Damar POV Tiga bulan berselang setelah kecelakaannya, mayoritas ingatan Damar sudah kembali. Fisiknya pun sudah pulih total. Ia juga telah lama bekerja seperti biasa. Hanya saja frekuensi pergi keluar kotanya dikurangi karena dokter yang menyarankan ia tak boleh berpergian jauh selama beberapa bulan ini, agar seandainya sakit kepalanya kembali, ia bisa cepat ditangani. “Mas, sampai rumah jam berapa?” Ratih, istrinya, bertanya di telpon malam ini. Jam sudah menunjukkan pukul delapan malam. “Belum tahu, kerjaan masih banyak.” “Oh, begitu. Tapi besok jadi bisa cuti kan?” “Cuti? Memang ada apa besok?” Damar mengernyitkan dahi. “Mas lupa? Besok kan HPL aku! Kata dokter kalau nggak ada kontraksi sampai malam ini, besok aku harus diinduksi di rumah sakit.” “Oh, iya.” Komentar Damar, tak be

