21.00 kamar Rio. Rio duduk dipinggiran ranjang. Matanya menatap kosong ke arah depan. Berulang kali ia menghela nafas. Tanganya ia kepalkan kuat-kuat. Sampai buku-buku jarinya memutih.
Rahangnya menegas dan matanya terasa panas.
"Sial! Sial! Sial!" Maki Rio yang ditunjukkan pada dirinya sendiri.
"g****k lo Delrio. b******k lo! Mati aja lo!"
"Arghhsss"
PYAAARR!!
Gelas yang berada di atas nakas dilempar oleh Rio. Sehingga menimbulkan suara pecahan yang memekakkan telinga.
"Delrioo!!! Kenapa lo nyakitin Diandra sihh!"
"Gue harus minta maaf! Harus!"
Kemudian Rio beranjak dari kamarnya. Berjalan tergesa ke lantai bawah. Ingin menemui Diandra yang tidur di kamar tamu.
*****
Kamar Tamu. Semenjak masuk kamar sampai sekarang. Air mata Diandra terus mengalir seakan kelenjar air matanya sedang bocor.
Ia membaringkan tubuhnya tengkurap. Memukuli boneka keropinya yang sama sekali tidak bersalah. Saat ini Diandra sedang butuh pelampiasan. Jika saja disini ada samsak tinju. Diandra akan memukuli nya. Mengibaratkan samsak itu adalah Rio.
"Hiks... Mami Diandra mau pulang" isak Diandra.
Nafasnya sudah mulai sesak karena terlalu banyak menangis. Penampilanya juga sangat berantakkan. Sepatu high-heels yang masih melekat dikakinya. Gaun yang masih melekat ditubuhnya. Semuanya serba berantakkan.
"Diandra benci Kakak!"
"Kakak kaya banci!"
"Kakak bentak Diandra di depaj banyak orang. Hiks.. Dii kan malu."
"Emang nya hati Diandra mati rasa apa! Udah nggak diakui sebagai istrinya. Tapi dia marah kalo ada cowok yang ngaku suka sama Diandra."
"Cowok kulkas! Nggak punya perasaan."
"Hiks.. hiks.. Mami!"
Air mata Diandra kembali lolos. Kepala Diandra menyuruk ke tumpukkan bantal. Meredam isakan tangisnya yang sangat fals.
DRRTTT...DRTT...
Diandra mengangkat kepalanya. Mengambil ponselnya yang berdering di atas nakas.
Segera ia hapus air matanya. Menarik nafas dalam-dalam kemudian menghembuskanya. Ia tidak boleh menunjukkan bahwa ia sedang menangis. Bisa dibunuh nanti Rio.
"Hallo kak" Sapa Diandra pada orang yang menelfonya yang tidak lain adalah Rizkan kakak Diandra.
"Lagi apa sayang? Udah makan belum? Udah ngerjain pr belum?"
Diandra tersenyum. Kak Rizkan sama sekali tidak berubah. Sangat perhatian dan memanjakan Diandra. Seandainya saja sifat Rio seperti Kak Rizkan. Barokah hidup Diandra.
"Arghhss kok Rio lagi sih! Stop it Diandra cantik! Gak usah fikirin cowok kulkas!"
"Lagi tiduran aja kak"
"Semua udah Diandra lakuin bos!"
Terdengar suara kikikkan disebrang sana.
"Gimana? Rio baik nggak Dii?"
Hadeuuhh Kak Rizkan sangat tidak tau sikon. Setiap nama Rio disebut rasanya air mata Diandra ingin keluar.
"I...iya kak"
"Kamu sakit? kenapa suaranya serak seperti kodok hehe"
"Alhamdulillah Diandra sehat-sehat aja kok. Cuma agak flu aja"
"Tuh kan! Cepet minum obat yah. Besok pulang kuliah kakak mampir kerumah kamu"
"Oke kak!"
"Yasudah kakak tutup dulu. Langsung tidur ya! Jangan begadang! Kalau Rio minta jatah jangan dikasih haha"
Dahi Diandra berkerut. Minta jatah? Maksudnya apa ya? Diandra sama sekali tidak faham.
"Emm maksudnya apa ya kak? Diandra nggak ngerti"
"Nggak sayang lupakan saja. Assalamu'alaikum. Have a nice dream my princess"
"I love you!"
"Me too Kak Rizkan"
Bep
Sambungan telepon diputus. Sekarang Diandra jadi galau kembali.
TOK...TOK!
Diandra menatap nanar pintu. Pasti yang mengetuk Rio. Bagaimana ini? Diandra masih belum siap bertemu Rio. Takutnya nanti Diandra malah menyerang Rio.
Jemari Diandra saling bertautan. Matanya bergerak-gerak gelisah. Menatap pintu. Menatap jendela. Menatap pintu. Menatap jendela. Begitu terus sampai muminya fir'aun jalan-jalan ke piramid.
"Diandra Kakak boleh masuk!" Rio bersuara.
Ceklek
Mata Diandra membulat saat bertemu pandang dengan Rio. Keadaan Rio tidak jauh beda dengan dirinya. Sama-sama sangat berantakan.
Kemeja yang kancingnya terbuka sampai setengahnya. Yang tadinya kemeja masuk kedalam celana. Sekarang keluar nampak seperti preman sekolahan yang selalu ditegur guru bk.
Namun tatapan itu tidak berlangsung lama. Diandra segera mengalihkan pandanganya. Takutnya jika menatap Rio terlalu lama. Ia akan menangis kembali. Dan Diandra sama sekali tidak suka menangis di depan Rio. Itu semakin membuat Rio berbuat semena-mena padanya.
Kuat!! Diandra gadis yang kuat!
"Nggak usah ketuk pintu kalau langsung masuk!" Ucap Diandra sangat datar. Dingin dan tanpa intonasi.
Derap langkah Rio mendekati Diandra yang terduduk di pinggiran ranjang. Berdiri di samping gadis kecil itu yang sedang melihat ke arah jendela.
"Maaf"
Deg..deg..
"Sial jantung diandea kenapa jadi gini" umpat Diandra.
"Kakak nggak bermaksud kaya gitu tadi! Kakak.. kakak.."
"Kakak malu kan ngakuin Diandra sebagai istri kakak!"
"Apa Diandra buruk banget ya Kak?!"
Diandra menatap mata Rio dengan pandangan yang mulai memburam. Air matanya sudah mendesak ingin keluar. Sekali saja ia berkedip air matanya pasti akan lolos.
"Maaf"
Diandra tertawa sumbang. Sekarang ia benar-benar meragukan Rio. Sepertinya ia mempunyai pribadi ganda.
"Udah Diandra maafin! Tapi maaf Kak besok Diandra mau nginep aja di rumah Mami. Mau nenangin diri dulu" ucap Diandra menyampaikan maksudnya. Biar bagaimanapun Diandra harus meminta izin suaminya.
"Nggak boleh!!" Seru Rio.
"Kenapa kak?! Diandra udah nggak tahan sama kakak!"
Diandra mulai meneteskan air mata kembali.
"Diandra mau cerai kak!"
JEDAAAR!!!
Kepala Rio langsung terasa pusing. Seperti habis dijatuhi durian. Tubuhnya melemas. Dan matanya menatap Diandra tidak percaya.
"Dii kamu jangan bercanda. Ini nggak lucu" Ucap Rio sedikit bergetar.
Ia sama sekali tidak menyangka Diandra berbicara seperti itu.
"Diandra mau cerai kak! Diandra capek jadi istri kakak"
"Diandra capek nggak dihargai sama sekali"
"Kakak selalu berbuat seenaknya sama Diandra. Kakak nggak pernah ngertiin Diandra!"
Diandra memukul dadanya pelan. Menggigit bibirnya sampai terasa sakit.
"Tap.. tapi ini cuma masalah kecil"
"Bagi kakak ini masalah kecil. Tapi bagi Diandra..." Diandra tidak dapat meneruskan ucapanya. Hanya suara isakan yang keluar dari bibirnya.
Rio luruh ke lantai. Bersimpuh di depan Diandra.
"Maaf Diandra!" Ucap Rio.
Rio memeluk perut Diandra erat. Menenggelamkan kepalanya ke perut rata Diandra yang bergetar karena menangis.
Diandra hanya bisa terdiam dan menangis.
"Jangan tinggalin kakak. Kakak... kakak minta maaf! Kakak janji nggak bakal kaya giniin kamu lagi" ucap Rio.
"Kakak janji nggak akan kaya giniin kamu lagi!"
Bahu Rio bergetar. Diandra terkejut bukan main. Rio suami kulkas nya sekarang sedang menangis.
"Maaf... maaf.. maaf!"
"Kamu boleh pukul kakak. Hina kakak. Tapi gue mohon jangan tinggalin kakak"
Diandra mengusap lembut rambut Rio yang basah oleh keringat. Sepertinya tidak tega juga Diandra melakukan ini.
"Kakak nangis?" Tanya Diandra.
"Enggak" jawab Rio sangat serak.
"Ayo ikut kakak sebentar!" Rio mengangkat kepalanya. Dan Diandra dapat melihat kalau pipi Rio membasah karena air mata.
Tangan Diandra mengusap bekas air mata di pipi Rio.
"Kemana?"
"Ikut aja. Ada yang ingin Kakak tunjukkin sama kamu"
Rio melepaskan sepatu Diandra. Meletakkanya di samping kaki Diandra.
Akhirnya Diandra mengangguk menyetujui permintaan Rio.
Mungkin ini permintaan Rio yang terakhir yang akan di kabulkan oleh Diandra.
*****
Rio membawa Diandra ke atap rumah. Sejenak Diandra terpukau oleh pemandangan bulan yang nampak besar dan bersinar terang dati atas sini. Bintang-bintang bertaburan di langit. Diandra sungguh menganggumi lukisan Tuhan yang satu ini.
Rio membawa Diandra duduk di salah satu sofa yang ada di atap itu. Setelahnya Rio menggenggam tangan Diandra erat.
Keduanya diam. Berdiam diri menyelami fikiran masing-masimg dengan pandangan yang mengarah ke langit.
"Indah ya" ucap Rio membuka pembicaraan. Jujur ia tidak menyukai kebisuan Diandra.
"Iya"
"Kakak sudah pernah bilang kan. Bintang itu sama kaya kamu. Sama-sama cantik"
Diandra merasa darahnya berdesir hebat. Perutnya terasa geli. Pipinya pun memanas.
"Kakak punya puisi buat kamu"
Rio menatap Diandra dalam. Begitupun Diandra dia begitu antusias ingin mendengar puisi dari suami kulkasnya.
"Dengerin ya" Diandra mengangguk singkat.
Rio menarik nafas dalam-dalam. Menetralkan kegugupanya.
"Nafasmu yang tak teratur mulai bergetar. Kau bisa melihat langit yang ramai sekali. Aku tak punya tempat untuk menenangkanmu. Suaramu parau, hatimu juga galau. Kau berteriak dan menangis menjangkauku"
"Aku tahu, tubuh kecil mu yang gemetar. Aku tahu, di tengah-tengah pertengkaran"
Suara berat Rio mengalun begitu indahnya. Membuat Diandra begitu terharu. Puisi Rio sangat menyentuh dan indah sekali. Diandra sampai tidak kuasa membendung air matanya.
"Tolong jangan menangis gadis kecilku satu-satunya. Kau hanyut tanpa kejahatan, tanpa senjata. Bersembunyi dalam malam, tanpa ada tempat untuk pulang"
Rio melanjutkan kembali puisinya. Tangan kanannya mengusap air mata Diandra yang mengalir deras. Sedangkan tangan kirinya menggenggam erat tangan Diandra.
"Aku tahu, aku tidak seperti yang kau inginkan. Aku tahu, kau akan menggapai oasis dalam hatiku yang kering. Sendirian dengan satu harapan"
"Aku tahu, berlari melewati malam. Menuju jagad raya yang membentang di depan mata kita. Membayangkan impian sebelum tidur
Dari dunia cinta..
Impian.."
Rio mengakhiri puisinya dengan sangat indahnya. Senyum menghiasi wajah tampanya yang semakin tampan karena cahaya dari rembulan.
Dada Rio terasa lega setelah membacakan puisi yang telah ia buat semenjak ia masih SMA. Dari SMA Rio sangat senang membuat puisi. Sampai dulu Rio sering memenangkan perlombaan puisi antar sekolah bahkan antar provinsi.
Dan puisi yang baru ia bacakan. Salah satu puisi yang sangat spesial bagi seorang Rio. Sengaja dulu ia membuat puisi ini untuk gadis yang akan menjadi istrinya. Dan sekarang ia telah membacakanya di depan istrinya. Diandra!
"Diandra.. kakak nggak tau ini perasaan apa. Setiap ada si dekat kamu jantung kakak bedegup nggak karuan. Dan kakak selalu ngerasa bahagia kalo deket kamu."
"Hmm.. kaya nya kakak udah jatuh cinta sama kamu. Sama istri kakak sendiri."
Rio tersenyum lembut. Dan baru kali ini Diandra melihat senyuman itu. Diandra membalas senyuman Rio dengan perasaan yang campur aduk.
"Kakak jatuh cinta sama kamu Diandra. Istriku" ucap Rio sangat tulus.
Diandra menitikkan air mata. Kali ini lain air mata kesedihan melainkan air mata kebahagiaan.
"Kamu mau kan nerima cinta kakak? Kita mulai semua dari awal. Memulai hubungan kita sebagai sepasang suami istri yang sebenarnya?" Tanya Rio dengan wajah yang begitu mengharap.
Mengangguk! Hanya itu yang bisa mewakilkan penerimaan Diandra. Lidahnya terlalu kelu untuk berkata-kata. Terlalu senang dan sedih dalam waktu yang hampir bersamaan.
"Makasih" Rio merengkuh Diandra dalam pelukanya.
"Makasih Diandra! Istriku tercinta!"
Para bintang-bintang dan rembulan menjadi saksi bisu pernyataan cinta Rio. Binatang malam yang tadinya hening sekarang menjadi riuh. Seolah sedang memberikan selamat oada Rio dan Diandra.
"I love you my husband!"
"I love you too my wife"
*****
Tbc
CERITANYA MASIH LANJUT KOK TADI CUMAN ISENG AJA PINGIN TAU REAKSI KALIAN. HEHE MASA UDAH END PETUALANGAN FINTA DIANDRA SAMA RIO AJA BELUM DITULISKAN WKWK SEMOGA KEDEPANYA TAMBAH BAPER YAAAA