti membawa anaknya ke kondangan. Mereka tidak tampak seperti pasangan suami istri.
Saat Diandra ingin menggamit lengan Rio. Dengan cepat Rio menepisnya.
"Bilang kalo kakak, kakak sepupu kamu!" bisik Rio sangat pelan.
Ribuan jarum tumpul terasa menusuk di hati Diandra. Air matanya meleleh keluar. Namun dengan cepat ia menghapusnya.
Ia memaksakan senyuman saat bersalaman dengan pengantinya.
"Istrimu Rio? Dia cantik banget." puji pengantin wanita.
Rio menoleh ke arah Diandra sebentar.
"Ehehe.. bukan Na. Ini sepupu biasa nggak ada partner daripada dikatain jomblo." Kekeh Rio santai.
PYAARRR
Petir terasa menyambar Diandra. Badanya membeku dan kepalanya pusing.
Mana ada sih kakak dan adik yang berciuman. Keterlaluan!
"Maaf kak aku ketoilet dulu" tanpa menunggu jawaban Rio Diandra melesat pergi ke kamar mandi.
Sesampainya di sana. Ia menumpahkan semua kekesalanya. Mengeluarkan semua air matanya. Dadanya sesak dan air matanya tidak ingin berhenti.
Baru beberap jam yang lalu Rio membuat Diandra melayang dengan perlakuan lembutnya. Namun sekarang Rio menjatuhkan Diandra begitu saja. Menyadarkan Diandra bahwa Rio tetaplah Rio! Rio yang kejam dan dingin. Mungkin tadi sore hanya bonus buat Diandra.
"Ih gila ngapain gue nangisin Rio! Huft lo kuat Dii" ucap Diandra sambil mencuci wajahnya.
Diandra kembali pada Rio dengan kepala mendongak tidak tertunduk seperti tadi.
"Kok lama?" Tanya Rio. Raut wajahya terlihat cemas. Namun maaf maaf saja. Diandra sudah tidak bisa ditipu lagi. Cukup sekali!
"Oh tadi ada yang ngajak kenalan" jawab Diandra berbohong.
"Siapa?"
"Emm..emm"
"SIAPA!" bentak Rio.
"Gue!" Seorang cowok berwajah India mendatangi Rio.
Mata Diandra membulat Apa yang dikatakan pria ini.
"Lo cari mati deketin dia?" Desis Rio.
"Ngapain bro cari mati. Gue masih belum bahagia."
"Trus memangnya kenapa kalo gue deket-deket dia? Ada masalah?" Tanya pria itu.
Diandra menggigit bibirnya kuat. Mungkin sebentar lagi akan ada perang dunia ketiga.
"Jangan deketin dia lagi!" Desis Rio tajam dan dingin.
Wajahnya terlihat santai. Namun suaranya terlihat marah dan kejam.
"Gue suka dia!"
"Oke!" Rio berjalan menjauhi Diandra dan pria itu.
Diandra menundukkan kepalanya. Dunia terasa berputar-putar. Pandanganya memburam tertutup oleh air mata.
Pria asing itu mendekati Diandra. Meremas pundak Diandra yang bergetar.
"Udah dia cowok b******k nggak usah ditangisin!"
Diandra bukanya tenang malah semakin terisak. Hatinya sangat terluka.
BRAAAKK!!
Dengan kecepatan yang tidak dapat dihitung menggunakan stopwatch. Rio menonjok wajah pria asing itu sampai tersungkur di lantai.
"Gue belum selesai ngomong b******k. Maksud gue oke jauhin dia! Gue pergi mau ambilin minum buat dia" ucap Rio tenang tanpa intonasi.
"Ini minum!" Rio menyodorkan segelas jus jeruk pada Diandra yang menangis.
Entah sejak kapan orang-orang kepo sudah mengerumuni Rio, Diandra, dan pria asing.
"Ayo pulang!" Rio menarik tangan Diandra paksa. Menyeretnya sampai menuju parkiran.
*****
Sesampainya dirumah Diandra segera masuk kedalam kamar. Mengambil boneka keropi kesayanganya.
Malam ini ia ingin tidur di kamar bawah. Hatinya masih sakit jika tidur bersama dengan Rio.
Rio menahan tangan Diandra. Namun Diandra memghempaskanya begitu saja. Berlari meninggalkan Rio.
Rio mengacak rambutnya frustasi.
"Gue udah keterlaluan!"
"b*****t LO DELRIO!"
*****
TBC
MAAF TENGAH MALAM. TADI MAU POST TAPI ADA KENDALA. JADI YAH GAGAL DEH.
MAAF YA JIKA PART INI NGGAK ADA FEEL NYA. MAAF BAGI YANG KECEWA! GUE LAGI BAD MOOD BANGET INI !
ARGHSS MAAF YA