Hujan masih merintik. Titik-titik air menerpa badan pesawat. Mengaliri permukaannya. Jatuh menetes ke tanah. Hanya ada suara gerimis, tetes air, nyanyian katak dan jangkrik di kejauhan. Tak lama ada suara mendesah terdengar dari bibir Alang. Tersentak Kikan memandanginya. Lalu meraba kening Alang. Tubuh pemuda itu mulai hangat. “Lang?” Panggilnya berbisik. Alang menggerakkan kepalanya perlahan. Rautnya mengernyit dan mulutnya terbatuk. Beberapa orang beringsut mendekat. Menyapa dan menanyakan keadaannya. Dewi memberinya minum. Air dingin itu diteguknya perlahan. “Syukurlah.” ucap Kikan dengan wajah cerah. Alang menggangguk lemah. Ia bertanya kenapa bisa berada di kabin. Sam menceritakan semuanya. “Terima kasih, Bang,” ucap Alang tulus. Sam tersenyum mengangguk. “Sudahlah. Sekarang pulih

